Gunung Lawu menjulang dari kabut seperti punggung naga yang tertidur.
Bagas dan Hardi mendaki dua hari penuh. Jalan setapaknya curam dan basah, dipenuhi seribu anak tangga batu yang dipahat oleh entah berapa generasi peziarah. Semakin tinggi, semakin tipis udara, semakin dingin angin yang menggigit tulang. Hardi berjalan tanpa lelah; Bagas memaksa kakinya mengikuti, menolak menunjukkan kelelahan.
Pada senja hari kedua, kabut tiba-tiba terbelah, dan di sana—bertengger di tepi tebing yang seolah menggantung di antara bumi dan langit—berdiri Kuil Gunung Lawu. Dindingnya berlumut, gentingnya melengkung anggun, dan dari dalam terdengar dentang lonceng tunggal yang panjang dan dalam.
"Kuil ini lebih tua dari semua perguruan yang kukenal," gumam Hardi. "Aku tidak menyangka akan menginjakkan kaki di sini."
Gerbang kuil terbuka sebelum mereka mengetuk.
Seorang biksu muda berkepala gundul menyambut, membungkuk dalam. "Sang Guru sudah menunggu kalian," katanya tenang.
Bagas dan Hardi bertukar pandang. "Menunggu kami?" tanya Bagas.
"Sang Guru berkata, 'Pembawa separuh giok akan datang ketika Awan Putih telah jatuh.'" Biksu muda itu berbalik. "Mari."
Mereka dituntun melewati halaman berbatu, melewati barisan biksu yang sedang bermeditasi tak bergerak meski angin mempermainkan jubah mereka, hingga ke sebuah paviliun kecil di ujung tebing. Di sana, di atas tikar sederhana, duduk seorang biksu tua.
Ia sungguh tua—kulitnya seperti kertas yang terlalu sering dilipat, matanya keruh seperti tertutup kabut. Buta, Bagas menyadari. Namun ketika kepala tua itu menoleh tepat ke arahnya, Bagas merasa ditatap lebih dalam daripada mata mana pun yang pernah memandangnya.
"Mendekatlah, anak Awan Putih," kata Biksu Tua, suaranya kering seperti gesekan daun. "Bawa gioknya."
Bagas berlutut dan melepas liontin dari lehernya. Biksu Tua merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan separuh giok lain—bentuknya bagai pasangan. Tangan keriput itu menyatukan keduanya. Klik. Dua separuh menjadi satu lingkaran utuh, dan di sepanjang garis sambungnya, ukiran yang tadinya terpisah kini membentuk satu aksara: pertama.
"Tanda penjaga pertama," kata Biksu Tua. "Janaka mempercayakan padaku satu dari tujuh lembar Kitab Tujuh Jurus Terlarang. Jurus pertama. Aku telah menjaganya empat puluh tahun, berdoa agar tidak ada yang pernah datang memintanya." Mata butanya seakan menembus Bagas. "Dan kini kau datang."
"Aku datang untuk balas dendam," kata Bagas jujur. Berbohong pada lelaki ini terasa mustahil. "Perguruan Naga Hitam membantai semua orang yang kucintai. Aku butuh kekuatan untuk menghancurkan mereka."
Biksu Tua mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah ia duga sejak awal waktu. "Setiap orang yang mencari jurus ini berkata demikian. Balas dendam. Keadilan. Melindungi yang lemah. Alasannya selalu mulia." Ia menghela napas. "Dan setiap dari mereka berakhir sama."
"Lalu kenapa kau menjaganya, dan tidak memusnahkannya?" sela Hardi.
"Karena yang tidak bisa dimusnahkan, lebih baik dijaga." Biksu Tua menggeleng. "Kitab ini tidak bisa dibakar, tidak bisa disobek, tidak bisa ditenggelamkan. Aku telah mencoba semuanya. Ia menolak untuk lenyap. Maka tugasku hanyalah memastikan ia hanya jatuh ke tangan yang... pantas. Atau setidaknya, yang telah diperingatkan."
Tangan tua itu menyodorkan giok yang telah utuh kembali kepada Bagas. "Aku akan memberimu jurus pertama. Tapi tidak malam ini. Pertama, kau harus mengerti apa yang kau minta. Tinggallah tujuh hari. Belajarlah dari kami. Lalu kalau kau masih menginginkannya, akan kuajarkan." Bibir keriput itu melengkung tipis. "Tujuh hari, satu untuk tiap jurus. Itu seharusnya cukup untuk membuatmu berpikir."