Sebulan setelah memimpin program baru, Kalina akhirnya menutup rapat tepat pada waktu yang dijanjikan. Dito membawa daftar pekerjaan untuk pekan berikutnya dan memastikan tidak ada keputusan yang harus menunggu malam itu. Kalina membaca bagian terakhir, memberikan satu catatan, lalu menyimpan laptop.
Ia pernah takut bahwa menerima tanggung jawab berarti harus selalu tersedia. Kini ia dapat pulang dengan mengetahui pekerjaan diteruskan oleh tim yang dibangunnya. Di dalam tas ada gambar kucing terbang pemberian Aruna yang hendak ia bingkai. Ia tersenyum ketika ujung kertas menyentuh buku catatan.
Akhtar menunggunya di restoran yang mereka pilih bersama. Mereka makan tanpa membahas presentasi sampai Kalina sendiri menceritakan satu kejadian lucu di ruang rapat. Setelah piring diangkat, ia memandang pria di seberangnya cukup lama.
'Aku sudah memikirkan pertanyaanmu tentang masa depan,' katanya.
Akhtar meletakkan gelas. Ia tidak langsung menebak jawaban yang ingin didengarnya.
'Aku ingin menikah denganmu. Bukan karena Jihan sudah menikah, bukan karena keluarga mulai bertanya lagi. Aku ingin menjalani rumah tangga bersamamu.'
Suara Akhtar tertahan ketika ia memastikan apakah Kalina sungguh siap membicarakan langkah tersebut. Kalina mengangguk. Mereka telah melewati beberapa tahun untuk mengenal kembali, menjalani pekerjaan, menghadapi perubahan jadwal, dan mengatakan tidak tanpa kehilangan hubungan. Ia masih tidak memiliki jaminan bahwa semuanya akan mudah, tetapi tidak lagi merasa harus menyembunyikan kebutuhan sendiri.
'Aku juga ingin menikah denganmu,' jawab Akhtar. 'Kita tentukan waktunya bersama.'
Malam itu mereka tidak menyelesaikan seluruh rencana. Mereka mulai dari hal yang paling penting bagi keduanya: tetap bekerja, memilih tempat tinggal bersama, serta membicarakan perubahan yang berkaitan dengan Aruna kepada Giana. Kalina ingin rumah yang mereka cari dapat menjadi tempat anak itu merasa diterima ketika mengunjungi ayahnya. Ia juga ingin jadwal dan keputusan pengasuhan tetap dibicarakan oleh kedua orang tua Aruna.
Akhtar menyetujuinya. Mereka tidak kembali mengulang janji kebahagiaan yang dahulu diucapkannya di dalam mobil di Ancol. Kali ini ia menanyakan apa yang perlu dikerjakan dan kapan mereka dapat membicarakannya lagi dengan kepala yang tenang.
Pada akhir pekan, mereka datang ke Bogor bersama Amalia dan Hadi. Kayra menyusul dengan Abian, sedangkan Jihan dan Kaizan menelepon setelah lebih dahulu mendapat kabar. Bunda memeluk Kalina, lalu bertanya apakah ia ingin perayaan besar atau sederhana. Untuk pertama kalinya pertanyaan tentang pernikahan dapat dijawab tanpa Kalina merasa harus mengejar kesiapan orang lain.
Mereka memilih enam bulan untuk menyiapkan acara dan tempat tinggal. Ayah Kalina meminta Akhtar berbicara langsung jika menghadapi persoalan, bukan mengulangi kebiasaan menyimpan jarak sampai mencari penghiburan di luar hubungan. Akhtar menerima permintaan itu. Kalina mengatakan ia pun akan berbicara, termasuk ketika jawaban yang perlu didengar terasa tidak menyenangkan.
Giana menerima kabar dari Akhtar sebelum persiapan memengaruhi jadwal Aruna. Ia menanyakan tempat tinggal baru dan bagaimana kunjungan anak akan diatur. Akhtar menjelaskan pilihan yang sedang mereka pertimbangkan, lalu mendengarkan kekhawatiran Giana. Mereka menyepakati bahwa Aruna tetap memiliki rutinitas bersama ibunya dan diberi waktu untuk mengenal rumah baru ayahnya.
Ketika Akhtar membicarakan pernikahan itu kepada Aruna, putrinya menanyakan apakah gambar kucing terbang boleh dibawa ke rumah baru. Akhtar mengatakan gambar itu milik Kalina, jadi ia perlu bertanya kepadanya. Pada pertemuan berikutnya, Kalina menunjukkan bingkai yang telah dipilih dan mengatakan ia ingin menggantungnya dekat tempat membaca.
'Boleh aku gambar lagi?' tanya Aruna.
'Boleh. Kalau kamu mau, kita pilih tempatnya sesudah selesai.'
Mereka tidak meminta anak itu menyatakan sesuatu tentang keluarga atau memanggil Kalina dengan sebutan baru. Aruna kembali memilih pensil warnanya, puas dengan jawaban yang berkaitan langsung dengan dunianya.
Selama persiapan, Kalina tetap menjalankan programnya. Ia mengatur cuti bersama manajernya dan memastikan Dito memahami pekerjaan yang perlu diteruskan. Akhtar menyelesaikan bagiannya sendiri, tanpa menyerahkan seluruh urusan acara atau rumah kepada Kalina. Ada hari ketika mereka berbeda pendapat tentang undangan dan harus berhenti berbicara sebentar sebelum melanjutkan. Mereka kembali kepada pembicaraan itu setelah tenang, sampai menemukan keputusan yang dapat dijalankan.
Enam bulan kemudian, pernikahan mereka berlangsung di hadapan keluarga dan orang-orang dekat. Setelah prosesi serta pencatatan selesai, Akhtar berdiri di sebelah Kalina untuk menyambut tamu. Kayra memeluk sahabatnya begitu erat hingga mereka tertawa karena rambut Kalina hampir berantakan. Jihan memberikan tisu sebelum air mata sempat menetes ke pipi, sementara Kaizan mengingatkan Akhtar bahwa teguran sahabat masih berlaku meskipun kini ia mengenakan pakaian pengantin.
Arisa datang dari Bali bersama Andi dan kedua anak mereka. Rayyan membantu Amalia menemani Aruna yang ingin memperlihatkan gambar barunya. Giana mengantar putrinya sesuai kesepakatan dan menitipkan tas kepada Amalia sebelum berpamitan. Ia dan Kalina bertukar salam dengan tenang. Kehadiran Aruna merupakan pilihan yang telah dibicarakan, bukan tuntutan agar semua orang harus merasakan kebahagiaan dengan cara yang sama.
Beberapa minggu setelah menikah, rumah yang mereka pilih mulai terisi kebiasaan sehari-hari. Ada buku Akhtar di samping tempat duduk, tas kerja Kalina dekat meja, dan gambar kucing bersayap yang sudah tergantung. Pada sore yang dijadwalkan bersama Aruna, Akhtar pulang lebih dahulu untuk menjemput putrinya. Kalina menyelesaikan satu panggilan kerja, lalu meletakkan ponsel ketika mendengar suara mereka di depan pintu.
Aruna membawa gambar baru dan berlari memperlihatkannya. Setelah memandang warna-warnanya, Kalina menanyakan cerita di balik gambar tersebut. Akhtar duduk di sebelah mereka dan mendengarkan. Sebelum malam terlalu larut, ia mengantar Aruna kembali kepada Giana seperti yang telah disepakati.
Ketika pulang, ia menemukan Kalina sedang menelepon Bunda. Ia menyapa dari dekat pintu, lalu masuk ke dapur menyiapkan makan malam. Kalina mengakhiri panggilan dan menghampirinya. Mereka membicarakan hari yang baru dilalui, tertawa karena satu cerita kecil, lalu duduk bersama.
Dahulu Kalina berharap cinta akan memberi jawaban atas semuanya. Kini ada pekerjaan yang ia bangun, orang-orang yang tetap ia temui, serta seorang suami yang dapat diajak berbicara ketika sesuatu terasa salah. Ia menggenggam tangan Akhtar di atas meja, tanpa perlu menyembunyikannya atau menunggu seseorang pergi agar mereka boleh berdekatan.
Makan malam mulai dingin ketika Akhtar mengingatkan bahwa mereka belum mencicipinya. Kalina tertawa, melepaskan tangannya untuk mengambil sendok, lalu meminta ia menceritakan bagian hari yang tadi belum selesai. Akhtar melanjutkan ceritanya. Kali ini mereka sama-sama tinggal untuk mendengar.
TAMAT