Aula latihan itu kosong kecuali Biksu Tua, yang duduk bersila di tengah lantai kayu yang sudah halus oleh ribuan langkah kaki.
Di hadapannya tergeletak selembar kertas kulit yang terlihat lebih tua dari kuil itu sendiri. Permukaannya tidak menguning seperti kertas tua; sebaliknya, ia gelap, hampir hitam, dan aksara-aksara di atasnya seolah bergerak halus ketika tidak dipandang langsung.
"Jurus pertama. Tangan Membelah Angin," kata Biksu Tua tanpa menoleh. "Duduklah."
Bagas duduk bersila di seberang kertas itu. Hardi berdiri di pintu, lengan bersedekap, wajah seperti batu.
"Aku tidak akan mengajarimu gerakannya," kata Biksu Tua. "Kertas ini yang mengajar. Letakkan kedua tanganmu di atasnya. Kosongkan pikiranmu. Lalu... biarkan ia masuk."
Bagas meletakkan telapak tangannya di atas kertas kulit itu.
Dingin. Dingin yang luar biasa, lalu panas membakar, lalu sesuatu yang bukan keduanya—seperti seribu jarum tenaga dalam menusuk lewat telapak tangannya, naik ke lengan, ke dada, ke kepala. Aksara-aksara di kertas itu berkobar terang, dan Bagas melihatnya bukan dengan mata melainkan di dalam benaknya: gerakan, aliran tenaga, jalur urat nadi, semuanya tertanam langsung ke dalam ingatannya seolah ia sudah berlatih selama sepuluh tahun dalam satu hela napas.
Ia ingin berteriak. Mulutnya terbuka tetapi tidak ada suara. Tubuhnya kejang, keringat mengucur deras membasahi lantai.
Lalu di tengah banjir pengetahuan itu, ia merasakan sesuatu... terlepas. Seperti benang yang putus jauh di dalam dadanya. Sesuatu yang halus, yang tidak ia tahu namanya sampai ia kehilangannya, tertarik keluar dan ditelan oleh kertas hitam itu.
Kesabaran. Sepotong kecil dari kesabarannya. Pergi.
Kertas itu meredup. Bagas terhuyung mundur, terengah-engah, tangannya gemetar hebat.
"Berdiri," kata Biksu Tua. "Lihat apa yang kau beli."
Bagas berdiri, dan ia merasa berbeda. Tangannya... ringan. Ringan dengan cara yang menakutkan. Ia mengangkat tongkat besi Paman Wira—tongkat berat yang selama ini memberati lengannya—dan kini terasa seringan ranting.
"Pukul tiang itu," kata Biksu Tua, menunjuk sebuah tiang kayu jati setebal paha di sudut aula.
Bagas berjalan ke tiang itu. Ia menarik napas. Dan ia menggerakkan tangannya.
Ia bahkan tidak melihat geraknya sendiri. Yang ia tahu, ada suara—suara udara yang dirobek, tajam seperti petir—dan tiang jati setebal paha itu putus rapi menjadi dua, irisannya halus seakan dipotong pisau yang dipanaskan.
Hardi, di pintu, tidak bergerak. Tapi wajahnya pucat.
Bagas menatap tangannya sendiri dengan campuran kagum dan ngeri. Kekuatan ini—dengan ini, ia bisa membunuh Sengkuni Hitam. Mungkin bukan sekarang, tetapi pasti, suatu hari.
"Bagaimana rasanya?" tanya Biksu Tua pelan.
"Luar biasa," bisik Bagas. Lalu ia berhenti. Ada yang salah. "Tapi... aku ingin segera mencobanya lagi. Sekarang. Aku tidak sabar untuk—" Ia tersentak menyadari kata yang ia ucapkan. Tidak sabar.
"Itulah harganya bekerja," kata Biksu Tua. "Sekarang kau merasakan dorongan untuk bertindak, untuk menyerang, untuk tidak menunggu. Hari ini dorongan itu masih kecil, masih bisa kau lawan. Setiap kali kau memakai jurus ini, ia tumbuh. Sampai suatu hari kau tidak bisa lagi menunggu untuk apa pun. Kau akan menyerang ketika seharusnya kau diam. Mempercayai ketika seharusnya kau ragu. Dan itu akan membunuhmu—atau lebih buruk."
Bagas mengepalkan tangannya yang gemetar, melawan dorongan untuk mengayunkannya lagi. "Aku akan mengendalikannya."
"Mereka semua berkata begitu." Biksu Tua menggulung kembali kertas kulit itu, dan secara mengejutkan, menyodorkannya kepada Bagas. "Bawa. Jurus pertama kini milikmu—di tubuhmu, bukan di kertas. Kertas ini akan menuntunmu ke penjaga kedua, jika kau memutuskan untuk melanjutkan. Aksaranya akan berubah ketika kau cukup kuat untuk membacanya."
Bagas menerima kertas itu dengan hormat. "Terima kasih, Guru."
"Jangan berterima kasih padaku." Biksu Tua menutup matanya kembali. "Aku baru saja membantu menghancurkan seorang pemuda yang baik. Sekarang pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan mencoba membunuhmu untuk menyelamatkanmu dari dirimu sendiri." Bibir tuanya melengkung dalam senyum sedih. "Dan aku tidak yakin aku masih cukup kuat untuk berhasil."