Tak ada jawaban dari mulut Sisca. Dia hanya terdiam dengan mata yang fokus pada layar besar di depannya. Kedua netranya meluncurkan tetes-tetes air mata yang tidak dapat lagi dibendung olehnya. Dadanya terasa sesak dalam waktu singkat. Napasnya mulai naik turun. Bibirnya masih terasa kelu untuk berbicara. Hanya air mata yang menjelaskan semua rasa yang sedang dia rasakan. sakit, rindu, senang, bahagia, dan dendam bercampur menjadi satu. Kini, dia telah mendapatkan bukti nyata dan sangat jelas. Bahwa, para petinggi itu memang melakukan kecurangan. Melakukan penipuan pada keluarga-keluarga prajurit. Sandiwara mereka sangat sempurna. Dengan mata basah dan sedikit memerah. Mereka mengucapkan belasungkawa. Ternyata, di balik itu semua mereka tertawa.
“Aku akan memberitahu dia!” ucap Fero. Bar