Mereka berkemah di mulut lembah malam itu, di balik bongkahan batu yang menahan angin. Hardi menyalakan api dengan gerakan terlatih, lalu memanggang dua ekor kelinci yang ia tangkap entah kapan, entah bagaimana. Bagas baru sadar betapa laparnya ia setelah aroma daging memenuhi udara.
"Makan dulu," kata Hardi. "Cerita bisa menunggu perut kenyang."
Bagas makan dengan rakus, dan untuk pertama kalinya sejak malam kebakaran, ia merasa sedikit—hanya sedikit—seperti manusia lagi.
Setelah tulang-tulang kelinci dilempar ke api, Hardi bersandar pada batu, menatap bara. "Resi Janaka menarikku keluar dari sumur tempat aku ditinggal mati, bertahun-tahun lalu. Aku masih bocah, pencuri, sekarat. Ia merawatku, mengajariku dasar-dasar, lalu melepasku ketika aku cukup kuat untuk berjalan sendiri." Ia tersenyum tipis. "Aku terlalu liar untuk jadi muridnya yang sebenarnya. Tapi aku tidak akan ada tanpa dia. Sekarang ceritakan. Semuanya."
Maka Bagas bercerita. Tentang malam itu. Tentang jubah hitam dan ular emas. Tentang Sengkuni Hitam dan Perguruan Naga Hitam. Tentang Paman Wira yang mati di tepi sungai. Dan akhirnya, ragu-ragu, tentang surat di kotak cendana dan Kitab Tujuh Jurus Terlarang.
Saat ia menyebut nama itu, Hardi yang sepanjang cerita tenang, tiba-tiba duduk tegak.
"Ulangi. Apa yang kau cari?"
"Kitab Tujuh Jurus Terlarang. Guruku menyembunyikannya, terpecah, pada tiga penjaga. Liontin ini—" Bagas menariknya keluar, "—adalah separuh tanda pengenal untuk penjaga pertama. Biksu Tua di Kuil Gunung Lawu."
Hardi menatap liontin giok itu lama sekali, dan ekspresinya bukan keserakahan seperti penyamun tadi. Itu sesuatu yang lebih mirip ketakutan.
"Nak," katanya pelan. "Apa kau tahu kenapa jurus itu disebut terlarang?"
"Karena ia mengambil sepotong jiwa setiap kali dipakai. Aku sudah membaca suratnya."
"Membaca dan mengerti adalah dua hal berbeda." Hardi mengaduk bara dengan ranting. "Aku pernah melihat satu orang yang menguasai dua dari tujuh jurus itu. Hanya dua. Dua puluh tahun lalu, di Lembah Seribu Pedang. Namanya dulu Pendekar Welas Asih—dijuluki begitu karena ia tidak pernah membunuh lawan yang menyerah."
"Lalu?"
"Setelah jurus kedua, ia membantai seluruh keluarga musuhnya. Termasuk anak-anak. Lalu ia berdiri di tengah mayat-mayat itu dan tertawa, karena ia sudah tidak bisa lagi merasakan apakah itu salah." Hardi menatap Bagas lurus. "Dua jurus, Nak. Dan Welas Asih hilang dari dirinya. Kitab itu punya tujuh."
Api berderak di antara mereka. Bagas tidak berkata apa-apa.
"Berbaliklah," kata Hardi. "Aku akan melatihmu. Dengan benar. Resi Janaka memberiku dasar; aku bisa meneruskannya padamu. Dalam beberapa tahun kau akan jadi pendekar sungguhan. Kita kejar Naga Hitam dengan baja dan keringat, bukan dengan kutukan."
Untuk sesaat—hanya sesaat—Bagas tergoda. Ada kehangatan dalam tawaran itu yang belum ia rasakan sejak rumahnya jadi abu.
Lalu ia teringat mata Tomo yang terbuka menatap langit-langit terbakar. Sari yang terbujur kaku. Gurunya berlutut sebelum pedang turun.
"Beberapa tahun," ulang Bagas pelan. "Sengkuni Hitam masih akan hidup beberapa tahun. Akan membunuh lebih banyak orang. Mungkin perguruan lain. Aku tidak punya beberapa tahun."
"Bagas—"
"Apakah kau, dengan seluruh keahlianmu, bisa mengalahkan Sengkuni Hitam sekarang?"
Hardi terdiam. Kejujuran di wajahnya adalah jawaban.
"Begitu," kata Bagas. "Kalau pendekar sehebat dirimu pun tidak bisa, maka baja dan keringat saja tidak cukup. Aku butuh sesuatu yang lebih."
Hardi menghela napas panjang, dan dalam embusan itu Bagas mendengar kekalahan—dan sesuatu yang lain. Keputusan.
"Kalau begitu," kata Hardi, berdiri dan menepuk debu dari jubahnya, "aku ikut denganmu ke Gunung Lawu. Bukan untuk membantumu mendapatkan kitab itu. Tapi untuk memastikan, kalau kau mulai kehilangan dirimu, ada seseorang yang ingat siapa kau sebelumnya." Ia memandang Bagas dengan tatapan yang menusuk. "Dan kalau perlu, ada seseorang yang cukup mengasihimu untuk menghentikanmu."