Berita menyebar lebih cepat daripada langkah kaki.
Pada saat Bagas dan Hardi meninggalkan Kota Tepi Sungai keesokan paginya, kisah tentang "pemuda bertongkat besi yang membunuh empat orang Naga Hitam dengan satu gerakan" sudah berbisik dari mulut ke mulut di sepanjang jalan dagang. Sebagian menyebutnya pendekar penyelamat. Sebagian menyebutnya iblis. Bagas tidak tahu lagi mana yang lebih dekat dengan kebenaran.
Mereka memilih jalan kecil yang melintasi hutan untuk menghindari mata-mata. Tetapi pada sore hari, di sebuah persimpangan sungai, seseorang telah menunggu mereka.
Seorang gadis. Mungkin seusia Bagas, mungkin setahun lebih tua. Ia berdiri di tengah jembatan kayu, dan jelas ia menunggu mereka secara khusus. Rambutnya diikat tinggi, jubahnya putih bersih dengan tepi biru es, dan di pinggangnya tergantung pedang ramping yang sarungnya berukir bunga salju. Sikapnya tenang, terlatih, dan sama sekali tidak gentar melihat dua pria mendekat.
"Bagas dari Awan Putih," kata gadis itu. Bukan pertanyaan.
Bagas berhenti. Tangannya bergerak ke tongkat—refleks baru yang menakutkan. "Siapa kau?"
"Namaku Lestari. Murid Lembah Es." Ia memberi hormat singkat, sopan tetapi waspada. "Aku mengejarmu sejak Kota Tepi Sungai. Aku perlu bicara denganmu sebelum kau pergi lebih jauh ke jalan yang sedang kau tempuh."
"Lembah Es," gumam Hardi, dan kewaspadaan dalam suaranya membuat Bagas memperhatikan. "Perguruan terhormat. Mereka tidak terlibat dalam pertikaian. Apa urusan Lembah Es dengan kami?"
"Karena Lembah Es juga pernah berurusan dengan Kitab Tujuh Jurus Terlarang," kata Lestari, dan kata-kata itu membuat Bagas terpaku. "Seratus tahun lalu, salah satu leluhur perguruanku menjadi penjaga salah satu lembarnya. Penjaga ketujuh, sebenarnya—lembar yang tidak ada. Catatan kami menyimpan banyak hal tentang kitab itu. Termasuk apa yang terjadi pada setiap orang yang pernah mencarinya."
Ia melangkah maju, dan matanya—abu-abu jernih seperti langit musim dingin—menatap Bagas lurus. "Aku melihat apa yang kau lakukan di penginapan itu. Aku ada di kerumunan. Empat orang, satu gerakan, dan wajah tanpa perasaan. Kau sudah mengambil jurus pertama."
Bagas tidak menyangkal.
"Berapa banyak yang sudah hilang darimu?" tanya Lestari, dan dalam suaranya tidak ada penghakiman, hanya semacam duka yang aneh. "Kau bahkan tidak menyadarinya, bukan? Itu cara kerjanya. Yang hilang tidak terasa hilang—kau hanya menjadi seseorang yang tidak pernah memilikinya."
"Aku menyadarinya," kata Bagas, dan untuk pertama kalinya sejak penginapan, ada retak dalam suara dinginnya. "Aku membunuh empat orang dan tidak merasakan apa-apa. Aku menyadarinya. Aku hanya... tidak bisa berhenti."
Sesuatu di wajah Lestari melembut. "Maka belum terlambat. Selama kau masih bisa melihat apa yang hilang, sebagian dirimu masih ada."
"Kenapa kau peduli?" Bagas menuntut. "Kau tidak mengenalku."
"Karena perguruanku gagal seratus tahun lalu," kata Lestari. "Leluhurku tidak menghentikan orang yang seharusnya ia hentikan. Dan orang itu—setelah mengumpulkan enam jurus—menghancurkan tiga perguruan dan membunuh empat ratus orang sebelum akhirnya kekuatan ketujuh yang ia coba raih merobek tubuhnya sendiri dari dalam." Ia menarik napas. "Lembah Es bersumpah, kalau kitab itu pernah bergerak lagi, kami tidak akan diam. Aku di sini untuk menghentikanmu, Bagas. Dengan kata-kata, kalau bisa."
"Dan kalau tidak bisa?" tanya Hardi pelan.
Tangan Lestari turun ke gagang pedangnya. Embun beku tipis merambat keluar dari sela jarinya, membekukan titik-titik air di kayu jembatan. "Maka dengan pedang."
Untuk sesaat panjang, tidak ada yang bergerak. Sungai mengalir di bawah jembatan. Angin sore menggoyangkan daun-daun.
Lalu Bagas merasakannya lagi—dorongan itu. Tidak sabar. Tangannya ingin bergerak. Lawan ini kuat; sepotong dirinya yang baru menginginkan ujiannya.
"Aku tidak ingin melawanmu," kata Bagas, bergulat dengan suaranya sendiri. "Tapi aku juga tidak akan berhenti. Sengkuni Hitam membantai semua orangku. Kalau kau menghalangiku, kau menghalangi keadilan untuk mereka."
"Itu bukan keadilan yang kau cari," kata Lestari lembut. "Itu kehancuran. Dan kau akan menyeret dirimu sendiri ke dalamnya."
Bagas memejamkan mata. Wajah Tomo. Wajah Sari. Wajah gurunya berlutut.
Ketika ia membukanya kembali, ia sudah mencabut tongkat besi dari punggungnya. "Maafkan aku."
Lestari menghela napas, dan embun beku menyelimuti bilah pedangnya saat ia mencabutnya. "Aku juga."