Steve menggaruk-garuk kepalanya di depan kaca mobilnya agak mendengus. Matanya masih sangat panas tapi ibunya sudah berisik sekali membangunkannya. Bahkan ibunya meraih bantal kepalanya dengan paksa dan menyuruhnya berada di tempat ini. Basement salah satu hotel bintang lima ternama di Legacy. Ya, tak lain dia harus ke tempat direktur dari Hotel Prime.
Ddrrrtt! Ddrrtt! Belum saja dia menyiapkan diri keluar dari mobil, ponselnya pun bergetar. Panggilan dari asisten dari direktur ini.
"Apa, phillll? Apa sebentar lagi kau akan sama seperti bosmu yang tak sabaran itu? Ada apa dengannya sih? Dia mengenal wanita, iya?!" Tanya Steve serabutan mengangkat panggilan tersebut.
"Sepertinya. Ada wanita yang mengambil tanda pengenalnya, entah untuk apa," kata Philip di seberang sana.
"Seriously? Bagaimana kejadiannya?" Entah mengapa seketika Steve menjadi bersemangat mendengar direktur hotel ini yang adalah kakak sepupunya berurusan dengan seorang wanita. Jangankan seorang wanita, dengan sesamanya saja, kakak sepupunya jarang sekali bicara, apalagi dengan wanita.
Asistennya pun menjelaskan kronologi masalah tuannya itu pada Steve.
"Aiz, ternyata begitu. Tunggu sebentar, Philip! Kalau mereka berdua ada di kamar, jadi mereka sudah melakukan begitu begitu begitu?" selidik Steve bertanya tanya kalau sepak terjang kakaknya begitu cepat.
"Apa maksudmu begitu-begitu?" sahut Philip malah bertanya pura pura tidak tahu.
"Kau jangan sok polos! Benar begitu?" tanya Steve lagi.
"Sepertinya begitu," tutur Philip akhirnya memang tahu apa yang Steve maksud dengan kamar dan apa yang terjadi dengan tuan serta wanita itu.
"It's so big news! Dengan begini aku akan mendapat bayaran terbesar sepanjang abad, hahaha! Tunggu sebentar aku akan melacaknya!" Steve berseru seperti mendapat durian runtuh yang sangat berharga.
"Bagaimana bisa?!" selidik Philip. pasalnya Steve baru saja tiba.
"Berikan kunci cadangan kamar tuanmu itu!" kata Steve kemudian.
"Apa kau mau mengidentifikasinya?" selidik Philip lagi.
"Ya, cepat-cepat temui aku di depan kamar!" perintah Steve lagi.
"Baik, Tuan," sahut Philip dan mematikan panggilan.
Philip segera beranjak meninggalkan meja kerjanya untuk bertemu dengan Steve di kamar pribadi tuannya sebelum tuannya memanggilnya dan mencari sepupunya itu lagi. Philip harus menjalankan semua perintah tuannya agar tuannya mau menemani rapat. Mengingatkan kalau Tuannya Philip adalah Darren dan Darren telah divonis mengidap anti sosial sejak masa sekolah. Karena kepintarannya, dia tetap dipercaya menjadi direktur hotel ini.
Philip pun berlarian kecil ke depan kamar pribadi Darren. Di sana sudah ada Steve yang berdiri dan bersandar sambil memainkan ponsel.
"Kapan kejadiannya sih? Hebat sekali hanya satu kali pertemuan dan beberapa menit mereka bisa bergumul dalam pergulatan cinta," tanya Steve lagi benar-benar jadi penasaran dengan kisah kakak sepupunya ini.
"Sepertinya dia sedang menunggu Nona Laura, tapi Nona Laura tidak datang, dia malah bertemu wanita itu," kata Philip sembari membuka pintu kamar tersebut dengan kartu kunci cadangan.
Steve mengangguk-anggukan kepalanya mengerti tapi juga tetap harus menyelesaikan apa yang diinginkan kakak sepupunya agar tabungannya semakin membengkak.
"Aku heran, sebenarnya ini Hotel Kakekku juga Grandpa Dion, mengapa aku juga tidak mempunya kunci cadangan ini?" gumam Steve hanya mencari bahan percakapan dengan Philip. Toh tanpa Steve juga mempunyai satu kamar di Hotel ini, dia bisa meminta sebuah apartemen pada ayahnya. mungkin ayahnya akan dengan senang hati memberikan semua perusahaan apartemen itu. Steve agak terkekeh dan menaikan sebelah alisnya.
"Karena ini milik Tuan Dior," jawab Philip.
"Halah, ini juga punya ibuku!" balas Steve lagi ingin membuat Philip tampan frustasi setelah mengurus atasannya.
"Tuan Steve, plis, kau jangan memberikanku pernyataan yang membuatku bingung dan ujung ujungnya kau menyalahiku?!" dengus Philip.
"Haha, hanya bergurau! Pantas Kak Darren tetap mempertahankanmu, sir!" Sahut Steve meninju pelan sebelah dadaa Philip dan masuk ke dalam.
"Heng, sepupu, Kakak, adik, semua sama saja!" Dengus Philip ikut masuk ke dalam.
Steve lalu memicingkan matanya. Dia takut kalau kamar ini sudah dibersihkan. Namun, sepertinya belum. Ada sebuah coretan di kaca rias yang sudah retak. Ada juga tetesan darah di sana. Sepertinya sebuah tulisan dengan lipstick yang tidak jelas karena kaca yang sudah retak.
"Wanita itu berani sekali memberi ultimatum di kaca dengan menggunakan lipstick. Sepertinya tuanmu agak penasaran, Phil," tutur Steve mulai menerka nerka.
"Semua belum dibersihkan. Tuan Darren belum memberikan perintah apapun padaku," sahut Philip.
"Jadi kejadiannya tadi pagi?" selidik Steve.
"Ya, begitulah," jawab Philip.
"Kalau kamar ini belum dibersihkan, aku bisa dengan mudah mengetahuinya. Pasti mereka berdua memadu kasih di sini Phil," kata Steve lagi memperjelas arena permainan panas itu.
"Tidak disangka-sangka tuanku itu, ckckck," kini Philip yang bergumam sambil memegang dagunya.
Steve lalu menghampiri tempat tidur. Dia meraba seprai sampai selimut yang masih ada di situ. Setelah itu dia membuka selimut tersebut tapi dia tidak menemukan sebuah bercak yang biasanya menandakan wanita itu sudah kehilangan keperawanannya.
"Tuan, kau mencari apa?" tanya Philip.
"Tidak ada bercak merah. Astaga, apa Kak Darren menyewa bitchy?" sahut Steve kembali bertanya.
"Entahlah, tapi wanita itu mengambil tanda pengenal Tuan Darren, Tuan. Sepertinya dia sedang bertaruh dengan seseorang atau semacamnya," kata Philip mencoba membantu Steve menerka nerka.
"Apa kak Darren menyebut nama wanita itu?" tanya Steve lagi.
"Thres, Thresya, iya namanya Thresya Diaz," jawab Philip sambil menunjuk Steve.
"Thresya Diaz?" Steve bergumam mencoba memasang masangkan nama itu.
Philip mengangguk. Steve juga mengangguk dan kembali pada tempat tidur tersebut. Kali ini dia mencari sesuatu yang bisa dia teliti lebih dalam lagi. Matanya agak membelalak ketika melihat beberapa helai rambut yang sepertinya terkoyak saat permainan tersebut.
"Ada beberapa rambut, ahh, kak Darren bermain dengan liaaarrr dan kasar sekali, tidak disangka sangka, hahaha!" gumam Steve juga merasa senang karena kakaknya itu ternyata memang normal dan tetap menyukai wanita.
"Benar-benar!" Philip ikut setuju.
"Lanjut, Phil," ajak Steve kemudian.
Philip masih terpaku dan agak membayangkan seorang tuannya yang pendiam tetap bisa masuk dalam perangkap wanita. Kini Steve berada di meja rias. Dia pun meraih ponselnya lalu memotret meja rias sampai kaca rias yang sudah retak itu.
"Baiklah, Phil aku sudah mendapatkan beberapa petunjuk. Aku akan menemui tuanmu besok," kata Steve kemudian memberikan keputusan.
"Aiz, mengapa besok? Besok ada pertemuan para pemegang saham, bisa bisa dia tidak mau ikut karena masih memikirkan dirinya itu, Tuan!" sahut Philip merasa khawatir.
"Tenang saja, besok dia pasti ikut. Aku hanya pergi ke summer membantu Clint dan Clint juga yang akan membantuku mendapatkan data wanita itu! Ok?" ujar Steve yang harus mengidentifikasi semuanya secara detil. dia tahu bagaimana kakaknya dan tidak akan percaya jika mendapat jawaban dengan seenaknya.
"Tapi besok kau harus tepat waktu, Tuan, kalau tidak aku lagi yang akan diserang oleh para pemegang saham itu!" sungut Philip benar benar berharap semua pada Steve.
"Itulah mengapa gajimu besar, Asisten Philip yang tampan! Bye!" kata Steve tersenyum dan keluar dari kamar pribadi itu sambil mengirim gambar gambar meja rias yang sudah ia ambil kepada Matthew, rekan kerjanya.
Steve meminta Matthew mengidentifikasi lebih dalam sidik jari yang terangkap oleh kemera. Mereka memiliki alat canggih untuk bisa memperbesar dan menyesuaikan dengan data yang mereka miliki. Steve juga menghubungi sekretarisnya Velma untuk membuat janji pada laboratorium yang biasa ia gunakan untuk melakukan test dna menggunakan beberapa helai rambut itu. Dari situ Steve dapat mengetahui rambut siapa yang ada di dalam kamar itu.
Steve berjalan lenggang kangkung karena setelah ini, sepupunya akan memenuhi tabungannya lagi. Mungkin dia bisa bersantai sejenak tanpa bekerja dengan uang sepupunya itu. Steve pun melewati sebuah lobby yang di depannya adalah restoran di hotel itu. Saat dia melewati restoran itu dan hendak menuju basement, ada sesuatu yang tidak biasa menurutnya. Steve kembali mundur dan memperhatikan dua anak kecil laki laki yang sepertinya sedang melakukan sesuatu pada tas seorang wanita tua.
Steve memicingkan matanya dan mencoba memperhatikan apa yang kedua anak kecil itu lakukan. Kedua anak laki laki itu seperti sedang bekerja sama. Yang satu mencuri perhatian si wanita tua itu dan yang satu sedang menaruh sesuatu pada tas si wanita tua tapi dia juga mengambil sesuatu di sana. Tidak butuh waktu lama mereka menjalankan aksinya. Sangat halus dan lihai. Steve memiringkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dadaa lalu menarik napas. Ada ada saja kedua anak ini pikirnya. Berani beraninya melakukan sesuatu di tempat keluarganya ini.
Kedua anak laki laki yang merasa berhasil itu akhirnya keluar tapi tentu saja ada Steve di sana.
"Ehem, what are you doing, dude?" tanya Steve melipat kedua tangan di depan dadanya menahan kedua anak itu.
...
TBC,