Tawa Anggi memenuhi seisi ruangan ini, aku baru sadar jika ruangan ini seperti gedung pabrik yang terbengkalai. Tadinya aku tidak terlalu sadar karena berusaha untuk terlihat biasa saja di depan para preman ini, tetapi sekarang aku baru yakin jika keadaanku sedang tidak baik - baik saja.
"Lo kayaknya bahagia banget ya, Luna," ucap Anggi datang mendekat ke arahku.
"Bukannya lo---"
"Iya, lo benar. Harusnya gue masih ada di penjara bukan?" ucap Anggi memotong ucapanku.
Senyumannya yang lebar tidak memberiku kesan yang nyaman, tapi lebih menunjukan sebuah wujud dari rasa marah Anggi.
"Gue bisa bebas karena gue bersikap baik, lagi pula gue ini belum cukup umur untuk menerima hukuman berat. Lo pasti senang 'kan gue keluar?" lanjut Anggi mendekatiku lalu memainkan rambutku.
Pria - pria tadi