jarum jam masih menunjukkan pukul sepuluh lebih tapi jiwaku serasa goyah jadi ku putuskan untuk sholat dhuha. ketika dua belas rakaat sudah kulaksanakan, dering telpon menggintrupsiku saat berzikir.
“assalamualaikum” suara om hafiz kini terdengar menembus telinggaku saat panggilan telpon darinya baru saja ku terima.
“waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” jawabku dengan suara yang aneh setelah menangis dalam sholat dhuhaku.
“lia lagi apa?” tanyanya lembut.
“baru selesai sholat om” kataku menarik nafas untuk redakan rasa sesak di d**a.
“Alhamdulillah, lia masih sering ngaji kan?” tanya om hafiz lembut.
“masih kok om”
“bacaanya sampai mana?” tanya lembut.
“kemarin baru tamat om, ngak tahu udah ke berapa kalinya” jawabku dengan rasa bangga.
“masya allah. Om bangga sama lia” kata om hafiz dengan nada riang.
“makasih om” jawabku dengan senyum tipis.
“tapi lia baca arti yang lia baca?”
“ngak” akuku jujur
“lain kali sempatin baca ya!” nasehat om hafiz bijak.
“insya allah om, kalo aku udah beli al-qur’an baru”
“punya kamu, masih yang lama?”
“iya om”
“kok ngak beli?”
“masih kepake dan masih utuh kok om. Jaganya juga susah soalnya”
“kamu benar” kata om hafiz dengan nafas yang di buang secara kasar.
“om lagi apa?”
“lagi mikir anak gadis om, di sana baik-baik saja kan?”
“Alhamdulillah om”
“lia”
“ya”
“lia sering baca surah arrahman ngak?”
“baca kok tapi ngak sesering pas baca surat yasiin akhir-akhir ini”
“alasannya kenapa?”
“surat yasin itu untuk menenangkan jiwa, menggundang rezki dan sebagainya” kataku gamang sembari menggingat ingat makna dan arti surat yang ada.
“kalo arrahman, lia tahu?”
“mmm kalo ngak salah intinya kayak memperingati nikmat allah yang sudah di berikan ke manusia kan om?” tanyaku balik untuk memastikan.
“mmm iya tapi penjelasan lia masih kurang”
“lia” panggil om hafiz “kemarin abi cerita, kalo lia nangis dan bilang kalo mau mati ya?”
“iya” jawabku dengan suara yang kecil
“lia tahu makna dari kematian kan?”
“iya” kataku mulai merasa terpojokkan dengan pertanyaan om Hafiz.
“abi cerita kalo saking marahnya dia ke kamu, dia nampar kamu dua kali, benar”
“iya”
“sakit ngak?” tanya dengan nada khawatir.
“sakit tapi ngak sesakit hati lia sekarang” kataku mulai menitihkan air mata lagi.
“habib sangat menderita saat kematian tante aira, makanya saat mendengar kamu mau mati cuma-cuma hanya karena masalah, dia ngak bisa ngontrol diri. Kamu mau kan maafin abi?”
“ada ngak sih, kesalahan abi yang ngak lia maafin” kataku mendengus kasar sedangkan om hafiz malah terbahak di seberang sana.
“lia” panggil om hafiz lagi setelah berhasil meredakan tawanya.
“ya om”
“cewek yang pintar itu tahu bagaimana membuat seorang laki-laki ngak bisa melupakannya, dan lia orang pintar itu”
“kalo lia orang pintar, yang lia lakuin itu pasti nyantet abi bukan bikin dia menyesal” balasku mencoba melawak dan ternyata berhasil. Sekali lagi om hafiz terbahak di seberang sana.
“lagian abi terlalu astagfirullah untuk aku yang terlalu subahannallah” sambungku.
“pede sekali kamu” kata sebuah suara yang ada di belakangku.
Bukan, suara itu bukan berasal dari aku ataupun om Hafiz melainkan abi yang sudah duduk di sampingku lalu merebut handphone begitu saja. Ku pikir abi akan mematikan sambungan telpon, tapi abi malah menyalakan tombol speaker dan berkata
“bi, kemarin ada tuh cewek yang kedapatan ngegosipin aku, sampai sekarang malah ngak mau minta maaf” adunya pada om Hafiz.
“egh aku ngomongnya jujur dan sesuai fakta kok, bagian mananya yang gosip” elakku tidak terima.
“ngomongin orang tetap saja namanya gosip”
“tapi kan emang kamu begitu” kataku menunjuk wajahnya tapi abi malah bersiap untuk menggigit jariku tapi untungnya gagal karena aku menyembunyikan tanganku lebih cepat.
“allah saja menyembunyikan aib umatnya, kamu yang manusia biasa kok bisa ngumbar-ngumbar kesalahan aku” katanya semakin memojokkan ku.
“ighhh aku ngak sepenuhnya ngomongin ke salahan kamu yah” elakku
“lia, habib. Abi ngak ngak ngerti kalian bahas apa sih?” intrupsi om hafiz yang menyadarkan kami berdua kalo sambungan telpon masih terhubung dan om hafiz masih mendengarkan perdebatan kami.
“itu om, kemarin rina sama Ilmi kan nanya, alasan abi baik sama lia. Lia cerita deh pas nemu orang gila yang waktu smp dan gimana cara abi minta maaf ke lia”
“terus?” tanya om hafis.
“lia cuman bilang kok, kalo abi ngak minta maaf secara langsung tapi ngasih buku dan isinya itu tentang alasan wanita harus menggunakan hijab”
“masalahnya di mana?” tanya om hafiz tenang sedangkan abi malah diam dan menatapku sambil bersidekap, abi tidak lupa memasang wajah datar yang sudah menjadi andalannya.
“rina kan ada di sini om, abi maunya kelihatan perfect awww a” kalimatku terhenti karena abi seketika membekap mulutku dan berkata
“lia kemarin minta di masukin ke rumah sakit jiwa bi”
“serius” tanyanya heboh.
“iya. Bi, udah dulu ya, salam untuk keluarga di sana. Abi juga jaga diri dan kesehatan ya. Lia dan habib mau makan siang dulu sama semuanya. Assalamualaikum” kata abi
“waalaikum salam”
“Pip” suara telpon di matikan sepihak oleh abi.
“apaan si lo bi” kataku membentak abi setelah abi melepaskan dekapannya di mulutku.
Abi tidak menjawab malah dengan cepat menyatukan bibir kami lalu dengan lancangnya dia menghisap bahkan mengigit bibirku agar terbuka dan membiarkan lidahnya masuk untuk mengekspor setiap deretan gigiku.
Seketika aku tersadar, tapi bukannya membuka mulut dan membiarkan abi melakukan yang dia mau, tangan kananku malah bergerak cepat untuk menampar wajah abi.
Ku tanggalkan mukenahku lalu meninggalkan abi yang masih terduduk diam melihat aku pergi. Aku sudah duduk di ruang keluarga bersama yang lainnya tidak lama setelahnya abi ikut bergabung.
“pipi kamu kenapa bi?” tanya firman dengan kerutan di dahi.
“di tampar lia” jawab abi jujur sedangkan dalam diamku, aku mengumpati abi yang terlalu bodoh.
“lia ngak mungkin mukul kamu kalo kamu ngak salah” bela om Adi padaku.
“lia, kamu di apain abi?” tanya tante dewi dengan tatapan khawatir.
“abi cium seperti biasanya” katanya santai dan memindahkan beberapa lauk ke atas piringnya.
Semua seketika diam tapi tidak dengan om Adi. Om adi malah berkata
“ngak heran kalo abimu mau kamu nikah cepat. Kalo om, dari pada nikahin kamu cepat, mending sunatin kamu sampai habis” geram om adi dengan gerakan tangan seperti memotong sesuatu.
“habis dong perkutut habib” kata abi menggelak.
kami semua tertawa mendengar protesan abi dan semakin tertawa saat melihat abi mencuri pandang ke arah pusakanya di bawah sana.
“lia” panggil om adi padaku.
“ya om” jawabku malu-malu.
“kalo kalian lulus SMA langsung nikah kan. Om ngak mau punya keponakan bule” kata om Adi sambil menatap mataku nanar.
“hu hh huk huk” rahmat terbatuk dan untungnya batuk rahmat menyelamatkan aku dari pertanyaan horror om Adi.
Kami semua terdiam setelah perkataan om adi. Biarpun aku diam, di kepalaku malah sedang menggumpati abi dengan semua kata hina yang ku tahu.
Abi jelas tahu aku sedang marah tapi dia malah tersenyum lebar dengan wajah yang sangat ingin ku tenggelamkan dalam tanah.
Tante dewi yang ada di sebelahnya dan melihat ekpresi ingin membunuhku pada abi, bahkan hanya bisa menggeleng-geleng karena kelakukan gilaku dan abi.
********
Aku, tante dewi, ilmi dan rina sedang di dapur untuk bersih-bersih setelah kami melakukan makan siang, hujan bukannya mereda malah nampak kian menangis drama hingga membasahi bumi.
Dua hari setelah pergantian tahun ternyata belum cukup untuk menenangkan sang pemilik kuasa, lalu memunculkan matahari untuk menghangatkan umat manusia.
Tidak ada yang salah dengan hujan sebenarnya tapi aku dan yang lainnya belum bisa meninggalkan kota pinrang untuk hari ini.
“lia” panggil tante dewi setelah semua pekerjaan kami selesai.
“ya tante” jawabku.
“kamu sama abi bagaimana sebenarnya?”
Aku memilih menggeleng sekarang ini karena memang aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada kami, apa lagi untuk menjelaskan pada tante dewi. aku makin binggung rangkaian kata apa yang harus ku ucap.
“tante tidak menggerti dengan gelenganmu ini” katanya sembari bersidekap menatapku intens.
“tante, lia sudah bilang belum, kalo rina ini pacar abi”
“aghh. Bagaimana ceritanya terus ciuman kalian itu apa?” kata tante dewi dengan intonasi yang meninggi.
“bu bukan gitu kok tante. Rina bukan pacar abi kok”
“terus?”
“nah aku juga ngak tahu tan. Rina dan abi selalu bilang mereka bukan orang yang pacaran tapi abi ninggalin lia untuk rina. Itu apa coba?”
“tuh anak emang gila ya, sama kayak emaknya dulu”
“mang tante aira dulu gimana?” pancingku.
“aisss back to topic, jadi kalian sekarang gimana?”
“mmm rina udah sama abi, dan lia sekarang udah pacaran sama rahmat”
“rahmat, rahmat ini anaknya walikota kan?”
“kok tante tahu?”
“jelas tahu, wong dia salah satu selebgram kan, tante sering nguntit akun dia karena ada kamu di akunnya”
“ighh tante stalker” kataku tanpa bisa ku cegah.
“biarin. lagian yang tante tahu kalo kamu dan abi bakal nikah setelah kalian lulus ini gimana?”
“ya ngak gimana-gimana tan. Toh kami masih muda belum ada apa-apa juga antara aku ma abi” kataku santai.
“yang udah pernah mandi bareng, tidur bareng ciu…” kata tante dewi tapi aku lebih dulu berkata
“itu dulu ya, pas kami kecil. Sekarang ma udah tahu aturan” kataku menyela ucapan tante dewi.
“tau aturan dari mana. Itu cium-ciuman sampai sekarang apa?” tuntut tante dewi
“udah agh tante ngak bisa apa jaga perasaan rina gimana, sekarang lia udah ngak sama abi udah keputusan udah mutlak emang”
“terserah kalian deh tante mikirin kalian makin binggung. Moga firman kalo pilih jodoh yang berotak dikit dan ngak bucin kayak kalian” denggusnya.
“duhhh ni mulut wajar firman jomblo sampai sekarang, mulut emaknya gak bisa di kontrol nih, makannya cewek-cewek kabur sebelum di dekatin firman”
“kamu bilang apa?” kata tante dewi melotot padaku sembari bertolak pinggang.
“dudhhh duh ampun tante ampun” kataku menggadu karena kupingku di jewer tante dewi.
Biarpun di jewer sebenarnya jeweran tante dewi itu tidak sakit, cuman untuk mendramatis aku meringgis sekaligus tertawa untuk membuat tante dewi kesal saja.
“sekarang masuk ke kamar kalian gih, tante habis makan jadi ngantuk”
Kami tidak menyahut lagi tapi menggikuti perintah tante Dewi.
Di dalam kamar, setelah ilmi saling bertukar kabar dengan orangtuanya sedangkan rina mengenggus dengan wajah suntuk mendapatkan notif transferan orangtuanya, kami berbincang menggenai hal-hal yang tidak penting.
aku seolah mendapati sosok yang lain dari rina. Rina dengan luges menceritakan semuanya, dia bahkan menggeluhkan tentang jeleknya punya uang tapi tidak punya kasih sayang orangtua.
Entah kenapa sekarang ini kami sudah sangat akrap dengan rina, bukan hanya untuk formalitas tapi memang kami sudah menjadikan rina bagian penting dari tim kami.
Saat Rina bercerita, Aku dan Ilmi mendengar dengan seksama bahkan beberapa kali memberikan saran untuk mengguatkan rina.
Setelah beberapa hari bersama Rina, aku sadar kalo pandanganku pada rina ternyata memang salah selama ini.
Rina yang ku kenal sebelumnya dan rina yang ada di hadapanku saat ini jelas sangat berbeda. Seketika aku ingat perkataan abi yang memintaku menggenal rina bukan dari kata orang lain.
Rina yang ku kenal saat ini, bukanlah sosok yang milih-milih seperti yang selalu di umbar orang lain, rina ternyata bukanlah anak yang komunikatif dia malah terkesan pasif di beberapa hal.
Rina lebih suka diam, menggamati dan baru bersuara jika itu penting menurutnya. Jujurnya aku merasa binggung kenapa rina tidak seperti yang ku dengar, saat ku tanya bagaimana dia sebenarnya, dia malah berkata
“aku itu anak tunggal, aku dulunya kurus, jelek dan tidak punya teman” kata rina dengan pandangan menerawang entah kemana.
Aku dan ilmi memilih diam dan tetap memandang rina dengan perasaan penasaran.
“aku sering di bully teman-temanku. salah satu teman yang paling popular itu santi, jadi aku terus berusaha berteman dengan santi biar punya teman lain”
“dan usahamu berhasil?” tebak ilmi
“ya, tapi sebagai gantinya, aku harus ngasih apa pun yang santi mau”
“kalian temanan sejak kapan sih?” tanyaku dengan kerutan di dahi.
“sejak SMP kelas dua” jawab rina dengan senyum yang di paksakan.
“lumayan lama juga sih. Terus setelah kamu temanan dengan santi gimana?”
“aku punya teman lain, santi ngajarin aku biar terlihat okey di depan public”
“tapi santi morotin kamu biar bisa terlihat kaya juga kan?” tebak ilmi lagi.
“kok kamu tahu?” tanyaku binggung.
“aku tahu dong, kan gengnya santi dan rina pernah bertengkar dengan geng sekolahku”
“oyah?” tanyaku pada ilmi dan rina, mereka malah menggangguk untuk membenarkan.
“pantesan kamu dan ilmi dari awal ngak cocok, ternyata sudah ada belang di masa lalu” kataku
“aku membiarkan santi mengaturku ini dan itu, semua masih ku maklumi tapi sampai dia ngejual aku, itu adalah sesuatu yang tidak bisa ku maafkan sampai saat ini”
“kamu ngak lagi cari simpati ku dan ilmi kan? Aku ngak mau temanan ma tukang gosip soalnya” kataku mewanti-wanti rina.
“aku ingin menggosip dengan siapa. Kamu lihat, setelah aku menjauhi santi, kalo abi tidak berbaik hati padaku, aku punya siapa untuk berbagi” kata rina dengan suara semakin mengecil di akhir kalimat.
Aku dan ilmi seketika bungkam kembali karena merasa apa yang di katakana rina itu benar. Dengna famor dan citra diri yang hancur, rina memang sering menyendiri beberapa bulan ini.
“Lia” panggil rina padaku
“mmm” ujarku saat aku sedang menjelajahi sosmedku.
“lia” panggilnya lagi. Ilmi yang awalnya melakukan live di sosmed ternyata terusik dan menghentikan kegiatannya dan berkata
“apaan sih lo dari tadi manggil lia ngak jelas” semprot ilmi dengan wajah suntuk.
“kamu beneran pacaran sama rahmat?” tanya rina dengan mimic wajah serius saat aku menatapnya.
“kenapa?” tanyaku ikut melihat rina dengan pandangan serius pula.
“tapi kamu tahu kan santi udah naksir rahmat dari dulu” kata rina lagi
“mm tahu. Santi nunjukinnya terang-terangan kok” kataku lalu menatap ilmi untuk melihat ekpresi ilmi dan sebenarnya aku ingin ilmi menyudutkan rina agar rina mengucapkan semua yang dia tahu.
“aku ngak mau aja kalo santi ngajak orang untuk ngebully lo” kata rina serius.
“tenang ada ilmi” balasku santai
“kok gue, enak aja log” protes ilmi.
“emang semenggerikan itu di bully santi ya rin?” tanyaku memperhatikan wajah rina dengan serius.
“untuk gue iya, ngak tahu kalo lo” balas rina dengan sedikit keraguan.
“santi memilih lawan yang salah kalo dia mau berhadapan sama lia” kata ilmi dengan sombongnya.
“ilmi, lia”
“ya” jawab ilmi
“kalo di sekolah, aku, aku tetap boleh jadi teman kalian kan?” tanyanya dengan penuh harap.
“jelaslah, kami mah teman bukan ibu kontrakan” kata ilmi lagi
“maksudnya?”
“nerima orang tapi bersyarat dan berbayar” kata Ilmi lagi dengan tawa di akhir kalimat yang sukses mengundang tawaku dan rina juga.