Pagi-pagi sekali Xiao Zhan sudah terbangun, dia begitu terkejut saat menyadari sedang berbaring di ranjang yang berbeda, ini bukanlah ranjang yang dia tiduri kemarin malam. Xiao Zhan dengan cepat mendudukkan tubuhnya, mata jernih itu menyusuri setiap sudut ruangan, Xiao Zhan menghela nafas lega saat tidak menemukan Wang Yibo di ruangan yang sama. Xiao Zhan membereskan kamar itu sekenanya, setelah itu dia mengendap-ngendap untuk kembali ke kamarnya.
"Huhhfft, untung saja tidak ketahuan, dimana kira-kira singa gila itu?, jika dia melihatku tidur di kamarnya, dia pasti akan memarahiku lagi. Cckk ! sialan, kemarin malam dia menyiramku seperti anak tiri, haruskah aku kabur setelah ini?" omel Xiao Zhan sambil memakai seragam kerjanya.
"Woooh, ikan mahal, kau sudah baikan?. Mari kita ganti airmu, la la la la laaa."
Xiao Zhan sambil bersenandung kecil mengganti air ikan Koi yang sekarang sudah bisa berenang normal, biasanya ikan yang sakit harus dikarantina 3-7 hari, setelahnya baru boleh dilepaskan ke kolam utama.
Setelah memastikan ikan sakitnya terawat, Xiao Zhan menuju dapur untuk memasak sarapan, dia menelan ludah saat membaca menu yang ditempel oleh bibi Liu di pintu kulkas.
"s**u kedelai dan Jiaozi." Xiao Zhan menarik kertas yang menempel itu lalu membacanya di dalam hati.
"Eeh, apa dia fikir aku ini chef professional?, Jiaozi.. aku tidak bisa memasaknya, bahkan jika aku ikut kursus memasak aku belum tentu bisa membuatnya. Sialan, menu sarapan saja ada list nya, repot sekali... Ahhhhh,.. kau mengagetkanku !" teriak Xiao Zhan ditengah-tengah mengomelnya, seorang gadis berkulit putih dengan tinggi semampai kini tengah menatapnya dengan tangan bersilang d**a.
"Meera ada apa?." Tanya Xiao Zhan.
"Waktumu tidak banyak, sebentar lagi Tuan Yibo akan bangun, mengapa kau belum juga memasak?." Meera balik bertanya, dari nadanya saja begitu terlihat jika dia tidak menyukai Xiao Zhan, namun Xiao Zhan yang polos tentu saja tidak mengerti.
"Meera, aku tidak bisa memasak Jiaozi, kau tau... aku bahkan jarang memasak, apa kau bisa membantuku?." Mohon Xiao Zhan dengan ekspresinya yang memelas.
"Tidak bisa memasak?, lalu mengapa kau bisa jadi pelayan disini?." Tanya Meera heran.
"Aahh itu karena,...", "Meera, tolong bantu pindahkan kursi ini, Ibu mau membersihkan lantai."
Ucapan Xiao Zhan tidak berlanjut karena Nyonya Liu memanggil putrinya, Meera sekali lagi menatap sinis kearah Xiao Zhan dan pergi dari sana tanpa berkata-kata.
"Hehh?, kenapa dia melihatku begitu?, datang bulan?." Batin Xiao Zhan sambil telunjuk kecilnya mengetuk-ngetuk dagu untuk berfikir menu yang bisa dia masak sebagai pengganti Jiaozi.
Bibi Liu, Meera, Bibi Zhou dan Xiao Zhan kini berbaris di samping Wang Yibo, laki-laki tampan itu terlihat menekuk wajahnya begitu menatap menu sarapan di hadapannya.
Yibo sesekali memegangi lehernya yang pegal, semalaman dia tidur di sofa ruang kerjanya, hal itu terpaksa dia lakukan karena Xiao Zhan memonopoli ranjangnya, tidak mungkin kan dia tidur bersebelahan dengan pembantunya sendiri?.
"Menu apa ini Xiao Zhan?, dimana Jiaozhinya?, apa ini telur?." Tanya Yibo sambil menunjuk menu yang ada dihadapannya, sudah dua hari ini menu masakannya terlihat aneh, tidak ada lagi meja yang penuh dengan hidangan nikmat, yang ada hanya hidangan sederhana buatan Xiao Zhan. Meski begitu, mengapa Yibo tetap memaksa Xiao Zhan untuk memasak ?.
Ketiga pelayan Yibo menunduk dalam-dalam, mengganti menu sarapan tanpa memberitahu Yibo adalah sebuah kesalahan besar. Xiao Zhan bisa-bisa ditendang keluar hari ini juga.
"Ya Paman, lihatlah sendiri itu telur, bubur nasi dan teh manis." Jawab Xiao Zhan sedikit mengangkat kepalanya.


"Mengapa kau mengganti menunya?, dan aku tidak suka makan telur, singkirkan makanan ini !." bentak Yibo hingga membuat Xiao Zhan benar-benar mengangkat kepalanya untuk menatap Yibo yang arogan.
"Aku ini bukan tukang masak tapi kau memaksaku, aku sudah melakukannya dan sekarang kau malah memarahiku !. Perempuan saja banyak yang tidak bisa membuat Jiaozhi, apalagi aku yang laki-laki. Aku juga tidak tau kau tidak suka telur, itu salahmu sendiri yang tidak memberitahuku." Xiao Zhan menjawab dengan wajah yang seolah menantang Yibo, Yibo mau tidak mau memijit kepalanya karena pagi-pagi sudah harus ribut dengan pembantunya yang melawan.
"Bibi Liu apa kau tidak memberitahunya apa yang boleh dimasak dan tidak boleh ?." tanya Yibo pada Bibi Liu namun matanya terus menatap Xiao Zhan.
"Sudah tuan.", jawab Bibi Liu yang masih setia tertunduk.
Mendengar jawaban Bibi Liu, Xiao Zhan mengerutkan keningnya, kapan Bibi Liu pernah memberitahunya soal itu?."
"Bibi Liu kau tidak...", "Cukup Xiao Zhan !, kau selalu membuat keributan disini, jika kau mengulanginya lagi aku tidak hanya akan menghukummu, aku akan menjualmu !, kau dengar?." Teriak Yibo lalu berdiri dari tempatnya. Xiao Zhan yang diancam begitu pun gemetar, dia tidak mau dihukum atau dikirim ke tempat lain yang lebih mengerikan dari ini.
"Ya.." jawab Xiao Zhan serak karena menahan air mata, dia kembali teringat orang tuanya yang tidak pernah berkata kasar apalagi memarahinya, andai Xiao Zhan bisa kembali, dia ingin menjadi orang yang sederhana tanpa harus meminjam uang pada Wang's Limited, dengan begitu dia tidak akan pernah berpisah dari orang tuanya.
"Meera hari ini Ayah dan Haikuan Ge akan berkunjung, buat menu sarapan seperti biasanya untuk menyambut mereka."
"Ya Tuan.."
"Xiao Zhan ikut aku." Yibo kembali berucap dan pergi dari sana.
Xiao Zhan dengan sedih mengangkut menu masakannya, dia menyimpannya di dapur dan tak lupa menutup rapat-rapat. Setelah itu Xiao Zhan mengikuti Yibo yang sekarang sedang berdiri di depan kolam ikan. Yibo berdiri menghadap kolam itu, sedangkan Xiao Zhan juga berdiri tidak jauh di belakang Yibo, wajah kecil itu terus menunduk karena menahan sakit hati akibat teriakan Yibo tadi.
"Kau pakai untuk apa uang hasil menjual ikan-ku?" tanya Yibo tanpa berbalik
"Hahh?"
"Ikan Koi disini berjumlah 18 ekor dan pagi ini hanya tersisa 17, kau tidak bisa mengelak, kemarin aku melihatmu ......... Yaaak !, Xiao Zhan dimana kau?." Yibo terkejut saat dia berbalik Xiao Zhan sudah tidak ada di belakangnya. Belum sempat Yibo berfikir jika Xiao Zhan melarikan diri, tiba-tiba saja pembantu barunya itu kembali sambil menenteng bak di tangannya.
"Ikan ini yang kau cari?, kau mengguyurku kemarin karena ikan ini Paman?. Ikan ini sakit, jadi aku memisahkannya dari kolam itu, tapi kau malah membuatku hampir mati kedinginan, baik jika begitu.."
*Byuuur
Xiao Zhan menumpahkan ikan koi itu beserta air-airnya ke kolam di samping Yibo.
"Aku sudah mengembalikannya, bisa kau bertanggungjawab karena sudah menyiksaku kemarin?." Tanya Xiao Zhan yang kini sudah berkacak pinggang di depan Yibo.
Tangan Yibo menahan dadanya yang berdegup kencang, sifat Xiao Zhan ini benar-benar mengingatkannya pada sang kekasih, Lyn. Yibo menggelengkan kepalanya, ini tidak mungkin, Xiao Zhan adalah laki-laki, dia tidak mungkin melihat Xiao Zhan seperti melihat Lyn, tapi mengapa Yibo selalu merasa segelisah ini jika melihat Xiao Zhan marah?.
Sifat Lyn yang semena-mena ini adalah sifat yang paling Yibo benci, namun entah mengapa melihat Xiao Zhan memiliki sifat yang sama, rasanya hati Yibo yang lama membeku perlahan mencair, Xiao Zhan telah meretakkan dinding-dinding es itu dengan sikapnya. Yibo baru menyadari, jika tidak selamanya kita membenci sifat seseorang, karena nyatanya sekarang Yibo begitu merindukan sikap Lyn yang selalu menentangnya.
Awalnya Yibo tidak begitu tertarik untuk menyandera Xiao Zhan, dia membawa Xiao Zhan ke rumah ini hanya untuk menggertak Xiao Ping, namun entah mengapa sekarang Yibo jadi ingin Xiao Zhan tinggal di rumah ini selamanya. Dia ingin memberi pelajaran pada bocah nakal ini setiap hari, Yibo jadi penasaran sampai kapan sikap keras Xiao Zhan bisa bertahan.
"Kau.. kau tidak menjualnya?."
Xiao Zhan memejamkan matanya menahan kesal karena pertanyaan Yibo, jika dia bukan pelayan ingin sekali dia menjeburkan Yibo ke kolam itu.
"Jika aku menjualnya, ikan itu sudah pasti tidak ada disana."
Setelah berbicara seperti itu, Xiao Zhan pergi tanpa bisa Yibo cegah lagi. Wang Yibo menatap punggung Xiao Zhan yang perlahan menghilang di balik tembok, Yibo tersenyum sambil menatap ikan Koi yang sekarang sudah bisa berenang bebas.
"Menarik."
___________________
"Bagaiamana bisnismu Yibo, apa ada kendala?."
Tanya Tuan Wang sambil menunggu para pelayan menyiapkan makanan di hadapannya. Pagi ini Tuan Wang sarapan bersama kedua putranya di kediaman Yibo, dia memang rutin berkunjung untuk berdiskusi soal pekerjaan atau hanya sekedar melihat keadaan Yibo. Tuan Wang sendiri bisa disebut seorang veteran yang telah malang melintang di dunia 'Bisnis Hitam', sejak ketatnya regulasi perdagangan intan, tambang intan yang dulu menjamur sekarang mulai berkurang, namun peluang ini justru dimanfaatkan oleh Tuan Wang yang memang sangat licin dalam berbisnis. Tak hanya itu, dia juga melakukan perdangan emas Ilegal untuk meraup pundi uang sebanyak-banyaknya, keuntungan bisnis ini mencapai 3 Miliar Dolar AS per tahun. Namun semua itu adalah masa lalu, sekarang dia hanyalah orang tua dari kedua putranya. Bisnis Gelap itu sekarang sudah berijin dan secara terbuka bersaing bersama perusahaan-perusahaan besar lainnya. 5 tahun lalu, Tuan Wang membangi adil warisan bisnisnya untuk Yibo dan Haikuan, Haikuin sekarang mengurusi perusahaan pertambangan emas dan logam murni, sedangkan Yibo mengurusi perusahaan produksi dari hasil tambang perusahaan yang dipegang Haikuin, karena alasan itu juga setiap beberapa minggu sekali kakak dan adik itu rutin bertemu untuk membicarakan urusan bisnis.
"Semuanya lancar, karena kalian datang aku terpaksa tidak ke kantor hari ini." jawab Yibo malas.
"Hahahhaha, tidak ke kantor sesekali itu tidak apa Yibo, jangan terlalu memporsir diri." Jawab Tuan Wang lalu meminum air putih yang sudah disiapkan untuknya.
"Terimakasih Meera, kau semakin cantik saja." Goda Haiukuan saat Meera menuangkan Teh untuknya. Meera pun tersenyum dan hanya mengangguk kecil.
Sementara itu Yibo sedikit gelisah karena melihat Xiao Zhan tidak ada di barisan pelayan.
"Bibi Liu dimana Xiao Zhan?." tanya Yibo pada kepala pelayan.
"Eehh, siapa itu Xiao Zhan?." Haikuan menimpali.
"Pembantuku yang baru." Yibo menjawab singkat.
"Sepertinya di belakang Tuan, mau saya panggilkan?." Bibi Liu menjawab.
"Sudah tidak perlu, biarkan saja dia." Tuan Wang menyela.
Sarapan pagi itu dipenuhi dengan obrolan ringan soal pekerjaan, bincang-bincang mereka terjeda sejenak saat ponsel Haikuan berdering. Haikuan meraba sakunya, dan melihat ponsel pintarnya sedang menerima panggilan masuk.
"Ini client, aku akan mengangkatnya sebentar."
Setelah meminta ijin Haikuan pergi untuk menerima teleponnya, obrolan itu cukup lama hingga membuat Haikuan bosan dan melangkahkan kakinya ke taman di sisi samping rumah Yibo. Setelah sambungan teleponnya terputus, Haikuan hendak kembali ke ruang makan, namun langkahnya terhenti karena menatap sosok yang tengah berjongkok di sisi taman, tepatnya di bawah salah satu pohon bonsai rimbun.
"Apa yang kau lakukan disana?, ini panas, kembalilah ke dalam." Teriak Haikuan dari teras samping rumah, dengan matanya yang terus tertutuju pada sosok laki-laki yang kini menoleh padanya. Haikun cukup terkejut, saat sosok yang ternyata Xiao Zhan itu menoleh, sosok asing bagi Haikuan itu terlihat begitu bersinar dibawah terik mentari pagi.
"Kau.. apa kau pelayan baru?, kemari lah." Ucap Haikuan sambil tangannya bergerak memberi kode agar mendekat.
"Saya sedang memotong ranting mati tuan, sebentar lagi selesai." Xiao Zhan menjawab sambil sebelah tangannya disembunyikan di belakang punggung, Haikuan hendak menghampiri Xiao Zhan namun dari sisi yang berbeda terlihat Bibi Zhou menghampiri Xiao Zhan, Haikuan pun mengurungkan niatnya.
"Pelayan baru mu lebih terlihat seperti anak gadis, mengapa kau letakkan dia jadi tukang kebun." Tanya Haikuan tiba-tiba saat dia baru kembali ke meja makan. Yibo yang ditanyai begitupun mengerutkan keningnya.
"Siapa?." Yibo balik bertanya.
"Tadi aku melihat pelayan laki-laki memotong bonsai, sepertinya itu pelayan barumu." Jawab Haikuan lalu meminum air putih di depannya. Yibo diam-diam menahan emosinya, Xiao Zhan anak nakal itu selalu saja membuat ulah, panas-panas begini mengapa dia harus memotong bonsai, bukan itu masalahnya, hanya saja mengapa Haikuan bisa melihatnya?, Yibo merasa tidak suka.
"Tempatmu ini tidak terlalu besar Yibo, tidak perlu menambah pelayan lagi." Ucap Tuan Wang menimpali.
"Ya itu betul Ayah, bagaimana jika pelayan tadi kau pindahkan saja ke mansion utama, aku berjanji akan memberinya pekerjaan yang lebih layak dari sekedar memotong bonsai." Ucap Haikuan sambil tersenyum, namun tidak dengan Yibo, laki-laki itu melayangkan tatapan tidak suka pada Haikuan, dia hendak menjawab Haikuan namun lidahnya terasa kelu saat matanya dengan tidak sengaja menatap monitor CCTV.
"Iblis nakal !." geram Yibo lalu memanggil ajudannya untuk melakukan yang dia perintah. Tanpa berkata-kata lagi Yibo bergegas ke taman tempat Xiao Zhan tadi memotong bonsai. Mata Yibo melotot saat melihat pemandangan di depannya, sungguh nekat Xiao Zhan.
"Turun, turun kau iblis kecil. Jangan melompat ke lahan itu, ada ranjau. Arrghh merepotkan." Yibo meraung frustasi saat seruannya tidak dihiraukan Xiao Zhan. Yibo dengan sedikit berlari mendekati Xiao Zhan yang kini sudah memanjat tembok tinggi di sebelah rumahnya, Yibo menggeleng saat tau niat Xiao Zhan yang ingin melompat ke pekarangan sebelah, Xiao Zhan tidak tau jika disana banyak dipasang ranjau untuk para pencuri atau pun penyusup.
"Turun Xiao Zhan, aku bilang turun, apa yang kau lakukan disana, cepat turun jika kau tidak ingin kehilangan kakimu." Teriak Yibo makin keras saat membayangkan kaki Xiao Zhan yang putus terperangkap ranjau, teriakan itu pun membuat seisi rumah mewah itu keluar untuk melihat apa yang sedang diteriaki Yibo, begitu juga dengan Haikuan dan sang Ayah.
Mulut Haikuan menganga saat melihat aksi Xiao Zhan yang sedang susah payah ingin memindahkan tangga lipat itu ke luar tembok. Haikuan tanpa sadar menepuk tangannya.
"Wooww luar biasa, aku tak menyangka dia pemuda yang pemberani, tapi mengapa dia memanjat disana?, kan bisa lewat pintu depan. Hahahaha, yaa.. yaa.. yaa.. kalau ada yang sulit kenapa harus memilih yang mudah." kekeh Haikuan dari teras rumah, sementara itu disampingnya Tuan Wang hanya bisa bengong melihat atraksi ajaib di rumah Yibo pagi ini.
"Tidak, aku mau pulang. Jika aku disini, kau pasti membunuhku." Teriak Xiao Zhan yang sibuk menarik satu persatu anak tangga teleskopik itu agar terlipat. Yibo geram bukan main, entah apa yang Xiao Zhan mau, padahal dia sudah berbaik hati tidak menjual atau bahkan membunuh anak bandel ini. Yibo mendekat hendak menarik tangga itu, namun Xiao Zhan lebih cepat mengeluarkan ketapel yang barusan saja dia buat dari potongan ranting bonsai.
*Tuk *Tuk *Tuk
Bunyi Xiao Zhan membidikkan batu kecil dari ketapelnya, Yibo hanya tersenyum remeh, serangan seperti itu bukan apa-apa baginya, dia dulu bahkan bisa menghindari tembakan pistol dan pisau lempar. Yibo menggeleng kecil, langkahnya semakin dekat ingin menggagalkan aksi Xiao Zhan.
*Tukkk
"Arrghhhhh..." teriak Yibo menggeram saat batu lumayan besar itu mendarat di keningnya, Xiao Zhan tersenyum.
"Rasakan, itu adalah batu terakhirku dan yang paling besar, sengaja aku siapkan untukmu, bye.. "
Xiao Zhan dengan cepat menurunkan tangga lipatnya, kakinya baru menginjak anak tangga kedua namun dia merasakan tangga itu bergoyang, Xiao Zhan menatap kebawah dan dia begitu terkejut.
"Ahhhhh.."
Pekik Xiao Zhan saat tangga itu ditarik dan tubuhnya melayang dari ketinggian 6 meter, Xiao Zhan membuka matanya saat merasakan seseorang menangkap tubuhnya, itu adalah salah seorang bodyguard Yibo.
"Tidak, tidak.. lepaskan aku, aku tidak mau ke rumah itu lagi, heeii heeiii biarkan aku pergi, nanti saat sampai rumah aku akan memberimu uang, heeeiiii... lepaskan heiii.." teriak Xiao Zhan meronta-ronta saat tubuhnya diangkat seperti karung beras di punggung lebar milik Bodyguard.
Sementara di ruang tamu, terlihat wajah Yibo memerah, dia menahan keningnya yang sedikit berdarah, Haikuan sejak tadi tidak berhenti tertawa, menurutnya Xiao Zhan sangat berani, dan hari ini Yibo bahkan telah kalah.
"Tuan, mari saya bantu.." ucap Meera pelan, dia meletakkan sebaskom air di meja, tangannya yang lentik menyeka luka itu dengan handuk basah. Setelahnya Meera mengambil sebongkah es dan membungkusnya didalam kain lalu mengompress luka bengkak di kening Yibo. Senyum di bibir Meera tak pernah lepas, dia bahkan sesekali dengan malu-malu menatap Yibo. Yibo selalu merasa tidak nyaman dengan sikap Meera ini, tanpa Meera bicara pun Yibo tau Meera menyukainya, dan Yibo sebenarnya tidak perduli, hanya melihat Meera yang terus tersenyum membuat Yibo risih.
"Aku bisa sendiri." Ucap Yibo sambil memundurkan kepalanya, setelah itu dia mengambil kain kompress dari tangan Meera, hal itu membuat senyum Meera memudar seketika, Haikuan yang memperhatikan interaksi keduanya pun hanya bisa menggeleng, dia tau Meera menyukai Yibo, tapi lebih dari itu Haikuan tau tipe gadis yang diminati Yibo.
Di ruangan lain, namun masih di rumah yang sama, Xiao Zhan sibuk menggedor pintu dan terus berteriak minta dibukakan. Sekarang dia berada di salah satu ruangan yang cukup besar, terlihat seperti kamar, hanya ruangan ini begitu bersih dengan segala prabotannya yang ditutupi kain putih. Xiao Zhan menelan air liurnya karena takut, tangannya yang gemetaran terus menggedor daun pintu, mata Xiao Zhan menyapu seisi ruangan.
"Apa pemilik kamar ini sudah mati?." Batin Xiao Zhan saat melihat beberapa lukisan besar menempeli dinding kamar, lukisan seorang wanita cantik, dari goresan kuasnya terlihat jika lukisan itu dibuat oleh seorang pandai, tidak salah lagi itu adalah lukisan mahal. Kamar yang berada di lantai paling atas ini terlihat semakin antik karena ranjang mewah yang ada ditengah-tengah ruangan beratapkan kelambu putih dihiasi corak keemasan seperti tirai pengantin, ini jaman modern mengapa masih ada yang memakai kelambu?. Tubuh Xiao Zhan semakin gemetaran, cahaya yang memasuki ruangan ini pun minim karena hanya terdapat dua jendela kaca yang tertutup gorden.
"Seperti tempat penyekapan rapunsel." Bibir Xiao Zhan bergetar mengucapkan kalimat itu, perlahan ketukan tangan Xiao Zhan di daun pintu semakin pelan, tubuhnya yang takut dia dudukkan dengan bersandar pada pintu. Xiao Zhan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, begitu juga dengan lututnya yang merapat, tanpa diminta air mata pun mulai menyesaki pelupuk matanya.
"Mama, aku takut.."
*Tbc.