Papan pengumuman peringkat tergantung di dinding aula utama, tepat di bawah potret besar Eyang Wreksodiningrat yang mengenakan jas hitam dan menatap lurus ke arah siapa pun yang berhenti untuk membacanya. Arsa berhenti di sana pagi itu, di antara mahasiswa lain yang bergerombol sambil berbisik, dan mencari namanya di deretan atas seperti biasa.
Ia tidak ada di sana.
Ia menemukannya tiga baris di bawah tempat yang biasa ia tempati, terselip di antara nama-nama yang selama ini hanya ia kenal sebagai wajah lewat di koridor. Angka di sebelah namanya—angka yang bulan lalu membuat Profesor Danupraja mengangguk tipis, satu-satunya pujian yang pernah ia terima dari orang itu—kini lebih kecil. Di baris paling atas, tempat yang dulu ia rebut susah payah, tertulis nama Bramantyo dengan huruf tegas dan tinta yang seakan lebih hitam dari nama-nama lain.
“Turun lagi,” kata seseorang di belakangnya, bukan padanya, tapi cukup keras untuk didengar.
Arsa tidak menoleh. Ia sudah tahu suara siapa itu tanpa perlu melihat—salah satu pengikut Bramantyo, yang belakangan selalu kebetulan berada di dekatnya saat papan itu diperbarui.
Ia berjalan ke ruang latihan paling ujung, tempat upright bekas yang menjadi wilayahnya sejak hari pertama, dan duduk tanpa membuka tutup tuts. Tangannya—terutama jari manis kanan—masih terasa seperti benda pinjaman yang enggan menurut, dan dua minggu terakhir dua penilaian berturut-turut telah membuktikan itu di depan juri. Bukan kegagalan yang mencolok. Ia sudah cukup pandai menyamarkannya: penjarian ulang di sini, tempo yang sedikit ia lambatkan di sana, satu frasa yang ia mainkan dengan tangan kiri memimpin agar tangan kanan hanya perlu mengikuti bayang-bayang. Tapi juri bukan orang bodoh, dan ketidaksempurnaan yang disamarkan tetaplah ketidaksempurnaan yang terdengar—hanya dengan wajah yang berbeda.
Ia membuka tutup tuts, memandangi gading yang sudah menguning di ujung-ujungnya, dan tidak memainkan apa-apa.
Panggilan dari kantor Ibu Widari datang siang itu, dibawa oleh salah satu staf administrasi yang menyerahkan secarik memo tanpa banyak kata. Arsa membacanya dua kali sebelum melipatnya dan memasukkannya ke saku, seolah dengan menyembunyikan kertas itu ia bisa menyembunyikan juga apa yang tertulis di baliknya.
Ruang kerja Ibu Widari selalu terasa seperti ruang yang tak pernah membiarkan siapa pun nyaman terlalu lama—kursi-kursi kayu keras, jam dinding yang detaknya terlalu jelas, dan map-map yang tersusun rapi seperti barisan tentara. Ibu Widari sendiri duduk di balik meja dengan map terbuka di depannya, dan Arsa tahu, tanpa perlu melihat isinya, bahwa itu adalah salinan hasil penilaiannya.
“Duduk,” katanya, dan Arsa duduk.
Ibu Widari tidak segera bicara. Ia menutup map itu perlahan, seolah memberi waktu bagi keduanya untuk menyiapkan diri pada apa yang akan diucapkan.
“Peringkatmu turun untuk kedua kalinya bulan ini,” katanya akhirnya. “Bulan lalu aku masih bisa menyebutnya kebetulan. Sekarang aku tidak bisa lagi.”
“Saya sedang mencoba repertoar yang lebih sulit, Bu,” kata Arsa, dan mendengar sendiri betapa kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sudah ia latih di kepala sejak tadi malam. “Profesor Danupraja memberi karya baru yang—”
“Aku tidak bertanya tentang repertoar.” Suara Ibu Widari tidak meninggi, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Arsa berhenti bicara lebih cepat daripada bila ia dibentak. “Aku bertanya tentang kau.”
Arsa memandang tangannya sendiri di pangkuan, lalu memaksa dirinya mengangkat wajah.
“Kau tahu syarat yang kau tanda tangani,” lanjut Ibu Widari. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan salinan kontrak itu sendiri—kertas yang sama yang pernah membuat Arsa merasa girang sekaligus terjerat di ruangan ini, berbulan-bulan lalu. “Peringkat tinggi dipertahankan, atau piano itu kembali ke ruang penyimpanan. Aku tidak membuat aturan itu untuk menyiksamu. Aku membuatnya karena warisan Eyang Wreksodiningrat bukan hadiah untuk dibiarkan berkarat di tangan yang tidak lagi menghormatinya.”
“Saya menghormatinya,” kata Arsa, dan suaranya nyaris pecah pada kata itu.
“Aku percaya kau menghormatinya.” Untuk sesaat wajah Ibu Widari melunak, dan Arsa teringat cerita tentang Eyang Wreksodiningrat yang pernah ia dengar dari perempuan ini sendiri—kisah yang berakhir “secara misterius”, katanya waktu itu, dengan nada yang kini, diingat kembali, terasa seperti sesuatu yang sengaja disamarkan. “Tapi menghormati saja tidak cukup untuk yayasan ini. Ada laporan yang harus kubuat pada dewan setiap semester. Ada nama-nama lain yang menunggu kesempatan yang sedang kau pegang.”
Ia tidak menyebut Bramantyo, tapi tidak perlu. Nama itu sudah berdiri sendiri di papan pengumuman, di baris paling atas.
“Aku memberimu satu semester lagi,” kata Ibu Widari, menutup map itu lagi. “Kalau peringkatmu tidak kembali, aku tidak akan punya alasan untuk menahan piano itu tetap di tanganmu. Bukan karena aku ingin mengambilnya. Tapi karena aku terikat pada aturan yang sama sepertimu.”
Arsa mengangguk, karena itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan tanpa membiarkan suaranya mengkhianatinya seperti tangannya sendiri.
Ia berjalan keluar dari kantor itu dengan langkah yang berusaha ia buat tegap, melewati koridor marmer yang dulu membuatnya merasa seperti ikan di darat pada hari pertama, dan sekarang terasa seperti lorong yang perlahan menyempit. Di ujung koridor, sekilas, ia melihat Bramantyo bersandar di dekat jendela, tidak berkata apa-apa, hanya memandanginya dengan sesuatu di matanya yang lebih tajam daripada ejekan biasa—sesuatu yang menyerupai perhitungan.
Malam itu, di ruang latihan yang sepi, Arsa meletakkan kedua tangannya di atas tuts upright dan tidak menekan satu pun. Ia mendengar, jauh di dasar kepalanya, nada B yang selalu fals itu—dari piano lain, di gereja lain, di kota lain—dan untuk pertama kalinya ia tidak yakin apakah suara itu masih menjadi bagian dari bakatnya, atau sudah berubah menjadi pertanda tentang seberapa cepat semua yang telah ia bangun bisa runtuh.