“Ma.., Ma lihat ini.. Xiao Zhan keterima Ma, Standford University !.” teriak Xiao Zhan menunjukkan Ipad yang dia pegang, di layar itu tertulis nama-nama calon mahasiswa yang lulus. Mama dan anak itu saling tatap, mata keduanya dipenuhi kebahagiaan, Xiao Zhan berhambur ke pelukan Mamanya. Mama Xiao Zhan bahagia bukan main, wanita itu balas memeluk anaknya erat.
“Benarkah?, sayang selamat ya… Pa, anak kita akhirnya sekolah di Amerika, dia akan menjadi desainer terkenal !. Xiao Zhan memang anak yang pintar.” Mama Xiao Zhan memuji dan mencubit hidung anaknya, sementara itu tuan Xiao hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan absurd anak dan istrinya.
Tahun ini Xiao Zhan baru saja lulus dari bangku SMA, minatnya yang tinggi di bidang desain dan seni akhirnya membuat Xiao Zhan mengambil peluangnya untuk belajar di luar negeri. Setelah mengikuti serangkaian tes, dihari pengumuman ini kabar bahagia pun dia terima, namanya tercatat sebagai salah satu calon mahasiswa Standford University.
“Xiao Zhan, kau harus belajar dengan rajin, setelah selesai kau bisa memakai ilmu mu untuk perusahaan kita. Papa percaya Xiao Zhan akan sukses nanti.” Ucap tuan Xiao sambil menepuk paha Xiao Zhan yang duduk di sampingnya.
Sore ini ruang keluarga Xiao terlihat ramai, para pelayan ikut berbahagia mendengar kabar baik itu, Keluarga Xiao dan para pelayan bercanda dengan suka cita, para pelayan wanita terus menggoda Xiao Zhan yang akan belajar keluarga negeri, mereka yakin nanti Xiao Zhan akan punya pacar bule. Memang begitulah kehidupan di keluarga Xiao selama ini, meski hanya pembantu atau tukang kebun, tak ada larangan bagi mereka untuk mengobrol atau bahkan bercanda dengan majikannya.
Xiao Zhan tertawa didalam tidurnya karena kilasan kebahagiaan itu kini hadir sebagai bunga tidur, tawa itu perlahan menghilang dan berganti menjadi isakan saat Xiao Zhan melihat orang tuanya tiba-tiba pergi dan meninggalkannya sendirian, Xiao Zhan benar-benar menangis didalam tidurnya. Wang Yibo yang baru masuk mengeryitkan dahi saat melihat tidur Xiao Zhan gelisah dengan sudut-sudut matanya yang mengeluarkan air.
Yibo mengambil gelas yang berisi air di dalamnya, lalu menyiramkan air itu ke wajah Xiao Zhan. 2 orang pelayan wanita yang menjaga ruangan itu pun tertunduk dalam-dalam, Xiao Zhan terkesiap dan membuka matanya. Kepalanya terasa berdenyut, Xiao Zhan menahan pelipisnya dan melihat ke sekitar, dia ingat terakhir kali Yibo mengurungnya disini dan dia hanya bisa menangis hingga akhirnya tertidur, dan saat bangun rupanya sekarang sudah malam hari.
“Sa..kit..” eluh Xiao Zhan sambi duduk dari berbaringnya, Yibo hanya bisa menatap datar kearah Xiao Zhan.
“Hei pembantu, mulai sekarang kedudukanmu sama dengan mereka.” Ucap Yibo sambil menunjuk 2 orang wanita yang berseragam pelayan di ruangan itu,Yibo lalu melemparkan seragam untuk Xiao Zhan.
“Pakai itu setiap pagi hingga sore hari…, eh mengapa? Tidak suka?.”, bentak Yibo sambil mencengkram dagu Xiao Zhan, sementara itu Xiao Zhan hanya bisa menatap sinis kearah Wang Yibo.
“Ohh ya.. ya.. ya… tuan muda tidak pernah bekerja kan?, tapi aku tidak perduli, yang pasti kau harus membantu Ayahmu melunasi hutangnya, kau menjadi babu disini untuk membantu Ayahmu, apa kau tidak senang?.” Yibo menghempaskan wajah Xiao Zhan dengan kasar. Xiao Zhan menahan rahangnya yang sakit, selain itu perutnya juga sakit karena seharian ini belum makan.
“Apa benar jika aku bekerja akan membantu melunasi hutang Ayahku?.” Tanya Xiao Zhan lantang saat Yibo hendak melangkah keluar, Yibo menyipitkan matanya dan berbalik.
“Apa katamu?.”
“Apa kau akan membayarku?.” Tanya Xiao Zhan lebih jelas.
“Tidak.”
“Hah?, tidak?. Lalu apa kau hanya menjadikanku b***k?.” Teriak Xiao Zhan.
Yibo begitu terkejut, selama ini tidak ada yang berani bicara menantang seperti itu padanya, Yibo dengan susah payah menahan emosinya agar tidak membunuh Xiao Zhan saat itu juga, Xiao Zhan melihat Yibo mendekat pun jadi waspada, dia segera beringsut mundur.
“Jika kau bekerja dengan baik, aku tidak akan membunuh Ayah dan Ibumu, bagaimana?. Tapi itu juga tergantung dengan kinerjamu.” Bisik Yibo di telinga Xiao Zhan yang membuat pemuda Xiao itu melotot.
“Kau memang tidak boleh membunuh, ini Negara hu…kum.”
“Sssstttt !.” Yibo memotong kalimat Xiao Zhan dengan meletakkan telunjuknya di bibir Xiao Zhan.
“Hukum tidak berlaku untukku, jadi jika hanya membunuh nyawa 2 orang itu tidak akan membuatku membusuk di penjara. Paham !?.” Yibo menekankan kata-katanya hingga berhasil membuat Xiao Zhan merinding, jantungnya berdetak cepat higga hembusan nafas Xiao Zhan menerpa leher Yibo yang sangat dekat dengannya.
Yibo hendak menarik kepalanya dari telinga Xiao Zhan, namun tangan Xiao Zhan dengan cepat mencengkram lengan Yibo.
“Apa !?.” tanya Yibo marah karena Xiao Zhan menyentuhnya.
“Perutku sakit, aku belum makan.” Jawab Xiao Zhan dengan nadanya yang lemah.
Yibo memejamkan matanya menahan kesal, dia menarik Xiao Zhan keluar dari kamar, dengan tertatih Xiao Zhan mengikuti Yibo dari belakang.
______
“Apa ini?.” tanya Xiao Zhan sambil menunjuk makanan yang Yibo berikan padanya, Yibo ikut duduk di depan Xiao Zhan, sekarang mereka ada di meja makan.
“Makanan pembantu, kau harusnya tersanjung bisa makan satu meja denganku, tapi karena kau dulunya seorang tuan muda, jadi aku berfikir untuk memberimu makan malam yang layak untuk terakhir kali.” Yibo berkata sambil menyuap makanannya, sedangkan Xiao Zhan menganga tidak percaya, mengapa laki-laki ini bisa sangat tega, memberikan Xiao Zhan sepiring nasi dengan sepotong ikan goreng tanpa sayur dan embel-embelnya.
“Apa kau kira aku ini sejenis kucing?.” Tanya Xiao Zhan menunjuk dirinya sendiri, Yibo mengambaikannya, Xiao Zhan dengan pelan menyentuh sendok sayur yang ada di depannya, ada banyak jenis menu makanan yang enak di depannya, namun Yibo dengan cepat menangkap tangan Xiao Zhan.
“Tidak tau diri !, ini makanan majikanmu !, kau tidak boleh menyentuhnya dengan tangan kotormu !, tidak ada tambahan sayur, makan saja jatahmu itu.” ucap Yibo sambil menatap tajam kearah Xiao Zhan. Sialan !, Xiao Zhan jengkel setengah mati, ternyata Yibo hanya ingin pamer makanan enak dan menyiksanya dengan hanya memberi sepotong kecil ikan goreng.
Xiao Zhan yang sudah kelaparan pun akhirnya menyerah, dengan enggan dia mengunyah nasi ikannya, pemandangan itu tidak lepas dari sorot mata Yibo, dengan ekor matanya Yibo menangkap ekspresi kesal Xiao Zhan saat makan, Yibo sedikit menarik bibirnya keatas hingga senyum tipis pun terukir.
“Kemana?.” Tegur Yibo saat Xiao Zhan berdiri dari kursinya, sebenarnya Yibo sudah tidak selera makan dari tadi, namun karena Xiao Zhan dia memperlambat makannya menunggu Xiao Zhan selesai makan, Yibo juga tidak tau mengapa dia begitu, yang pasti dia masih ingin membuli anak rekan bisnisnya yang tidak mau bayar hutang itu.
“Tidur.” Jawab Xiao Zhan ketus.
“Tidur?, ingat posisimu Xiao jan, Xio Zan, Xioa Zhan, ah siapa namamu?. Terserahlah, cuci piringnya, aku tidak suka melihat ada barang kotor di rumah ku.” Perintah Yibo dengan ekspresinya yang jika makin dilihat makin menyebalkan. Xiao Zhan menghela nafasnya, dia balas menatap kearah Wang Yibo.
“Dicuci besok memangnya kenapa?, ini sudah malam, aku bisa terserang rematik !.” ucap Xiao Zhan yang sudah terlanjur kesal, namun Xiao Zhan seketika terkejut saat Yibo bangkit dari berdirinya dan mencengkaran krah belakang baju Xiao Zhan, Yibo menekan wajah itu ke mangkok besar yang berisi nasi putih. Xiao Zhan memekik karena Yibo menekan kepalanya dengan kuat.
“Sialan, lepas !, b******n kau Wang Yibo !, ahh sakit.” Teriak Xiao Zhan yang kepalanya terendam di baskom nasi, wajahnya tenggelam diantara butiran nasi, syukurnya nasi itu sudah dingin karena mereka makan sudah sejak tadi, Yibo menarik kepala Xiao Zhan dan mendorong tubuh Xiao Zhan yang susah payah menarik nafas.
“Kau cerewet !, lain kali aku akan mencelupkan kepalamu ke kuah pedas itu !.” ancam Yibo sambil menunjukkan semangkok besar gulai ayam di dekat Xiao Zhan, Xiao Zhan yang bersandar pada meja makan pun menggeleng, wajah dan rambutnya berantakan tertempel nasi, sungguh Yibo ingin tertawa, tapi dia tidak akan melakukannya. Demi harga diri !.
“Cuci piringnya !.” bentak Yibo lalu pergi dari sana.
“Kau sialan Wang Yibo, kau menyiksaku !, tunggu saja jika hutang Ayahku sudah lunas, aku akan membalasmu !.” bisik Xiao Zhan dengan gemetar lalu memungut piring kotor yang ada di meja, disisi lain para pelayan Yibo ternyata menonton itu dari balik tembok, mereka kasihan sekaligus iri pada Xiao Zhan. Kasihan karena boss mereka pasti akan lebih sering menyiksa Xiao Zhan yang melawan, sekaligus iri karena Wang Yibo terlihat memberikan perhatian lebih untuk Xiao Zhan, tidak seperti pada pelayan lainnya, Yibo hanya akan bicara seperlunya, jika sedikit saja membuat kesalahan, Yibo akan memecat mereka.
_____
Xiao Zhan membaringkan tubuhnya, ini adalah salah satu kamar yang ada di baris kamar pembantu, letak kamar ini ada di bagian belakang rumah, Xiao Zhan memperhatikan ruangannya, dia tersenyum sedih, ruangan ini kecil dan sederhana jika dibandingkan kamar di rumahnya. Air mata Xiao Zhan menetes, baru sehari tapi tekanan mental untuknya sudah begitu tinggi, entah penyiksaan apa lagi yang besok akan Yibo lakukan, tapi apapun itu dia berharap kedua orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Xiao Zhan memejamkan matanya, wajah Wang Yibo terlintas di fikirannya, dia heran mengapa Yibo yang masih muda sudah menjadi boss yang kaya raya, bisnis Yibo pasti sangat besar sampai bisa menopang perusahaan keluarganya, laki-laki itu seharusnya bisa berbuat kasar atau bahkan membunuhnya, tapi Yibo tidak melakukannya, mungkin belum?, terlihat Yibo hanya ingin mempermainkannya. Xiao Zhan tiba-tiba membuka matanya, dia memukul-mukul keningnya.
“Mengapa aku memikirkan b******n itu.”
Di kamar lain, tepatnya di kamar utama, Wang Yibo sedang fokus mempelajari berkas-berkas perusahaan, hingga akhirnya dia tertawa sendiri karena mengingat wajah Xiao Zhan yang dicelup ke tempat nasi.
“Hahaha, wajahnya tadi sangat lucu…menyenangkan. Aku tidak tau keluarga Xiao memiliki putra yang bodoh sepertinya.”
________________
Keesokan harinya dengan dipandu para pelayan lain, Xiao Zhan melakukan pekerjaannya, keringat mulai mengucur dari pori-pori Xiao Zhan, sejak tadi semua pekerjaan dapur Xiao Zhan yang mengerjakan, para pelayan justru hanya melakukan pekerjaan kecil, Xiao Zhan menyeka keringatnya, dia sempat berfikir apa para pelayan ini mengerjainya?.
Pukul 7 lewat, semuanya sudah beres, Xiao Zhan menyajikan masakannya, untunglah selama ini dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah, sebab meski merupakan seorang tuan muda, Xiao Zhan tidak pernah sungkan untuk membantu dan belajar pekerjaan para pelayan, dan sekarang dia memetik buahnya. Sebentar, memetik buahnya yang turun kasta jadi pelayan?.
Yibo sudah siap dengan pakaian kerjanya, sebelum pergi ke kantor dia mengambil posisi duduk di meja makan untuk menyantap sarapan, dilihatnya para pelayan berbaris di sisi kanan dan kiri menunggu perintah Wang Yibo, Yibo menoleh pada Xiao Zhan yang hanya menunduk, melihat Xiao Zhan yang lebih berkeringat dari yang lain membuat Yibo tersenyum puas. Memang itu rencananya, dia memberitahukan pada Ketua Pelayan agar menyerahkan semua tugas dapur pada Xiao Zhan, sekarang Yibo puas melihat Xiao Zhan yang kelelahan, selain itu Yibo juga harus siap dengan rasa masakan Xiao Zhan yang mungkin saja bisa membuatnya keracunan dan mati seketika. Tidak !, Yibo tidak mau memakan masakan aneh itu sendiri, meski penampilannya terlihat menarik, tapi siapa yang tau rasanya?, memikirkan itu saja membuat Yibo ngeri, seorang laki-laki yang memasak, terlebih Xiao Zhan merupakan tuan muda yang pasti tidak pernah memasak, pagi ini sepertinya Yibo harus sarapan di luar.
“Xiao Zhan, temani aku makan.” Perintah Yibo.
Tidak hanya Xiao Zhan, para pelayan yang ada disana pun terkejut, bagaimana bisa Yibo mengajak Xiao Zhan makan bersama, dan ini sudah yang kedua kalinya. Xiao Zhan sempat bingung, namun memikirkan itu adalah masakannya sendiri, Xiao Zhan jadi bersedia, lagian dia juga sudah kelaparan, ini saatnya balas dendam karena seharian kemarin hanya makan nasi ikan.
Xiao Zhan tanpa banyak tanya duduk di sebelah Yibo, Yibo yang melihat Xiao Zhan tanpa keraguan itu pun mendelik heran.
Namun rasa herannya itu menguap saat melihat kelakuan Xiao Zhan, Yibo dengan keras memukul tangan Xiao Zhan yang hendak menyendok nasi.
“Sepertinya aku butuh kayu atau sejenisnya, untuk memecut tanganmu agar tidak bergerak sembarangan.” Ucap Yibo sambil menatap Xiao Zhan garang.
“Apa lagi yang salah?.” Tanya Xiao Zhan polos.
Yibo mengajaknya makan bersama, dia ingin mengambil nasi, lalu mengapa pria gila ini marah?, jangan bilang dia hanya akan jadi penonton, jika memang begitu, Xiao Zhan berjanji akan menguliti Yibo sampai dia menangis darah.
“Aku adalah majikannya, dan kau pembantu, ingat itu baik-baik Xiao Zhan. Disini kau bukan tuan muda, kau harus menghargaiku seperti majikan, seorang pelayan tidak boleh bersikap kurang ajar dan melakukan sesuatu sebelum diperintahkan.” Jelas Yibo panjang lebar, pelayan disana semuanya menelan ludah, mereka baru tau sisi Yibo yang satu ini, lumayan mengayomi.
Xiao Zhan memutar bola matanya malas, lalu degan kesal bersandar pada kursi, lama dia menunggu Yibo menyendokkan makanannya agar dia bisa segera makan. Namun Yibo malah menatapnya terus menerus.
“Apa lagi sih?.” Heran Xiao Zhan.
“Ambilkan untukku.” Perintah Yibo dengan nada santai.
“Cih, mengapa tidak bilang dari tadi, idiot.” Umpat Xiao Zhan di dalam hati, tangannya segera bergerak menyendokkan nasi untuk Yibo. Setelah selesai dia juga menyendok nasi untuknya, tidak tanggung-tanggung Xiao Zhan mengisi nasinya hingga sepiring penuh, baru kali ini dia memakai filosofi ‘makan untuk hidup’, Wang Yibo pasti akan menyiksanya, jadi dia butuh banyak tenaga.
Bola mata Xiao Zhan berbinar menatap nasi dan berbagai lauk pauk yang tadi dia buat, sesekali dia menoleh kearah Yibo, memang sialan, Yibo belum juga mengangkat sendoknya.
“Kau makan duluan.” Nada Yibo terdengar ketus. Ingin sekali rasanya Xiao Zhan mencakar wajah Yibo, namun dia hanya bisa mengangguk dan mulai memakan sarapannya dengan lahap.
Yibo yang melihat itu pun tertegun, baru kali ini dia melihat orang makan serakus itu, tidak sadar senyuman Yibo kembali terbit, Yibo beralih menatap nasi sup yang ada di depannya, Yibo mencicip kuahnya.
“Wooow, tidak buruk, pembantu baruku pandai memasak.” fikir Yibo lalu memakan sarapannya sampai habis.
“Xiao Zhan, mulai besok kau yang akan memasak sarapan dan makan malam untukku.” Yibo berkata sambil mengambil tisu lalu menyeka sudut-sudut bibirnya, sementara itu Xiao Zhan mencoba bersabar, menurutnya Wang Yibo ini menyiksanya dengan cara yang kekanak-kanakan, dari sekian banyak pelayan mengapa harus dia sendirian yang memasak, tapi memasak akan lebih baik daripada dia harus menjadi kuli.
“Ya..” jawab Xiao Zhan lalu membereskan piring kotor, Yibo pun beranjak dari sana untuk pergi ke kantor.
___
Tbc.