"Kak Sandy! Lihat apa yang kami dapat!" pekik seorang anak laki laki yang berlarian ke arahnya.
Sandy yang masih berdiri di pekarangan taman depan hotel Prime menarik napas panjang dan menyimpan kartu pemberian Steve terlebih dulu. Dia lalu berbalik mendapatkan kedua adiknya, Seth dan Sean yang baru saja melarikan diri dari kejaran Steve.
"Kalian ini berdua super bodoh!" sahut Sandy yang langsung menarik telinga kedua anak itu.
"Aahhhh, sakit, kak, sakit, kak!" keluh salah satu anak tersebut.
"Kak Sandy, sakit! Kau ini apa apaan?!" sungut anak satunya juga.
"Kalian berdua yang apa apaan! Cepat ikut aku!" kata Sandy yang tidak melepas tangannya terus menempel di salah satu telinga kedua anak itu.
"Lepaskan tanganmu kumohon!" sungut satunya bergantian.
Sandy tidak menghiraukan kedua adiknya yang merintih kesakitan. Dia terus menarik telinga adik adiknya keluar hotel dan memasuki sebuah lorong yang berada di samping luar sisi hotel Prime. Sandy lalu menghempaskan kedua adiknya sampai terjatuh.
"Kak Sandy, telingaku sakit! Nanti kuadukan pada mama!" kata salah satu anak itu yang adalah adik Sandy bernama Seth.
"Kuadukan pada kak Katherine!" tambah satu adiknya yang bernama Sean.
"Sana adukan, mereka lalu akan mengurung kalian di rumah dan tidak bisa lagi mengikutiku, bagaimana? Kalian mau coba?" sahut Sandy menolak pinggang di depan kedua adiknya itu.
"Kau ini kenapa? Kenapa menarik telinga kami?" tanya Seth masih mengusap salah satu telinganya yang sudah memerah.
"Kalian mendengar arahanku atau tidak? Kalian hanya perlu memasukan chip ke tas Nyonya Edelwise karena dia akan datang ke acara penggalangan itu bukan? Mengapa kalian malah mengambil dompet kartunya?! Aku tidak mau tahu, bagaimana caranya kalian harus mengembalikan dompet kartunya!" kata Sandy yang wajahnya benar benar kesal dengan kedua adiknya ini.
"Kak, kau tidak tahu, Nyonya Edelwise akan mendukung suaminya," ujar Sean memberitahu info yang ia dapatkan sebelum menjalankan aksinya.
"Tapi kita hanya membutuhkan akses masuk ke acara terselubung itu!" kata Sandy lagi yang masih belum mengetahui maksud kedua adiknya.
"Kak, kau lihat dulu, ini!" kata Sean membuka dompet kartu tersebut lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam bertuliskan tinta emas.
"Zicron Gorgeous Diamond Eksklusif Club. Aku yakin sekali kartu ini adalah kartu tanda keanggotaan mereka mengikuti bisnis Zidan. Bukankah ini akan menghentikan mereka melanjutkan aksinya," tambah Sean menjelaskan.
"Tanpa kartu anggota ini, mereka tidak akan mendapat keuntungan dari apa yang mereka dapat, kak," kata Seth juga.
"Benarkah?" sesaat mata Sandy menjadi melebar karena mendapatkan info yang sangat bagus ini.
"Sudah kubilang, aku sudah menyelidiki semuanya. Jadi acara penggalangan ini akan berubah saat pukul 11 malam saat para pejabat negara pulang. Dan dengan kartu anggota ini, kita bisa masuk ke dalam. Kami juga bisa mendaftarkan kau masuk dalam acara ini dan menguasai permainan," ujar Sean lagi yang selalu siap dengan strategi atas rencana mereka lusa besok.
"Kak, kartu ini juga bisa menjadi bukti pada pihak kepolisian untuk mulai mencurigai mereka," tambah Seth lagi.
"Astaga, ternyata itu yang kalian lakukan, maafkan aku, pasti telinga kalian sakit sekali," ucap Sandy kemudian merasa bersalah pada kedua adiknya.
"Maka dari itu seharusnya kau bertanya dulu baru menarik telinga kami!" sungut Seth.
"Iya, iya, maafkan aku, siapa suruh kalian tidak memberitahuku dulu," balas Sandy juga mendengus.
"Aku ingin memberitahumu, tapi kau sudah menyuruh kami masuk!" dengus Sean juga.
"Yasudah, yang terpenting kalian lolos. Aku juga membantu kalian mengalihkan orang yang mengejar kalian bukan?" ujar Sandy merasa dirinya tetap berperan pada aksinya kali ini.
"Ya, dia jeli sekali. Baru kali ini aku bertemu orang yang jeli melihat aksi kami," gumam Seth seketika. dia seperti pernah melihat Steve tapi tidak terlalu ingat di mana.
"Matanya memang tajam, Seth," tambah Sean.
"Ya, benar. Matanya tipis tapi setajam benang senar, sssttt perih sekali," kata Seth juga setuju dengan saudara kembarnya.
"Sudah tidak perlu memujinya! Dia atasanku bekerja, dia juga saudara dari pemilik hotel itu," sela Sandy menjelaskan siapa Steve.
"Ah pantas saja,"
"Kak, karena kau sudah menarik telinga kami, aku ingin makan enak!" pinta Sean kemudian. Seth tersenyum dan mengangguk.
"Aku juga! Kulihat pria bermata tipis dan tajam itu menolongmu saat kau mau terjatuh dan memberikanmu sebuah kartu!" kata Seth kemudian.
"Iya, dia memberikan kartu debet ini untuk mengganti kaosku. Dia menolongku dan tangannya terluka. Aku langsung mengoyak kaosku dan melilit tangannya," jelas Sandy atas kejadian beberapa menit yang lalu.
"Oohh, perhatian sekali. Jangan jangan kau menyukainya, kak?" goda Sean sesaat.
"Di mana hukumnya baru beberapa kali bertemu langsung menyukainya," decak Sandy.
"Kak Sandy masih sakit hati dengan Zidan," Seth malah menyinggung masa lalu Sandy dengan pria yang kini menjadi musuhnya.
"Dengan dia juga tidak suka! Sudahlah, sekarang kita beli makanan yang enak dan banyak. Mama dan kak Katherine pasti sudah menunggu kita," ajak Sandy yang tidak mau mengenang semua itu. dia agak menyesal mengapa bisa kembali menyukai pria sebiadap itu.
"Ajak kak Marcos dan Lawrence juga kak," kata Seth.
"Tentu! Let's go!"
Sandy dan kedua adiknya segera ke departemen store terdekat di sana. Tentu saja Sandy tidak membeli kaos, dia malah membeli banyak daging, sosis, telur dan semua makanan yang jarang ia dan adiknya makan. Dia juga membeli softdrink dan jus buah botolan yang banyak sekali. Masing masing dari mereka mendorong keranjang.
Sampailah mereka harus membayar semua itu. Dengan percaya diri Sandy akan membayar semuanya dengan kartu yang ia dapatkan dari Steve.
"Totalnya dua juta tiga ratus ribu, nona," kata si petugas kasir.
"Aku bayar menggunakan ini ya?" sahut Sandy menyerahkan kartu pemberian Steve.
"Ya, nona," kata si petugas kasir menggesek kartu tersebut dan mengetik total belanjaan itu lalu memberikan mesin debet tersebut pada Sandy untuk mendapatkan sandinya.
Sandy pun masih ingat nomor sandi yang dikatakan Steve, tapi setelah Sandy berhasil memasukan kode, ada sebuah peringatan yang menyatakan saldo tidak mencukupi.
"Maaf, nona, saldonya tidak mencukupi. Apa ada kartu lain?" tanya sang petugas kasir membuat Sandy bingung.
"Tidak ada, ini kartu temanku, bagaimana saldonya tidak ada? Dia anak pemilik apartemen dan sepupu pemilik hotel Prime, masa hanya dua juta tidak ada," tutur Sandy agak panik.
"Apa ingin kukurangi terlebih dulu?" usul di petugas.
"Coba satu juta," kata Sandy mulai mengernyitkan keningnya.
Petugas kasir tersebut menekan angka satu juta dan Sandy kembali memasukan nomor sandinya tapi lagi lagi mesin debet itu menyatakan saldo kurang mencukupi lagi.
"Saldo tetap tidak mencukupi, nona," kata si petugas kasir.
"Aiz, kakak, jangan jangan dia mengerjaimu!" bisik Seth.
"Tapi, tapi dia dengan percaya diri sekali dan memaksaku mengambil kartunya ini. Dia bahkan memberikan nomor sandinya," ujar Sandy masih membela Steve.
"Bisa saja itu hanya triknya saja agar kau terbuai. Dia memang tampan sih," kata Sean juga.
"Diamlah dulu! Nona, apa aku bisa melihat jumlah saldonya?" pinta Sandy kemudian pada si petugas kasir.
"Silahkan, nona,"
Petugas kasir itu lalu menekan tombol jumlah saldo pada kartu dan meminta Sandy memasukan nomor sandinya lagi.
"Di sini jumlah saldonya hanya tiga ratus dua puluh lima ribu, nona," kata si petugas kasir memberitahu jumlah saldo pada kartu tersebut.
mata Sandy membelalak lebar dan mengepalkan tangannya kesal.
"Astaga, STEEEEVVVEEEEEE!!! KUBUNUH KAUUUU!!!" pekik Sandy seketika tidak memikirkan orang orang yang ada di sana.
...
TBC,