Akhtar menghabiskan beberapa minggu memikirkan cara yang tepat untuk menghubungi Kalina. Ia tidak ingin mengirim pesan pribadi mendadak setelah lebih dari setahun menjaga jarak. Ia juga tidak ingin memanfaatkan posisi atau kenangan mereka. Akhirnya ia berbicara kepada Amalia dan meminta ibunya menemaninya ke Bogor untuk menemui keluarga Kalina.
'Kamu yakin Kalina ingin bertemu?' tanya Amalia.
'Saya belum tahu. Saya akan meminta izin kepada orang tuanya dan menerima kalau mereka menolak.'
Amalia mengingatkan bahwa Kalina tidak berutang kesempatan kepadanya. Akhtar berkata ia memahami. Ia tidak akan meminta jawaban hari itu juga.
Mereka menghubungi Bunda Kalina melalui jalur yang tersedia. Akhtar menjelaskan bahwa ia ingin datang bersama ibunya untuk berbicara dengan keluarga. Bunda menyampaikan akan bertanya dulu kepada Kalina. Setelah beberapa hari, Kalina menyetujui pertemuan singkat di rumahnya.
Perjalanan ke Bogor terasa panjang bagi Akhtar. Ia membawa buah dan kue untuk keluarga Kalina, bukan hadiah mahal. Amalia duduk di sampingnya dan berkata ia akan membiarkan Akhtar berbicara sendiri.
Bunda dan Ayah Kalina menyambut mereka. Kalina keluar dari ruang tengah setelah beberapa menit. Ia tampak tenang, mengenakan pakaian sederhana. Akhtar menyapa dengan sopan dan tidak mencoba menyentuhnya.
Mereka duduk bersama. Amalia lebih dulu meminta maaf kepada keluarga Kalina karena putranya pernah menempatkan Kalina dalam situasi yang rumit. Ia berkata ia tidak datang untuk menuntut hubungan apa pun, hanya ingin mendukung Akhtar berbicara secara jujur.
Akhtar lalu berkata bahwa ia telah menyelesaikan proses perceraian dengan Giana dan kini menjalani tanggung jawab sebagai ayah. Ia tidak datang untuk meminta Kalina melupakan masa lalu atau langsung menerimanya. Ia ingin meminta izin untuk mengenal Kalina dengan cara yang benar, jika Kalina bersedia.
'Saya mencintai Kalina,' katanya. 'Tapi kali ini saya ingin memulai tanpa rahasia dan tanpa membuatnya merasa tertekan.'
Ayah Kalina bertanya bagaimana Akhtar akan menjaga hubungan dengan Giana dan Aruna. Akhtar menjelaskan bahwa ia dan Giana memiliki kesepakatan pengasuhan. Ia akan tetap hadir untuk putrinya dan tidak meminta Kalina mengambil peran sebagai ibu. Ia juga memastikan bahwa hubungan barunya tidak akan mengganggu tanggung jawab tersebut.
Bunda bertanya apakah ia yakin tidak sekadar mencari penghiburan setelah perceraian. Akhtar menjawab ia telah menunggu dan menata hidupnya sendiri. Ia tahu perasaan Kalina mungkin berubah, dan ia siap menerima apa pun jawabannya.
Kalina mendengarkan tanpa banyak bicara. Ia masih mengingat rasa sakit, rasa bersalah, dan semua kejadian yang membuatnya mengambil jarak. Namun Akhtar kini datang dengan sikap yang berbeda: tidak meminta, tidak menuntut, dan memberi ruang.
Setelah orang tua mereka berbicara cukup lama, Bunda bertanya kepada Kalina apakah ia ingin mengatakan sesuatu. Kalina berkata ia belum bisa menjanjikan hubungan. Ia bersedia berbicara dan mengenal Akhtar kembali secara perlahan, tetapi ia ingin semua berjalan terbuka dan tidak terburu-buru.
Akhtar mengangguk. 'Saya setuju. Kita mulai dari awal, dengan batas yang membuatmu nyaman.'
Ayah Kalina berkata ia akan memberi izin untuk mereka saling mengenal, tetapi Akhtar harus menjaga kepercayaan itu. Akhtar berjanji. Amalia memegang tangan Bunda Kalina dan berkata mereka akan mendukung anak-anak dengan hati-hati.
Setelah makan siang, Akhtar bertanya apakah Kalina bersedia berjalan sebentar. Kalina melihat orang tuanya. Bunda mengangguk, menyuruhnya melakukan apa yang ia inginkan. Mereka sepakat pergi ke Segarra Ancol, tempat Akhtar pernah mengungkapkan perasaannya.
Perjalanan ke Ancol berlangsung tenang. Akhtar tidak mencoba menggenggam tangan Kalina. Mereka berbicara tentang pekerjaan, Aruna, Kayra, Jihan, dan hal-hal sederhana yang terjadi selama mereka menjaga jarak. Kalina merasa mereka bertemu sebagai dua orang yang telah melewati masa sulit, bukan sebagai atasan dan sekretaris.
Di Segarra, mereka memilih meja yang menghadap laut. Akhtar melihat tempat itu dan tersenyum kecil. 'Dulu saya membawa kamu ke sini dengan banyak hal yang belum selesai.'
'Iya.'
'Sekarang saya tidak ingin memulai apa pun dengan cara seperti itu. Saya hanya ingin bertanya: bolehkah saya mengajakmu berkencan, pelan-pelan?'
Kalina memandang laut, lalu kembali menatap Akhtar. Ia belum bisa memastikan apa yang akan terjadi, tetapi ia tahu ia ingin memberi kesempatan yang jujur.
'Boleh. Tapi kita jalani pelan-pelan.'
Akhtar tersenyum lega. 'Pelan-pelan.'
Ia tidak meraih tangan Kalina sampai Kalina sendiri meletakkan tangannya di atas meja dekat tangannya. Akhtar menyambutnya dengan lembut. Mereka duduk menghadap laut, membiarkan angin mengisi jeda yang selama ini dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan.
Kalina tahu masa depan mereka tidak akan selalu mudah. Akhtar memiliki seorang anak dan tanggung jawab yang akan selalu menjadi bagian hidupnya. Kalina memiliki hak untuk menentukan batasnya sendiri. Namun untuk pertama kalinya, mereka memulai dari pilihan yang jujur dan bebas.
Matahari perlahan turun di balik cakrawala. Akhtar dan Kalina berbincang sampai langit berubah jingga, tanpa janji besar atau kata-kata berlebihan. Mereka hanya sepakat untuk bertemu lagi.
Kalina mengambil ponselnya dan membaca pesan Kayra yang menanyakan kapan ia kembali ke Bogor. Ia mengabarkan rencana pulang, lalu meletakkan ponsel di meja. Akhtar memperhatikan gerakan itu dan teringat sore ketika benda yang sama tertinggal jauh dari pemiliknya.
'Dulu kamu tidak sempat memberi kabar karena aku membawamu pergi,' katanya. 'Aku minta maaf. Bukan hanya karena saat itu aku masih menikah.'
Kalina memandangnya. 'Aku masih ingat. Aku juga ingin tahu apakah sekarang aku bisa berkata tidak dan tetap didengar.'
'Kamu bisa.'
Ia belum meminta Kalina percaya hanya dengan jawaban tersebut. Ketika Kalina mengatakan ingin pulang sebelum terlalu malam, Akhtar menyetujui dan memastikan perjalanan kembali ke Bogor tidak membuat orang tuanya menunggu tanpa kabar.
Sebelum beranjak, Kalina mengajak mengambil satu foto. Ia memegang ponselnya sendiri, mencari sudut yang memuat wajah mereka serta laut di belakang, lalu tertawa karena gambar pertama terlalu miring. Akhtar menunggu sampai ia memperlihatkan hasil kedua. Kali ini mereka berdua tersenyum tanpa perlu menganggap foto itu janji tentang keluarga yang belum mereka bangun.
Ia tidak meminta Kalina melupakan masa lalu. Ia hanya berjanji akan menunjukkan lewat tindakan bahwa ia dapat dipercaya. Kalina berkata ia akan menilai dari waktu ke waktu. Akhtar menerima itu tanpa keberatan.
Mereka tinggal sampai cahaya sore meredup. Saat pulang, Akhtar mengantar Kalina kembali ke rumah keluarganya dan berpamitan kepada Bunda serta Ayah dengan sopan. Tidak ada janji berlebihan, hanya rencana untuk bertemu lagi minggu depan.
Kalina menatap mobil Akhtar yang menjauh, lalu kembali masuk rumah dengan perasaan ringan. Ia belum tahu bagaimana masa depan mereka, tetapi ia tahu kali ini ia tidak sedang menjadi rahasia siapa pun.