Perjalanan kerja Kalina ke salah satu cabang di luar Jakarta berlangsung lebih padat dari perkiraan. Ada keterlambatan data dan perubahan jadwal rapat. Ia bekerja sampai malam dan hanya sempat mengirim pesan singkat kepada Akhtar. Akhtar memahami, tetapi ia juga merasa rindu.
Hari terakhir perjalanan, Kalina terlambat membalas pesan karena ponselnya kehabisan baterai. Akhtar tidak tahu apakah ia baik-baik saja. Ia menghubungi Kayra, yang mengatakan Kalina mungkin masih di lokasi kerja. Beberapa jam kemudian, Kalina mengisi daya ponsel dan melihat beberapa pesan Akhtar.
Ia segera menelepon. 'Maaf, ponselku mati. Aku baru selesai rapat.'
Akhtar menghela napas lega. 'Saya khawatir. Kamu baik-baik saja?'
'Iya. Aku cuma lelah.'
Akhtar berkata ia tidak marah, tetapi ingin Kalina memberi kabar jika memungkinkan. Kalina menjawab ia akan berusaha, namun kadang jadwal kerja tidak dapat diprediksi.
'Aku tidak mau merasa diawasi,' tambahnya.
Akhtar terdiam. Ia sadar ia perlu membedakan kekhawatiran dengan kontrol. Ia meminta maaf dan berkata ia hanya ingin tahu Kalina aman, tetapi ia tidak akan meminta laporan terus-menerus.
Kalina menerima permintaan maafnya. Mereka sepakat satu pesan singkat sebelum rapat panjang sudah cukup jika memungkinkan. Jika tidak, mereka akan bicara setelah pekerjaan selesai.
Saat Kalina kembali ke Jakarta, Akhtar menjemputnya di stasiun setelah memastikan ia setuju. Ia membawa makanan ringan dan air. Kalina berterima kasih, lalu bercerita tentang perjalanan. Akhtar mendengarkan tanpa mengeluh soal pesan yang terlambat.
Beberapa hari kemudian, Giana menghubungi Akhtar bahwa Aruna sedang kurang sehat. Akhtar segera mengubah rencana makan malam dengan Kalina. Ia mengirim pesan menjelaskan keadaan dan berkata ia akan menemani Giana membawa Aruna ke dokter.
Kalina menjawab agar ia fokus pada Aruna. Ia tidak merasa perlu ikut atau bertanya terlalu banyak. Akhtar berterima kasih dan memberi kabar setelah dokter mengatakan Aruna hanya flu ringan.
Namun Kalina tetap merasa kecewa karena rencana mereka batal. Ia tidak menyembunyikan perasaannya. Saat Akhtar menghubunginya lagi, ia berkata ia paham alasan pembatalan, tetapi ingin mereka menjadwalkan ulang dengan jelas.
Akhtar meminta maaf dan menawarkan beberapa waktu. Kalina memilih hari yang cocok. Mereka belajar bahwa memahami tanggung jawab tidak berarti harus meniadakan kebutuhan satu sama lain.
Di kantor, Kalina menerima pujian atas perjalanan proyeknya. Ia mendapat kepercayaan untuk memimpin tim berikutnya. Ia merayakan kabar itu bersama Kayra dan Jihan. Akhtar berencana mengirim bunga kecil ke kantor dan bertanya dahulu apakah Kalina nyaman menerima. Kalina mengatakan tidak perlu mengirim hadiah ke kantor, namun ia menghargai niatnya.
Akhtar menerima batas itu. Ia tidak tersinggung. Ia berkata akan mengirim ucapan saja lain kali. Kalina merasa hubungan mereka semakin kuat karena ia dapat mengatakan tidak tanpa takut Akhtar menjauh.
Pada akhir pekan, mereka bertemu dan membicarakan minggu yang tidak sempurna itu. Akhtar mengakui ia kadang khawatir berlebihan tentang Kalina. Kalina berkata ia memahami, tetapi ingin dipercaya mengurus dirinya sendiri. Akhtar berjanji akan mengingatnya.
Mereka tidak mengakhiri malam dengan pertengkaran. Mereka berjalan sebentar dan tertawa membicarakan kesalahan Akhtar saat mencoba memesan makanan lewat aplikasi.
Saat makan malam keluarga, Amalia bertanya apakah Akhtar dan Kalina sudah memikirkan pertunangan. Akhtar menjawab mereka belum menentukan apa pun. Kalina berkata ia ingin menikmati hubungan saat ini dan membangun kepercayaan. Amalia menerima jawaban itu dan meminta maaf jika pertanyaannya terdengar menekan.
Ayah Kalina berkata ia menghargai mereka bicara jujur. Ia tidak ingin Kalina menikah hanya karena keluarga mengharapkan. Akhtar setuju bahwa keputusan harus datang dari mereka.
Setelah makan, Kalina dan Akhtar berjalan di halaman. Akhtar bertanya apakah ia merasa kecewa karena keluarga membicarakan pernikahan. Kalina menjawab tidak, selama mereka bisa menjawab dengan jujur dan tidak dipaksa. Akhtar berkata ia tidak ingin mengulang pola membuat keputusan karena tekanan.
Mereka sepakat membicarakan masa depan lagi ketika keduanya siap, bukan karena sudah berapa lama mereka berkencan.
Akhtar juga berbicara secara pribadi dengan Amalia. Ia berkata ia tidak ingin meminta restu untuk menikah dalam waktu dekat, tetapi berharap keluarganya menghormati hubungan Kalina dan dirinya. Amalia menjawab ia akan mendukung selama Akhtar menjaga tanggung jawabnya kepada Aruna dan tidak membuat Kalina merasa tertekan.
Kalina mengobrol dengan Bunda setelah makan malam. Bunda bertanya apakah ia merasa aman bersama Akhtar. Kalina menjawab iya, tetapi ia tetap ingin mempertahankan batas dan kemandiriannya. Bunda berkata ia senang Kalina dapat menyampaikan kebutuhan tanpa takut kehilangan hubungan.
Kalina menyadari bahwa cinta yang sehat tidak membuatnya menghilang dari hidupnya sendiri. Ia tetap bekerja, bertemu teman, dan menjaga hubungan dengan keluarga. Akhtar juga tetap menjalani perannya sebagai ayah. Mereka tidak harus menyatukan seluruh kehidupan dengan cepat untuk membuktikan keseriusan.
Malam itu, Akhtar mengantar Kalina pulang dan berpamitan kepada keluarganya. Mereka tidak membicarakan pertunangan lagi. Mereka sepakat menikmati langkah yang sedang dijalani sekarang.
Pekan berikutnya, Kalina meminta pertemuan dengan personalia dan manajer divisinya. Akhtar datang hanya untuk bagian yang memerlukan pernyataannya. Mereka menyampaikan bahwa kini berkencan, setelah perceraian selesai, dan ingin memastikan hubungan itu tidak menjadi jalur untuk menentukan penilaian Kalina.
Kalina meminta agar atasan langsung tetap menangani evaluasi, pembagian tugas, dan rekomendasi kariernya. Jika suatu keputusan memerlukan persetujuan direksi, hasil kerja serta penilaian manajer disampaikan melalui proses bersama. Akhtar menyatakan akan menyerahkan penilaian pribadi Kalina kepada pihak lain yang berwenang dan tidak membicarakannya saat mereka berkencan.
Ia tetap CEO Galindra. Mengganti meja kerja Kalina tidak membuat kekuasaan itu menghilang. Karena itu, kesepakatan mereka dicatat agar Kalina tidak hanya memiliki janji yang diucapkan di restoran. Manajernya membaca kembali bagian yang menjadi tanggung jawabnya, lalu mengonfirmasi bahwa tugas Kalina tetap dinilai dengan ukuran yang berlaku bagi tim.
Sepulang dari pertemuan, Kalina mengatakan ia lega telah menyampaikannya langsung. Akhtar tidak memintanya menganggap persoalan tersebut selesai untuk selamanya. Ia mengatakan jika ada keputusan yang kembali mencampurkan hubungan pribadi dan pekerjaan, mereka harus membawanya ke jalur yang sama.
Kalina mengangguk. Malam itu mereka makan bersama dan membicarakan buku yang belum selesai dibacanya. Untuk sekali ini, ia dapat meninggalkan sebuah persoalan kantor di tempat persoalan itu semestinya ditangani.