Dua tahun setelah mereka menyatakan komitmen yang lebih serius, Aruna sudah berusia empat tahun dan mulai mengikuti kegiatan prasekolah. Kalina tetap bekerja di Jakarta serta tinggal bersama Kayra. Hubungannya dengan Akhtar berkembang bersama kehidupan yang terus mereka jalani, tanpa mengubah rencana tinggal terpisah sebelum menikah.
Kesibukan proyek membuat Kalina nyaris lupa bahwa akhir pekan sudah dekat. Selama beberapa hari, ia datang lebih pagi dan pulang setelah sebagian besar lantai kantor sepi. Proyeknya mulai menunjukkan hasil, tetapi masih ada banyak keputusan kecil yang harus ia pastikan. Ia tidak ingin keberhasilan awal membuat timnya lengah. Pada Jumat sore, ia mengumpulkan semua anggota untuk meninjau kemajuan, lalu menutup rapat dengan mengingatkan mereka agar benar-benar beristirahat.
'Aku serius,' katanya ketika beberapa orang masih membuka laptop. 'Kita akan bekerja lebih baik kalau kepala kita tidak terus berada di kantor.'
Kalina sendiri berusaha melakukan hal yang sama. Ia mematikan notifikasi kerja setelah meninggalkan gedung dan berjalan sebentar sebelum pulang. Di rumah, ia menyiram tanaman, mengganti pakaian, lalu membaca beberapa halaman buku yang sejak lama tergeletak di meja. Baru setelah itu ia melihat pesan Akhtar yang masuk hampir satu jam sebelumnya. Akhtar menanyakan apakah ia ingin makan malam bersama. Kalina membalas bahwa ia perlu malam yang tenang, tetapi mereka bisa bertemu esok hari.
Akhtar tidak kecewa. Ia mengirim pesan singkat bahwa ia mengerti dan berharap Kalina bisa beristirahat. Respons sederhana itu membuat Kalina tersenyum. Ia terbiasa merasa harus menjelaskan panjang lebar ketika menolak ajakan. Bersama Akhtar, ia mulai belajar bahwa batas tidak perlu disertai rasa bersalah.
Keesokan siangnya, mereka bertemu di sebuah kafe kecil. Akhtar datang setelah mengantar Aruna ke rumah Giana. Ia bercerita bahwa akhir pekan depan Aruna ingin mengikuti kelas melukis. Giana mendukung, dan mereka sedang mencari jadwal yang tidak bertabrakan dengan kegiatan sekolah. Kalina mendengarkan, lalu bertanya apakah Aruna sudah memilih kelasnya sendiri.
'Dia ingin mencoba dulu,' kata Akhtar. 'Kalau tidak suka, kami tidak akan memaksanya.'
Kalina senang mendengar itu. Ia tahu keinginan untuk membuat anak bahagia kadang membuat orang dewasa mendorong terlalu banyak kegiatan. Akhtar dan Giana tampaknya mulai menemukan cara agar Aruna punya kesempatan mencoba tanpa harus merasa semua pilihannya menjadi komitmen besar.
Setelah makan, mereka berjalan di tepi taman. Akhtar bertanya bagaimana proyek Kalina. Ia menjawab bahwa hasilnya lebih baik, meski tim masih harus menyelesaikan beberapa perbaikan. Akhtar menawarkan diri untuk meninjau laporan, lalu berhenti sebelum Kalina menjawab.
'Maaf. Kamu mungkin tidak butuh aku ikut campur.'
'Aku menghargai tawarannya,' kata Kalina. 'Tapi aku ingin laporan itu ditinjau lewat jalur biasa. Kalau nanti aku perlu masukan pribadi, aku akan meminta.'
Akhtar mengangguk tanpa keberatan. Ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi tempat Kalina bersandar, tetapi tidak ingin membuatnya merasa berutang atau diawasi. Kalina menjawab bahwa dukungan yang paling ia butuhkan sering kali sesederhana kesediaan untuk bertanya sebelum bertindak.
Mereka duduk di bangku taman. Percakapan beralih ke rencana liburan pendek yang belum pernah mereka wujudkan. Akhtar menyebut beberapa tempat, tetapi Kalina mengingatkan bahwa jadwal kerja dan waktu bersama Aruna perlu dipertimbangkan. Mereka tidak membuat keputusan hari itu. Mereka hanya membicarakan kemungkinan, menyebut tanggal yang masuk akal, lalu membiarkan rencana itu tetap terbuka.
Dalam perjalanan pulang, Akhtar berkata ia senang mereka bisa membicarakan sesuatu tanpa harus segera menyelesaikannya. Kalina tertawa kecil. Dulu ia mengira hubungan yang serius harus selalu bergerak cepat menuju jawaban. Kini ia mulai mengerti bahwa keseriusan juga terlihat dari ruang yang diberikan satu sama lain untuk berpikir.
Malam itu, Kalina kembali membaca bukunya. Ponselnya tergeletak di meja, tetapi ia tidak merasa harus memeriksanya. Ia tahu Akhtar ada di sana, sama seperti ia tahu dirinya tetap memiliki hidup dan waktu sendiri. Keseimbangan itu belum selalu mudah, namun mereka terus memilihnya bersama. Sebelum tidur, ia mengirim pesan selamat malam. Akhtar membalas dengan foto Aruna yang menunjukkan coretan yang dibuatnya di rumah: rumah kecil di bawah matahari kuning. Kalina tersenyum melihat warna-warna yang berantakan tetapi penuh semangat. Ia membalas bahwa karya itu indah, lalu mematikan lampu dengan hati ringan.
Pada Sabtu berikutnya, kelas melukis Aruna dimulai pagi hari di sebuah studio anak-anak. Akhtar mengantar putrinya, sementara Giana datang beberapa menit kemudian karena ia juga ingin melihat sesi pertama. Kalina tidak ikut. Ia memang diundang, tetapi memilih memberi ruang bagi Akhtar dan Giana untuk mendampingi Aruna bersama. Ia mengirim pesan semoga kelasnya menyenangkan dan kembali membereskan beberapa hal di rumah.
Menjelang siang, Akhtar mengirim foto Aruna berdiri di depan kertas besar, tangannya penuh cat biru. Aruna tampak serius sekali, alisnya berkerut saat memilih warna. Pesan Akhtar menyebutkan bahwa ia menggambar seekor kucing yang menurutnya bisa terbang. Kalina tertawa dan membalas bahwa ia ingin melihat hasil akhirnya jika Aruna bersedia menunjukkannya.
Malam harinya, Akhtar menelepon. Aruna ingin bercerita langsung tentang kelasnya. Kalina menyapa dan mendengarkan penjelasan panjang mengenai kuas, cat, dan seorang anak lain yang menggambar kapal. Ia tidak buru-buru menyela. Di akhir cerita, Aruna berkata ia ingin ikut lagi minggu depan.
'Kalau kamu masih senang, tentu boleh,' kata Kalina. 'Yang penting kamu menikmatinya.'
Aruna menjawab bahwa ia suka, meski kucingnya tidak terlihat seperti kucing. Kalina mengatakan bahwa seni tidak harus selalu terlihat persis seperti benda aslinya. Akhtar tertawa dari latar belakang, dan Aruna meminta Kalina datang ke pameran kecil yang diadakan kelas itu sebulan lagi. Kalina menjawab bahwa ia akan melihat jadwal, tetapi ia ingin datang jika Aruna memang menginginkannya.
Setelah telepon berakhir, Akhtar menyampaikan bahwa Giana juga akan datang ke acara itu. Kalina mengatakan tidak masalah. Ia ingin suasana tetap nyaman untuk Aruna, dan mereka bisa menyepakati cara hadir yang tidak membuat anak itu merasa harus membagi perhatian secara canggung. Akhtar berterima kasih karena Kalina selalu memikirkan perasaan Aruna.
'Jangan jadikan itu beban untukku,' Kalina mengingatkan lembut. 'Aku peduli, tapi aku juga ingin kita semua jujur kalau ada hal yang terasa sulit.'
Akhtar mengerti. Ia mengatakan bahwa ia pun masih belajar menjadi ayah yang hadir tanpa berusaha mengatur setiap pengalaman Aruna. Pembicaraan itu membuat Kalina menyadari betapa banyak hal telah berubah sejak mereka mulai dekat. Mereka tidak lagi menghindari topik yang rumit, tetapi juga tidak menganggap setiap percakapan harus berakhir dengan keputusan final.
Beberapa hari kemudian, Kalina menerima kabar bahwa proyeknya lolos ke tahap berikutnya. Timnya menyambut berita itu dengan tepuk tangan kecil di ruang rapat. Mereka tahu pekerjaan belum selesai, tetapi validasi tersebut menjadi bukti bahwa upaya mereka bergerak ke arah yang benar. Kalina mengucapkan terima kasih kepada tim dan menekankan bahwa hasil itu milik semua orang yang ikut memperbaiki rancangan.
Akhtar memberi ucapan selamat lewat pesan profesional singkat setelah pengumuman resmi. Ia tidak mengirim hadiah atau mengundangnya merayakan secara berlebihan. Malamnya, mereka bertemu untuk makan sederhana. Akhtar bertanya apakah Kalina ingin merayakan atau justru ingin beristirahat. Kalina memilih makan tanpa membicarakan pekerjaan.
Mereka berbagi cerita ringan. Akhtar menceritakan Aruna mulai menyimpan gambar-gambarnya di map khusus. Kalina bercerita tentang tetangganya yang memelihara kucing sangat pemalu. Mereka tertawa ketika menyadari bahwa topik mereka melompat dari seni anak-anak ke hewan peliharaan, lalu ke makanan penutup.
Saat berpisah, Akhtar bertanya apakah Kalina sudah memikirkan pameran kelas Aruna. Kalina berkata ia akan datang, selama Aruna tetap menginginkannya saat hari itu tiba. Akhtar menyampaikan hal itu kepada putrinya tanpa membuat janji atas nama Kalina. Aruna membalas bahwa ia ingin menunjukkan gambar kucing terbang itu.
Kalina membaca pesan Akhtar kemudian dan merasakan hangat yang tenang. Ia tidak sedang mengambil peran baru atau menggantikan siapa pun. Ia hanya mendapat undangan kecil untuk hadir dalam satu momen yang berarti bagi seorang anak. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.