Kedua anak yang mencurigakan bagi Steve tersebut tampak santai dan malah menatap Steve dengan senyum serta kedua alis yang agak terangkat. Seakan tidak terjadi apa-apa dan merasa Steve tidak melihat aksi mereka barusan. Sejatinya mereka sudah sering bertemu dengan orang macam Steve meski mereka akui kalau Steve memang memiliki perawakan seperti polisi dan matanya membuat mereka agak takut. Namun, sebisa mungkin mereka mengendalikan diri mereka agar rencana mereka tidak gagal dan terbongkar.
"Hem, kau bicara pada kami?" tanya salah satu kedua anak tersebut dengan nada sangat tenang.
"Lalu dengan siapa aku bertanya? Dengan sendok dan garpu di atas meja sana?" sahut Steve agak menunduk karena meski kedua anak itu laki-laki, mereka tetap hanya setinggi d**a Steve.
"Haha, kau lucu sekali, dude!" ujar salah satu anak itu terkekeh seperti sedang mengelabui Steve. Anak itu juga memukul pelan lengan Steve seakan mereka sudah dekat saja.
Steve agak membelalakan matanya. Kedua anak kecil ini pikir dia siapa? Pelawak?
"Sudah-sudah tidak perlu banyak alasan! Serahkan padaku apa yang kau hasilkan barusan, boys? Kalian seharusnya belajar di rumah bukan malah mencuri! Cepat kau berikan padaku sebelum petugas keamanan yang tidak tahu toleransi sama sekali membawa kalian ke kantor polisi atau ke dimasukan ke jeruji sel sekalian!" kata Steve kemudian dengan mengulurkan tangannya.
"Hem, Seth, aku sudah sering melihat yang seperti ini," tutur anak itu lagi.
"Jangan Sebut namaku, bodoh!" balas anak satunya memukul tangan anak itu.
"Maksudku Sea!" koreksi anak sebelumnya lagi seakan sedang mencuri perhatian Steve.
"Kalian memang dua anak bodoh! Kesabaranku sudah habis," sela Steve yang langsung menarik tangan salah satu anak laki-laki itu, salah satu anak laki-laki yang lain berinisiatif untuk mendorong Steve lalu tanpa pikir panjang, mereka langsung berlari cepat ke pintu lobby.
"Sial!" Dengus Steve yang terjatuh tapi dia langsung berdiri dengan cepat lalu ikut berlari mengejar kedua anak itu.
"Kak, misi berhasil tapi ada yang mengejar kami," teriak salah satu anak itu berlari keluar.
Steve terus mengejar tapi saat dia sampai ke pintu utama dan kembali mengejar kedua anak itu, seorang wanita berjalan di depannya dan malah menabraknya.
"Kauu?!!!" Steve tidak akan lupa mata yang agak lebar dan berbinar binar itu. Warnanya abu-abu dan wajahnya yang begitu putih kemerahan.
"Aahhhh!!" Wanita itu juga berteriak karena dia menabrak Steve tepat di sisi tangga pintu utama sehingga wanita itu hendak terjatuh.
Steve tidak sempat menahannya, wanita itu sudah menuruni tangga dengan tidak seimbang. Steve memang ingin meraih wanita ini tapi dia tetap turun ke bawH. Sekelebat, dari arah gerbang, ada sebuah mobil yang hendak melintas masuk ke dalam hotel. Steve makin melebarkan matanya karena sepertinya kalau si pengemudi mobil tidak melihat, dia akan menabrak wanita ini yang sudah sampai ke jalan melajunya mobil yang berkunjung. Cepat-cepat Steve menuruni tangga dan menerjang wanita itu untuk segera menjauh dari tengah jalan itu. Keduanya malah terjatuh dan berguling dengan berpelukan.
"Arghhh!!" Punggung tangan Steve malah terbentur batu penghias di tengah taman.
Wanita itu pun segera bangkit berlutut sambil menutup mulutnya di depan Steve yang masih berbaring.
"Tuan Dimitri, Tuan Dimitri, kau baik baik saja?" Seorang petugas keamanan yang melihat kejadian itu menghampiri Steve dan wanita itu.
"Astaga, tangan anda memar, Tuan!" seru si petugas keamanan tersebut.
"Aku saja, aku yang akan mengantarnya ke klinik, ini salahku, maafkan aku," sela si wanita yang ternyata adalah office girl di perusahaan ayahnya.
"Tidak usah!" Tanpa disangka Steve pun sudah beranjak duduk di atas rumput itu.
"Kau lagi kau lagi! Kau yang membantu kedua anak itu kan?!" bentak Steve lagi menunjuk office girl yang adalah Sandy.
"Bicara apa kau? Siapa yang kau maksud? Aku ke sini mau bekerja?!" sahut Sandy membela dirinya. keadaannya memang sangat kebetulan.
"Di sini? Di hotelku juga?!" pekik Steve yang masih duduk di atas rumput itu.
"Hotelmu? hotel keluarga Prime maksudmu?!" sahut Sandy dengan nada seenaknya.
"Sama saja! Tidak tidak, kau tidak boleh bekerja di sini, arghhh!!!" keluh Steve yang lupa tangannya tertekan karena hendak bangun.
Karena Sandy sudah melihat ada darah yang keluar dari punggung tangan Steve, Sandy tak segan segan mengoyakan kaos putihnya untuk dililitkan pada tangan Steve. Sandy pun meraih tangan Steve.
"Mau apa kau?!" tanya Steve yang sempat menahan tangannya.
"Diam kau, berisik sekali!" Kata Sandy tetap menarik tangan Steve lalu dililitkan koyakan kaos putih itu pada punggung tangannya.
"Di mama klinik kesehatannya, aku akan mengantarnya?" Tanya Sandy pada si petugas keamanan.
"Kubilang tidak usah, tidak usah!" sela Steve yang kini sedang berusaha berdiri.
"Hey, bagaimana pekerjaan kalian sih? tadi ada dua anak kecil yang mencuri sesuatu di tas wanita tua di dalam! cepat kerahkan anak buahmu dan mencari kedua anak kecil itu dan perketat keamanan dengan benar! percuma kakak dan pamanku menggaji besar kalian! cepat!" perintah Steve kemudian berpekik.
"Tapi tangan anda, tuan?"
"Tidak usah memikirkan tanganku, pikirkan saja bagaimana meredakan amarah manager nanti, pasti sebentar lagi ada yang melapor! cepat!" pekik Steve lagi.
"Baik, tuan!" Sahut si petugas keamanan meninggalkan Steve dan Sandy.
Kini Steve dan Sandy hanya berdua. Mereka saling berpandang dan memperhatikan masing masing. Sesaat Steve melihat perut Sandy yang terbuka karena koyakan kaos yang ia lakukan. Steve menarik napas dan mengeluarkan dompetnya. Sandy hanya menaikan kedua alisnya memperhatikan apa yang hendak Steve lakukan. Sebenarnya dia khawatir dengan Steve. Biar bagaimanapun, Steve sudah menolongnya.
"Beli kaosmu yang baru untuk menggantikan koyakan itu! Kau ini kalau berjalan hati hati! Kau yang tidak hati hati, tanganku yang korban!" kata Steve memberikan kartu platinum card miliknya pada Sandy.
"Aku sudah melilitnya sebagai pertolongan pertama," dengus Sandy tidak terima.
"Aku tidak perlu! Gunakan ini untuk membeli kaosmu!" kata Steve lagi.
"Aiz, orang kaya sombong sekali, langsung memberikan platinum card untukku? Kau tidak takut aku tidak mengembalikannya?" selidik Sandy menggoda Steve.
"Tidak! Pakai ini dan jangan lagi muncul di depanku!" decak Steve.
"Siapa juga yang mau muncul di depanmu! Hanya kaos begini, aku masih mampu beli!" balas Sandy.
Steve menarik napas lagi dan memutar bola matanya malas. Dia pun meraih tangan Sandy untuk menerima kartunya.
"Sandinya angka 1 empat kali! Ingat itu!" Kata Steve dan dia langsung berjalan menjauh dari Sandy.
"Pria gila! Tidak jelas! Untung saja lahir dari keluarga kaya! Andai ayahku masih ada, kita sebanding! Hem!" Dengus Sandy. Dia melihat lihat kartu platinum Steve dan sebenarnya lumayan. Dia bisa membeli daging yang banyak agar tidak memakan nasi goreng lagi!
...
TBC,