Gerimis di luar rumah masih turun pelan ketika ibunda Bagas buru-buru mengambil beberapa lembar tisu dari atas meja.
“Ya Allah, Le… kamu mimisan lagi…”
Nada paniknya terdengar jelas meski wanita paruh baya itu berusaha tetap tenang. Bagas yang sedari tadi terduduk di kursi kayu dekat jendela itu hanya menunduk sambil menekan pangkal hidungnya perlahan. Beberapa tetes darah sempat jatuh membasahi punggung tangannya sebelum akhirnya berhasil dibersihkan cepat-cepat.
“Nggak apa-apa, Bu…” gumam Bagas pelan,“ Bagas cuma kecapekan sedikit, Bu. Ibu jangan panik begitu…”rayu Bagas pada sang ibu tiap kali melihat gurat panik di paras ayu ibunya.
“Kamu bilang begitu terus tiap ibu tanya.”
Ibunya duduk di samping Bagas dengan wajah penuh khawatir. Kerutan di dahinya semakin terlihat jelas saat memperhatikan wajah anak laki-lakinya yang tampak pucat diterpa cahaya lampu.
Bagas tersenyum kecil berusaha menenangkan,“Besok juga sudah baikan. Bagas hanya butuh mandi, makan sup telur puyuh buatan ibu, minum vitamin, lalu istirahat bareng ibunda tersayang. Mau ‘kan bu nemenin Bagas yang udah segede ini lagi?”Bagas masih merayu ibunya setelah selesai membersihkan sisa-sisa darah. Kini, ia genggam kedua tangan hangat ibunya erat-erat.
“Bagas…” Ibunya menghela napas panjang. “Ibu ini, sangat sayang sama Bagas. Cuma Bagas lho yang ibu punya.”kedua netra kecoklatannya kini mulai berkaca-kaca.
Kalimat itu membuat Bagas terdiam sesaat.
Hujan di luar terdengar makin lirih, hanya menyisakan suara tetes air yang jatuh dari ujung atap rumah. Aroma teh hangat masih mengepul samar di atas meja, namun kini tak lagi terasa menghangatkan suasana. Perempuan paruh baya itu lantas mengambil tissue dan mengusap sisa darah di jemari Bagas dengan hati-hati.
“Kamu belum periksa lagi, kan?”
Bagas mengalihkan pandangan kecil.
“Nanti saja, Bu.”
“Nanti terus.” Suara ibunya melembut, namun justru terdengar lebih menyakitkan. Tangannya masih digenggam erat oleh Bagas. Bahkan kini, kedua ibu jari anaknya itu bergerak naik turun perlahan, membelai tangan ibunya dengan penuh kasih, “Kalau besok kamu bolos check up lagi, Ibu pastikan tidak ada stok telur puyuh bulan ini!”
Bagas terkekeh kecil, rupanya hati sang ibu kembali luluh.
“Bagas sehat kok, Bu.”
“Iya iya ibu percaya. Anak ibu anak paaaling bisa nahan sakit.”
Kemudian sang ibu bangkit. Mulai berjlana ke dapur untuk memenuhi permintaan Bagas akan sup telur puyuh. Hening pun mulai menyapa. Bagas menunduk sambil memainkan gelas tehnya perlahan. Cairan hangat itu sudah tak lagi mengepulkan uap sebanyak tadi. Bagas sadar anemianya sedikit agresif belakangan ini. Namun Bagas terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Baginya, selama ia masih bisa berdiri, mengajar, dan pulang ke rumah dengan disambut senyum indah sang ibu, maka semuanya masih baik-baik saja. Atau setidaknya, ia berusaha percaya seperti itu.
“Besok ibu temani ke rumah sakit,” ucap ibunya lagi sambil memasukkan bahan bahan sup ke dalam air yang mulai mendidih. Aroma gurihnya bahkan mulai menggelitik lambung Bagas.
Bagas langsung mengangguk singkat, dengan senyum manis yang ia tunjukkan hanya untuk sang ibu. Perlahan suasana kembali tenang. Mengembalikan kehangatan yang tadi sempat ingin berpamitan. Dan di tengah suasana yang perlahan kembali tenang itu, entah kenapa wajah perempuan berhijab krem di halte sore tadi kembali muncul di kepala Bagas. Tentang caranya menggenggam payung, tentang suaranya yang lembut, dan tentang tatapan matanya yang teduh di bawah hujan.
Bagas mengembuskan napas kecil lalu tersenyum samar pada dirinya sendiri. Lucu sekali. Di tengah kondisi seperti ini, pikirannya justru sibuk mengingat seseorang yang bahkan namanya pun belum ia ketahui.
***
Pagi di Kota Surabaya datang bersama langit berawa, sisa-sisa hujan yang lebih sering datang belakangan ini. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Walau tetes-tetes air masih menggantung di ujung dedaunan kecil, hangatnya sinar matahari mampu menyusup hingga masuk tanpa permisi ke dalam toko bunga milik Viola. Di sana aroma bunga mawar, lily, dan tanah basah bercampur menjadi wangi lembut yang memenuhi udara.
Viola berdiri di balik meja kayu kecil sambil merangkai beberapa tangkai bunga baby breath ke dalam buket pesanan pelanggan. Jemarinya bergerak pelan dan telaten, sesekali merapikan pita satin berwarna krem yang melingkar di bagian bawah bunga.
Toko bunga kecil itu memang tidak terlalu besar, namun cukup nyaman dipandang. Rak-rak kayu di sudut ruangan dipenuhi pot bunga mungil, sementara dinding putihnya dihiasi beberapa lukisan sederhana buatan Viola sendiri. Di dekat jendela tergantung lonceng kecil yang akan berbunyi tiap kali pintu toko dibuka.
Viola sibuk terhanyut dalam pikirannya sendiri dengan tangan yang masih dengan telaten merangkai tangkai demi tangkai bunga. Sesekali ia tersenyum, lalu bersenandung pelan. Ia masih berunding dengan takdir; apakah Tuhan akan mempertemukan ia kembali dengan lelaki tanpa identitas di halte tua sore itu?
“Mbak Viola, pita yang warna putih habis.”
Suara Siska, pegawai toko bunga kecilnya, membuat Viola tersadar dari lamunannya.
“Hm? Oh… iya. Nanti aku ambil di gudang belakang.”
Siska memperhatikan Viola beberapa detik sebelum tersenyum jahil kecil.
“Mbak lagi mikirin siapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri?”
Viola langsung menoleh cepat.
“Nggak ada!”
“Yakin?”
“Siska… Mulai deh..”
“Iya iya, nggak jadi nanya,” sahut gadis itu sambil terkekeh pelan.
Viola hanya menghela napas sambil berjalan menuju rak belakang toko. Namun bahkan saat ia sedang mengambil stok pita sekalipun, pikirannya masih belum benar-benar tenang. Ia merasa aneh. Padahal biasanya Viola bukan tipe orang yang mudah memikirkan seseorang terlalu lama.
Bel lonceng kecil di atas pintu tiba-tiba berbunyi nyaring. Siska yang berdiri paling dekat pintu langsung menyambut ramah, “Selamat datang di toko bunga kami”
Viola masih sibuk merapikan beberapa gulungan pita di tangannya sampai suara langkah beberapa orang memasuki toko mulai terdengar memenuhi ruangan.
“Permisi, Mbak. Kami mau pesan beberapa karangan bunga.”
Deg.
Suara itu. Jemari Viola langsung berhenti bergerak, kemudian dengan perlahan ia menoleh.Dan benar saja. Lelaki dari halte itu berdiri tidak jauh dari meja kasir bersama tiga orang lain yang sepertinya seusia dengannya. Salah satu perempuan di antara rombongan itu tampak sibuk melihat-lihat buket bunga di rak depan, sementara dua lelaki lainnya bercanda kecil sambil menunjuk tanaman kaktus mini.
Sedangkan lelaki itu, menatap Viola dengan keterkejutan yang nyaris sama. Untuk beberapa detik, keduanya hanya diam, sampai akhirnya lelaki itu tersenyum kecil.
“Ketemu lagi.”, gumam Bagas nyaris seperti bisikan.