Menjelang pameran kelas Aruna, jadwal keluarga mereka perlu disesuaikan. Giana mendapat tugas baru di tempat kerja, Akhtar harus menghadiri rapat penting, sementara acara kelas berlangsung pada siang hari. Kedua orang tua Aruna bertukar beberapa pesan untuk memastikan Aruna tetap didampingi. Kalina tidak ikut mengatur sejak awal. Ia menunggu sampai Akhtar bertanya apakah ia punya waktu untuk datang.
'Aku bisa,' jawab Kalina. 'Tapi pastikan Aruna juga masih ingin aku hadir.'
Akhtar menyampaikan pertanyaan itu kepada Aruna malamnya. Jawabannya datang melalui panggilan video singkat. Aruna menunjukkan undangan berwarna merah muda dan berkata ia ingin Kalina melihat lukisannya. Kalina berjanji datang, sambil mengingatkan bahwa jika ia terlambat karena pekerjaan, Aruna tetap bisa menikmati acara bersama orang tuanya. Aruna setuju, meski bersikeras bahwa ia akan menyisakan tempat di samping gambarnya.
Pada hari acara, Kalina menyelesaikan rapat lebih cepat dan berangkat menuju studio. Ia datang beberapa menit sebelum kegiatan dimulai. Giana sudah berada di sana bersama Aruna. Akhtar menyusul setelah menyelesaikan rapat yang waktunya telah ia ubah, tepat sebelum kegiatan dimulai. Mereka menyapa satu sama lain dengan sopan. Tidak ada ketegangan yang dibuat-buat, hanya sedikit kecanggungan yang wajar saat mereka mencari tempat duduk.
Aruna berlari kecil menghampiri Kalina, lalu segera kembali ke dekat orang tuanya. Kalina tidak menariknya atau meminta perhatian lebih. Ia bertanya tentang gambar kucing terbang, dan Aruna menjelaskan bahwa kucing itu bisa terbang karena memakai sayap dari awan. Giana tersenyum melihat kesungguhan putrinya.
Pameran dimulai dengan anak-anak berdiri di depan karya mereka. Aruna menjelaskan lukisannya kepada guru dan beberapa orang tua. Ketika tiba giliran Kalina, Aruna menceritakan bahwa Kalina pernah bilang gambar tidak harus tampak persis seperti benda aslinya. Kalina tersentuh, tetapi ia hanya memuji warna dan imajinasi Aruna. Guru melukis membantu mengambil foto: Akhtar berdiri di satu sisi Aruna, Giana di sisi lain, dan Kalina ikut mendekat setelah Aruna memanggilnya.
Sesudah acara, mereka pergi ke taman kecil di dekat studio. Giana semula berencana pulang lebih awal, tetapi urusannya sudah selesai melalui telepon. Akhtar mengajak Aruna makan siang. Kalina menawarkan diri untuk pulang sendiri agar Akhtar bisa fokus kepada putrinya. Aruna meminta Kalina ikut, tetapi Kalina menjawab ia bersedia jika ayah dan ibunya setuju. Aruna lalu meminta semua orang makan bersama.
Akhtar bertanya kepada Giana yang masih berada di dekat mereka apakah ia ingin ikut. Giana menyetujui. Mereka memilih restoran yang sederhana. Percakapan berjalan lancar, terutama tentang kelas melukis dan kegiatan sekolah. Tidak ada yang membahas masa lalu mereka sebagai pasangan. Mereka membicarakan hal-hal yang perlu diketahui orang tua Aruna dan sesekali tertawa karena komentar polos anak itu.
Ketika Aruna pergi mencuci tangan bersama Akhtar, Giana berbicara kepada Kalina. Ia mengatakan bahwa ia berterima kasih karena Kalina tidak berusaha membuat acara itu menjadi bukti bahwa mereka semua harus menjadi keluarga yang sama dalam cara tertentu. Kalina menjawab bahwa ia menghormati sejarah Giana dan Akhtar, sekaligus memahami bahwa hubungan mereka sekarang berbeda.
'Aku ingin Aruna punya hubungan baik dengan semua orang yang menyayanginya,' kata Giana. 'Tapi dia tidak perlu dipaksa memberi nama pada semuanya.'
Kalina menyetujui. Mereka sepakat bahwa jika suatu saat ada kebingungan atau ketidaknyamanan, mereka akan membicarakannya dengan Akhtar terlebih dahulu dan menjaga Aruna dari percakapan orang dewasa. Batas itu bukan dinding, melainkan cara agar semua orang merasa aman.
Malamnya, Akhtar mengantar Kalina pulang. Ia berterima kasih karena hari itu berlangsung hangat. Kalina mengatakan bahwa semua orang ikut membuatnya demikian. Ia senang melihat Giana dan Akhtar bekerja sama sebagai orang tua, dan senang Aruna tidak perlu menjadi penghubung di antara orang dewasa.
Akhtar menggenggam tangannya. 'Kamu membuat hal yang rumit terasa lebih mungkin dijalani.'
'Karena kita tidak mencoba menyelesaikannya sendirian,' jawab Kalina.
Mereka tidak menjanjikan bahwa semuanya akan selalu mudah. Mereka hanya sepakat untuk terus bertanya, mendengarkan, dan menjaga batas yang telah dibicarakan. Kalina masuk ke rumah dengan membawa selembar gambar kecil yang diberikan Aruna: gambar kucing bersayap, dengan tulisan yang dibantu gurunya 'untuk Kak Kalina'. Ia meletakkannya di meja, merasa bahagia karena kedekatan itu tumbuh atas pilihan, bukan paksaan.
Beberapa hari setelah pameran, Aruna mengirim gambar baru melalui ponsel Akhtar. Kali ini ia menggambar tiga orang dewasa dan seorang anak di bawah pohon. Wajah-wajahnya hanya berupa titik dan garis, tetapi Aruna memberi warna yang berbeda pada setiap baju. Giana membantu menuliskan keterangan di bawah gambar berdasarkan cerita Aruna bahwa mereka sedang melihat awan.
Kalina membalas bahwa ia suka warna langitnya. Ia tidak bertanya siapa saja yang digambarkan. Ia memberi Aruna kesempatan menjelaskan dengan caranya sendiri. Malamnya, Aruna menelepon Akhtar dan bertanya apakah Kalina sudah melihat gambar itu. Akhtar mengatakan sudah, lalu membiarkan putrinya memutuskan apakah ingin mengirim cerita tambahan.
Aruna akhirnya bercerita bahwa ia menggambar orang-orang yang hadir di pameran. Ia tidak menyebut gambar itu sebagai keluarga atau memberi label tertentu. Akhtar hanya menjawab bahwa gambarnya bagus dan bertanya apakah ia ingin menyimpannya di map. Aruna setuju.
Saat Akhtar menceritakan hal itu kepada Kalina, ia tampak tersentuh. Kalina mengingatkan bahwa anak-anak sering menggambar apa yang mereka lihat tanpa maksud yang rumit. Mereka tidak perlu menafsirkan gambar itu sebagai janji atau perubahan status hubungan. Yang penting, Aruna merasa aman untuk menggambar dan bercerita.
Akhtar sepakat. Ia mengakui bahwa kadang ia mudah berharap semua hal berjalan harmonis karena ia ingin Aruna bahagia. Kalina berkata bahwa mereka tidak dapat memastikan semua momen akan terasa nyaman, tetapi mereka bisa terus memberi anak itu pilihan dan mendengarkan jawabannya.
Pada akhir pekan, Kalina dan Akhtar pergi ke toko buku. Akhtar mencari buku untuk dibacakan kepada Aruna, sedangkan Kalina melihat bagian novel. Mereka akhirnya memilih dua buku berbeda. Akhtar menemukan cerita tentang seorang anak yang belajar merawat kebun, sementara Kalina membeli novel yang sudah lama ingin ia baca.
Di kasir, Akhtar bercanda bahwa mereka seharusnya membeli buku masak agar punya alasan mencoba resep baru. Kalina mengingatkan bahwa ia sudah memasak cukup banyak minggu lalu. Mereka tertawa, lalu berjalan menuju kedai kopi.
Pembicaraan mereka beralih pada kesepakatan dengan Giana. Mereka sepakat bahwa jika Aruna ingin menghabiskan waktu hanya bersama salah satu orang tua, tidak ada yang akan membuatnya merasa bersalah. Jika ia mengundang Kalina dalam kegiatan tertentu, undangan itu akan dihormati, tetapi tidak dijadikan ukuran kedekatan. Kalina menyukai kejelasan itu. Mereka sedang membangun hubungan dengan anak kecil yang punya perasaan sendiri, dan ketulusan berarti tidak mengubah setiap gestur menjadi bukti bagi orang dewasa.
Sebelum pulang, Kalina berkata bahwa ia senang hubungan mereka dengan Giana kini lebih mudah. Akhtar menjawab bahwa ia pun berterima kasih karena semua orang berusaha menjaga suasana tetap jujur. Mereka tidak selalu sepakat dalam segala hal, tetapi punya satu tujuan bersama: Aruna tidak perlu memikul beban pilihan orang dewasa.