Pria itu menarik napas dan melepas dasinya lalu melemparnya dengan asal. Dia masih mencoba mengingat kerlingan mata dari pencuri itu. Sepertinya tidak salah dan cukup mirip dengan office girl yang berpapasan dengannya kemarin. Jika benar, Steve malas sekali jika harus berurusan dengannya lagi. Namun, sepertinya, Steve memang merasa ada yang aneh. Kecelakaan kemarin itu membuat dirinya kehilangan dompetnya. Meski hanya ada kartu tanda pengenal dan kartu kredit miliknya, rasanya sangat aneh, setelah itu dompetnya menghilang dan dia menyaksikan sendiri mata si pencuri mirip dengan office girl itu.
Steve terduduk di sisi tempat tidur dan mengigit bibir bawahnya juga mengelus dagunya. Apa benar mereka berdua berhubungan? Sebuah teka teki yang cukup unik dan sangat kebetulan. Entah mengapa, Steve merasa kalau kedua orang itu mirip meski hanya dari mata.
Kreak! Terdengar seseorang membuka pintu. Steve langsung menoleh ke arah pintu.
"Mommy! Kau mengagetkanku! Mengapa kau ada di sini? Kupikir kau masih di kantor," dengus Steve agak berpekik.
"Ada Rossie," sahut ibunya dan melempar sebuah dompet hitam ke tempat tidur anaknya.
"Serina memberikan ini pada Theo dan memberikan pada istrinya lalu sampai padaku," kata ibunya memberitahu kronologi dompet tersebut dengan singkat, jelas dan padat.
Steve meraihnya dan mengernyitkan keningnya. Mengapa dompetnya tiba tiba ada di tangan pegawai ayahnya?
"Di mana dompetku ini?" selidik Steve masih merasa semua seperti sedang direncanakan.
"Ada di sisi tangga," jawab Zefanya, nama ibu Steve.
"Tangga?" Steve semakin berpikir dan mengernyitkan keningnya.
Sesaat Steve teringat pertemuannya dengan office girl itu dan Steve sudah kembali lagi ke sana setelah mengantar wanita itu ke pantry tidak ada apa apa. Dompetnya seperti terjatuh di sana tapi rasanya sangat mustahil.
"Apa yang kau pikirkan? Simpan dompet pada saku jas jangan di belakang celana," kata ibunya lagi berpesan.
"Aku menyimpan di saku jas. Ada yang tidak beres!" Gumam Steve menerka nerka lagi.
"Maksudmu Serina yang mengambilnya? Karena tidak ada uang tunai jadi dia mengembalikannya? Begitu maksudmu?!" Sahut ibunya meyakinkan gumaman anaknya.
"Bukan Madam Serina. Madam itu tidak akan mengambil dompetku. Dia bisa langsung meminta padaku!" Kata Steve.
"Jadi siapa?" Tanya Zefanya lagi juga jadi ikut bingung dibuat salah satu anak kembarnya ini.
"Kemarin aku menabrak seorang office girl baru, mom. Aku curiga dia pencuri yang sedang kucari! Buktinya dia begitu lihai mengambil dompetku," ujar Steve bercerita dengan lugas dan serius pada ibunya.
"Kau terlalu banyak pekerjaan. Jangan menuduh orang sembarangan! Kau harus mencari buktinya," kata Zefanya mengingatkan Steve.
"Instingku tidak pernah salah, mom," tutur Steve merasa sangat percaya diri lebih dari apapun.
"Sudahlah, selidiki lagi. Ayahmu pantang jika mempekerjakan orang orang kriminal dan memecatnya begitu saja. Lebih baik kau menemui kakakmu," kata ibunya memberitahu ada tugas lainnya dari hanya sekedar mengurus orang lain.
"Kakakku?" Steve kembali mengernyitkan keningnya lalu melirik ibunya.
"Darren! Katanya dia sedang mencari seseorang," ujar zefanya.
"Haiz, mommy! Aku ini kepala badan intelijen negara bukan detektif!" Dengus Steve kemudian. Terkadang dia jadi bosan dengan profesinya ini, tapi dia pun malas mengurus laju bisnis pada perusahaan ayah atau ibunya.
"Lalu dia harus meminta tolong pada siapa?! Tukang kebun di rumahnya? Sudah cepat sana hubungi dia!" Sahut Zefanya yang akan tetap mendukung apa saja yang ditekuni anak anaknya.
"Mom, anakmu aku atau kak Darren sih?!" Dengus Steve kemudian.
"Sama saja! Kalian berdua adalah anakku! Waktu kau dan Sydney belum ada, aku mengurus kakakmu itu," sahut Zefanya.
"Sial, mengapa aku dan Sydney hanya menjadi penggantimu, mom?!" Sungut Steve merasa seperti anak tiri.
"Berlebihan, anak kurang ajar! Cepat hubungi kakakmu itu jika tidak bertemu hari ini!" Pekik Zefanya yang selalu menghadapi anak laki lakinya yang penuh drama melebihi anak perempuannya.
"Hem!" sahut Steve dan melenggang memasuki kamar mandi. Sementara Zefanya tersenyum tipis karena merasa semua anak anaknya tidak pernah canggung padanya. Mereka berempat memang selalu seperti ini. Namun, Zefanya tetap bangga pada kedua anaknya karena tidak pernah berkata kasar pada Ezekhiel, ayah mereka.
Zefanya pun turun ke bawah menyiapkan makan malam.
...
Di lain pihak, seorang wanita juga menarik napas panjang sebelum merebahkan dirinya di sebuah sofa yang sudah agak koyak pada bagian atasnya. Dia baru saja kembali dari pekerjaannya menjadi seorang office girl. Dia pun melempar asal jaket kulit pemberian kakaknya.
"Sudah pulang, san?" Selidik seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Sudah, ma," jawabnya tersenyum tipis.
"Tampaknya kau lelah sekali," tutur wanita paruh baya itu yang tak lain ibunya.
"Begitulah bekerja menjadi pesuruh! Membersihkan hampir seluruh lantai gedung, belum lagi ruangan para manager, mengganti peralatan yang sudah lama, hem, lelah sekali, ma!" Keluhnya pada sang ibu.
"Kalau kau tidak kuat, berhenti saja dan membantuku meneruskan toko kue kakakmu," kata ibunya menyarankan.
Wanita bernama Sandy menggeleng dan menoleh pada ibunya.
"Kau tenang saja, aku baik baik saja. Kau juga, kalau perlu kau merawat kakak saja. Tidak usah terlalu merepotkan masalah ekonomi kita, ma," tutur Sandy menepuk pelan paha ibunya.
"Kedua adikmu akan masuk sekolah menengah pertama, Sandy. Kita membutuhkan banyak biaya," ujar ibunya lagi memberitahu.
"Tenang saja! Seth dan Sean tidak menginginkan sekolah yang bagus bagus sekali," kata Sandy lagi yang sudah sempat bicara pada adiknya tentang sekolah mereka berdua.
"Jangan begitu, Sandy! Kau sudah putus sekolah, aku tidak mau terjadi lagi pada kedua adikmu," tutur ibunya menundukan kepalanya. Sejak suaminya meninggal, semua menjadi runyam tak keruan.
"Tidak ada yang putus sekolah, ma, kau tenang saja!" Kata Sandy lagi menegaskan pada sang ibu.
Ibunya menarik napas dan memberikan segelas ice lemon tea pada adiknya itu.
"Di mana Kak Katherine sekarang, ma?" Tanya Sandy kemudian meraih ice lemon tea itu dan meminumnya perlahan.
"Kekasihnya membawa berjalan jalan sebentar," kata ibunya.
"Lihatlah, kak Marco juga semakin mencintainya bukan? Sudahlah, kau tidak perlu memusingkan apapun," tutur Sandy ikut senang mendengar hal itu.
"Sandy, kau jangan macam macam ya? Aku tahu apa yang sebenarnya kau lakukan!" Tiba tiba ibunya seperti menghardiknya.
Sandy menghentikan minumnya dan menegak dengan cepat minuman yang sudah masuk ke dalam mulutnya seperti tersedak.
"Tahu bagaimana? Memang apa yang kulakukan? Membobol mesin ATM?" Sahut Sandy ingin bergurau.
"Bisa dikatakan seperti itu bukan?" Kata ibunya lagi.
"Itu bukan mesin ATM biasa, ma! Itu penyelundupan!" Ujar Sandy hendak memberitahu hal yang sebenarnya.
"Aku tidak mengerti apa pikiranmu! Lawrence yang memberitahu padaku!" Decak sang ibu.
"Anak sialan! Buat apa dia memberitahu mama!" Gumam Sandy yang tetap terdengar ibunya.
"Sandy ..." Panggil ibunya lagi.
"Tidak, ma, kau tenang saja! Sudah, ini sudah hampir pukul 7, makan apa kita malam ini?" Tanya Sandy kemudian.
"Nasi goreng," jawab ibunya dengan datar karena hanya itu yang mudah dimasak. Nasi dengan telur dan kecap.
"Astaga, nasi goreng lagi!" Dengus Sandy seketika salah satu adik kembarnya memanggilnya.
"Kakak!"
Tiba tiba terdengar panggilan salah satu adiknya menghampiri dia dan ibunya sambil membawa sebuah selembaran. Sebelah alis Sandy menaik dan merasa curiga kalau Seth adiknya pasti mau memberitahu posisi incaran saudagar kaya incaran mereka.
Sandy pun langsung beranjak dan mendekati adiknya lebih dulu.
"Sandy, Seth, kalian mau ke mana? Di mana Sean, Seth?" Tanya ibunya ikut beranjak.
"Dia di luar bersama Kak Lawrence, ma," jawab Seth.
"Kami keluar dulu sebentar, ma," ijin Sandy kemudian.
"Ingat Sandy, sekali kau terlibat macam macam, aku dan kakakmu tidak akan membelamu!" Ancam ibunya.
Sandy hanya memutar bola matanya malas dan membimbing adiknya keluar rumah. Di sana ada Lawrence sedang meminum bir dan Sean bermain ponsel.
Pak! Sandy membuang bir yang diminum oleh Lawrence.
"Apa apaan kau minum bir di depan Sean?! Kalau mama melihat, kau tidak boleh ke sini lagi!" Pekik Sandy pada temannya Lawrance yang membantu operasi pencuriannya selama ini.
"Sean yang memberikan padaku!" Balas Lawrance.
"Kak, lokasinya ada di pinggiran Legacy di bawah tanah dekat sel tahanan dari luar kota," sela Sean memberitahu lokasi orang yang ingin Sandy buat masuk dalam jeruji sel meski rasanya sulit.
"Siapa?" Tanya Sandy hanya memastikan.
"Ini, kak!" Seth memberikan selembaran itu. Sandy pun membacanya.
"Zidan! Dia ada di sini?! Dia belum terciduk atau semacamnya?" Selidik Sandy tak senang.
"Dia tidak akan bisa terciduk selama bisa menjilat para pejabat yang hanya memikirkan kesenangan!" Tutur Lawrance mengingatkan.
"Lihat, kak. Dia menutupi kedoknya dengan menjadikan lelang sosial ini padahal ada black market di belakangnya," kata Sean lagi menunjukan iklan mengenai penggalangan dana sosial melalui Ipad-nya.
Sandy melirik adiknya.
"Setelah malam menjelang saat pejabat yang termakan omongan itu pergi, mereka menggelar pesta terlarang itu lagi!" Tambah Seth mengerti tentang kedok ini.
Tanpa sadar, Sandy meremas selebaran acara lelang penggalangan dana itu. Mengapa dia bisa mengenal pria menjijikan itu?! Dan dia pun akan bertemu pria ini lagi setelah dia berhasil keluar dari tragedi mengerikan itu. Napasnya pun seketika berpacu cepat. Lekuk wajahnya terlihat cemas dan takut. Jari-jarinya semakin meremas selebaran itu karena di sana terpampang wajah Zidan dengan kacamata hitamnya. Kuku panjang yang menghiasi tangannya sampai menembus kertas selebaran itu dan menekan ke kulit telapak tangannya. sesaat Seth merasakan kejiwaan kakaknya kembali terganggu.
"Kak, tenanglah. Kau tidak sendiri lagi. Aku, Sean dan Kak Lawrence akan ada di sampingmu," tutur Seth menghentikan kakaknya yang hendak menyakiti dirinya. Terlihat luka pada telapak tangan kakaknya karena tusukan kuku jarinya.
Sandy pun menoleh pada adiknya dan mencoba menormalkan diri.
"Kapan acara ini?" Tanya Sandy.
"Minggu depan, kak! Apa kita akan ke sana?" Selidik Sean.
"Tentu saja! Aku akan menjadi buruan pria pria terkutuk itu. Saat aku bisa masuk ke dalam sarang mereka, kalian harus segera bersiap. Kita ambil semua milik mereka, uang, berlian dan emas yang mereka dapatkan!" Kata Sandy dengan tatapan datar.
Lawrence menarik napas dan mendekati Sandy.
"Apa yang mau kau lakukan? Aunty Karina sudah mulai bertanya tanya padaku!" Bisik Lawrance.
Puk! Sandy malah menimpuk Lawrence dengan remasan selebaran itu.
"Oleh sebab itu, kau jangan memberitahunya! Jangan katakan apa-apa padanya! Bilang saja aku bekerja di gedung apartemen sebagai office girl. Masalah pekerjaan sampingan, membantu polisi menangkap orang orang busuk!" Decak Sandy pelan.
"Membantu polisi kau bilang? kita saja sedang diincar!" Celetuk Lawrance yang sudah beribu ribu kali memperingati Sandy untuk menghentikan aksinya.
"Ya, kau diam saja! Tetap saja menjadi tukang pengantar minuman ke perusahaan iklan besar itu! Mengerti tidak?" Ujar Sandy lagi menegaskan.
"Hem," sahut Lawrance mau tidak mau. Jika dia tidak mengikuti, dia tetap mencemaskan temannya ini. Jika dia ikut, dia akan semakin membuat temannya mendapat hukuman besar.
"Sandy, Seth, Sean, Lawrence, cepat makan nasi goreng ini atau akan segera dingin!" Pekik ibunya dari dalam.
"Ya, ma!!" Sahut Seth.
Seth, Sean, dan Lawrence lebih dulu masuk ke dalam sementara Sandy masih di luar. Dia mengusap wajahnya kasar dan mencoba menguasai diri.
"Dad, kau mendengarku? Bagaimana sekarang? Aku akan bertemu pria itu lagi? Apa aku bisa menghadapinya? Dia semakin tak terkendali. Untuk satu kali ini, berilah aku kekuatan untuk bisa mengamankannya. Semua demi keluarga kita juga," tutur Sandy menatap langit malam di sana. Semoga saja operasi Kali ini dapat berhasil dan dia juga dapat membuat Zidan mendapat ganjarannya.
...
TBC,