Bagas tinggal tujuh hari di Kuil Gunung Lawu, dan tiap hari Biksu Tua menceritakan satu kisah.
Hari pertama, tentang jurus pertama—Tangan Membelah Angin. "Jurus tercepat di dunia," kata Biksu Tua. "Tetapi harganya adalah kesabaranmu. Setiap kali kau memakainya, kau kehilangan sedikit kemampuan untuk menunggu. Pemakai pertamanya mati muda, dibunuh dalam pertarungan yang seharusnya bisa ia hindari, karena ia sudah tidak sanggup lagi untuk tidak bertarung."
Hari kedua, Bagas membantu para biksu mengangkut air dari mata air di bawah tebing. Punggungnya pegal, telapaknya lecet. Saat malam tiba, Biksu Tua bercerita tentang jurus kedua—Langkah Bayangan. "Membuatmu bisa bergerak tanpa terlihat. Harganya: keterhubunganmu dengan sesama. Pemakainya perlahan menjadi bayangan dalam segala hal. Tidak ada yang mengingat wajahnya. Termasuk dirinya sendiri."
Hari ketiga, Bagas berlatih bertarung dengan biksu-biksu muda. Mereka tidak sekuat Hardi, tetapi disiplin mereka membuat Bagas malu. Ia masih terlalu kasar, terlalu marah. Malamnya, jurus ketiga—Pukulan Seribu Beban. "Kekuatan untuk meremukkan batu seperti tahu. Harganya: belas kasihmu. Setiap pukulan menumpulkan rasa kasihanmu, sampai kau memukul tanpa peduli apakah yang kau hantam pantas dihantam."
Hardi memperhatikan semua ini dalam diam. Pada hari keempat, ketika mereka berdua duduk di tepi tebing memandang lautan awan, ia berkata, "Kau masih bisa berbalik, Bagas. Kita turun. Kita berlatih. Kita lakukan ini dengan cara yang benar."
"Kau mendengar harganya," jawab Bagas, matanya pada awan. "Kesabaran. Keterhubungan. Belas kasih. Tapi kau juga mendengar kekuatannya. Tak terkalahkan, Hardi. Sengkuni Hitam tak akan bisa menyentuhku."
"Apa gunanya menang kalau yang menang bukan lagi dirimu?"
Bagas tidak menjawab.
Hari kelima, jurus keempat—Napas Naga. "Membakar musuhmu dari dalam dengan tenaga dalam murni. Harganya: kehangatanmu. Pemakainya menjadi dingin, secara harfiah dan rohani. Tangannya tidak pernah lagi hangat. Begitu pula hatinya."
Hari keenam, jurus kelima dan keenam—Tameng Sukma dan Cakar Iblis. "Yang satu membuatmu kebal terhadap luka. Harganya, kemampuanmu merasakan sakit—dan tanpa sakit, manusia tidak tahu kapan ia keterlaluan. Yang lain memberimu cengkeraman yang bisa merobek baja. Harganya, kelembutanmu. Kau tidak akan pernah lagi bisa menyentuh sesuatu tanpa berniat menghancurkannya."
"Dan yang ketujuh?" tanya Bagas pada malam ketujuh.
Biksu Tua terdiam lama. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, lelaki tua itu tampak ragu.
"Jurus ketujuh tidak ada dalam lembar yang kujaga," akhirnya ia berkata. "Tidak ada satu penjaga pun yang memilikinya. Konon jurus ketujuh adalah penyatuan keenam jurus lainnya—dan harganya adalah... segalanya. Seluruh yang tersisa dari dirimu. Tidak ada yang pernah menguasainya dan tetap menjadi manusia. Itulah sebabnya ia disebut Jurus Terlarang yang sejati."
Angin malam meraung di luar paviliun.
"Esok pagi," kata Biksu Tua, "kau telah mendengar segalanya. Kalau kau masih ingin jurus pertama, datanglah ke aula latihan saat fajar. Kalau tidak, turunlah dari gunung ini, dan jadilah orang yang beruntung." Ia menutup mata butanya. "Aku berdoa kau memilih turun. Tapi aku sudah cukup tua untuk tahu bahwa doa orang tua jarang dikabulkan."
Malam itu Bagas tidak tidur. Ia duduk di tepi tebing, menggenggam giok utuh di tangannya, dan di bawah cahaya bintang ia melihat lagi—dengan jelas—wajah-wajah saudaranya yang mati.
Ketika fajar menyingsing dan kabut keemasan menyelimuti gunung, Bagas berjalan ke aula latihan.
Hardi sudah berdiri di sana, lebih dulu, menghadang pintu. "Jangan," katanya, satu kata terakhir.
Bagas berhenti di hadapannya. "Kalau aku mati sebagai diriku sendiri tanpa membalas mereka, lalu apa arti diriku ini?" Suaranya pecah, hanya sedikit. "Minggir, Hardi. Kumohon."
Lama mereka saling menatap. Lalu, dengan rahang terkatup, Hardi melangkah ke samping.