Kediaman keluarga Xiao
Mama Xiao terlihat murung di meja makannya, sarapan yang sudah disediakan untuknya sama sekali belum dia sentuh, tatapannya kosong dengan bibir yang sesekali membisikkan nama 'Xiao Zhan'.
"Ma, jangan seperti ini, Xiao Zhan baik-baik saja, Papa percaya Yibo akan menepati kata-katanya, dalam 3 bulan ini Papa akan bayarkan sisah hutang kita." Tuan Xiao berkata sambil menyentuh punggung tangan istrinya.
"Tapi, hutang itu sangat banyak, kita tidak bisa mengorbankan para karyawan, jika mengurangi karyawan sama saja kita memutus rejeki mereka, Mama tidak mau Pa.. Oh ya Pa, bagaimana kalau kita meminjam pada kreditur yang lain?." Ucap Nyonya Xiao bersemangat ditengah keputusasaannya.
"Tenanglah sayang, Papa akan mencarikan solusinya. Anak kita pasti kembali, dia harus belajar ke luar negeri kan ?, dia akan menjadi desainer hebat dan terkenal. Nah sekarang ayo habiskan sarapanmu, kau tidak boleh sakit, nanti Xiao Zhan akan sedih jika kau sampai sakit." Bujuk tuan Xiao, akhirnya Nyonya Xiao pun mau memakan sarapannya.
_______
Sesampainya di kantor, Tuan Xiao memimpin rapat bersama petinggi Dayday Group.
"Inilah keadaannya sekarang, tidak ada cara lain selain meningkatkan penjualan selama 3 bulan ini, nasib kita dan anak-anak kita sekarang ada di tangan kita sendiri, apa kalian mau berjuang bersama?." Tanya tuan Xiao pada para pemimpin tim dan para manager.
"Tapi pak, tergetnya terlalu tinggi, sedangkan produk kita adalah perhiasan yang lumayan sulit untuk dijual, saya khawatir cara ini tidak akan berhasil." kata ketua tim penjualan yang merasa sedikit ragu.
Memang benar, hutang perusahaan ada 200 triliun, sungguh tidak mungkin menargetkan hasil penjualan hingga bermilyar-milyar apalagi triliun dalam 3 bulan. Tuan Xiao memijit pelipisnya, sebenarnya 200 triliun untuk perusahaan adalah nominal yang wajar, hanya saja tuan Xiao tidak bisa mengeluarkannya sekaligus, bagaimanapun bagi pengusaha memutar modal itu adalah kunci, jika menghabiskan semua uang itu dalam sekali maka kemungkinanannya adalah usaha ini akan macet dan kekurangan modal. Kemarin tuan Xiao sudah membayarkan 100 triliun pada Wang Yibo, tersisah 200 triliun belum terbayar, bagaimanapun tuan Xiao tetap optimis bisa melunasinya.
"Berapapun itu tidak masalah, aku akan menjual rumahku jika memang hasil penjualan masih tidak cukup." Kata tuan Xiao meyakinkan.
Peserta rapat sempat berbisik-bisik, namun melihat tuan Xiao yang tidak bercanda pun membuat semua orang tersenyum dan mengangguk, mereka bersorak bersama dan optimis bahwa bisa membayar hutang perusahaan lewat hasil penjualan. Tuan Xiao tersenyum, rumahnya jika dijual mungkin akan lebih dari 50 triliun, dia sama sekali tidak keberatan menjual rumahnya jika dalam 3 bulan masih belum mampu mengumpulkan 200 triliun, tapi bagaimanapun rumah dan gedung adalah asset terakhir yang mereka miliki, sebisa mungkin itu harus dipertahankan.
_____________
Rumah Wang Yibo
Xiao Zhan sedang memperhatikan kolam belakang rumah, kolam itu terlihat terawat meski tak seindah miliknya, Xiao Zhan mengamati jenis ikan yang ada disana, semuanya adalah ikan dengan harga mahal, Xiao Zhan menebak jika ikan-ikan ini Yibo beli dari luar negeri. Isi dari kolam jernih berukuran 3x4 meter itu adalah Koi jenis Black Dragon dan beberapa juga berjenis Blue Soha yang jika dijual bisa mencapai harga 2-3 milyar perekor.
Ide jahat mulai meluncur di fikiran Xiao Zhan, dia berfikir untuk mencuri ikan itu lalu menjualnya, Xiao Zhan meraba-raba kantungnya, dia ingin menghubungi teman yang mengerti soal transaksi ikan, tapi Xiao Zhan harus memejamkan matanya menahan sabar saat dia ingat sekarang dia tidak punya handphone. Xiao Zhan terpaksa mengurungkan niat mencurinya, namun tak lama setelah itu mata Xiao Zhan membola begitu menatap salah satu ikan sedang mengapung di permukaan kolam, nafas ikan itu sudah tinggal senin kamis dengan kulitnya yang terlihat mengelupas sebagian.
"Marilah kita mengheningkan cipta sejenak untuk arwah koi yang sekarat." Bisik Xiao Zhan ditengah lamunananya.
"Yaaak !!!, ikannya sekarat?." Teriak Xiao Zhan kemudian, pemuda dengan seragam pelayan itu gelagapan bergegas mengambil ember dan jaring ikan. Setelah mendapatkan yang dicari, Xiao Zhan menjaring ikan itu dan memindahkannya kedalam ember, posisi badan ikan itu sudah miring 90 derajat dan tidak bisa tegak. Xiao Zhan yang dirumahnya juga memelihara ikan sedikit banyaknya mengerti untuk memberikan pertolongan pertama pada ikan sekarat, Xiao Zhan dengan terburu-buru masuk kedalam rumah tanpa sadar seseorang sejak tadi sedang mengintai dan mengambil gambarnya.
Wang Yibo baru saja keluar dari ruang rapat, dia dengan lelah menyandarkan tubuhnya pada kursi lalu mengeluarkan handphone dari sakunya. Begitu membuka kotak pesan didalam benda pipih itu sorot mata Yibo berubah liar dengan tangan yang mengepal erat.
"Sungguh berani, rupanya aku menyimpan pencuri."
___________________________
Sementara itu Xiao Zhan terlihat sedang sibuk di kamar mandi pelayan, ikan yang tadi dia jaring sekarang sudah dipindahkan kedalam bak karantina, Xiao Zhan menambahkan garam konsentrasi 0,5% lalu memasang bak itu dengan full aerator yang tadi dia peroleh dari tukang kebun. Seharian ini dari pagi sampai sore Xiao Zhan sibuk mengurusi ikan mahal itu di kamarnya, sore hari Xiao Zhan mengganti air ikan lalu melanjutkan pekerjaannya memasak makan malam.
Xiao Zhan baru selesai menyusun menu makan malam saat telinganya mendengar suara klakson mobil yang tak lain milik Wang Yibo, seluruh pelayan berbaris seperti biasa, begitu pula dengan Xiao Zhan yang menundukkan wajahnya. Xiao Zhan sedikit mengangkat kepalanya saat dia menyadari Wang Yibo berhenti dihadapannya. Raut wajah Wang Yibo terlihat menyeramkan jika dibandingkan tadi pagi, Xiao Zhan meneguk ludahnya kasar, "Kenapa wajanya itu?" fikir Xiao Zhan didalam diamnya.
"Bibi Liu, berapa lama kau bekerja disini?." Tanya Yibo pada ketua pelayan rumahnya.
"Se-sepuluh tahun tuan." Jawab Bibi Liu tergagap karena suara Yibo yang sedikit menggertak.
"Kau berapa tahun bekerja disini Bibi Zhao?." Yibo bertanya lagi pada pembantunya yang lain.
"Tujuh tahun tuan."
"Lalu kau Meera, berapa tahun kau bekerja disini?." Yibo menatap pada pelayannya yang paling muda, wanita cantik itu adalah putri Bibi Liu yang bernama Meera.
"tiga tahun tuan muda." Jawab Mira sambil menampilakan senyumnya yang manis.
Pelayan rumah ini memang tidak banyak, hanya 3 orang pelayan wanita, 1 orang tukang kebun, dan 2 orang satpam, sedangkan Bodyguard Yibo lah yang jumlahnya lumayan banyak, hanya mereka tidak tinggal di rumah ini, mereka memiliki camp sendiri, Yibo biasanya memanggil mereka hanya jika akan melakukan perjalanan bisnis. Yibo menatap tajam kearah Xiao Zhan, tangannya menarik dagu Xiao Zhan yang tertunduk hingga wajah itu dengan paksa menatap wajah kusut Yibo yang terlihat mengeras.
"Lalu kau setan cilik, berapa lama kau melayaniku disini?."
Xiao Zhan mengerjap bingung, matanya bergerak ke kiri ke kanan untuk melirik pada 3 pelayan yang lain.
"Sa..tu hari." Jawab Xiao Zhan tidak yakin.
"Jawab yang benar bodoh, berapa hari kau bekerja disini?." Yibo meninggikan suaranya sambil menekan rahang Xiao Zhan lebih kuat.
"Satu hari, sa..kit, apa yang kau lakukan?." Ringis Xiao Zhan dengan tangannya kini menekan balik jemari Yibo, berharap Yibo akan melepaskannya. Yibo yang menyadari itu pun semakin memerah, dengan cepat tangannya beralih mencekik leher Xiao Zhan.
"Kau sungguh tidak tau posisimu sekarang ya?. Aku ceroboh membawamu kesini, baru hari perama kau sudah mengecewakanku." Bentak Yibo lalu mendorong tubuh Xiao Zhan saat melihat wajah pemuda Xiao sudah memerah kesulitan bernafas, Yibo memalingkan wajahnya, entah mengapa hatinya sedikit tercubit melihat ekspresi takut dan kesakitan Xiao Zhan, sungguh ini bukan dirinya, dia tidak memiliki rasa kasihan untuk orang lain.
"Xiao Zhan aku akan menghukummu karena berani mencuri di rumah ini, malam ini kau tidak mendapat jatah makan, kau juga harus berjaga malam bersama satpam." Ucap Yibo yang lagi-lagi membuat terkejut para pelayan, termasuk Meera yang menatap sinis kearah Xiao Zhan, padahal dia sangat berharap Xiao Zhan akan dipecat.
Xiao Zhan yang mendengar itu seketika tidak terima, dia sudah bekerja seharian dengan makan yang sedikit, dan Yibo sekarang akan memotong jatah makan malamnya?, Boss sialan ini juga akan membiarkannya kedinginan dengan tidur di pos satpam?.
"Mencuri?, mengapa kau menuduhku?, baik jika kau tidak mau aku disini aku akan pergi." Kata Xiao Zhan lalu melepas apron yang masih melekat di tubuhnya. Xiao Zhan melangkah kearah pintu keluar namun Yibo mencekal lengannya erat hingga membuat Xiao Zhan meringis kesakitan.
"Sudah mencuri ikanku, dan sekarang kau mau pergi?, jangan harap."
"Mencuri ikan?, ikan apa?, hahh.. aaahh lepas, Yibo lepas."
Yibo menarik lengan Xiao Zhan dan tak memperdulikan teriakan Xiao Zhan, Yibo membawa anak nakal itu ke lantai atas, lalu mendorongnya masuk ke kamar utama. Xiao Zhan menahan sakit dipiggangnya saat Yibo mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai, mata Xiao Zhan bergerak mengamati sekitarnya, ruangan ini terlihat seperti kamar tidur dengan warna gelap yang mendominasi, meski begitu seluruhnya terlihat mewah dengan barang mahal yang mengisi dan tersusun rapi.
"Xiao Zhan, aku tidak pernah sebaik ini sebelumnya, tapi kau sungguh menguji kesabaranku. Berikan padaku." Kata Yibo yang berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Xiao Zhan yang bersimpuh di lantai. Xiao Zhan sempat terdiam tidak mengerti apa yang Yibo katakan, akhirnya Xiao Zhan mengulurkan tangannya untuk menyambut telapak tangan Yibo yang terbuka. Dengan begitu Xiao Zhan berdiri sambil memegangi tangan Yibo, Yibo yang melihat itu pun semakin berang, dengan cepat Yibo menghempaskan tangan Xiao Zhan.
"Apa yang kau lakukan !?." Teriak Yibo sambil melotot.
"Eh?, bukankah kau ingin menyambutku?." Jawab Xiao Zhan sambil menggaruk kepalanya, sementara itu Yibo menggeram frustari, dia menarik rambut Xiao Zhan.
"Yaaak yaaak sakit sakit, Yibo sakit, lepaskan aku." Protes Xiao Zhan.
*Byuuurrr
"Kau pasti belum mandi kan?." Tanya Yibo sambil mengguyur Xiao Zhan yang baru saja dia seret ke kamar mandi.
"Dingin, lepaskan aku.."
*Byuuurrr
Yibo terus menahan tubuh Xiao Zhan dibawah shower air dingin.
"Dasar pencuri, kembalikan uangku."
"Dingin, hiksss, lepaskan aku, dingin, Mama hiiksss." Mohon Xiao Zhan sambil terisak, Yibo semakin tertawa dan terus menahan tubuh Xiao Zhan dibawah guyuran air.
10 menit,20 menit berlalu, kamar mandi mewah itu dipenuhi suara berisik Yibo yang terbahak dan Xiao Zhan yang menangis.
*Bruuggh.
Mata Yibo mendelik saat tubuh Xiao Zhan tumbang kearahnya, Xiao Zhan yang menggigil kedinginan memejamkan matanya dengan bersandar di d**a Wang Yibo.
"Xiao Zhan.. ! Xiao Zhan !." teriak Yibo panik yang mengira Xiao Zhan sudah tak bernyawa.
"Dingin bodoh..." bisik Xiao Zhan lemah, tangannya dengan gemetar mencengkram kemeja Yibo.
___________
Setelah prosesi siraman tadi, maksudnya setelah mengguyur Xiao Zhan tadi, Yibo sekarang harus rela selimut dan kasurnya dimonopoli Xiao Zhan. Melihat tubuh Xiao Zhan yang menggigil dan membiru akhinya dengan penuh perdebatan Yibo mengijinkan Xiao Zhan untuk berbaring di kasurnya, dari pada mati kedinginan akan lebih Xiao Zhan berbaring disana dan memberikan uang hasil menjual ikan koi.
Ini baru hari kedua, Yibo terus menepis perasaannya, tapi dia sungguh tidak bisa melepaskan perhatiannya pada Xiao Zhan, entah mengapa sikap melawan Xiao Zhan terlihat begitu mirip dengan seseorang. Sambil menatap Xiao Zhan yang memejamkan matanya, Yibo kembali teringat sang kekasih yang sudah dua tahun ini tak ada jejaknya. Yibo menghela nafasnya, tangan Yibo menekan nama kontak 'Beauty Lyn' di ponsel pintarnya, Yibo mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Suara yang sama kembali terdengar, sudah dua tahun suara ini terus menjawab panggilan Yibo jika dia menelpon Lyn, suara operator: "Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkuan."
______
Tbc.