Hujan sudah berubah menjadi gerimis tipis ketika angkot yang dinaiki Viola berhenti di ujung gang rumahnya. Langit malam mulai turun perlahan, sementara suara azan magrib yang tadi berkumandang kini hanya menyisakan gema samar di udara yang dingin selepas hujan. Genangan air di jalanan memantulkan cahaya lampu rumah warga yang mulai menyala satu per satu, menciptakan kilau kecil yang mampu menghangatkan hati.
Sepanjang perjalanan pulang, Viola masih memikirkan telepon singkat dari ayahnya tadi.
“Eh, siapa, Pak?!”
Dan jawaban yang ia terima setelah itu sukses membuat langkahnya terasa lebih berat sepanjang perjalanan pulang. Tanpa konfirmasi, ternyata Fredrick datang, bahkan sudah menunggu di rumah sejak setengah jam lalu. Viola mengembuskan napas panjang sebelum membuka pagar rumahnya perlahan. Jemarinya terasa dingin, entah karena sisa hujan atau karena gugup yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Lampu ruang tamu tampak menyala terang dari balik jendela. Bayangan beberapa orang terlihat bergerak samar di dalam sana.
Entah kenapa, setiap langkah yang ia ambil seakan membuat dadanya terasa makin sesak. Entah, ia hanya merasa belum siap menghadapi tunangannya malam ini. Apalagi setelah melewati momen hujan sore yang aneh itu. Viola melangkah masuk sambil melepas sandal pelan. Tak lupa, kalimat salam ia ucapkan dengan lembut. Aroma masakan hangat langsung menyambutnya dari arah dapur, bercampur dengan wangi kayu basah yang terbawa angin dari halaman depan. Suara tawa kecil ayah dan ibunya terdengar samar dari ruang tamu, berbaur dengan suara Fredrick yang memiliki ciri khas logat tersendiri.
Di hadapan kedua orang tuanya, Fredrick duduk dengan rapi di sofa ruang keluarga. Lelaki itu mengenakan kemeja hitam sederhana dengan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya sedikit lembap, mungkin terkena gerimis saat turun dari mobil tadi atau memang disengaja begitu dengan memakai hair tonic. Begitu melihat Viola masuk, ia langsung berdiri dari duduknya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Viola lagi saat pandang tak sengaja bertemu.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Fredrick dengan senyum hangat.
Bu Intan, ibunda Viola tampak tersenyum lega melihat putrinya akhirnya pulang.
“Aduuuh yang ditunggu dari tadi akhirnya pulang,” godanya pelan.
Viola tersenyum kecil walaupun hatinya tidak benar-benar tenang.
“Kamu kehujanan?” tanya Fredrick lembut.
“Sedikit.”
“Harusnya tadi aku jemput.”
“Nggak apa-apa kok. Tadi hujannya juga tiba-tiba.”
Fredrick mengangguk pelan. Tidak memaksa pembicaraan lebih jauh seperti biasanya. Justru sikap itulah yang sering membuat Viola semakin merasa bersalah. Lelaki itu selalu tahu batas. Selalu bersikap hati-hati padanya, seolah takut membuatnya tidak nyaman.
Pak Kuncoro yang sedari tadi menatap Viola pun akhirnya ikut bersuara.
“Tuh kan. Bapak tadi bilang apa? Untung masih ada angkot yang lewat. Kalau tidak, kamu pasti sudah basah kuyup, Nduk.”
“Iya, Pak…” sahut Viola pelan.
“Sudah sana duduk dulu. Dari tadi Fredrick nungguin kamu pulang.”
Viola menurut. Ia duduk di sofa tunggal yang letaknya tak terlalu jauh dari Fredrick. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, sementara pikirannya entah kenapa kembali melayang pada halte tua itu. Tentang hujan, tentang suara lembut lelaki asing yang mempersilahkannya berteduh, dan tentang tatapan mata teduh yang bahkan kini masih ia ingat dengan jelas. Viola buru-buru mengusir pikirannya sendiri. Ia merasa jahat. Di hadapannya saat ini adalah lelaki yang kelak akan menjadi suaminya. Lelaki baik yang datang dengan niat tulus dan restu penuh dari kedua orang tuanya. Namun mengapa justru percakapan singkat bersama orang asing di halte sore tadi terasa lebih hidup di benaknya? Bukankah ia telah mempermainkan hati Fredrick?
“Viola?”, Suara Fredrick membuat Viola tersentak kecil.
“E-eh, Iya? Maaf aku malah melamun”
“Kamu capek?”
“Sedikit…” jawabnya pelan.
Fredrick tersenyum maklum. “Kalau begitu istirahat saja dulu. Aku juga sebentar lagi pulang.”
“Eh, bukan begitu maksudku…” Viola buru-buru menggeleng kecil. “Aku cuma .. Cuma..mau sholat magrib dulu!”
Fredrick tertawa kecil mendengar kepanikan Viola yang muncul tiap kali gadis itu salah mengucapkan sesuatu. Apalagi kini Viola langsung bergegas berjalan menuju lantai atas tempat kamarnya berada.
“Jamaah, yuk,” ucapnya lembut. “Aku juga belum sholat.”
Viola terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya berhenti melangkah, lalu kemudian mengangguk pelan.
Dan malam pun turun perlahan, sementara lantunan ayat suci mengalun lembut dari mushola kecil di rumah itu, menutup senja dengan ketenangan yang entah mengapa justru membuat hati Viola semakin ramai.
***
Di sudut lain Kota Surabaya, Bagas baru tiba di sebuah rumah kecil bercat hijau pucat. Gerimis tipis masih turun membasahi halaman rumahnya. Beberapa titik air menetes dari ujung rambut Bagas yang sedikit berantakan terkena angin sore. Kemeja biru mudanya tampak kusut di bagian lengan, sementara tas laptop hitam yang sejak tadi ia bawa kini menggantung lemas di bahunya. Lampu teras rumah sudah menyala dan seperti biasanya ibunya sudah menunggu di ambang pintu sambil membawa handuk kecil di tangannya.
“Kamu kehujanan lagi, Gas,” keluh perempuan paruh baya itu begitu Bagas mendekat sambil menyerahkan sehelai handuk kecil kepada sang anak.
Bagas hanya tertawa kecil sambil melepas sepatunya di teras, kemudian menerima handuk pemberian ibunya.
“Tadi hujannya tiba-tiba banget, Bu.”
“Mangkanya kalau ke sekolah, jangan lupa bawa payung. Lagian, Le, pulangmu itu jangan terlalu malam terus.”
“Iya, Bu…”
Ibunya menggeleng kecil melihat jawaban anak laki-lakinya yang selalu terdengar sama setiap hari. Bagas berjalan memasuki rumah dan berakhir duduk di kursi kayu dekat ruang tengah. Rumah itu sederhana. Tidak besar, tidak pula mewah. Cat dindingnya masih terawat walau warnanya sudah tidak lagi terlihat baru. Jam dinding gaya lama yang bertengger di dinding memberi sentuhan tersendiri yang sarat akan kesederhanaan. Namun entah kenapa, rumah itu selalu terasa hangat. Mungkin karena aroma masakan ibunya yang tak pernah absen menyambut kepulangannya atau mungkin karena rumah itu selalu menerimanya tanpa banyak tuntutan.
Ibunya yang tadi langsung menuju dapur kini datang membawa segelas teh hangat dan diletakkan di hadapan Bagas, lalu kemudian ikut duduk di sisi yang bersebrangan dengannya.
“Nih diminum dulu, Le. Dari tadi ibu lihat bibirmu pucat.”
Bagas menerima gelas itu sambil tersenyum kecil.
“Makasih, Bu. Nggak papa, Bagas Cuma kedinginan, Bu. Nih lihat rambut Bagas saja masih lembab rasanya.”
“Besok jangan lupa periksa lagi. Sudah waktunya check up ke rumah sakit, kan?”
“Iya, bu”
Jawaban itu terdengar pelan, terlalu pelan sampai ibunya tahu anaknya tidak benar-benar ingin membahas kesehatannya malam ini. Benar saja, karena tak lama kemudian Bagas malah melamun sambil memandangi hujan di balik jendela dengan segelas teh hangat yang ia genggam erat. Pikirannya kembali pada halte tua sore tadi. Pada perempuan berhijab dengan suara lembut yang terdengar begitu tenang di tengah hujan deras.
Bagas mengembuskan napas kecil lalu tersenyum samar pada dirinya sendiri. Lucu sekali rasanya. Ia bahkan tidak tahu nama perempuan itu. Tidak pula tahu dari mana asalnya, bahkan untuk bertemu lagi atau tidak pun ia tak tahu. Tapi entah mengapa, pertemuan tadi terasa meninggalkan sesuatu yang hangat di dalam dadanya. Sesuatu yang membuat perjalanan pulangnya tidak lagi terasa terlalu sepi. Namun lamunannya harus buyar saat ia merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya disertai hantaman gelombang pusing yang menyerang tanpa aba-aba.
“Ya Allah, Le! Kamu mimisan lagi!”