Mereka turun dari Gunung Lawu dalam diam.
Hardi tidak banyak bicara selama dua hari pertama perjalanan, dan Bagas tidak memaksanya. Ada jarak baru di antara mereka, halus tetapi nyata, seperti retak rambut di permukaan tembikar. Bagas tahu apa yang Hardi pikirkan setiap kali pendekar itu memandangnya. Sudah dimulai. Sudah tidak bisa diputar balik.
Pada hari ketiga, mereka tiba di Kota Tepi Sungai, sebuah kota dagang ramai di pertemuan dua aliran air. Bagas berniat membeli perbekalan dan mencari kabar tentang penjaga kedua. Kertas kulit di buntalannya belum berubah aksaranya—belum cukup kuat, kata kertas itu lewat keheningannya.
Tetapi di gerbang kota, mereka melihat lambang yang membekukan darah Bagas.
Ular emas. Dijahit pada bendera yang berkibar di atas sebuah rumah penginapan besar di pusat kota.
"Naga Hitam," desis Bagas, tangannya langsung mencengkeram tongkat.
Hardi menahan lengannya. "Tenang. Mereka punya pos di banyak kota. Ini bukan Sengkuni Hitam. Kemungkinan hanya cabang—pemungut upeti, penagih utang. Jangan—"
Tapi Bagas sudah tidak mendengar. Sesuatu di dalam dadanya, sepotong yang dulu bernama kesabaran, kini terlalu tipis untuk menahannya. Ia melangkah maju menuju penginapan berbendera ular emas itu.
Di dalam, suasananya kacau. Empat orang berjubah hitam dengan lambang ular sedang menyeret seorang pria tua dan putrinya keluar dari balik meja. Pemilik penginapan, tampaknya. Sang putri menjerit. Salah satu penagih menampar pria tua itu hingga jatuh.
"Tiga bulan terlambat," geram si penagih. "Tuan Sengkuni Hitam tidak suka menunggu. Kalau tidak bisa bayar dengan perak, bayar dengan anak gadismu."
Nama itu. Sengkuni Hitam.
Bagas tidak ingat memutuskan untuk bergerak. Tahu-tahu ia sudah berdiri di tengah ruangan, dan keempat penagih menoleh ke arahnya.
"Lepaskan mereka," kata Bagas. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Dingin.
Si penagih tertawa. "Bocah, ini bukan—"
Bagas menggerakkan tangannya.
Tangan Membelah Angin.
Suara udara robek menggelegar di ruangan tertutup itu. Si penagih yang bicara tidak sempat menyelesaikan kalimatnya; ia terlempar ke dinding, dadanya retak, darah menyembur dari mulutnya. Tiga lainnya bergerak menyerang—golok terangkat—tetapi Bagas sudah di antara mereka. Sekali gerak, dua gerak. Tubuh-tubuh roboh. Darah memercik ke lantai kayu, ke dinding, ke wajah Bagas.
Dalam empat hela napas, keempatnya tergeletak. Dua mati. Dua sekarat.
Hening total. Pria tua dan putrinya menatap Bagas dengan ngeri yang sama besarnya dengan rasa syukur mereka.
Dan Bagas—Bagas tidak merasakan apa-apa.
Itulah yang membuatnya membeku. Bukan karena ia baru saja membunuh. Tetapi karena membunuh seharusnya terasa seperti sesuatu. Saudara-saudaranya yang mati, ia merasakan setiap kuburan di tulangnya. Tetapi keempat orang ini, ia membunuh mereka dan tidak ada apa pun di dalam dirinya yang bergetar. Tangannya ingin bergerak lagi. Mencari korban berikutnya. Tidak sabar.
"Bagas." Hardi sudah di sampingnya, suaranya pelan dan hati-hati seperti mendekati binatang buas. "Sudah selesai. Mereka kalah. Turunkan tanganmu."
Bagas menatap tangannya. Berlumur darah. Gemetar—bukan karena takut, melainkan karena hasrat. Dengan susah payah, ia menurunkannya.
"Aku tidak merasakan apa-apa," bisik Bagas. "Hardi. Aku membunuh dan aku tidak—"
"Aku tahu." Wajah Hardi penuh kepedihan. "Aku tahu. Itulah yang aku takutkan."
Salah satu penagih yang sekarat, dengan napas terakhirnya, mendongak dan menatap wajah Bagas, mengukirnya dalam ingatan. "Tuan... Sengkuni... akan tahu wajahmu," bisiknya. "Kau... sudah mati, Nak..."
Lalu ia diam selamanya.
Bagas memandang mayat itu. Sebagian dirinya—sebagian yang masih dirinya—merasa harus takut. Tetapi yang ia rasakan hanya satu pikiran dingin yang jernih:
Bagus. Biar dia tahu aku datang.