Renjana menemukannya di Ruang Latihan 7, di jam ketika koridor Institut Musik Wreksodiningrat sudah sepi dan lampu-lampu di sepanjang marmer tinggal separuh menyala. Arsa tidak mendengar pintu terbuka. Ia sedang menekan jari manis kanannya ke permukaan meja, memaksanya lurus dengan tangan kiri, seperti orang meluruskan kawat bengkok, dan wajahnya begitu tegang hingga ia tidak menyadari ada orang lain di ambang pintu sampai suara itu datang.
"Sudah berapa lama."
Itu bukan pertanyaan. Arsa menarik tangannya ke pangkuan, terlalu cepat, dan justru gerakan buru-buru itu yang menjawab lebih jujur dari mulutnya. Cello Renjana masih tersandang di punggung. Ia belum sempat menaruhnya di ruang sebelah. Berarti ia berjalan lewat, melihat lewat kaca kecil di pintu, dan berhenti.
"Tidak ada apa-apa," kata Arsa. "Cuma pegal."
"Jangan." Renjana melepas tali cello dari bahunya, meletakkan kotak itu berdiri di dinding dengan hati-hati, tanpa memutus tatapannya. "Jangan lakukan itu padaku. Kau sudah melakukannya bulan lalu. Kau menyuruhku pergi, ingat? Kau bilang aku terlalu ikut campur. Aku pergi. Aku diam. Dan sekarang aku berdiri di sini melihatmu menyiksa tanganmu sendiri di ruangan gelap seperti orang yang malu ketahuan."
Arsa menunduk ke tuts. Nada B di kepalanya, nada B fals dari upright gereja Wonokromo yang tak pernah benar-benar pergi, mendengung tipis di balik telinganya, seolah ikut menuduh.
"Sebut namanya," kata Renjana. "Apa pun itu. Sebut."
"Distonia fokal." Kata itu keluar begitu pelan sampai ia sendiri hampir tak mendengarnya. Baru kali ini ia mengucapkannya di depan orang selain Danupraja dan dokter. Rasanya seperti membuka pintu yang selama ini ia tahan dengan seluruh berat badan. "Jari-jariku menekuk sendiri. Bukan karena aku lelah. Bukan karena aku kurang latihan. Otaknya yang salah kirim perintah. Dokter bilang tidak ada obat yang pasti. Bisa membaik, bisa tidak. Bisa saja tidak pernah sama lagi."
Renjana tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia menarik kursi dari sudut ruangan, kursi lipat kayu yang biasa dipakai penjaga, dan duduk menghadapnya. Dekat. Terlalu dekat untuk seseorang yang seharusnya marah.
"Berapa orang yang tahu?"
"Danupraja. Dia yang pertama menebak, waktu masterclass. Dokter di rumah sakit umum. Dan—" Arsa berhenti. "Bramantyo. Dia melihat. Dia bilang akan membocorkannya kalau aku tidak mundur dari kompetisi."
"Ibu Widari?"
Arsa menggeleng, dan gelengan itu membuat sesuatu di dadanya mengencang. "Kalau Ibu Widari tahu, grand piano warisan ditarik hari itu juga. Ada klausanya. Cedera, langsung tarik. Aku menandatanganinya sendiri. Karena itu aku belajar main dengan satu tangan menutupi yang lain. Menjari ulang seluruh pasase supaya jari manisku tidak perlu bekerja. Aku berbohong pada semua orang. Termasuk padamu."
"Termasuk padaku," ulang Renjana. Ada luka di suaranya, tidak disembunyikan, tetapi juga tidak dilebih-lebihkan. "Kau tahu bagian mana yang paling menyakitkan? Bukan bahwa kau sakit. Tapi bahwa kau memutuskan aku tidak cukup kuat untuk ikut menanggungnya. Kau menghapusku dari daftar orang yang boleh membantumu, dan kau tidak pernah bertanya apa aku mau dihapus."
"Aku melindungimu."
"Kau melindungi rahasianya." Renjana mencondongkan badan. "Aku juga orang luar di sini, Arsa. Sama sepertimu. Aku tahu bagaimana rasanya menjaga satu-satunya hal yang membuktikan kita pantas ada di gedung ini. Tapi kau tidak sedang menjaga apa-apa. Kau sedang membakar dirimu perlahan di ruang tertutup supaya tidak ada yang mencium asapnya."
Arsa menekan pangkal telapak tangannya ke mata. Ia tidak menangis; ia terlalu lelah untuk menangis. "Lalu aku harus bagaimana. Kalau aku berhenti berpura-pura, semua hilang. Piano itu hilang. Peringkatku sudah turun. Beasiswa bisa dicabut. Uang di rumah—ayah tidak bisa bekerja, atap gereja bocor. Aku tidak punya ruang untuk sakit, Renjana. Orang seperti kita tidak punya ruang untuk sakit."
Untuk sesaat ruangan itu hanya diisi dengung lampu dan napas mereka berdua. Lalu Renjana meraih tangan kanannya—tangan yang selama ini Arsa sembunyikan, tangan yang mengkhianatinya—dan menggenggamnya, membuka jari-jari yang menekuk itu dengan lembut, tanpa memaksa lurus, sekadar memegangnya sebagaimana adanya.
"Kalau begitu kita cari ruang itu bersama," katanya. "Aku dengar ada suntikan. Botox. Mahal, aku tahu, tapi kita cari caranya, kita tanya, kita hitung. Ada Pak Pendeta. Ada orang-orang. Kau tidak harus membayar semua sendiri diam-diam sampai jatuh."
"Botox pun bukan sembuh. Cuma menunda."
"Aku tidak bilang sembuh." Renjana menatapnya lurus. "Aku bilang jangan sendirian." Ia diam sebentar, lalu melanjutkan dengan hati-hati, seperti orang meletakkan sesuatu yang rapuh di atas meja. "Dan ada hal lain. Aku pernah membaca—waktu masih di rumah, guru cello-ku bercerita—ada seluruh khazanah musik yang ditulis khusus untuk tangan kiri. Untuk pianis yang kehilangan tangan kanannya. Karya-karya sungguhan, bukan latihan sisa. Ada komponis yang menulis konserto utuh untuk satu tangan."
Sesuatu di dalam Arsa langsung menutup, refleks, seperti tirai yang jatuh. "Aku bukan pianis satu tangan."
"Belum," kata Renjana, dan ia tidak mundur dari kata itu. "Aku tidak menyuruhmu menyerah. Aku menaruh satu pintu lagi di dekatmu, itu saja. Supaya kalau suatu hari pintu yang lain terlalu berat kau dorong, kau tahu ruangan ini bukan satu-satunya keluar."
Arsa menarik tangannya perlahan, tetapi tidak sampai lepas. Ia menatap jari manis yang menekuk itu, lalu menatap Renjana yang tidak beranjak, yang cello-nya masih bersandar di dinding, yang datang lewat dan berhenti dan memilih tinggal padahal ia sendiri yang dulu diusir. Di kepalanya, nada B fals itu berdengung lagi—tetapi untuk pertama kalinya malam itu, dengungnya tidak terasa seperti tuduhan. Hanya seperti sesuatu yang tidak lurus, yang tetap ada, yang tidak berhenti berbunyi hanya karena tidak sempurna.
"Jangan bilang siapa-siapa dulu," bisiknya. "Tolong."
"Tidak akan." Renjana bangkit, mengangkat cello-nya kembali ke punggung. "Tapi mulai sekarang, apa pun yang kau tanggung, kita hitung berdua. Aku tidak akan pergi lagi hanya karena kau menyuruhku." Ia berhenti di ambang pintu, menoleh. "Latihan besok. Ruang enam. Bawa tangan kirimu."
Pintu tertutup pelan. Arsa duduk sendiri di bawah lampu separuh padam, tangan kanannya di pangkuan, dan untuk waktu yang lama ia tidak menyentuh tuts sama sekali. Tetapi ia juga tidak lagi memaksa jarinya lurus.