Tidak perlu ku ceritakan bagaimana kami kembali ke Makassar dan bagaimana kami berpisah yang jelas saat ini, aku sudah berada dalam kamar kosanku menatap tembok yang juga menatapku tapi enggan berkata apa pun.
Katakan aku gila, mungkin iya. Setelah di kelilinggi orang banyak terus berada di ruang yang hanya ada diri sendiri itu rasanya seperti berganti dimensi yang hanya ada aku seorang dan itu entah kapan terjadi.
Hujan masih menguasai bumi dan udara dingin masih menusuk pori-pori kulit tapi aku beserta yang lainnya terpaksa harus melakukan absensi di sekolah. Di sinilah aku, dan semua murid sekolah SMAN xxx Makassar.
Hari pertama kami masuk sekolah, bertempatan dengan hari senin. Seperti biasanya kami harus melewati rangkaian upacara terlebih dahulu sebelum proses ajar-mengajar.
Langit masih mendung saat semua yang berada di sekolah sedang berdiri di bawah langit dan memposiskan tangan untuk menghormati bendera yang sedang di kibarkan.
Walaupun tetesan hujan membasahi tubuh semua orang, tapi tidak menggerakkan kami untuk meninggalkan lapangan upacara, sampai saat seharusnya pancasila di lapalkan secara serempak, hujan turun kian deras dan sukses membuat kami terbirit-b***t.
Kabar tentang kedekatanku dan Rina sudah sampai di telingga Santi begitu juga kabar tentang aku yang resmi pacaran dengan rahmat.
Aku tidak tahu kenapa santi tidak bisa menerima kalo Rina tidak lagi bergantung padanya yang jelas sekarang ini, aku dan santi tidak lagi berteman alias santi memusuhiku.
Santi sudah sering melakukan perlawanan verbal atau non verbal tapi berhubung aku selalu di kelilingi banyak orang dan memiliki uang banyak, dia makin iri padaku. Rina sudah resmi jadi tim kami.
beberapa kesempatan aku, ilmi, rina, abi, ditto dan rahmat tuh sering jalan. Kami biasanya nongkrong bareng, nonton, main, dan lain-lain. Kami nongkrongnya itu bukan di pinggir jalan tapi di tempat-tempat keren juga mahal, seperti saat ini.
Sekarang ini, kami berada di salah satu café yang sebenarnya bangunannya sudah di bangun sejak dulu tapi pernah bangkrut. Tempat ini sebelumnya adalah restoran, lalu karena berganti kemilikan, tempat ini di sulap menjadi café oleh pemilik yang baru.
Café ini di desaint sangat bagus, interiornya juga bagus banget untuk di jadikan tempat untuk foto-foto tapi sayang, karena sesuatu hal yang tidak terlihat mata café ini, jadinya cafe ini sepi pengunjung.
Tujuan kami ke tempat ini sebenarnya bukan hanya nongkrong semata tapi ilmi di minta mempromosikan tempat ini di instagramnya.
Ilmi itu selebgram yang sering tutorial makeup, sekaligus penyanyi, jika ilmi menerima endorse biasanya hanya pakaian dan skincare tapi berhubung pemilik café dekat dengan sepupu ilmi, atas desakan sepupunya itu, mau tidak mau ilmi menerima tawaran pemilik café.
Ilmi tidak ingin menderita sendiri jadi dia membawa rahmat dan Ditto juga untuk membantunya, jelas si pemilik café senang bukan main. Rahmat dan ditto sebenarnya youtuber tapi mereka berdua juga aktif di IG.
Rahmat sering memamerkan kemampuannya di segala bidang juga kehidupan sosialnya, sedangkan ditto malah sering meriview gadget, applikasi dan game. Mereka berdua itu sering kolaps dan entah kenapa banyak fans mereka yang suka kalo mereka berdua menggila bersama.
Pernah lihat kan orang yang main game trus di rekam, di komentari ini- itu, nah hal itu yang di lakukan rahmat dan ditto. Ilmi sampai-sampai pernah di ajak syuting sama mereka, dan ilmi ketahigan malah minta rahmat dan ditto ngajarin mereka.
Mereka selalu mengajakku untuk melakukan hal yang sama, rahmat malah ngasih aku kameranya yang sudah tidak kepake tapi masih sangat bagus selain itu, rahmat juga ngasih gadget dengan icon buah yang di gigit secuil keluaran terbaru.
Aku sudah buat tapi entah kenapa aku tidak pernah pede untuk publish ke social media. Bukan tanpa alasan aku memikirkan saran mereka, Social media kini adalah hal yang memberikan ke untungan untuk kami kaum muda agar tidak tergantung lagi dengan orangtua dan jujurnya aku ingin itu.
Walaupun perginya rame-rame, mereka ternyata punya kesibukannya masing-masing.
Ilmi sampai ngajakin timnya untuk mengambil foto yang keren untuk di post di sosmednya, ditto di meja lain sedang merekam dirinya meriew gadget terbaru sedangkan rahmat sedang memaikan alat music di atas panggung dan tentu saja di rekam menggunakan kamera kecil tapi harganya bisa bikin sakit jiwa. saat aku tanya, ternyata rahmat sedang membuat vlog.
Kini tinggallah aku, rina dan abi di satu meja. Kalo kalian tanya bagaimana rasanya? Maka jawabannya biasa aja. Kami sudah tidak secanggung saat aku minta putus pada abi. Kalo kalian ngarep kami akward moment nyatanya tidak.
Abi malah dengan santainya memainkan leptop yang selama tim kami di bentuk, leptop itu selalu di bawanya kemana-mana. Rina sibuk melakukan live di instagramnya sedangkan aku hanya diam menatapi patung kucing bewarna kuning keemasan yang tangan kanannya bergerak sejak tadi.
“liat apa?” tanya Abi menggusik kegiatanku.
“liat patung kucing” jawabku menunjuk apa yang kulihat
“lia jangan aneh-aneh” kata abi memperingati.
“ngak guna ilmi dan yang lainnya promosiin ini kafe, kalo patung itu tidak di musnahkan” kataku santai lalu mencicipi greentea yang tadi ku pesan.
“egh kok gitu” kata rina.
Aku tidak menjawab malah hanya menggangkat bahu dengan santai lalu membuka kunci gadget milik abi.
“egh kamu tahu password gadget abi?”
“mmm aku yang buat kok” kataku santai
"abi juga tahu password gadget kamu?"
"enggak" jawabku santai
"loh kenapa?"
"privasi yang basi, tanpa dia periksa gadgetku dia juga udah tahu kok isinya" kataku menunjukkan gadget milikku sambil menggoyang-goyangkannya.
"kok gitu?"
"nomor tante aira, tuh sedari dulu udah disadab sama om hafiz. egh di jadiin warisan ke aku ma abi. gila kan?. dan begonya abi setuju-setuju aja terus ngak mau lepas tuh sadapan" kataku mendengus dan berwajah masam pada abi sedangkan yang di tatap malah tersenyum tipis sebelum meminum coklatnya.
“jadi kalo aku curhat abi juga tahu dong ” katanya dengan wajah syok.
“ngak kok. nomor yang kamu sering hubungin itu, nomor pribadi aku dan emang jarang aktif dan itu yang gak di sadab” jelasku.
“tante aira bukannya uminya, abi ya?”
“mmm” gumamku sembari memainkan game cacing-cacing.
rina memilih diam kali ini, tapi tidak lama setelah diam, rina berkata
“maksud kamu tadi apa?”
“yang mana?” kataku tanpa menggalihkan pandangan dari layar gadget.
“yang bilang kalo apa yang di lakuin anak-anak ngak guna kalo patung kucing itu ngak di musnahin”
“ngak, aku lagi ngelantur aaaa isss dududu ighhh kan, igh mati deh, kamu sih ngajakin ngomong mulu” kataku gemas karena cacing milikku mati hanya karena di tabrak cacing kecil.
“sorry, sorry tapi bilang dulu” katanya mendesak
“di omonggin juga ngak guna, kamu ngak bakal ngerti” kataku memulai game kembali.
“bilang dong, aku penasaran lia bilang dulu baru aku berhenti ganggu” kata rina sambil menggerak-gerakkan lenganku.
“yaya yaya igghh rina diam yaaag aisss g****k igh” decakku kesal lalu menatap rina nyalang sedangkan yang di tatap hanya melemparkan cengiran yang sangat menjengkelkan.
“ighh semakin kenal kamu, kamu kok makin nyebelin sih lia. Heran deh kenapa mereka bisa betah sama kamu” kata rina gemas padaku yang kembali memainkan game.
“bodo amat” kataku santai
“egh maaf nih ganggu, saya boleh gabung ngak?” tanya seseorang yang ternyata pemilik kafe.
“silahkan” kata rina malu-malu pada pemilik café yang ternyata memang tampan seperti kata sepupu ilmi.
“makanan di sini menurut kalian gimana?” tanyanya entah untuk berbasa-basi atau memang itu point dari pertanyaanya.
“enak kok kak” balas abi dengan senyum tipis.
“baguslah banyak orang yang bilang gitu tapi kok café saya ini sepi ya?”
“kak, kakak udah coba cara pesan antar ngak?” tanyaku menjurus ke arah yang ku mau.
“udah tapi itu di lakuin di rumah, pesanan dari rumah lumayan laris sedangkan di sini ngak. Saya binggung padahal semuanya satu resep” katanya dengan senyum canggung.
“mau dengar saran saya ngak kak” kataku tanpa menggalihkan pandangan dari game yang ku mainkan.
“lia jangan gegabah” nasehat abi.
“ngak kok. Penghuni tuh patung juga dah muak kok” kataku acuh tak acuh.
“maksudnya?” tanyanya dengan kerutan di dahi.
“singkirin aja.” kataku
“ngeganggu ya kesannya?” tanyanya dengan senyum miring.
“bukan tapi ada penunggunya” kataku pada akhirnya.
“lia” tegur abi lembut.
Lelaki itu sepertinya sedang berpikir keras, ia baru saja akan membuka mulutnya tapi kembali di tutup saat Ilmi dan yang lainnya mendekat dan berniat untuk pulang.
Mau tidak mau, lelaki itu mengizinkan kami pulang dengan wajah yang aneh. Entah karena merasa perkataan ku yang ambigo atau mungkin saja dia sedang meikirkan untuk menggikuti saranku.
******
Bell jam istirahat baru saja berbunyi, suara muadzin menyuarakan panggilan sholat dzuhur juga baru saja di kumandankan. Berhubung aku sedang masa priodeku, aku memilih menetap di kelas sembari menunggu ilmi yang sudah pergi menuju masjid dan memenuhi panggilan allah.
Teman-teman yang lupa akan tanggung jawab dan beragama lain malah memilih bergerak menuju kantin. Walaupun kelas sudah sepi tapi Santi dan rombongannya ternyata belum pergi. Tahu apa yang mereka lakukan?, Terlebih dahulu mereka tacap (memperbaiki penampilan)
santi masih memusuhiku. Aku serasa sangat binggung dengan santi, kenapa santi tidak bisa bersikap dewasa dan menyikapi gosip itu tenang.
Saat itu sampai di telingganya, santi sudah seperti orang yang kebakaran janggut. saat itu, dengan sikap angkuhnya dia mendatanggiku dan melampiaskan amarahnya begitu saja.
Awalnya Santi menggasut yang lain untuk memusihi tapi sayangnya usahanya itu gagal.
Jelas dia gagal karena semua orang sudah tahu bagaimana namaku dan nama rahmat sering di sandingkan sejak kami masih berstatus anak baru di sekolah ini.
Santi akhir-akhir ini sering menyindirku, sayangnya aku tetap acuh hingga dia semakin berang saja.
Mereka baru saja akan meninggalkan kelas, tapi tiba-tiba Dania yang memang sangat lugu di antara mereka menyempatkan diri untuk menegurku dan berkata
"lia kamu ngak ke kantin?" tanyanya lembut walaupun dengan suara sedikit keras.
"dia ngak usah makan, dia selalu kenyang setelah berhasil makan teman" Bukan aku yang menjawab tapi santi.
Tidak lama setelah Santi dan yang lain pergi, beberapa teman yang lain memasuki kelas.
Aku awalnya santai saja tapi ketika dua sampai lima orang di antara mereka membuka baju untuk mengganti baju olahraga, di sanalah aku merasa tidak nyaman dan pergi.
Aku memasuki perpustakaan dan langsung menuju rak paling belakang di mana novel serta beberapa buku lainnya di susun di rak dengan rapi.
Kondisi perpustakaan saat ini cukup sepi, tapi semakin membuatku semangat untuk mencari novel yang bagus untuk k*****a. aku sempat memilih dan membaca beberapa novel tapi setelah membaca synopsis yang ada di belakang buku, nyatanya tidak ada yang menarik minatku.
Kutelusiri satu persatu rak buku hingga ku rasakan seseorang mendekat dan berdiri tidak jauh dariku. Menghirup aromanya saja aku sudah tahu orang itu.
Tanpa harus berbalik, aku bisa menebak jika itu rahmat. Sumpah bau parfum rahmat itu sudah bisa tercium sejauh satu meter, bau rahmat itu sangat khas dan aku tahu parfum miliknya bukan yang mudah ku dapatkan di swalayan.
"cari apa?" tanyanya sebagai kata sambutan.
"kalo aku bilang cari penghulu, kamu percaya ngak" jawabku ketus.
"kalo kamu bilang cari anting di toko ikan juga aku percaya kok" balasnya dengan senyuman menggejek.
"sana deh jangan ganggu" balasku dengan wajah suntuk dan enggan menatap rahmat lebih lama lagi.
"ya udah ayuk" balasnya dengan senyum lebar
"ayok apa?" balasku semari menatap rahmat intens dan tidak lupa menggerutkan kening.
"katanya cari penghulu berarti mau nikah dong!" godanya dengan alis yang di naik turunkan beberapa kali.
Aku memilih diam tapi memanyunkan bibir dan bergerak menjauh dari Rahmat.
"tar kamu munya prawedd dimana?" tanyanya memulai perbicaraan yang menurutku tidak penting sama sekali.
"ngak usah" balasku santai
"mau langsung nikah aja yag?"
"ngak usah" balasku lagi sembari terus bergerak ke samping untuk membaca judul novel satu persatu.
"prawwed ngak mau. Nikah katanya ngak usah. Ya udah kawin aja yuk"
"Sialan lo mat. Lo pikir gue apa'an banget" semprotku dengan wajah kesal.
"terus kok ngak mau nerima ajakan gue" kata rahmat.
"udah ngak usah repot-repot" kataku menggibaskan tangan beberapa kali.
"ngak mau alay kayak anak saman sekarang ya?" tebaknya jumawa.
"alay tu kalo ngak jadi nikah tapi ngaku-ngaku" balasku cuek.
"terus?" tuntutnya lagi.
"aku mau prawedd sebelum nikah tapi momend nya gak sama kamu ngerti ngak sih!" kataku kesal.
Rahmat mendelik sebal, petanda dia gemas dengan jawaban spontanku. Sedangkan aku tertawa lebar karena berhasil memancing emosinya. Tidak ingin lagi meladeninya, aku fokus dengan buku yang ada di tanganku.
Selama aku membaca beberapa bait kalimat yang ada di buku, Rahmat memperhatikan sambil sesekali menghalanggiku membuka lembaran baru untuk k*****a, dia bahkan dengan usil merebut buku itu dan berkata
"cium aku dong?"
"ogah" jawabku tanpa pikir panjang.
"mang aku bilang apa?" tanyanya dengan wajah polos.
"cium aku dong!" jawabku menatap rahmat dengan mata memicing.
Mendengar perkataanku, aku melihat bibir rahmat menyunggingkan seulas senyuman jahil.
"okey" kata rahmat lalu tanpa aku sadari jarak wajahku terlalu dekat dengan rahmat sampai aku merasa sebuah benda kenyal dan sedikit basah mendarat di pipi kananku .
Aku seketika terpaku di tempatku. Saking syoknya aku, Mataku mengerjap beberapa kali, sampai kesadaranku kembali. Mataku melotot, bibirku terbuka lebar dan tanganku dengan spontan menyentuh pipi yang rahmat cium.
Ketika aku tersadar, ternyata aku baru tahu jika responku sangat terlambat karena tersangka utama sudah berlari meninggalkanku layaknya orang paling bodoh di muka bumi ini.
Aku berusaha meredakan debaran jantungku. Ku akui aku sudah beberapa kali berciuman bibir dengan abi tapi sensasinya tidak separah saat rahmat menciumku.
Padahal rahmat cuman mencium pipiku, ingin sekali rasanya aku curhat pada ilmi untuk meminta saran tapi aku tidak ingin ilmi meledekku terus menerus dengan curhatanku.
Aku baru saja keluar dari perpustakaan tapi aku malah berpapasan dengan rina dan abi. sebelum mereka berlalu, abi menyempatkan diri berkata
"aku udah pesanin sesuatu untuk kamu. makannya jangan pedes-pedes ya" nasehatnya lalu menggelus kepalaku beberapa kali setelah itu, barulah abi pergi bersama rina menuju ruang osis.
di dalam kantin, ku dapati teman-temanku duduk Di pojokan tempat kami biasa, ku dapati mereka yang sedang menikmati makanan mereka masing-masing.
Dari arah belakang, ku jewer telinga rahmat dengan keras dan sukses membuatnya mengadu sakit. Aku bukannya merasa menyesal lalu melepaskan jeweranku, malah dengan rasa puas berkata
"syukurin" kataku lalu duduk di samping rahmat yang masih menggadu dan menggelus-ngelus telinganya berulang-ulang kali.
"sadis banget sih, pantas di tinggal dan abi milih rina yang lembut"
"apa" kataku akan menjewer telinga rahmat tapi rahmat lebih dulu bergerak menutupi kedua telinganya.
"heran deh sama kalian. Kalo ngak ketemu kangen-kangenan tapi saat ketemu udah kayak ibu kos dan anak kos yang mangkir bayar kontrakan" kata ilmi sembari menggeleng-geleng beberapa kai.
"iya dan ibu kosnya lia kan?" kata Rahmat dengan senyum jahil,
"bodoh" semprotku lalu beranjak meninggalkan mereka untuk memesan makanan.
Belum menggucapkan apa yang ku mau, Pak Ahmat yang menjual nasi goreng sudah menyodorkan sebuah piring yang sudah di susun dengan rapi. dengan santainya pak Ahmat berkata
"tadi Abi sudah memesan untuk kamu, ini juga baru mau di anterin kok" jawabnya.
Mendengar itu aku hanya ber oo ria dan mengangguk berapa kali.
Jelas abi tahu apa yang aku mau wong tadi di wattsap kami memperdebatkan dengan apa yang boleh dan tidak boleh ku makan kok.
Aneh ngak sih, abi sudah sama rina tapi selalu memperhatikan hidupku, kebutuhan dan kondisi tubuh juga hatiku?.
Jujurnya aneh tapi setiap aku menegur, abi malah dengan santainya memberikan jawaban yang masuk akal dan tidak biasa membuatku berkata-kata lagi, sama seperti kali ini.
Ku terima nasi goreng itu lalu kembali ke meja yang di tempati teman-temanku. Dari kejahuan aku memperhatikan mereka sepertinya sedang menatapi gadget masing-masing untuk sesaat setelahnya berbicara dengan mimic wajah serius.
"lagi ngomongin apa sih?" tanyaku setelah duduk di samping rahmat dan mulai siap menyantap makananku.
"ini, di semua media lagi ngomongin negeri yang terjangkit virus corona" kata Dito menjelaskan secara singkat padaku.
"corona?" kataku dengan kerutan di kening.
"mmm corona tuh penyakit yang sebenarnya di sebarkan dari kehewan ke manusia egh ternyata bisa pindah lagi ke manusia lain" jelas ditto lagi.
"cara penyebarannya gimana?" tanyaku ikut serius mendengarkan penjelasan ditto.
"banyak tapi yang paling serem tuh pas berbagi udara ma orang yang terjangkit" kata ditto
"agh seriusan kok lebih parah dari AIDS sih?"
"ya jelaslah untak bertelur" ejek ilmi padaku.
"terus cara cegahnya gimana?"
"lo ngak lihat berita ya?" kata ilmi lagi.
"lo ngomong kayak di kosanku serba lengkap tau ngak" balasku sarkis tapi tidak menghentikan kegiatanku untuk makan.
"iya tapi lo kan bisa baca di internet dodol" balas ilmi lagi tidak ingin kalah.
"heheh gue udah ngak ngidupin gadget selama seminggu ini"
"sumpah salut gue ma lo, ada ya manusia purba yang masih bisa nahan diri ngak pake sosmed kayak lo. ngomong-ngomong pemilik cafe kemarin nanyai lo tuh"
"dia katanya ngikutin saran lo tuk buang tuh patung tapi ada yang aneh setelahnya" kata Ilmi.
"dia salah kalo cari gue. bilang ma dia, gue ngak bisa bantu. cari orang lain aja"
"mang dia mau minta bantuan apa?"
"jadi icon untuk cafenya" kataku asal sambil masih menikmati makananku.
"lo jadi icon di sana? yang ada lo cuman bantu tuh orang biar semakin cepat gulung tikar" kelakar rahmat yang di sambut tawa mereka bertiga.
"kampret emang yuk masuk kelas, udah bell masuk tuh" kataku beranjak dan meninggalkan kantin dan di susul dengan yang lainnya.