Pada pukul sepuluh, langit Jakarta yang tadinya bersih mulai dirambati awan kelabu dari arah selatan. Tias sudah menyelesaikan delapan perjalanan. Skornya stabil di 4,82, dan ia tahu persis apa artinya angka itu—seperti orang lain hafal tanggal lahir anaknya, Tias hafal aritmetika ratingnya.
Rating di Lajur dihitung dari seratus perjalanan terakhir. Itu artinya satu bintang buruk tidak hilang besok pagi. Ia menggantung di pundaknya selama seratus order ke depan, menyeret rata-ratanya turun sedikit demi sedikit. Untuk menutupi satu bintang satu, ia butuh sekitar dua puluh bintang lima berturut-turut hanya untuk kembali ke posisi semula. Satu bintang satu bisa menjatuhkan akses order gemuknya berhari-hari. Bintang lima itu murah diberi orang, tapi mahal sekali harganya bagi yang menerima.
Ia pernah mencoba menjelaskan ini ke Mak Surti, suatu malam. Ibunya cuma mengerutkan kening. "Jadi kalau ada satu orang jahat, kamu yang rugi sampai sebulan?" Tias hanya tersenyum. Begitulah. Bosnya percaya pada pelanggan lebih daripada pada dirinya. Pelanggan adalah hakim; Tias adalah terdakwa yang tak punya pembela.
Order kesembilan masuk pukul setengah sebelas, tepat ketika gerimis pertama turun. Penumpang: seorang remaja, mungkin anak SMA yang bolos atau pulang cepat, menunggu di depan sebuah ruko fotokopi. Tujuannya komplek perumahan di Kalibata, 4,3 kilometer.
"Hujan, Mbak," kata anak itu, nadanya menuduh, seolah hujan adalah sesuatu yang bisa Tias atur.
"Iya, Dik. Saya bawa jas hujan, tapi cuma satu set. Kamu pakai aja, biar nggak basah." Tias menyodorkan ponco plastiknya, yang artinya ia sendiri akan basah. Anak itu memakainya tanpa terima kasih.
Gerimis berubah jadi hujan beneran sebelum mereka sampai setengah jalan. Jalanan licin, dan Tias melaju pelan—bukan karena takut, tapi karena penumpang di belakangnya manusia, bukan paket. Ia tahu kalau ngebut di aspal basah, satu rem mendadak bisa berarti dua nyawa di got. Tapi melaju pelan berarti estimasi waktu di aplikasi terlewati. Garis biru bergerak lebih lambat dari yang diperkirakan layar, dan ia bisa membayangkan ketidaksabaran tumbuh di punggung anak itu.
Mereka tiba. Anak itu turun, melepas ponco basah, melemparnya kembali asal-asalan ke arah Tias. "Lama banget, Mbak. Basah nih sepatu gue."
Tias ingin berkata sepatumu kering karena ponco yang sekarang basah ini menutupimu, dan yang basah betulan adalah punggungku. Tapi ia menelan kalimat itu. Berdebat dengan penumpang adalah cara tercepat menuju bintang satu. "Maaf, Dik. Hati-hati ya."
Ia menepi di bawah kanopi sebuah warung, melepas helm yang berembun. Lalu ponselnya bergetar. Rating perjalanan: 2 bintang. Komentar: "lama, basah".
Dua bintang. Karena hujan. Karena ia memilih melaju pelan di jalan licin demi keselamatan penumpang yang sekarang menghukumnya untuk pilihan itu.
Tias menatap layar lama-lama. Skornya bergerak: 4,82 menjadi 4,79. Tiga angka di belakang koma, tapi tiga angka itu bisa berarti perbedaan antara dapat order ke arah pusat kota yang ramai, atau dilempar ke pinggiran sepi tempat order datang sekali sejam.
Ia membuka menu bantuan. Ada tombol "Laporkan Penilaian Tidak Adil". Ia menekannya, mengetik dengan jempol basah: penumpang memberi rating buruk karena hujan, bukan kesalahan saya, saya melaju pelan demi keselamatan di jalan licin. Ia menekan kirim.
Balasannya datang dalam hitungan detik, terlalu cepat untuk pernah dibaca manusia: "Terima kasih atas laporan Anda. Rating penumpang mencerminkan pengalaman mereka dan umumnya bersifat final. Tingkatkan terus layanan Anda untuk skor yang lebih baik. Salam, Tim Lajur."
Salam, Tim Lajur. Seolah ada tim. Seolah ada orang. Tias tahu tak ada siapa-siapa di ujung sana—hanya kalimat yang sudah ditulis jauh-jauh hari oleh seseorang yang tak pernah ia temui, lalu disimpan untuk dimuntahkan oleh mesin ke ratusan ribu driver yang basah kuyup di seluruh kota.
Ia pernah, di bulan pertamanya, mengetik balasan ke pesan otomatis itu, panjang lebar, marah. Lalu ia sadar ia sedang membentak dinding. Mesin tak membaca. Mesin tak peduli. Mengeluh ke aplikasi sama saja dengan berteriak ke spion: bayanganmu sendiri yang menatap balik.
Hujan masih turun. Tias menyeka air dari layar dengan ibu jari, lalu mematikan sesi narik sejenak. Ia butuh menjernihkan kepala sebelum melanjutkan, karena kalau ia menarik dalam keadaan kesal, ia bisa salah jalan, salah bicara, dan mengundang bintang buruk berikutnya. Kekesalan, di pekerjaan ini, adalah kemewahan yang tak ia mampu bayar.
Ia duduk di bangku warung, memesan teh hangat seharga tiga ribu, dan membiarkan punggungnya yang basah perlahan menghangat. Di seberang, anak SMA tadi sudah lenyap ke dalam komplek, tak akan pernah tahu bahwa dua bintang yang ia ketik sambil lalu telah memindahkan sedikit nasib seorang ibu yang tak pernah benar-benar ia lihat wajahnya.