"Bangun!"
"Cepat bangun!"
"Sialan, kalian apakan dia?" tanya Anggi pada anak buahnya.
"Tidak ada Bos, dia hanya pingsan tadi dan belum sadar hingga sekarang."
Anggi berjalan mendekatiku, mencipratkan air ke wajahku membuat aku sedikit tersadar. Aku merasakan kepalaku sangat sakit, membuatku meringis karenanya.
"Ambil air, berikan kepada dia. Cepat!" teriak Anggi membuat anak buahnya dengan sigap mendekati dan mencariku.
Anak buahnya menyodorkan air minum kepadaku, rasanya sakit saat air itu menyentuh sudut bibirku. Perih rasanya membuatku semakin meringis, apalagi pipiku sekarang terasa kaku.
"Tolong, lepaskan ikatan di tanganku sebentar saja. Rasanya sakit sekali," ucapku memohon pada Anggi yang terus menatapku, memperhatikan pekerjaan anak buahnya.
"Baiklah," ucap Anggi lambat, s