Satu tahun sejak Kalina dan Akhtar mulai berkencan kembali, mereka tidak merayakannya dengan acara besar. Kalina memilih makan malam sederhana di rumah Kayra, bersama Jihan dan Kaizan. Akhtar membawa makanan penutup dan menyapa semua orang dengan santai.
Kayra masih suka menggoda Akhtar, tetapi kini ia tidak lagi menatapnya dengan curiga setiap kali ia berbicara kepada Kalina. Ia melihat Akhtar menjaga batas dan menepati janji. Jihan berkata hubungan mereka terasa lebih tenang daripada dulu.
'Karena dulu kami terlalu banyak menyimpan hal,' kata Kalina. 'Sekarang kalau ada yang mengganggu, kami bicara.'
Akhtar mengangguk. Ia berkata mereka masih belajar, tetapi komunikasi membuat perbedaan besar. Kaizan menambahkan bahwa Akhtar akhirnya belajar menerima teguran tanpa membela diri. Semua tertawa.
Setelah makan, Akhtar mengajak Kalina berjalan sebentar. Ia memberikan buku kecil dengan sampul sederhana. Kalina membuka halaman pertama dan melihat tulisan tangan Akhtar: 'Untuk semua langkah yang kita pilih dengan jujur.'
Kalina tersenyum. Ia tidak mengharapkan hadiah, tetapi menghargai maknanya. Ia berkata ia ingin hubungan mereka terus dijalani tanpa tergesa-gesa. Akhtar menjawab ia tidak perlu tanggal tertentu untuk tahu bahwa ia serius.
Di rumah Giana, Akhtar bertemu Aruna sehari sebelumnya. Ia membawakan mainan dan menghabiskan sore bersama putrinya. Giana bercerita Aruna mulai berlari kecil sambil membawa mainannya. Akhtar senang mendengarnya dan bertanya apakah ia boleh datang lagi minggu depan.
'Tentu. Jadwalnya tetap seperti biasa,' jawab Giana.
Hubungan Akhtar dan Giana sebagai orang tua berjalan cukup baik. Mereka tidak lagi membicarakan pernikahan lama kecuali jika ada urusan praktis. Giana membangun rutinitasnya sendiri dan tampak lebih percaya diri.
Kalina tidak merasa terancam saat Akhtar menghabiskan waktu dengan Aruna. Ia tahu itu bagian penting hidupnya. Akhtar juga selalu memberi kabar dan tidak membatalkan janji tanpa penjelasan.
Setelah berjalan sebentar di sekitar gedung, Akhtar mengantar Kalina kembali ke pintu apartemen dan berpamitan kepada Kayra. Mereka tidak membuat janji besar. Mereka hanya sepakat bertemu lagi minggu depan, seperti biasa.
Kalina mendapat kesempatan mempresentasikan proyek pengembangan cabang kepada direksi. Ia telah bekerja keras menyusun analisis, mengatur koordinasi, dan mengumpulkan masukan tim. Manajernya percaya ia mampu memimpin presentasi.
Akhtar juga akan hadir sebagai salah satu anggota direksi. Kalina memastikan mereka membahas materi melalui jalur kerja resmi. Ia tidak ingin hubungan pribadi memengaruhi penilaian profesional.
Sebelum presentasi, Akhtar menyapa Kalina di ruang rapat. 'Semoga lancar.'
'Terima kasih, Pak.'
Ia memulai presentasi dengan percaya diri. Ia menjelaskan peluang pasar, risiko, dan rencana pelaksanaan. Salah satu direktur mempertanyakan perkiraan biaya. Kalina menjawab berdasarkan data dan menunjukkan pilihan alternatif.
Akhtar mendengarkan tanpa menyela. Setelah presentasi, direksi menyetujui tahap pertama dengan beberapa revisi. Manajer Kalina mengucapkan selamat dan berkata hasil itu menunjukkan koordinasi timnya kuat.
Kalina merasa lega dan bangga. Ia tidak mencari Akhtar setelah rapat. Ia mengirim ringkasan resmi kepada semua peserta dan kembali bekerja.
Akhtar menunggu sampai jam kerja selesai untuk mengirim pesan pribadi. Ia bertanya apakah Kalina ingin merayakan keberhasilan itu. Kalina menjawab ia senang, tetapi ingin pulang lebih dulu karena lelah. Akhtar menerima jawabannya dan berkata mereka bisa merayakan akhir pekan.
Kalina menghabiskan malam bersama Kayra dan Jihan. Mereka memesan makanan dan membicarakan presentasi. Kayra mengatakan Kalina terdengar mantap ketika menceritakan jawabannya kepada direksi.
'Aku memang sudah mempersiapkannya lama,' jawab Kalina.
Jihan mengangkat gelas minum. 'Untuk Kalina yang makin hebat.'
Mereka bersulang dengan teh. Kalina merasa keberhasilan itu miliknya sendiri, hasil kerja dan dukungan tim, bukan karena hubungannya dengan Akhtar.
Akhtar juga mengirim ucapan selamat kepada manajer Kalina melalui surel kantor. Ia tidak meminta laporan khusus atau memberi pujian berlebihan. Ia ingin proses penilaian tetap adil.
Pada akhir pekan, mereka makan di restoran yang dipilih Kalina. Akhtar bertanya tentang bagian presentasi yang paling menantang. Kalina bercerita bahwa ia sempat gugup saat biaya dipertanyakan, tetapi latihan membantu dirinya menjawab dengan tenang.
Akhtar mendengarkan dan berkata ia menghargai cara Kalina membangun argumen. Kalina tersenyum, menerima pujian itu sebagai pasangan, bukan bawahannya.
Tiga bulan setelah presentasi itu, Kalina menerima surat promosi menjadi manajer proyek berdasarkan evaluasi atasan langsung dan personalia. Akhtar tidak menjadi penentu penilaian pribadinya. Promosi tersebut membawanya ke rutinitas yang lebih padat. Ia kini memimpin tim lintas cabang dan harus menyeimbangkan rapat, kunjungan lapangan, serta laporan direksi. Ia menikmati tantangan itu, tetapi juga belajar mengatakan tidak ketika beban kerja mulai berlebihan.
Pada rapat mingguan, salah satu staf meminta tenggat tambahan karena data cabangnya belum lengkap. Kalina memeriksa rencana kerja dan memberi waktu dua hari, dengan syarat staf tersebut mengirim pembaruan setiap sore. Ia tidak ingin menekan tim tanpa alasan, tetapi ia juga harus memastikan proyek tetap bergerak.
Manajernya mengamati cara Kalina menangani rapat dan berkata ia semakin percaya diri memimpin. Kalina mengucapkan terima kasih. Ia merasa pencapaian itu hasil kerja tim dan proses belajar yang panjang.
Akhtar mengetahui promosi itu melalui pengumuman perusahaan. Ia mengirim ucapan selamat secara profesional, lalu menunggu sampai Kalina selesai bekerja untuk mengajak makan malam. Kalina menerima, tetapi meminta waktu bertemu setelah rapat terakhirnya.
Mereka makan di restoran dekat kantor. Kalina bercerita tentang tantangan baru dan rencana kunjungan ke cabang. Akhtar mendengarkan dan bertanya apakah ia sudah punya dukungan dari manajernya.
'Sudah. Aku juga mulai belajar membagi tugas,' jawab Kalina. 'Dulu aku sering merasa harus mengerjakan semuanya sendiri.'
Akhtar berkata ia mengerti, tetapi tidak memberi nasihat kecuali diminta. Kalina menghargai bahwa ia tidak mengambil alih peran sebagai atasan.
'Aku ingin bisa bicara tentang kerja tanpa merasa kamu akan mengatur keputusan,' katanya.
'Saya akan berusaha memisahkan keduanya. Kalau saya mulai mencampuri, bilang.'
Kalina tersenyum. Mereka membicarakan hal lain, termasuk buku yang sedang dibaca dan tempat makan baru yang ingin dicoba. Malam itu terasa seperti kencan biasa.
Akhtar kemudian bercerita bahwa jadwalnya bersama Aruna akan berubah karena Giana mendapat kesempatan mengikuti pelatihan beberapa hari. Ia akan menjaga Aruna lebih lama dari biasanya. Kalina menyambut kabar itu dan berkata ia bisa menyesuaikan rencana mereka.
'Saya tidak ingin kamu selalu mengalah,' kata Akhtar.
'Aku tidak mengalah. Aku memang bisa menyesuaikan kali ini. Kalau tidak bisa, aku akan bilang.'
Akhtar mengangguk. Ia merasa mereka mampu membicarakan jadwal tanpa membuatnya menjadi ujian cinta.
Di rumah, Kayra bertanya bagaimana kencannya. Kalina berkata mereka berbicara tentang kerja dan jadwal keluarga. Kayra menyebut itu terdengar membosankan. Kalina tertawa dan menjawab justru ia suka bahwa hubungan mereka bisa berjalan dalam hal biasa.
'Gue cuma mau lo tetap punya hidup sendiri,' kata Kayra.
'Aku punya. Dan dia menghormati itu.'
Kalina merasa bangga dapat mengatakan hal tersebut dengan yakin.