Mereka bergerak pada saat yang sama.
Lestari menyerang dengan keanggunan yang menipu—pedangnya menari, meninggalkan jejak embun beku di udara, dan setiap tebasan membawa hawa dingin yang membuat napas Bagas mengepul. Ini bukan penyamun. Ini bukan penagih utang. Ini pendekar sejati, dan untuk pertama kalinya sejak mengambil jurus pertama, Bagas menemukan lawan yang seimbang.
Tongkat besi bertemu pedang es. Dentang demi dentang menggema di atas sungai. Bagas memakai Tangan Membelah Angin—sekali, dua kali—tetapi Lestari membaca kecepatannya, meliuk di saat terakhir, membalas dengan tikaman yang menggores lengan Bagas dan meninggalkan rasa dingin yang membakar.
"Kau bertarung dengan amarah," kata Lestari di sela napasnya, menangkis pukulan tongkat. "Jurus itu sudah memakanmu lebih banyak daripada yang kau kira."
"Diam!" Bagas menyerang lebih cepat, lebih liar. Dorongan itu membakar dalam dirinya—tidak sabar, tidak sabar—dan ia menyadari dengan ngeri bahwa ia menikmatinya. Bagian dirinya yang dingin menikmati pertarungan ini, menikmati kekuatan, tidak peduli bahwa lawannya mencoba menyelamatkan jiwanya.
Hardi berdiri di tepi jembatan, tangan di gagang pedang, terkoyak antara dua keinginan. Membantu Bagas. Membantu Lestari menghentikan Bagas. Ia tidak melakukan keduanya. Ia hanya menonton, dan wajahnya adalah wajah seorang pria yang melihat anak yang ia coba selamatkan tenggelam perlahan.
Pertarungan itu mencapai puncaknya di tengah jembatan. Lestari berputar, pedangnya membentuk lingkaran es yang sempurna, dan Bagas—dalam kilatan kecepatan yang tak terlihat—menyusup ke dalam lingkaran itu, tongkatnya terangkat untuk pukulan yang akan mematahkan tulang.
Ia berhenti.
Setengah jengkal dari pelipis Lestari, tongkat besi itu membeku di udara. Gemetar. Bagas memandang wajah gadis itu—wajah yang tidak menunjukkan ketakutan, hanya kesedihan untuknya—dan sesuatu yang masih tersisa dalam dirinya menolak untuk mengayun.
"Lakukan," bisik Lestari, tidak menurunkan pedangnya yang juga berhenti di leher Bagas. "Kalau kau memang sudah hilang, lakukan."
Mereka berdiri membeku, saling menahan maut, napas beradu di udara dingin.
Lalu suara tepuk tangan memecah keheningan. Lambat. Mengejek.
Dari ujung jembatan yang lain, dari balik bayangan pepohonan tempat sore mulai menggelap, sebuah sosok melangkah keluar. Jubah hitam. Dan di dadanya, berkilau tertimpa cahaya senja terakhir—ular emas melingkar.
Bukan penagih utang biasa. Sosok ini bergerak dengan ketenangan seorang penguasa, dan tenaga dalamnya terasa menekan udara seperti badai yang akan datang. Di belakangnya, satu per satu, bayangan-bayangan berjubah hitam lain bermunculan dari hutan, mengepung kedua ujung jembatan. Sepuluh. Dua puluh. Lebih.
Bagas dan Lestari serentak menurunkan senjata, naluri lama mengambil alih, kini berdiri saling membelakangi menghadapi ancaman yang sebenarnya.
"Jadi ini pemuda yang membunuh empat anak buahku dengan satu gerakan," kata sosok berjubah itu. Suaranya. Bagas mengenali suara itu. Rendah, sabar, seperti menanyakan harga ikan di pasar.
Sosok itu menyibakkan tudungnya, dan di bawah cahaya senja yang sekarat, Bagas melihat wajah yang menghantui setiap malamnya sejak padepokannya terbakar.
Sengkuni Hitam tersenyum tipis, matanya menelusuri Bagas dari kepala ke kaki, lalu berhenti di tongkat besi—dan di kertas kulit hitam yang tersembul dari buntalan di pinggang pemuda itu.
"Ah," desisnya, dan senyumnya melebar. "Bukan hanya pembunuh anak buahku. Tapi pembawa lembar kitab juga." Ia mengulurkan tangan, kuku-kuku panjangnya berkilau. "Anak Awan Putih. Kupikir aku sudah membakar habis kalian semua. Ternyata gurumu menyembunyikan satu tikus—dan tikus itu telah menemukan keju yang kucari selama ini."
Tangan Bagas mencengkeram tongkat. Seluruh dendamnya, seluruh malam tak tidurnya, seluruh kuburan yang ia gali—semuanya berkumpul menjadi satu titik panas di dadanya. Pembunuh gurunya berdiri sepuluh langkah di hadapannya.
Tetapi ia hanya menguasai satu jurus. Dan ia dikepung dua puluh orang. Dan Sengkuni Hitam, ia tahu dengan kepastian yang dingin, jauh lebih kuat darinya.
"Bagas," bisik Lestari di belakangnya, pedang es teracung, "apa pun yang terjadi—jangan pakai jurus itu di sini. Kalau kau kalap sekarang, kau tidak akan kembali."
Sengkuni Hitam melangkah maju ke atas jembatan, dan seluruh anak buahnya bergerak menutup jerat.
"Sekarang, Nak," kata sang pembantai, suaranya hampir lembut. "Berikan kertas itu padaku. Lalu mungkin—mungkin—akan kubiarkan kau mati secepat gurumu."