Pada akhir pekan, Akhtar dan Kalina bertemu di sebuah taman kota setelah Kalina menyelesaikan beberapa urusan pribadi. Mereka membawa kopi dan berjalan menyusuri jalur yang dinaungi pepohonan. Akhtar tampak lebih diam dari biasanya. Kalina tidak langsung bertanya; ia membiarkan percakapan bergerak santai sampai Akhtar sendiri membuka topik.
Giana mendapat tawaran pekerjaan tetap di sebuah lembaga pendidikan anak. Jadwalnya cukup fleksibel, tetapi keputusan itu akan mengubah pembagian waktu dengan Aruna. Akhtar mendukung pilihan tersebut, hanya saja ia perlu menyusun ulang rutinitas mereka.
'Dia takut aku menganggapnya mengurangi waktuku dengan Aruna,' kata Akhtar. 'Padahal aku ingin dia punya hidup dan pekerjaannya sendiri.'
Kalina mengingatkan bahwa dukungan kadang perlu disertai percakapan praktis. Ia menyarankan Akhtar membahas jadwal, transportasi, dan siapa yang bisa dihubungi ketika ada perubahan mendadak. Bukan untuk mengatur keputusan Giana, tetapi agar semua orang punya kejelasan.
Akhtar tertawa kecil. 'Kamu selalu bisa membuat masalah terasa punya langkah berikutnya.'
'Karena masalahnya tetap ada meskipun kita menghindari pembicaraan.'
Sesudah pertemuan di taman, Akhtar menghubungi Giana untuk membicarakan jadwal. Kalina tidak ikut dalam percakapan itu. Ia hanya membantu Akhtar menyiapkan beberapa opsi, lalu memberi ruang bagi kedua orang tua Aruna untuk memutuskan. Giana memilih menjalani masa percobaan dengan jadwal bertahap sebelum beralih ke jam kerja tetap. Akhtar menyusun ulang hari-hari kunjungan dan menyepakati cara berbagi informasi tentang kebutuhan Aruna.
Beberapa hari kemudian, Giana menelepon Akhtar dan menyampaikan bahwa ia lega karena pembicaraan mereka berlangsung tenang. Akhtar menjawab bahwa ia ingin mereka tetap bisa bekerja sama demi Aruna. Ia tidak menyebut Kalina sebagai alasan Giana harus menerima perubahan itu, dan Kalina senang karena keputusan tersebut tetap menjadi milik mereka.
Saat makan malam, Akhtar berkata ia ingin mengajak Kalina makan bersama ibunya dan Arisa yang akan kembali berkunjung dari Bali bulan depan. Ia menekankan bahwa undangan itu bukan pengumuman pertunangan atau tuntutan untuk mengambil langkah tertentu. Ia hanya ingin orang-orang yang penting baginya mengenal Kalina sebagai pasangan yang ia hormati.
Kalina tidak langsung menjawab. Ia bertanya siapa saja yang akan hadir dan apakah Aruna juga ada. Akhtar menjelaskan bahwa acara itu hanya makan siang sederhana dengan kakak dan ibunya. Aruna akan bersama Giana hari itu.
'Aku mau datang,' kata Kalina setelah mempertimbangkannya. 'Asal kita sepakat bahwa aku datang sebagai diriku sendiri, bukan sebagai seseorang yang harus disetujui semua orang.'
Akhtar setuju. Ia tidak meminta Kalina membuat kesan tertentu atau menyiapkan jawaban untuk pertanyaan keluarga. Sepanjang perjalanan pulang, Kalina memikirkan pertemuan itu dengan campuran gugup dan penasaran. Masa depan terasa seperti sesuatu yang bisa mereka bicarakan dengan jelas, tanpa perlu diburu-buru.
Kalina dan Akhtar mulai membicarakan masa depan lebih sering. Mereka tidak menetapkan tanggal pernikahan, tetapi membahas apa yang mereka harapkan dari hubungan jangka panjang.
Suatu malam, Kalina bertanya apakah Akhtar ingin memiliki anak lagi suatu hari nanti. Akhtar menjawab ia belum tahu. Ia ingin fokus membesarkan Aruna dan memastikan hubungan mereka stabil. Ia tidak ingin menjadikan anak sebagai cara memperkuat hubungan.
Kalina mengangguk. Ia sendiri belum tahu apakah ingin menjadi ibu. Ia berkata ia tidak ingin memberi jawaban hanya untuk menyenangkan Akhtar.
'Kita tidak harus memutuskan sekarang,' ujar Akhtar.
'Aku senang kamu bilang begitu.'
Mereka membicarakan tempat tinggal jika suatu hari menikah. Kalina ingin tetap bekerja dan tidak ingin pindah ke rumah Akhtar dalam waktu dekat. Akhtar menyetujui. Ia berkata mereka bisa mencari tempat bersama jika waktunya tiba, sambil mempertimbangkan kebutuhan Aruna.
Kalina bertanya apakah Giana akan ikut menentukan tempat tinggal mereka. Akhtar menjawab keputusan rumah tangga mereka tidak akan menjadi keputusan Giana, tetapi kebutuhan Aruna akan selalu dibicarakan sebagai orang tua. Kalina memahami perbedaan itu.
'Aku tidak ingin Giana merasa aku mengambil keputusan tentang anaknya,' katanya.
'Kamu tidak akan diminta membuat keputusan pengasuhan. Itu tanggung jawab saya dan Giana.'
Kalina merasa lega. Ia ingin menjadi pasangan Akhtar, bukan pengganti Giana atau pengasuh yang tidak pernah ia pilih.
Pada akhir pekan, mereka makan bersama Amalia dan Hadi. Amalia bertanya apakah mereka mulai memikirkan pernikahan. Akhtar menjawab mereka membicarakan masa depan, tetapi belum menentukan kapan. Hadi menyetujui bahwa keputusan seperti itu tidak perlu dipaksakan.
Kalina berkata ia ingin hubungan mereka matang terlebih dahulu. Amalia menerima jawaban itu dan berkata ia akan mendukung ketika mereka siap.
Setelah makan, Akhtar mengantar Kalina pulang. Ia berkata ia senang mereka bisa berbicara tentang hal sensitif tanpa bertengkar. Kalina setuju. Ia merasa pertanyaan tentang masa depan tidak menakutkan ketika jawabannya boleh belum pasti.
Pada hari pertama pelatihan, Giana datang lebih awal ke lembaga tempatnya akan bekerja. Ia mempelajari jadwal program dan berkas kegiatan, lalu menuliskan pertanyaan untuk orang yang membimbingnya. Ada istilah yang belum dipahami dan pekerjaan yang memerlukan ketelitian lebih besar daripada perkiraannya. Ia meminta penjelasan, mencatat jawabannya, dan mencoba lagi.
Pada masa pelatihan Giana, Akhtar mengambil giliran merawat Aruna selama akhir pekan yang telah dibicarakan. Ia menyiapkan keperluan berdasarkan kebiasaan putrinya dan menghubungi Giana ketika ada hal yang belum dipahami. Kalina menjalani rencananya sendiri bersama Kayra. Ia tidak diminta datang untuk membuat jadwal kerja Giana dan Akhtar dapat berjalan.
Sepulang kegiatan, Giana menjemput Aruna sesuai pengaturan yang telah dibuat bersama Akhtar. Putrinya membawa balok kecil yang harus dikembalikan ke kotak mainan sebelum berangkat. Giana menunggu di dekat pintu, mendengar Akhtar menceritakan hari mereka tanpa merasa perlu mengambil kembali semua keputusan yang sudah dijalankannya sebagai ayah.
Setelah menjemput Aruna, Giana mendengar cerita tentang Aruna yang menolak satu makanan tetapi menikmati permainan gelembung di taman. Ia tertawa, lalu mengucapkan terima kasih karena Akhtar menyampaikan hari itu dengan jujur. Pelatihan tersebut memberinya keberanian menerima tanggung jawab kerja yang lebih tetap. Ia dapat menjadi ibu yang menyayangi putrinya sekaligus membangun kehidupan di luar rumah.
Akhtar menceritakan akhir pekan itu kepada Kalina saat mereka bertemu lagi. Ia mengaku lelah, tetapi senang telah mengerjakan tugasnya sendiri. Kalina mendengarkan tanpa merasa harus mengisi semua bagian yang belum dikuasainya.
Pada akhir masa percobaan, Giana menerima penegasan tawaran untuk bekerja tetap. Ia membaca jadwal yang disepakati, memeriksa kebutuhan Aruna bersama Akhtar, lalu menerima posisi tersebut. Malamnya ia menelepon orang tuanya di Singapura untuk mengabarkan keputusan itu. Afrizal mengucapkan selamat dan bertanya bagian pekerjaan apa yang paling membuatnya senang. Giana bercerita cukup lama. Kali ini ia memiliki kabar yang ingin disampaikan karena ia bangga, bukan karena perlu menyembunyikan kesulitan.