“Ketemu lagi.”
Suara itu terdengar dari arah pintu.
Pelan, namun cukup untuk membuat tangan Viola yang sedang memegang gulungan pita berhenti di udara.
Ia menoleh dan untuk beberapa detik hanya diam.
Lelaki yang berdiri di ambang pintu toko itu masih sama seperti yang ia ingat beberapa hari lalu. Wajah yang sempat ia lihat di bawah teduh halte, ketika hujan turun begitu deras dan dunia seolah memaksa dua orang asing untuk berbagi tempat berteduh.
Bagas.
Viola bahkan belum tahu mengapa nama itu langsung muncul di kepalanya. Padahal waktu itu mereka hanya berbicara sebentar. Sangat sebentar. Namun sekarang lelaki itu berdiri di hadapannya lagi, di tokonya, pada sore yang jauh lebih cerah daripada pertemuan pertama mereka.
Viola berkedip sekali, kemudian tersenyum kecil.
“Iya…”
Hanya satu kata. Entah mengapa hanya itu yang berhasil keluar.
Bagas ikut tersenyum. “Kirain saya salah toko.”
Viola mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Soalnya saya nggak nyangka bakal ketemu orang yang sama.”
Viola tertawa kecil. “Memangnya toko ini kelihatan seperti toko yang salah?”
“Bukan begitu.”
“Terus?”
Bagas melihat ke sekeliling. “Bagus.”
Viola mengikuti arah pandangnya. Rak-rak kayu memenuhi sebagian dinding toko. Berbagai jenis bunga tersusun rapi di dalam vas, sebagian masih berupa kuncup, sebagian lainnya sudah mekar sempurna. Aroma bunga bercampur dengan wangi daun segar memenuhi ruangan.
“Baru tahu kalau kamu kerja di sini.”
Viola mengangkat alis. “Bukan kerja.”
“Oh?”
“Ini toko saya.”
Bagas tampak terkejut. “Serius?”
Viola mengangguk. “Serius.”
“Wah…”, Bagas kembali memperhatikan sekeliling toko. “Pantes.”
Viola menatapnya curiga. “Pantes apa?”
“Pantes waktu itu kamu tahu soal bunga.”
“Waktu itu?”
“Iya. Di halte.”
Viola tersenyum tipis. “Kamu masih ingat?”
Bagas kemudian menimpali dengan senyuman tipis,“Itu bukan sesuatu yang sulit diingat.”
“Terus…”
Bagas melirik ke arahnya. “Percakapan kita.”
Senyum Viola perlahan menghilang. Bukan karena tidak nyaman, hanya saja ia tidak menyangka lelaki itu masih mengingatnya.
“Oh.”
Bagas segera mengalihkan pembicaraan. “Ngomong-ngomong, saya mau pesan bunga.”
“Untuk?”
“Acara di sekolah.”
Viola langsung mengambil buku catatan kecil yang terletak di atas meja. “Acara apa?”
“Rapat guru.”
“Besok?”
“Iya.”
“Berarti harus jadi besok?”
“Kalau bisa.”
Viola tersenyum. “Bisa.”
Ia membuka halaman kosong. “Berapa?”
“Lima.”
“Lima rangkaian?”
“Iya.”
“Untuk siapa saja?”
“Dua untuk kepala sekolah dan pengawas. Tiga lagi buat guru.”
Viola mengangguk sambil menulis. “Untuk kepala sekolah dan pengawas mau yang formal?”
“Iya.”
“Warnanya?”
Bagas terdiam. “Bebas.”
Tangan Viola berhenti menulis. Ia mendongak. “Jangan bilang bebas ke pemilik toko bunga.”
Bagas tertawa. “Kenapa?”
“Karena saya bisa kasih kaktus.”
“Kaktus juga bunga?”
Viola menatapnya beberapa detik. “Bukan.”
“Terus?”
“Tanaman.”
“Berarti saya salah?”
“Lumayan.”
Bagas tertawa lagi. “Ya sudah. Saya serahkan kepada ahlinya.”
Viola kembali menulis. “Kalau begitu, untuk yang formal saya sarankan lily putih dengan baby breath. Bisa ditambah sedikit eucalyptus supaya tampilannya tetap sederhana.”
Bagas mengangguk. “Kedengarannya bagus.”
“Untuk tiga guru?”
“Yang itu lebih santai.”
“Buket?”
“Iya.”
“Warna?”
Bagas kembali mengangkat bahu. “Bebas.”
Viola langsung menunjuknya dengan ujung pulpen. “Lagi.”
Bagas terkekeh. “Memangnya harus pilih warna?”
“Harus.”
“Kenapa?”
“Karena setiap warna punya kesan.”
“Kalau begitu…”
Bagas melihat beberapa bunga yang terpajang. “Yang menurut kamu paling cocok.”
Viola terdiam sebentar. “Buat guru?”
“Iya.”
“Bunga matahari.”
“Kenapa?”
“Karena cerah.”
Bagas memperhatikan Viola. “Guru juga begitu?”
“Harusnya.”
“Kalau gurunya galak?”
Viola menahan tawa. “Berarti bunga mataharinya jangan dikasih ke beliau.”
Bagas tertawa.
Dari arah belakang toko, Siska yang sedari tadi menyusun beberapa pot bunga ikut tersenyum. “Mas, kalau Mbak Viola sudah mulai ngomong soal bunga, bisa panjang.”
Viola langsung menoleh. “Siska.”
Siska pura-pura sibuk. “Saya cuma kasih tahu.”
Bagas tersenyum. “Tidak apa-apa. Saya justru jadi tahu.”
Viola menghela napas. “Sudah, jangan dengarkan dia.”
“Kenapa?”
“Dia suka banyak cerita.”
Siska menyahut dari kejauhan, “Fakta.”
Viola menggeleng, kemudian kembali kepada Bagas. “Jadi, bunga matahari?”
“Iya.”
“Baik.”
Ia mencatat pesanan itu. Setelah beberapa saat, Viola menutup buku.
“Besok sore bisa diambil.”
“Jam berapa?”
“Setelah jam empat.”
“Kalau sebelum itu?”
“Belum tentu selesai.”
“Baik.”
Bagas mengangguk, kemudian mengeluarkan dompet dari saku celananya.
“Bayar sekarang?”
Viola menggeleng. “Nanti saja.”
“Tidak perlu uang muka?”
“Untuk pesanan ini tidak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Bagas memasukkan kembali dompetnya. “Baiklah.”
Ia kemudian berbalik. Dua orang yang datang bersamanya sudah lebih dahulu berjalan keluar. Namun baru beberapa langkah, Bagas berhenti seperti mengingat sesuatu. Ia menoleh kembali.
“Viola.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Viola mengangguk. “Sama-sama.”
Bagas masih berdiri di sana, kemudian tersenyum. “Semoga hari ini lebih baik daripada waktu kita ketemu pertama kali.”
Viola terdiam. Ia tahu maksud Bagas sederhana, tentang hujan, halte, dan pertemuan pertama mereka yang berlangsung di tengah cuaca buruk. Namun entah mengapa, kalimat itu terasa lebih dalam daripada sekadar ucapan biasa.
Viola akhirnya tersenyum. “Semoga.”
Bagas mengangguk. “Besok ketemu lagi.”
Kalimat itu membuat Viola sedikit terkejut. Namun sebelum sempat menjawab, Bagas sudah berjalan keluar.
Lonceng kecil di atas pintu berbunyi.
Ting.
Pintu tertutup dan toko kembali sunyi.
Viola masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti Bagas dari balik kaca. Lelaki itu berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari toko. Ia sempat mengatakan sesuatu kepada dua orang temannya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Viola baru menyadari dirinya masih memperhatikan ketika Siska berdiri di sampingnya.
“Mbak.”
Viola menoleh. “Apa?”
Siska menahan senyum. “Tidak ada.”
“Terus?”
“Cuma mau lihat.”
“Lihat apa?”
“Wajah Mbak.”
Viola mengernyit. “Kenapa wajahku?”
“Beda.”
“Beda bagaimana?”
Siska tersenyum semakin lebar. “Lebih cerah.”
Viola langsung kembali ke meja. “Sudah. Kerja.”
“Saya kerja kok.”
“Bagus.”
Siska masih berdiri di sana. “Mbak…”
“Apa lagi?”
“Mas Bagas siapa?”
Viola terdiam sebentar. “Guru.”
“Guru apa?”
“Guru MI.”
“Kenal dari mana?”
“Halte.”
“Halte?”
“Iya.”
“Terus kok bisa pesan bunga di sini?”
Viola mengangkat bahu. “Mungkin memang butuh bunga.”
Siska mengangguk-angguk. “Hmm…”
Viola menatapnya. “Jangan ‘hmm’ begitu.”
“Saya belum bilang apa-apa.”
“Tapi pikiranmu sudah ke mana-mana.”
Siska tertawa. “Memangnya boleh?”
“Tidak.”
“Baik.”
Siska kembali ke pekerjaannya. Viola pun melakukan hal yang sama. Namun beberapa detik kemudian, Siska kembali bersuara.
“Mbak.”
“Apa?”
“Namanya siapa tadi?”
Viola menjawab tanpa menoleh. “Bagas.”
“Bagas…”
Siska mengulang nama itu pelan, kemudian tersenyum sendiri.
Viola tidak tahu kenapa dan memilih tidak bertanya.
Sore semakin larut. Cahaya matahari masuk melalui kaca depan toko, membentuk garis-garis keemasan di lantai.
Viola duduk di meja kerjanya. Di hadapannya terdapat beberapa tangkai bunga yang baru saja datang. Tangannya mulai bekerja: satu tangkai lily putih, kemudian baby breath, dan beberapa helai eucalyptus.
Ia menyusun semuanya perlahan, namun pikirannya justru kembali pada percakapan tadi.
Ketemu lagi.
Viola tersenyum kecil, kemudian menggeleng. “Aneh.”
Ia tidak tahu apa yang aneh. Pertemuan itu? Atau kenyataan bahwa ia masih mengingat lelaki tersebut?
Viola kembali mengikat bunga. Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Baginya, Bagas hanyalah seseorang yang kebetulan pernah berteduh bersamanya ketika hujan, lalu kebetulan datang ke tokonya untuk memesan bunga.
Sesederhana itu.
Setidaknya untuk sekarang.
Sementara itu, di dalam mobil yang meninggalkan toko bunga, Bagas duduk di kursi belakang. Salah satu temannya sedang memeriksa kembali daftar kebutuhan acara besok.
“Gas.”
“Hm?”
“Pesanannya sudah?”
“Sudah.”
“Berapa?”
“Lima.”
“Lima?”
“Iya.”
Temannya membuka catatan. “Dua rangkaian formal, tiga buket?”
“Iya.”
“Warnanya?”
Bagas terdiam. “Bebas.”
Temannya langsung menatapnya. “Lah?”
Bagas tertawa kecil. “Yang pilih pemilik tokonya.”
“Kenapa?”
“Dia lebih tahu.”
Temannya mengangguk, kemudian beberapa detik kemudian bertanya lagi, “Pemilik tokonya siapa?”
Bagas tidak langsung menjawab. Ia memandang keluar jendela. Gedung-gedung mulai dilewati satu per satu. Langit sore perlahan berubah warna.
Entah mengapa, wajah Viola kembali muncul dalam pikirannya. Cara perempuan itu menjelaskan bunga, cara ia menertawakan dirinya ketika salah menyebut kaktus, dan cara ia mengatakan bahwa tidak semua bunga harus ramai untuk terlihat indah.
Bagas tersenyum tipis. “Namanya Viola.”
Temannya langsung menoleh. “Kenal?”
“Pernah ketemu.”
“Di mana?”
“Halte.”
“Lho?”
Bagas mengangguk. “Waktu hujan.”
Temannya terkekeh. “Terus sekarang ketemu lagi?”
“Iya.”
“Wah.”
Bagas menatapnya. “Kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
Temannya tersenyum penuh arti. “Cuma lucu.”
“Apa yang lucu?”
“Dari sekian banyak toko bunga, kenapa kita masuk ke toko dia?”
Bagas diam. Pertanyaan itu sederhana, tetapi justru membuatnya berpikir.
Memang benar. Dari begitu banyak toko bunga di kota ini, kenapa mereka datang ke sana?
Bagas mengembuskan napas pelan. “Kebetulan.”
Temannya mengangguk. “Bisa jadi.”
Bagas kembali melihat ke luar jendela. Namun kali ini ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menyandarkan kepala dan membiarkan pikirannya berjalan sendiri.
Mungkin memang kebetulan.
Pertama, mereka bertemu di halte. Kedua, mereka bertemu lagi di toko bunga. Dan sekarang, besok pun mereka akan bertemu lagi karena pesanan bunga itu.
Bagas tersenyum kecil.
Tiga kali.
Ia tidak tahu harus menyebutnya apa.
Kebetulan?
Atau sesuatu yang lain?
Malam datang perlahan.
Di toko bunga, Viola sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia mematikan sebagian lampu dan merapikan meja.
Sebelum menutup toko, matanya sempat jatuh pada buku catatan pesanan. Di sana tertulis satu nama.
Bagas.
Viola membaca nama itu sebentar, lalu menutup buku.
Tidak ada alasan untuk tersenyum.
Namun ia tetap tersenyum.
“Cuma pelanggan,” gumamnya kepada dirinya sendiri.
Setelah itu ia mematikan lampu, mengunci pintu toko, dan malam menelan jalanan yang mulai sepi.
Tidak ada yang tahu bahwa di tempat berbeda, dua orang yang baru dua kali bertemu sedang memikirkan hal yang sama: tentang sebuah pertemuan, tentang sebuah nama, dan tentang kebetulan yang datang dua kali.
Atau mungkin tiga kali.
Mereka belum tahu. Belum perlu tahu.
Sebab Tuhan tidak pernah terburu-buru ketika menulis cerita kehidupan seseorang. Kadang Dia mempertemukan dua manusia bukan untuk membuat mereka langsung saling memiliki. Kadang hanya untuk membuat mereka saling mengenal, kemudian mempertemukan mereka lagi dan lagi.
Sampai pada suatu hari, mereka sadar bahwa yang selama ini mereka kira sebagai kebetulan ternyata adalah bagian dari jalan panjang yang telah Tuhan susun dengan begitu rapi.
Namun malam itu, Viola dan Bagas belum sampai pada pemahaman tersebut.
Bagi Viola, Bagas hanyalah seorang guru yang datang membeli bunga. Bagi Bagas, Viola hanyalah pemilik toko bunga yang pernah ia temui di halte.
Hanya itu.
Setidaknya untuk sekarang.
Dan mungkin...
memang begitulah cara Tuhan memulai sebuah cerita.
Tidak dengan sesuatu yang besar. Tidak dengan pertemuan yang dramatis. Hanya dengan hujan, sebuah halte, sebuah toko bunga, dan dua orang asing yang tanpa sadar mulai saling mengingat nama.
Viola.
Bagas.
Sementara di balik semua kebetulan itu, Tuhan sedang menulis sesuatu yang bahkan belum mampu mereka baca.