Akhtar menepati janjinya untuk mengajak Kalina berkencan seminggu setelah pertemuan keluarga. Ia mengirim pesan melalui jalur pribadi hanya setelah Kalina menyetujui bahwa mereka boleh saling menghubungi. Pesannya singkat: ia ingin mengajak Kalina makan siang di tempat yang tidak terlalu ramai, dan Kalina bebas menolak atau memilih tempat lain.
Kalina membaca pesan itu beberapa kali sebelum membalas. Ia senang Akhtar bertanya tanpa menganggap jawabannya pasti iya. Ia memilih restoran kecil dekat taman kota, tempat mereka dapat berbicara tanpa suasana terlalu resmi.
Pada Sabtu, ketika Kalina sedang mengunjungi orang tuanya di Bogor, Akhtar datang menjemputnya setelah terlebih dahulu meminta izin kepada Bunda dan Ayah. Ia menyapa mereka di ruang tamu. Ayah Kalina bertanya ke mana mereka akan pergi dan kapan pulang. Akhtar menjawab dengan jelas. Bunda tersenyum melihat sikapnya yang hati-hati.
'Kami tidak akan lama. Saya antar Kalina pulang sebelum sore,' katanya.
Kalina pamit, lalu mengikuti Akhtar ke mobil. Perjalanan mereka dimulai dengan obrolan ringan tentang jalanan dan cuaca. Akhtar tidak mencoba menggenggam tangannya atau mengungkit kenangan lama.
Di restoran, mereka memilih meja dekat jendela. Mereka membaca menu, lalu Kalina memesan makanan sederhana. Akhtar memilih pesanannya setelah itu. Suasana di antara mereka terasa canggung, tetapi tidak seberat pertemuan terakhir di Segarra.
'Terima kasih sudah memberi kesempatan untuk bertemu,' kata Akhtar.
'Aku juga ingin tahu seperti apa kita sekarang, setelah semua yang terjadi.'
Akhtar mengangguk. 'Saya tidak berharap kita kembali seperti dulu. Kita sudah berubah.'
'Aku juga tidak mau berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi.'
Mereka berbicara tentang pekerjaan Kalina di divisi baru. Akhtar bertanya apakah ia menyukai tanggung jawab koordinasi proyek. Kalina menjelaskan tantangan yang ia hadapi dan bagaimana timnya membantunya belajar. Ia terlihat bersemangat ketika bercerita.
Akhtar mendengarkan tanpa menyela. Ia merasa bahagia melihat Kalina berkembang, tetapi ia tidak mengatakan bahwa ia bangga seolah masih menjadi atasannya. Ia hanya berkata bahwa pekerjaan itu cocok dengan kemampuannya.
Kalina bertanya tentang Aruna. Akhtar bercerita putrinya mulai tertawa ketika melihat mainan tertentu dan sering menggenggam jarinya. Ia menunjukkan satu foto, tetapi tidak membanjiri Kalina dengan cerita. Kalina tersenyum melihat bayi itu.
'Dia lucu sekali.'
'Iya. Saya masih belajar jadi ayah.'
'Giana bagaimana?'
'Kami berkomunikasi baik soal Aruna. Kami tidak membicarakan hubungan pribadi selain yang perlu.'
Kalina menghargai jawaban itu. Ia ingin memastikan tidak ada rahasia atau hubungan yang belum selesai. Akhtar menjelaskan bahwa ia dan Giana telah menyelesaikan perceraian dan membangun aturan pengasuhan. Ia tetap akan hadir sebagai ayah, tetapi tidak lagi tinggal bersama Giana.
'Aku tidak ingin jadi bagian dari konflik kalian,' ujar Kalina.
'Kamu bukan bagian dari keputusan kami sekarang. Hubungan saya dengan Giana sudah selesai secara hukum dan secara pasangan. Tapi tanggung jawab kami sebagai orang tua akan selalu ada.'
Kalina mengangguk. Ia ingin mengenal Akhtar lagi, tetapi tidak ingin mengabaikan kenyataan bahwa ia punya anak. Mereka membicarakan batas yang penting: Akhtar harus memberi tahu jika jadwalnya berubah karena Aruna, dan Kalina tidak akan diminta menjadi pengasuh atau pengganti ibu.
'Aku ingin punya hubungan denganmu sebagai diriku sendiri,' kata Kalina. 'Bukan langsung masuk ke peran yang belum siap aku jalani.'
Akhtar menjawab ia memahami dan tidak akan memaksanya. Ia ingin mengenal Kalina pelan-pelan dan memberi ruang baginya untuk menentukan apa yang nyaman.
Makan siang berlangsung lebih lama dari rencana. Mereka berbicara tentang masa kecil Kalina di Bogor, kebiasaan Akhtar membaca sebelum tidur, dan hal-hal kecil yang tidak pernah mereka bahas ketika ia masih menjadi sekretarisnya. Ada jeda yang terasa alami, bukan karena mereka takut bicara.
Setelah makan, Akhtar bertanya apakah Kalina ingin berjalan sebentar di taman. Kalina setuju. Mereka berjalan berdampingan, menjaga jarak yang wajar. Akhtar tidak meraih tangannya. Kalina memperhatikan hal itu dan merasa dihormati.
'Aku senang kita bisa bicara tanpa terburu-buru,' kata Kalina.
'Saya juga.'
Akhtar mengantar Kalina pulang sebelum sore. Ia berpamitan kepada orang tuanya dan berterima kasih karena telah menerima kedatangannya. Ayah Kalina mengangguk, masih menilai Akhtar dari tindakannya.
Di kamar, Bunda bertanya bagaimana kencannya. Kalina berkata ia menyenangkan, meski masih ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Bunda menyarankan agar ia tidak merasa harus membuat keputusan cepat.
Akhtar di perjalanan pulang menerima pesan dari Giana tentang jadwal Aruna. Ia menjawab dan menyesuaikan waktunya. Ia tidak merasa harus menyembunyikan itu dari Kalina. Ia ingin membangun hubungan baru dengan transparansi sejak awal.
Hubungan Kalina dan Akhtar berkembang lewat percakapan singkat dan beberapa pertemuan. Mereka tidak bertemu setiap hari. Akhtar lebih dulu menanyakan apakah Kalina punya waktu, dan Kalina tidak merasa wajib selalu menerima.
Pada minggu kedua, Akhtar mengajak Kalina minum kopi setelah ia menyelesaikan kunjungan bersama Aruna. Kalina memilih kafe dekat kantor. Akhtar tiba tepat waktu, membawa tas kecil berisi perlengkapan bayi yang ia bawa dari rumah Giana.
Kalina melihat tas itu dan bertanya apakah Aruna baik-baik saja.
'Baik. Saya mengantar dia kembali ke Giana sebelum ke sini. Dia baru saja makan.'
'Kalau kamu perlu pulang, bilang saja.'
Akhtar tersenyum. 'Terima kasih. Saya sudah memastikan tidak ada kebutuhan mendesak.'
Mereka duduk dan membicarakan pekerjaan. Kalina menceritakan proyek baru yang ia tangani. Akhtar tidak memberi nasihat kecuali diminta. Ia berusaha tidak mengambil kembali posisi sebagai orang yang mengarahkan karier Kalina.
'Kamu punya ide yang bagus untuk tim,' katanya.
'Aku belajar banyak dari pengalaman di sekretariat. Tapi sekarang aku mau mengambil keputusan sendiri.'
'Itu bagus.'
Kalina bertanya bagaimana jadwal pengasuhan Aruna. Akhtar menjelaskan ia memiliki waktu tertentu setiap minggu dan dapat menambah kunjungan jika Giana setuju. Mereka membahas bahwa jadwal kadang berubah karena kesehatan anak.
'Kalau suatu hari kamu harus membatalkan rencana kita karena Aruna, aku tidak akan marah,' kata Kalina. 'Tapi aku ingin kamu memberi tahu, bukan menghilang.'
'Saya bisa melakukan itu.'
Kalina juga berkata ia belum siap bertemu Aruna. Ia ingin hubungan mereka tumbuh terlebih dahulu sebelum masuk ke kehidupan anak itu. Akhtar menerima batas tersebut.
'Saya tidak akan mempertemukan kalian sebelum kamu sendiri merasa siap.'
Kalina merasa lega. Ia tidak ingin Aruna bingung melihat ayahnya membawa orang baru terlalu cepat. Mereka sepakat tidak mengumumkan hubungan kepada siapa pun dulu, kecuali keluarga dekat yang sudah tahu mereka mulai berkencan.