Xiao Zhan perlahan membuka mata, tubuhnya yang berbaring lurus membuat pandangannya langsung bertemu dengan atap selambu indah yang menjuntai diatasnya. Xiao Zhan meneguk ludahnya dengan sulit, matanya mulai bergerak melihat ke kiri dan ke kanan. Saat kepalanya sedikit dia tolehkan ke kanan, Xiao Zhan terkejut bukan main karena disamping ranjang itu ada sosok yang sedang membelakanginya.
"Hantu !, Hantu !.. Hantu... !!!. tolong tinggalkan aku, maaf.. maafkan aku, tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud tidur di ranjangmu, pergi pergi.. !." teriak Xiao Zhan sambil kedua matanya terpejam erat, tangannya dia pukul-pukulkan ke udara sebagai bentuk pertahanan kalau-kalau sosok itu akan menyerangnya.
"Yaaak !, tidak.. tidak, maafkan aku, tolong.. tolong, aku mohon. Aku juga tidak mau di kamar ini, tolong jangan ganggu aku !." teriak Xiao Zhan semakin keras saat merasakan tangannya disentuh seseorang, ada orang yang memegangi tangannya hingga dia tidak bisa melakukan gerakan-gerakan perlawanan. Jantung Xiao Zhan berdetak kuat, dia mengintip dari sebelah matanya.
"Ehh?, Paman?, ah Tuan.. kau kah itu?." Xiao Zhan menghela nafasnya begitu sadar sosok yang sedang duduk di sampingnya adalah Wang Yibo. Laki-laki bermarga Wang itu terus menatap Xiao Zhan, Xiao Zhan yang merasa tidak enak pun akhirnya bangkit dari berbaringnya, namun belum sempat Xiao Zhan benar-benar duduk, tangan Yibo lebih dulu bergerak hingga membuat Xiao Zhan terkejut.
"Kau bukan dia kan?." Tanya Yibo datar sambil sebelah tangannya menyentuh pipi Xiao Zhan.
"Ya?, dia siapa?." Xiao Zhan merasa bingung, namun rasa bingung itu beralih menjadi perasaan takut saat Yibo menghardiknya.
"Katakan kau bukan dia !, katakan !." bentak Yibo sambil menarik rambut Xiao Zhan.
"Hei sakit, mengapa kau menarik rambutku, apa yang kau tanyakan?." Sahut Xiao Zhan sambil mencoba menarik cengkraman Yibo di rambutnya.
"Mengapa kalian begitu mirip?, tidak kau bukan dia, dia sudah tidak mencintaiku, aku tidak boleh memikirkannya, tidak, tidak, tidak.." Gumam Yibo frustasi sambil menarik tangannya dari kepala Xiao Zhan, Yibo mengusap wajahnya beberapa kali dengan telapak tangan, begitu terlihat nafasnya yang naik turun, mungkin dia sedang menahan marah?.
Xiao Zhan yang melihat Yibo seperti itu segera mengambil kesempatannya, perlahan Xiao Zhan turun dari ranjang, namun belum sempat dia melangkah, Yibo lebih cepat menahan tangannya.
"Apa kau suka kamar ini?." tanya Yibo dengan suara yang cukup menyayat hati.
"Ya?."
"Aku sangat ingin tau bagaimana reaksinya saat melihat kamar ini, aku menyiapkan ini khusus untuknya." Jawab Yibo pelan lalu melepaskan cengkramannya di lengan Xiao Zhan.
Kamar ini adalah kamar yang Yibo buat untuk kekasihnya, Lyn. Sudah bertahun-tahun, namun Yibo selalu memprioritaskan kebersihan kamar ini, setiap harinya Bibi Liu akan rutin membersihkannya, itulah mengapa meski tidak berpenghuni, kamar ini tetap terawat. Kamar ini dibuat sesuai dengan selera Lyn, bahkan Lyn yang meminta Yibo untuk memasang kelambu dan segala perabotannya, Yibo pun tidak pernah keberatan. Hingga akhirnya Lyn menghilang bertahun lamanya, Yibo masih tetap menunggu, dia berharap Lyn bisa tidur di kamar ini, dia benar-benar ingin melihat wajah bahagia Lyn ketika memasuki kamar ini.
Setelah banyak hari berganti, bulan pun berlalu, bahkan 2 tahun sudah terlewati, Yibo mulai mengerti jika kekasihnya tak akan kembali, namun kehadiran Xiao Zhan membuatnya kembali mengingat Lyn dan kembali berharap. Yibo dengan sengaja meminta bodyguardnya menyekap Xiao Zhan di kamar ini, dia sungguh ingin tau bagaimana reaksi Lyn saat memasuki kamar ini, meski itu bukan Lyn, Xiao Zhan pun tak masalah. Sore hari Yibo yang baru menyelesaikan urusannya segera masuk ke kamar ini, namun yang dia temui adalah Xiao Zhan yang tertidur di lantai. Menatap wajah tidur Xiao Zhan, Yibo baru menyadari jika Xiao Zhan itu berbeda dari Lyn, terlepas dari perbedaan jenis kelamin, Xiao Zhan adalah sosok yang polos dan jujur. Karena penilainnya ini, Yibo dengan tangannya sendiri membopong Xiao Zhan untuk berbaring di kasur.
"Ka.. kamar ini seram tuan." Jawab Xiao Zhan yang masih berdiri sambil menundukkan kepalanya.
Yibo mengerutkan keningnya sambil menatap Xiao Zhan lamat-lamat. Yibo tersenyum pahit karena jawaban Xiao Zhan, menurutnya jawaban Xiao Zhan adalah jawaban tidak objektif, mungkin karena kain putih yang menutupi perabotan ruangan ini lah Xiao Zhan menyebutnya seram.
Yibo melangkah lalu membuka satu persatu kain yang menutupi perabotan disana, satu set meja rias lengkap dengan kacanya yang lebar, bagi Xiao Zhan ukiran di bingkai kacanya terlihat menyeramkan. Selain itu terdapat juga sebuah piano tua di sudut ruangan, lampu tidurnya pun bergaya kuno, belum lagi beberapa barang lainnya yang terlihat sudah berumur puluhan tahun, jika ini kamar Xiao Zhan dia pasti tidak berani tidur sendiri. Xiao Zhan terus menggeleng sambil kakinya melemas karena takut, Yibo terus melanjutkan aksinya hingga Yibo membuka penutup terakhir, Xiao Zhan berteriak dan langsung kabur dari sana dengan langkah seribu. Sayangnya pintu itu terkunci, Xiao Zhan tidak bisa keluar dari sana.
"Buka, buka, biarkan aku pergi, itu menyeramkan." Pekik Xiao Zhan sambil mencoba membuka pintu.
"Heii, pembantu !, apanya yang menyeramkan, ini hanya boneka." Yibo menarik tengkuk baju Xiao Zhan dan membawa Xiao Zhan menghadap pada sebuah lemari kaca yang dipenuhi berbagai macam boneka antik dan seram, Xiao Zhan terus menutup matanya.
"Xiao Zhan buka matamu, ini boneka mahal, aku susah paya membelinya di pelelangan." Bentak Yibo sambil tangannya mencengkram rahang Xiao Zhan agar wajah itu menatap kearah lemari kaca. Xiao Zhan semakin kencang menggelengkan kepalanya, keringat dingin mulai bercucuran, begitu juga dengan air matanya yang menetes, Yibo yang menyadari itu pun terkejut. Yibo membalik tubuh Xiao Zhan agar menghadap padanya, tanpa diduga Xiao Zhan langsung memeluk Yibo dengan kuat.
"Aku takut, keluarkan aku dari sini, hiikss." Ucap Xiao Zhan sambil terisak, mau tidak mau Yibo membawa Xiao Zhan keluar dari kamar lantai 4 itu.
Yibo membawa Xiao Zhan ke ruang keluarga, dia meminta Meera membawakan segelas air hangat untuk Xiao Zhan, Meera awalnya tidak mau karena tau itu untuk Xiao Zhan, tapi apa boleh buat karena Yibo memerintahnya.
"Pandai sekali mencari perhatian." Batin Meera dari balik tembok saat melihat Yibo membantu Xiao Zhan yang sedang minum.
"Kamar tadi seperti museum, siapa pemilik kamar itu?, apa dia istrimu yang sudah meninggal?." Tanya Xiao Zhan yang masih gemetar sambil menurunkan gelas air dari bibirnya.
"Kau, jaga bicaramu !, atau aku akan menghukummu tidur di luar malam ini !." marah Yibo saat Xiao Zhan mengatakan pemilik kamar itu sudah meninggal.
"Itu adalah kamar yang aku siapkan untuk Lyn, dia kekasihku yang sekarang ada di Jerman. Dia memang mencintai seni dan barang antik, awalnya aku juga merasa terganggu, tapi lama kelamaan aku memaklumi dan jika difikir-fikir barang antik itu sangat unik dan memiliki cerita tersendiri dibaliknya." Yibo melanjutkan kata-katanya, memikirkan ucapannya sendiri, Yibo jadi heran mengapa dia malah menceritakan kisahnya ini pada Xiao Zhan.
Kedua pemuda itu sekarang sedang duduk berdampingan di sofa ruang keluarga. Xiao Zhan melirik jam yang ada di dinding, ternyata sekarang sudah pukul 3 sore.
"Jadi kau belum menikah?." Pertanyaan Xiao Zhan ini dibalas dengan tatapan tajam oleh Yibo, melihat Yibo yang melotot seperti orang kesurupan Xiao Zhan pun segera meralat kata-katanya.
"Ahh maaf, kamar itu seram.. ah bukan, maksudku aku tidak menyimpan barang seperti itu di rumahku. Aku takut.. takut kalau...." Xiao Zhan berbisik pada kata-kata terakhirnya, Yibo pun semakin lekat menatap Xiao Zhan.
"Takut apa?."
"Takut hantunya akan mengikutiku, aku pernah melihatnya di film horor." Ucap Xiao Zhan dengan berbisik, takut-takut jika hantu itu benar-benar ada dan mendengar ucapannya.
"Hantunya itu kau !." ucap Yibo lalu mendorong kening Xiao Zhan dengan jari telunjuknya hingga kepala Xiao Zhan sedikit terdorong ke belakang, Yibo berdiri dari tempatnya dan sekali lagi menatap Xiao Zhan.
"Makanlah dulu, hari ini kau boleh libur, tapi awas kalau kau mencoba kabur... aku akan... aku akan mengurungmu lagi di kamar tadi." Ucap Yibo dengan nada seramnya yang dibuat-buat, Nyatanya hal itu cukup untuk membuat Xiao Zhan berlonjak kaget.
"Ya, aku tidak akan kabur..."
Xiao Zhan berjalan lunglai menuju meja makan, disana ada beberapa makanan yang sepertinya sisa makan siang. Xiao Zhan menarik salah satu kursi dan duduk untuk menyendok makanannya, namun suara seseorang menghentikannya.
"Pelayan makannya di belakang." Tegur Bibi Liu.
Xiao Zhan mengerucutkan bibirnya, dengan terpaksa dia pergi ke dapur lalu memakan makanannya disana, saat sedang makan dia melihat Meera juga masuk ke dapur.
"Xiao Zhan, kau tidak boleh mengambil makanan dari meja makan utama, itu makanan untuk Tuan Yibo." Meera bekata lalu menarik piring yang sedang dipegang Xiao Zhan, Meera pun membuang nasi beserta lauk itu ke kotak sampah.
"Meera !, mengapa kau membuangnya?, Majikanmu itu yang menyuruhku mengambil makanan dari sana, Meera kau sungguh tidak beretika, seharusnya gadis cantik sepertimu diimbangi dengan sikap sopan santun." Ucap Xiao Zhan dengan marah, setelahnya dia berlalu dari sana.
_____
Keesokannya Xiao Zhan menyiapkan sarapan, seperti biasanya jika dia tidak mampu membuat menu yang sudah ditentukan, maka Xiao Zhan akan mengganti menu masakan itu dengan sesuka hati, Yibo pun tidak protes, mengherankan.
Yibo menyelesaikan suapan terakhirnya didampingi Xiao Zhan dan Meera yang berdiri di sampingnya. Saat Xiao Zhan hendak mengangkat piring kotor dari hadapan Yibo, laki-laki yang merupakan majikannya itu pun bersuara.
"Karena mencoba kabur kau harus dihukum." Ucap Yibo tiba-tiba hingga menghentikan aktvitas Xiao Zhan dan beralih menatap wajah orang yang juga sedang menatapnya.
"Potong semua rumput di halaman belakang, sebelum sore hari kau harus menyelesaikannya ya. Ingat, harus rapi !." Setelah memberikan perintahnya,Yibo berdiri dan mengambil kemeja yang tersampir di salah satu kursi, lalu pergi berangkat ke tempat kerjanya. Meera yang ikut mendengar itu pun tersenyum miring, tidak mau repot-repot membantu Xiao Zhan, gadis itu pun meninggalkan Xiao Zhan yang kini membereskan meja makan.
"Sabar.. sabar, 3 bulan itu tidak lama. Tidak apa... tidak apa, Xiao Zhan tidak apa, huuuhhh semangatlah. Ayah aku selalu mendoakanmu." Xiao Zhan menyemangati dirinya sendiri, setelah menarik nafas panjang-panjang, Xiao Zhan membuangnya perlahan, berharap perasaannya lebih tenang sehingga dia tidak perlu melukai kepala Yibo sekali lagi. Meski begitu, tetap saja hasrat ingin memecahkan kepala Yibo begitu membuncah di hati Xiao Zhan.
Setelah mencuci piring, Xiao Zhan dengan kesal menuju ke taman bagian belakang.
"Pak, hari ini saya yang akan membersihkan taman, tuan Yibo meminta saya memotong rumput dan tanaman disini, bapak kerjakan yang lain saja." Ucap Xiao Zhan sambil tersenyum.
"Ahh baiklah Zhan, hati-hati ya, jangan sampai luka, bapak mau makan sebentar." Ucap tukang kebun itu lalu memberikan gunting yang sedang dia pegang kepada Xiao Zhan.
Tangan ramping dan putih milik Xiao Zhan mengambil alat pemotong rumput itu, dia mempraktekkannya sejenak, jujur saja Xiao Zhan belum pernah menggunakannya. Setelah memahami cara kerja alat itu, Xiao Zhan mulai memotongi beberapa rumput hijau yang memenuhi halaman taman.
Sinar matahari yang lembut perlahan menunjukkan keganasannya, semakin lama Xiao Zhan di halaman tak beratap itu, semakin panas pula pancaran sinar matahari yang menerpa kulitnya. Beberapa kali Xiao Zhan menyeka keringat yang menetes dari sela-sela rambut dan juga lehernya, Xiao Zhan berteduh ke teras belakang, dia mengambil sebotol air yang tadi dia bawa. Xiao Zhan membuka tutup botol itu dan sedikit mendongak, tangannya terangkat hendak menuangkan air putih ke kerongkongannya.
*Guk guk guk.. Guk !
Itu adalah suara anjing yang tiba-tiba muncul di hadapan Xiao Zhan entah darimana datangnya, Xiao Zhan pun tidak memperdulikan, kembali dia hendak meneguk airnya.
*Guk ! Guk !
Anjing itu kembali menyalak, Xiao Zhan mengerutkan keningnya.
"Hei anjing kecil, pergilah dari sini, jangan menggangguku, aku lelah, lihat pekerjaanku masih banyak." Xiao Zhan mengomel lalu meneguk minumannya.
*Guk ! Guk ! Gukk !
Anjing itu menggonggong semakin keras seolah marah karena ucapan Xiao Zhan, mungkin dia tidak terima karena dipanggil anjing kecil. Xiao Zhan menatap anjing itu, anjing yang ditatap pun tertunduk dan mendudukkan tubuhnya dengan ekor yang bergerak-gerak menyapu lantai.
"Kau mau minum?." Xiao Zhan bertanya lalu melihat ke sekitarnya, dilihatnya di kotak sampah ada cup bekas minuman gelas, Xiao Zhan mengambil gelas plastik itu dan menuangkan air di dalamnya. Benar saja, anjing pendek itu langsung meminum air yang Xiao Zhan sodorkan di hadapannya.
Sekilas anjing yang kehausan itu terlihat ganas, namun begitulah perawakan dan ekspresi anjing mungil berjenis Cihuahua, anjing ini merupakan ras anjing yang berposter tubuh kecil dengan wajahnya yang unik. Anjing jenis ini biasanya adalah anjing yang cocok untuk dijadikan peliharaan, namun entah bagaimana Yibo merawatnya, anjing mungil itu terlihat galak dan liar.
"Haohao.." ucap Xiao Zhan saat membaca nama yang tertulis pada kalung anjing itu, jika Xiao Zhan tidak salah tebak, nama Haohao ini diambil dari suku kata 'Hsiao Hao' yang berarti bayi, sangat cocok dengan penampilannya, begitulah yang dipikirkan Xiao Zhan sambil mengagumi anjing yang terlihat menggemaskan itu.
Mendengar namanya disebut Haohao pun kembali meneriaki Xiao Zhan.
*Guk Guk Guk !
"Yaakk, anak anjing, aku memberimu air dan kau malah berteriak padaku." Kesal Xiao Zhan lalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya, Haohao pun mengekori Xiao Zhan, dia berputar-putar sambil menggonggongi Xiao Zhan. Xiao Zhan yang jengkel kadang-kadang melempari Haohao, namun anjing cilik itu seolah tak kenal lelah, selalu kembali untuk mengganggu Xiao Zhan. Haohao sesekali menggigit dan menarik baju Xiao Zhan, membuat pekerjaan Xiao Zhan siang ini semakin melelahkan.
Menjelang sore hari, keduanya terlihat kelelahan, entah bagaimana awal mulanya, Haohao sekarang sudah berada di pangkuan Xiao Zhan, keduanya berteduh di pondok kecil yang ada di sudut taman. Tanpa Xiao Zhan ketahui, seluruh tingkahnya ini tidak pernah lepas dari pandangan seseorang yang sedang memantaunya dari rekaman CCTV.
"Menggelikan, seperti bocah."
Ucap pria yang sedang menonton Xiao Zhan dari layar monitor di meja kerjanya.
_________________________
1 bulan kemudian.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih untuk kerja keras kalian." Ayah Xiao Zhan membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada peserta rapat, hal itu membuat semua orang berdiri dan membalas ungkapan hormat yang ditunjukkan Xiao Ping.
"Meski kita belum memenuhi target, tapi ini adalah pencapain luar biasa, dan ini sertifikat rumah utama milik keluarga Xiao, aku akan melelangnya. Manajer Chao, tolong daftarkan sertifikat ini di forum pelelangan." Xiao Ping kembali melanjutkan ucapannya dan sekali lagi mengucapkan terimakasih pada seluruh karyawannya yang sudah bekerja keras.
Sementara itu di kediaman Wang Yibo sore ini, tepatnya di teras rumah terlihat Meera tengah menyajikan secangkir teh hangat untuk Wang Yibo.
"Teh nya tuan." Ucap Meera sambil tersenyum dan meletakkan cangkir itu di hadapan Yibo. Yibo menurunkan koran yang sejak tadi dibacanya, dia menoleh kearah Meera, hal itu sontak membuat Meera tertunduk malu.
"Berapa usiamu Meera?." Tanya Yibo.
"Tahun ini 20 tahun tuan." Jawab Meera yang masih bersimpuh di sebelah meja.
"Apa kau tidak ingin masuk universitas atau bekerja?, sayang sekali jika kau menghabiskan waktumu di sini." Yibo berkata lalu meminum teh yang baru saja diseduh oleh Meera.
Yibo menanyakan ini karena memang menurutnya Meera masih muda dan terlalu disayangkan jika harus menghabiskan hidupnya hanya sebagai pembantu, sejak Meera tamat dari bangku SMA, Bibi Liu menolak mengirimkan anaknya ke bangku kuliah, dan sejak saat itulah Meera bekerja untuk Yibo.
"Tidak tuan, saya hanya ingin mengabdikan diri saya untuk Tuan." Jawab Meera sambil tersenyum, dia sedikit melirik kearah Yibo lalu kembali menundukkan wajahnya.
"Jika kau ingin kuliah atau bekerja, kau bisa katakan padaku, aku akan membantu. Atau jika kau ingin menikah dengan pacarmu, aku juga bisa membantumu Meera."
Ucapan Yibo membuat Meera mendongakkan kepalanya, dia tidak memiliki pacar, tidak ada seorang pun yang dia sukai selain Yibo.
"Saya tidak punya tuan, saya tidak punya pacar." Meera kembali menyahut.
"Mengapa?, tidak ada larangan untuk punya pacar disini." ucap Yibo sambil kembali membaca korannya, namun Yibo berhenti sejenak karena mendengar jawaban Meera yang terdengar gugup.
"Ya tuan, sebenarnya saya.. saya..."
"Woaahh, kembali kau,.. kesini kau ! Haohao !.. kembalikan ! aku harus menyiram bunga, Haohao aku akan memanggangmu !."
Xiao Zhan berteriak dan berlari melewati Yibo yang sedang bersantai di teras.
Yibo yang terkejut segera menoleh, dilihatnya Xiao Zhan berlari ke dalam rumah mengejar Haohao, anjing nakal milik Yibo.
Anjing pemarah itu kini begitu akrab dengan Xiao Zhan, Haohao bahkan pernah menggonggongi Yibo atas perintah Xiao Zhan, setiap harinya rumah ini menjadi ramai, Yibo pun lebih sering di rumah saat tidak bekerja. Dia lebih memilih di rumah dengan sesekali mengerjai Xiao Zhan, bahkan akhir-akhir ini Yibo jarang pulang terlambat. Sikap Yibo pada Xiao Zhan perlahan melunak, meski beberapa kali Xiao Zhan menerima hukumannya, namun Yibo tidak pernah melarang Xiao Zhan melakukan ini dan itu kecuali soal keluar dari pekarangan rumah, Yibo dengan tegas melarang Xiao Zhan melewati pembatas rumahnya.
"Saya akan memarahinya tuan." Ucap Meera lalu bangkit dari berlututnya, dia mengangkat nampan dan hendak pergi dari sana, namun Yibo menghentikannya.
"Tidak perlu Meera, lanjutkan saja pekerjaanmu." Setelah berucap seperti itu, Yibo ikut masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Meera yang sedang menatap tajam kearahnya.
Yibo menggelengkan kepalanya saat melihat Xiao Zhan merundukkan kepala ke kolong meja, disana Haohao terlihat sedang sembunyi, sementara Xiao Zhan berusaha menjangkaunya.
"Berapa sih umurnya ? Mengapa dia sangat bodoh." Batin Yibo yang sekarang sudah berdiri di belakang Xiao Zhan.
"Apa yang kalian lakukan !?." Teriak Yibo cukup keras hingga membuat Xiao Zhan dan Haohao terkejut, Xiao Zhan mendongak sementara itu Haohao berlari pergi dari sana.
"Dia.., dia mencuri makanan ikan. Aku tadi ingin memberi makan ikan setelah menyiram tanaman, tapi Haohao mencurinya !." jelas Xiao Zhan sambil menunduk dengan matanya yang melirik ke kanan dan ke kiri masih mencari dimana anjing nakal itu sembunyi.
Yibo menelisik tubuh Xiao Zhan, disana terlihat beberapa goresan di lengan Xiao Zhan, dan bajunya juga terlihat sedikit basah, melihat ini rasanya Yibo sangat gemas, gemas ingin memarahi Xiao Zhan.
"Tidak perlu mengejar anjing itu lagi, makin hari kalian berdua terlihat sama gilanya. Gantilah bajumu dan siapkan makan malam." Ucap Yibo lalu beranjak dari hadapan Xiao Zhan. Xiao Zhan yang melihat wajah marah Wang Yibo pun akhirnya menurut.
_______________
Tbc.