Kabar tentang kompetisi itu ditempel di papan pengumuman koridor marmer pada pagi yang dingin, dan Arsa berdiri di depannya lebih lama dari yang seharusnya, membaca namanya sendiri seolah nama itu milik orang lain. Kompetisi konser semester—hadiahnya penampilan solo bersama orkes institut, dan bagi Ibu Widari, bagi klausa yang menahan grand piano warisan itu, sebuah tanda bahwa Arsa Pradipta masih Arsa Pradipta. Ia menatap huruf-huruf itu sampai matanya perih. Tangan kanannya, di dalam saku jaket, menekuk pelan tanpa ia perintahkan, seperti binatang kecil yang meringkuk sebelum tidur.
"Kau masih ikut, rupanya."
Arsa tak perlu menoleh untuk tahu suara itu. Bramantyo bersandar di dinding beberapa langkah darinya, tangan terlipat, mantel wolnya jatuh sempurna di bahu. Ia tersenyum dengan cara yang tak menyentuh matanya.
"Kenapa aku tidak boleh ikut," kata Arsa. Ia mengeluarkan tangannya dari saku, memaksanya diam di sisi tubuh.
"Oh, boleh. Tentu boleh." Bramantyo mendorong dirinya lepas dari dinding, melangkah mendekat, sepatunya berdetak di marmer. "Cuma aku pikir kau lebih pintar dari itu. Aku melihatmu, Arsa. Di Ruang Latihan 7. Malam itu. Jari manismu—" ia mengangkat tangannya sendiri, menekuk jari manis ke telapak, meniru, dan gerakan itu membuat perut Arsa jatuh, "—begini, kan? Berulang-ulang. Kau kira tak ada yang lihat karena kau selalu sendirian. Tapi pintu itu ada kacanya, kawan."
Koridor terasa menyempit. Di ujung sana dua mahasiswi lewat sambil tertawa, dunia berjalan seperti biasa, dan Arsa merasa berdiri di kotak kaca yang tak mereka lihat.
"Kau tidak tahu apa-apa," katanya, terlalu cepat.
"Aku tahu namanya." Bramantyo menurunkan suaranya, dan justru kelembutan itu yang mengerikan. "Distonia. Aku juga anak musik, Arsa. Aku besar di ruang-ruang ini. Aku tahu apa artinya kalau jari seorang pianis mulai punya kehendak sendiri. Dan aku tahu apa isi kontrakmu dengan Ibu Widari—setiap orang di institut ini tahu klausa itu. Cedera, piano ditarik. Sesederhana itu."
Arsa menelan sesuatu yang kering. Ia memikirkan grand piano warisan itu, tuts gadingnya yang dingin dan berwarna hangat, satu-satunya benda di dunia yang pernah membuat permainannya terdengar seperti yang ia dengar di kepalanya. Ia memikirkan ibunya di Wonokromo, atap gereja yang bocor, ayah yang tangannya juga cedera. Semua bergantung pada rahasia ini tetap menjadi rahasia.
"Apa maumu," katanya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar.
Bramantyo tersenyum lebih lebar, seolah baru saja mendengar musik yang ia tunggu. "Mundur dari kompetisi. Itu saja. Tulis surat, bilang kau sakit, kau kelelahan, apa saja. Kau punya alasan yang bagus, bukan? Kau memang sakit." Ia menggeser berat tubuhnya. "Kalau kau mundur, tak ada yang bertanya-tanya kenapa Arsa Pradipta yang hebat itu tiba-tiba tampil buruk di panggung. Tak ada yang menonton jari-jarimu di bawah lampu. Rahasiamu aman. Pianomu aman."
"Dan kalau aku tidak mundur?"
"Kalau kau tidak mundur," Bramantyo mengangkat bahu, ringan, seolah membahas cuaca, "aku bicara pada Ibu Widari. Sopan saja. Aku bilang aku khawatir dengan kesehatan rekan sekelasku. Aku sebut kata itu. Dan dia harus memeriksanya—dia terikat aturan yayasan, kau tahu itu. Dia tak punya pilihan. Piano itu keluar dari ruanganmu di hari yang sama."
Arsa merasakan panas naik ke matanya dan membencinya, membenci betapa mudah tubuhnya mengkhianati dirinya di depan orang ini. Ia mengepalkan tangan kirinya—tangan yang masih patuh—sampai kukunya menekan telapak.
"Kau melakukan ini karena aku mengalahkanmu," katanya. "Di kompetisi internal. Kau tak tahan."
Untuk sekejap sesuatu berkelebat di wajah Bramantyo, sesuatu yang bukan kemenangan, yang lebih mirip lelah. Lalu topeng itu turun kembali. "Aku melakukan ini karena aku selalu menang, Arsa, dan aku tidak berniat kalah dari anak pelayan gereja yang datang ke sini dengan sepatu berlubang. Kau boleh punya telinga ajaib itu, absolute pitch, apa pun namanya. Tapi telinga tak menekan tuts. Jari yang menekan. Dan jarimu sudah selesai." Ia mengulurkan kata terakhir itu seperti pisau yang dimasukkan pelan-pelan. "Aku cuma menawarkan cara supaya kau selesai dengan bermartabat. Anggap saja aku murah hati."
Di suatu tempat di dalam gedung, seseorang memainkan tangga nada dengan bersih, naik dan turun, sempurna. Arsa mendengar setiap nada dengan ketajaman yang menyiksa. Dulu bunyi seperti itu adalah rumahnya. Sekarang terasa seperti negeri yang pintunya dikunci dari dalam.
"Aku tidak akan mundur," katanya.
Ia tak tahu dari mana kata-kata itu datang. Ia mendengarnya keluar dari mulutnya dan sebagian dirinya ngeri. Tapi ada sesuatu yang lebih tua dari ketakutan, sesuatu yang telah menahannya di depan upright tua ber-nada-B-fals sejak ia kecil, dan sesuatu itu tak mau menunduk pada anak dengan mantel wol.
Senyum Bramantyo menyusut. "Kau pikir ini gertakan."
"Aku tidak tahu ini apa," kata Arsa. Suaranya bergetar, tapi ia tak berhenti. "Aku cuma tahu kalau aku mundur karena kau, maka kau benar—aku memang sudah selesai. Dan aku belum. Belum." Ia menarik napas yang terasa merobek. "Lakukan apa maumu. Bicara pada Ibu Widari. Tapi aku tidak akan menyerahkan tempatku sendiri padamu supaya kau bisa merasa bersih."
Mereka berdiri berhadapan, dua langkah terpisah, koridor kosong di antara mereka. Bramantyo menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya Arsa tak bisa membaca apa yang ada di balik mata itu—apakah kemarahan, atau perhitungan, atau barangkali, sangat samar, semacam terkejut.
"Baiklah," kata Bramantyo akhirnya, pelan. Ia merapikan mantelnya yang tak perlu dirapikan. "Kalau begitu kita lihat berapa lama tanganmu bertahan di bawah lampu, Arsa Pradipta. Aku tak perlu bilang apa-apa pada siapa pun. Aku cuma perlu duduk di baris depan dan menunggu."
Ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya tenang di atas marmer, tak sekali pun menoleh. Arsa berdiri sendirian di depan papan pengumuman, namanya masih tertempel di sana bersama nama-nama lain, dan tangan kanannya, di dalam saku lagi, menekuk sekali, dua kali, seperti menghitung mundur sesuatu yang tak bisa ia hentikan.