Menjelang ulang tahun pertama Aruna, Giana mengirim undangan makan siang kecil kepada Akhtar. Ia juga mengatakan Kalina boleh datang jika ingin. Akhtar tidak menjawab atas nama Kalina. Ia meneruskan undangan itu dan membiarkannya mempertimbangkan sendiri.
'Aku ingin datang sebentar,' kata Kalina. 'Tapi pastikan Giana memang nyaman. Jangan sampai dia mengundang hanya karena merasa harus.'
Akhtar menanyakan hal tersebut dengan sederhana. Giana menjawab bahwa undangan itu datang darinya. Ia ingin ulang tahun Aruna berlangsung tenang bersama orang-orang dekat, dan dapat menerima Kalina hadir sebagai pasangan ayah putrinya. Jawaban itu tidak disertai permintaan agar mereka berpura-pura menjadi sahabat.
Kalina memilih sebuah buku kain berwarna cerah. Kayra menemaninya melihat beberapa pilihan dan menertawakan ekspresinya yang terlalu serius membaca keterangan hadiah. Pada akhirnya Kalina membeli yang paling sederhana, lalu membawa hadiah itu tanpa menambahkan barang mahal.
Di rumah Giana, Amalia sedang menata kue ketika mereka tiba. Hadi duduk di karpet bersama Aruna yang sibuk meraih pita. Arisa menelepon dari Bali untuk menyanyikan lagu ulang tahun bersama kedua anaknya. Suara dari layar membuat Aruna menoleh dan tertawa sebelum kembali mengejar pita di tangan kakeknya.
Kalina menyapa Giana dan menyerahkan hadiah kepadanya. Giana membuka bungkusnya bersama Aruna, menunjukkan gambar pada halaman pertama. Kalina duduk agak ke samping dan tidak berusaha mengambil anak itu dari pangkuan ibunya.
'Dia sekarang suka membalik halaman sendiri,' kata Giana.
'Semoga bukunya tahan ditarik,' jawab Kalina.
Giana tersenyum kecil. Aruna menepuk buku itu, lalu memandang ayahnya yang sedang mencoba memasangkan topi kertas. Topi tersebut langsung terlepas ketika tangan mungilnya meraih tali. Semua orang tertawa, termasuk Akhtar yang akhirnya menyimpan topi di meja.
Ketika kue dibawa mendekat, Giana menggendong Aruna dan meminta Akhtar berdiri di sebelahnya. Kalina membantu mengambil foto dengan ponsel Amalia. Ia tidak merasa harus masuk ke setiap gambar. Ada kenangan tentang Aruna bersama kedua orang tuanya yang memang berhak mereka simpan.
Sesudah makan, Akhtar membantu Giana membereskan meja. Kalina berbincang dengan Amalia sambil melipat beberapa bungkus hadiah. Tidak ada yang menanyakan kapan ia akan menikah atau apakah sudah sanggup mengurus anak. Ia dapat menikmati acara tanpa merasa sedang mengikuti penilaian untuk mendapatkan tempat tertentu.
Sebelum pulang, Giana mendekatinya di ruang tamu. Ia berterima kasih karena Kalina datang dan menghormati batas yang mereka bicarakan sebelum pertemuan di taman.
'Aku belum bisa menganggap masa lalu tidak ada,' katanya.
'Aku juga tidak meminta itu.'
'Tapi aku ingin acara seperti ini bisa berlangsung baik untuk Aruna.'
Kalina mengangguk. Ia mengatakan jika suatu saat kehadirannya membuat Giana tidak nyaman, ia ingin hal itu dibicarakan lebih dahulu. Ia juga akan melakukan hal yang sama, tanpa menunggu sampai perasaan berubah menjadi pertengkaran di depan anak.
Mereka tidak saling memeluk. Giana mengantar Kalina sampai pintu, lalu kembali menemui putrinya. Akhtar menyusul setelah memastikan pekerjaan yang dijanjikannya sudah selesai. Dalam perjalanan, Kalina berkata ia senang dapat melihat Aruna menikmati hari itu tanpa harus memahami kisah orang dewasa yang pernah membuat mereka saling menyakiti.
Sepekan kemudian, Jihan mengajak Kalina makan malam. Kali ini ia datang tanpa Kaizan. Ia membawa kabar yang membuatnya beberapa kali berhenti tersenyum sebelum mampu menyelesaikan cerita.
'Kami mau datang ke rumah orang tuaku,' katanya. 'Kaizan ingin membicarakan pernikahan.'
Kalina meletakkan gelasnya. 'Kamu sendiri ingin?'
'Iya. Tapi aku gugup. Rasanya baru kemarin aku bingung memilih baju untuk makan bersama keluarganya.'
Mereka tertawa mengingat pameran otomotif dan berbagai alasan Jihan dahulu berpura-pura tidak menantikan pesan Kaizan. Kini yang dibicarakannya jauh lebih nyata: kapan bertemu orang tua, bagaimana mengatur pekerjaan, dan tempat tinggal yang dapat mereka sepakati.
Kalina bertanya apakah Kayra sudah tahu. Jihan menjawab sudah, lalu memperlihatkan pesan yang dikirim sahabatnya. Kayra mengaku siap menanyai kakaknya jika membuat Jihan menangis, disusul banyak gambar wajah tertawa. Kalina ikut tersenyum membaca ancaman yang jelas merupakan candaan tersebut.
'Aku tidak mau kamu merasa harus ikut memutuskan hubunganmu juga,' kata Jihan setelah beberapa saat.
Kalina memandangnya. 'Aku senang untukmu. Keputusan kita tidak harus datang bersamaan.'
Jihan tampak lega. Ia mengatakan ingin Kalina hadir ketika keluarga mereka bertemu, jika jadwal memungkinkan. Kalina menyanggupi setelah memastikan pertemuan itu memang diinginkan orang tua Jihan. Ia tidak diminta menjadi bukti bahwa semua orang harus bahagia dengan cara yang sama.
Malamnya, Kalina menceritakan kabar tersebut kepada Akhtar. Ia berbicara dengan semangat tentang Jihan, lalu mengingat bagaimana dahulu ia berusaha menyembunyikan kekagumannya kepada atasan di antara obrolan makan siang. Banyak hal telah berubah sejak saat itu.
'Apa kabar itu membuatmu ingin kita menentukan sesuatu sekarang?' tanya Akhtar.
Kalina menggeleng. 'Aku ingin menikmati bahwa sahabatku bahagia. Aku juga bahagia dengan kita, tapi aku belum ingin menjadikan pernikahan mereka sebagai hitungan waktu untuk hubungan kita.'
'Baik,' jawab Akhtar. 'Kita bisa mendukung mereka tanpa harus membuat keputusan malam ini.'
Kalina menyandarkan kepala ke kursi. Ia masih ingin mengembangkan pekerjaannya, mengenal Akhtar lebih jauh, dan membiarkan hubungan dengan Aruna tumbuh melalui pertemuan yang tidak dipaksakan. Ia tidak menutup kemungkinan menikah suatu hari. Ia hanya ingin ketika hari itu tiba, ia dapat menjawab karena dirinya siap.
Keesokan harinya ia membantu Kayra memilih makanan untuk pertemuan Jihan dan Kaizan. Abian datang membawa terlalu banyak camilan dan menerima teguran Kayra sambil tertawa. Kalina duduk di antara mereka, mencicipi satu potong kue, lalu mengatakan pilihan itu cukup baik. Untuk sore tersebut, ia tidak sedang menunggu kabar Akhtar atau mencari jawaban tentang masa depan. Ia sedang berada bersama orang-orang yang telah menemaninya melewati hari-hari paling sulit, dan ia senang dapat ikut menyiapkan hari baik bagi mereka.
Tiga bulan kemudian, Kalina menghadiri pernikahan Jihan dan Kaizan setelah kedua keluarga menyelesaikan persiapan bersama. Ia membantu Jihan memegang bunganya sebelum acara, lalu berdiri di dekat Kayra saat pasangan itu menerima ucapan selamat. Akhtar datang bersamanya, tetapi tidak menjadikan hari sahabat mereka sebagai kesempatan menanyakan jawaban yang sama kepada Kalina. Sepulang acara, mereka membicarakan kegugupan Kaizan yang terlihat jelas meskipun berusaha tenang. Kalina tertawa mengingatnya. Ia pulang dengan senang karena dapat menyaksikan keputusan yang telah dipilih Jihan sendiri, tanpa merasa bahwa kebahagiaan itu mengurangi waktu yang masih dibutuhkannya.