Sinar matahari pagi menyusup tipis di antara celah tirai, jatuh melintang di atas lantai kamar Viola. Suara samar kendaraan Kota Surabaya mulai sahut-menyahut, tetapi pikiran Viola tertahan di tempat lain.
Ia masih duduk bersandar di kepala ranjang. Jemarinya menggenggam ponsel yang meredup. Tak ada pesan masuk, tak ada notifikasi penting. Namun, satu nama sejak kemarin sore menolak pergi dari kepalanya.
Bagas.
Viola menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel itu di atas nakas dengan sedikit sentakan. Seolah jika benda itu menjauh, bayangan laki-laki berkemeja dengan lengan digulung itu akan ikut menguap.
Namun, ketika berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin rias, senyum tipis yang tak diundang justru terbit di bibirnya.
"Cuma pelanggan, Vi. Cuma pelanggan," bisiknya pada cermin.
Tapi kali ini, dadanya mendesir ganjil. Ia tahu, ia sedang membohongi dirinya sendiri.
Toko bunga mulai dipenuhi aroma harum dedaunan basah menjelang siang. Viola menunduk khusyuk di meja kerja, merangkai tangkai demi tangkai. Lily putih, baby’s breath, dan beberapa helai eucalyptus. Tangannya yang cekatan mendadak agak kaku ketika suara Siska mengejutkannya dari samping.
"Yang ini buat pesanan Mas Bagas, Mbak?"
Viola bergeming, tetap merapikan pita pelapis. "Iya."
"Beda banget ya, Mbak," goda Siska sambil bersandar di tepi meja. "Biasanya kalau pelanggan cowok yang pesan, Mbak bikin rangkainnya standar aja. Ini kok... estetik banget? Ada sentuhan hatinya gitu."
Viola menghentikan gerakan jemarinya. Ia menatap asistennya itu dengan mata dipipihkan. "Siska. Jangan mulai."
"Saya cuma mengamati, Mbak," kekeh Siska sambil mengangkat kedua tangan, lalu melangkah mundur untuk menyiram pot di pojokan. "Tapi senyum-senyum sendiri dari tadi itu agak mencurigakan, sih."
Viola menahan napas, menggeleng kecil. Namun tepat saat ia kembali menunduk, ingatan tentang tawa renyah Bagas kemarin sore mendadak melintas—membuat pipinya hangat seketika.
Pukul empat sore, lonceng di atas pintu berbunyi.
Ting.
Irama langkah kaki terdengar mantap mendekat. Viola mendongak, dan pandangannya langsung terkunci pada sosok Bagas yang berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, membawa map hitam, dan senyum renyah yang entah mengapa selalu berhasil mengacaukan ritme napas Viola.
"Assalamu’alaikum, Mbak Viola."
"Wa’alaikumussalam," sahut Viola pelan. Ada jeda beberapa detik di mana mata mereka saling terkunci—jeda canggung yang sarat akan sesuatu yang tak terucapkan.
Viola berdeham halus, mengalihkan pandangan ke deretan buket di meja. "Pesannya sudah selesai semua."
Bagas melangkah mendekat. Aroma minyak wangi lembut bercampur angin sore bertiup masuk bersamanya. Matanya berbinar menatap buket-buket indah di depannya.
"Cepat sekali. Dan... cantik banget," gumam Bagas. Ia membungkuk sedikit, memperhatikan detail buket lily putih. "Ini buat Kepala Sekolah, kan?"
"Iya. Lily putih melambangkan penghormatan," jelas Viola, berusaha menjaga suaranya tetap profesional meski dadanya berdegup kencang. "Dan yang bunga matahari ini... untuk tiga guru terfavorit."
Bagas mengangkat alisnya, menatap Viola dari balik bulu matanya yang tebal. "Berarti pilihan saya kemarin enggak salah, ya?"
"Belum tentu," goda Viola tipis, menahan senyum. "Kalau gurunya ternyata enggak suka warna kuning, nanti saya yang disalahkan."
Bagas tertawa pelan, suara tawa rendah yang terasa hangat di telinga Viola. "Kalau begitu, biar saya yang pasang badan. 'Kan saya yang pilih."
Mata mereka kembali bertemu. Ada percikan tak kasat mata yang membuat udara di dalam toko terasa mendadak sempit. Dari kejauhan, Siska berpura-pura sibuk menata pot sambil menunduk menahan senyum geli.
Saat menyerahkan pembayaran dan menerima buket-buket tersebut, jemari Bagas tak sengaja menyentuh kulit tangan Viola. Hanya gesekan halus sepermilidetik, tapi sanggup mengirimkan sengatan hangat ke seluruh tubuh Viola.
Bagas terdiam sejenak, lalu menatap Viola dalam-dalam. "Terima kasih, ya. Bunganya bagus banget."
"Sama-sama, Mas Bagas."
"Bukan cuma bunganya, sih..." kalimat Bagas menggantung. Laki-laki itu tampak sadar akan keterlanjuran ucapannya, lalu buru-buru berdeham canggung. "Maksud saya... penataannya. Bagus."
Viola menunduk, menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya. "Terima kasih."
Bagas berbalik menuju pintu, namun langkahnya terhenti di ambang luar. Ia menoleh kembali. "Viola?"
"Ya?"
"Besok... ada acara penutupan pekan seni di sekolah. Boleh saya pesan bunga lagi?"
Viola mengangkat alisnya, tersenyum kecil. "Tentu. Pintu toko selalu terbuka untuk pesanan."
Bagas mengangguk pelan dengan tatapan hangat. "Insya Allah. Sampai besok, Viola."
Malamnya, perasaan hangat yang membuncah di d**a Viola mendadak menguap tanpa sisa begitu ia menginjakkan kaki di halaman rumahnya.
Sebuah sedan hitam familiar terparkir di sana.
Mobil Fredrick.
Seketika, rasa bersalah menghantam d**a Viola seperti pukulan keras. Langkah kakinya berat saat membuka pintu depan.
"Assalamu’alaikum..."
"Wa’alaikumussalam."
Fredrick berdiri dari sofa ruang tamu. Kemeja biru tuanya terlipat rapi, wajahnya menunjukkan jejak lelah setelah seharian bekerja, namun matanya memancarkan kerinduan yang tulus saat menatap Viola.
"Kamu baru pulang, Vi?" Fredrick melangkah mendekat, lalu dengan lembut mengambil tas belanjaan dari tangan Viola. "Aku sengaja mampir. Ada kabar penting."
"Kabar apa, Fred?"
"Urusanku di Canada dipercepat. Lusa aku harus berangkat lagi," ujar Fredrick lembut. Laki-laki itu menarik napas panjang, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam.
Ia membukanya di hadapan Viola. Sebuah bros emas berbentuk bunga melati ukir berkilau di bawah lampu temaram.
"Aku lihat ini di toko barang antik di Vancouver," kata Fredrick dengan suara sehalus sutra. "Setiap kali melihat sesuatu berbentuk bunga, aku cuma bisa ingat kamu, Vi. Selalu kamu."
Viola menatap bros cantik itu. Tenggorokannya mendadak tercekat. Fredrick adalah pria yang sempurna—perhatian, mapan, penyabar, dan mencintainya tanpa henti. Namun masalahnya adalah d**a Viola tak pernah berdesir sedikit pun untuk Fredrick.
"Fred... ini terlalu bagus," bisik Viola, suaranya bergetar oleh beban rasa bersalah.
Fredrick tersenyum tipis, lalu menatap mata Viola dalam-dalam. Tatapannya berubah menjadi sangat serius.
"Viola..." Fredrick memegang jemari Viola yang dingin. "Soal rencana pernikahan kita bulan depan... Papa dan Mama sudah mulai menanyakan tanggal pastinya."
Tubuh Viola menegak. Jantungnya berdegup kacau.
"Aku cuma ingin mendengar dari mulutmu sendiri," lanjut Fredrick lembut, tanpa nada mendesak, justru penuh pengertian yang makin menyiksa batin Viola. "Kamu... benar-benar siap melangkah sejauh ini bersamaku, kan?"
Pertanyaan itu menghantam Viola.
Ia menatap mata Fredrick yang begitu jujur dan tulus. Viola ingin mengatakan "Iya". Ia ingin menjadi tunangan yang baik. Tapi di dalam kepalanya, senyum Bagas, tawa renyah Bagas, dan cara Bagas menatapnya sore tadi mendadak berputar hebat seperti badai.
Bibir Viola terkatung. Suaranya tertahan di kerongkongan.
"Aku..." Viola menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap mata tunangannya. "Aku... butuh waktu, Fred. Aku rasa... aku belum siap."
Hening merayap di antara mereka.
Fredrick tidak marah. Ia tidak membentak. Ia hanya menghela napas perlahan, mengelus punggung tangan Viola dengan lembut—dan kebaikan Fredrick itu justru terasa seperti sembilu yang menyayat hati Viola.
"Nggak apa-apa, Vi," bisik Fredrick pelan. "Aku enggak akan memaksa. Kita bicarakan lagi setelah aku pulang dari Canada, ya?"
Pukul sebelas malam.
Viola duduk termenung di meja rias kamarnya. Bros bunga emas dari Fredrick tergeletak di atas meja, berkilau dingin.
Bzz... Bzz...
Ponsel di sampingnya bergetar. Sebuah notifikasi w******p muncul.
[Bagas]: Terima kasih untuk bunganya hari ini, Viola. Semuanya suka. Sampai ketemu besok di toko, ya.
Viola memandangi layar itu. Jemarinya bergetar di atas papan ketik. Hatinya membuncah senang membaca pesan singkat itu, tetapi begitu matanya melirik ke arah bros emas milik Fredrick, rasa sukacita itu hancur berkeping-keping digantikan oleh rasa berdosa.
Viola mematikan layar ponselnya tanpa membalas. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.
Di satu sisi ada Fredrick—pria sempurna yang memegang komitmen dan menyematkan cincin di jarinya. Di sisi lain ada Bagas—pria baru yang tanpa permisi telah mencuri potongan hatinya.
"Ya Allah..." bisik Viola lirih pada keheningan malam. "Kenapa Engkau hadirkan dia... justru di saat hatiku sudah berjanji pada yang lain?"
Air mata hangat akhirnya menetes pelan di pipinya. Malam itu, Viola sadar, perasaannya pada Bagas bukan sekadar kepengaguman sesaat—melainkan awal dari sebuah ujian cinta yang salah jalan.