Perjalanan ke Gunung Lawu memakan waktu sembilan hari.
Bagas berjalan kaki, tidur di bawah pohon, makan ubi liar dan ikan sungai yang ia tangkap dengan tangan kosong. Sepanjang jalan ia berlatih—bukan jurus, sebab ia tak menamatkannya, melainkan gerakan-gerakan dasar yang gurunya ajarkan. Memutar tongkat. Menahan. Menyerang. Lagi dan lagi, sampai otot bahunya menjerit, sampai tongkat besi yang asing itu mulai terasa seperti perpanjangan lengannya.
Pada hari kedelapan, ia memasuki sebuah lembah sempit yang terhimpit dua tebing batu. Jalan setapaknya hanya cukup untuk satu kereta. Tempat sempurna untuk penyergapan—dan Bagas menyadarinya terlambat.
Lima orang keluar dari balik bebatuan. Pakaian compang-camping, golok karatan, tetapi mata mereka lapar dan berpengalaman. Penyamun.
"Lihat apa yang nyasar ke lembah kita," kata yang paling besar, bertubuh seperti kerbau. "Anak ingusan dengan tongkat besi. Letakkan barang berhargamu, Nak, dan mungkin kau pulang dengan dua kaki utuh."
Bagas berhenti. Tangannya perlahan menggapai tongkat di punggungnya. "Aku tidak punya apa-apa yang kalian inginkan."
"Liontin di lehermu itu kelihatan mahal." Si kerbau menyeringai.
Refleks, tangan Bagas menutupi dada. Gerakan itu salah—menunjukkan bahwa liontin itu penting. Si kerbau memberi isyarat, dan kelima penyamun bergerak.
Yang pertama menyerang dari kanan. Bagas memutar tubuhnya, dan tongkat besi itu—berat, lamban di tangannya yang belum mahir—menghantam terlalu rendah, hanya menyerempet paha. Penyamun itu mengaduh tetapi tidak roboh. Yang kedua sudah menyabet dari kiri. Bagas menunduk; golok berdesing di atas kepalanya.
Ia bukan tandingan lima orang. Gurunya benar tentang itu. Dalam sepuluh hitungan napas, punggung Bagas sudah menempel ke tebing, lengannya teriris, dan kelima golok mengepungnya setengah lingkaran.
"Anak keras kepala," geram si kerbau, mengangkat goloknya. "Kuhargai keberanianmu. Tapi—"
"Tapi tidak ada gunanya mati demi penyamun murahan."
Suara baru. Tenang, dingin, datang dari atas tebing.
Semua kepala mendongak. Seorang pria berdiri di bibir jurang, bersandar pada sebatang pedang panjang yang masih bersarung. Usianya mungkin tiga puluhan, jubahnya kelabu sederhana, dan ada bekas luka tipis melintang di pipi kirinya. Ia tidak terlihat terburu-buru sama sekali.
"Urusi urusanmu sendiri, orang asing!" bentak si kerbau.
Pria itu mendesah, seolah diganggu. Lalu ia melompat.
Bagas tidak melihat ia mencabut pedang. Yang ia lihat hanya kilatan, dan suara—suara logam membelah udara, sekali, dua kali, tiga kali. Saat pria kelabu itu mendarat dengan kaki ringan di tanah lembah, tiga penyamun sudah roboh memegangi pergelangan tangan mereka, golok-golok mereka berdenting jatuh. Tidak ada yang mati. Hanya dilumpuhkan, persis di urat nadi tangan.
Si kerbau dan satu temannya melarikan diri tanpa menoleh.
Hening sejenak. Hanya napas Bagas yang memburu memecah lembah.
Pria itu menyarungkan pedangnya dan menatap Bagas dari atas ke bawah. "Pijakanmu terlalu lebar. Tongkatmu terlalu berat untuk lenganmu. Dan kau menutupi sesuatu di lehermu ketika seharusnya kau menyembunyikan kalau kau punya sesuatu sama sekali." Ia mengangkat sebelah alis. "Siapa gurumu? Dia melalaikan pengajaranmu."
Wajah Bagas memanas. "Guruku sudah mati. Dibantai bersama seluruh perguruanku."
Ekspresi pria itu berubah. Sedikit. "Perguruan mana?"
"Awan Putih."
Pria itu terdiam lama. Lalu ia berkata, dengan suara yang lebih pelan, "Resi Janaka tewas?"
Bagas tersentak. "Kau mengenal guruku?"
"Aku berutang nyawa padanya." Pria itu memungut salah satu golok karatan, memeriksanya dengan jijik, lalu membuangnya. "Namaku Hardi. Pendekar bayaran, kalau kau butuh sebutan." Matanya kembali ke liontin yang tersembul dari balik baju Bagas. "Dan kurasa, Nak, kita perlu bicara tentang ke mana sebenarnya kau hendak pergi."