Ruang piano itu selalu terasa seperti gereja lain baginya—langit-langitnya tinggi, cahaya lampu kristal jatuh miring di atas tutup grand piano yang mengilap seperti air tenang. Malam itu, setelah semua mahasiswa lain pulang, Arsa masih di sana, duduk di depan tuts dengan jari manis kanannya yang ia tekuk paksa ke arah berlawanan, lalu lepaskan, lalu tekuk lagi—latihan diam-diam yang ia pelajari sendiri dari forum-forum warnet, seolah tangan bisa dijinakkan seperti binatang liar kalau cukup sabar dipukul pelan.
Ia tak mendengar pintu terbuka. Yang ia dengar adalah suara kunci—satu klik kecil, logam menggesek logam—dari arah bangku piano, tempat Ibu Widari berlutut membuka laci di bawah dudukan, laci yang selama ini Arsa kira cuma menyimpan kain lap dan minyak kayu.
"Kau masih di sini." Ibu Widari tidak menoleh. Nadanya bukan pertanyaan.
Arsa buru-buru menyembunyikan tangannya di bawah meja, seolah itu barang curian. "Saya mau merapikan penjarian, Bu. Sebentar lagi pulang."
Ibu Widari mengangkat sesuatu dari laci itu—kotak kayu kecil, sudah pudar warnanya, dengan engsel yang berderit ketika dibuka. Di dalamnya ada tumpukan kertas menguning: program resital lama, beberapa lembar partitur bertuliskan tangan penuh coretan penjarian, dan sebuah foto hitam-putih seorang pria berjas menghadap grand piano yang sama—piano yang malam itu juga berdiri di hadapan Arsa, tak berubah, seakan waktu hanya berlaku pada manusia.
"Kau tahu kenapa piano ini tak pernah dijual, meski yayasan sering kesulitan dana?" Ibu Widari duduk di kursi kayu di sudut ruangan, kotak itu di pangkuannya. "Karena ini bukan warisan kekayaan. Ini kuburan."
Arsa diam. Ia ingat malam pertama ia menandatangani kontrak peminjaman—Ibu Widari pernah menyebut karier Eyang Wreksodiningrat "berakhir secara misterius," lalu menutup topik itu seperti menutup peti. Sekarang, entah kenapa, peti itu terbuka sendiri.
"Eyang berhenti tampil di depan umum tahun keempat puluh dua usianya," kata Ibu Widari, suaranya rata, seperti orang membaca daftar belanja. "Ia masih menerima undangan. Ia masih menulis balasan yang sopan. Tapi ia tak pernah lagi duduk di kursi ini di depan penonton. Orang-orang mengira ia sombong, atau sedang menulis magnum opus yang tak kunjung selesai. Tak seorang pun tahu yang sebenarnya, kecuali keluarga dekat—dan aku, karena aku dulu murid terakhirnya."
Ia membuka salah satu lembar partitur, menyodorkannya tanpa berdiri, memaksa Arsa mendekat untuk mengambilnya. Di sana, di margin kanan, ada coretan berulang-ulang—bukan penjarian biasa, melainkan diagram jari yang dicoba-ubah lagi dan lagi, seperti seseorang mencari jalan pintas mengelilingi sesuatu yang buntu.
"Jari manisnya," kata Ibu Widari, dan Arsa merasa dadanya berhenti sebentar, "menekuk sendiri kalau ia memainkan pasase cepat tertentu. Awalnya cuma di satu karya. Lalu di karya lain. Lalu di hampir semua karya yang menuntut kecepatan itu. Ia bilang itu kelelahan. Ia bilang itu usia. Ia melatihnya makin keras, dan makin keras ia melatih, makin parah jarinya membangkang."
Setiap kata itu jatuh seperti batu ke dalam sumur yang sudah Arsa kenal isinya. Ia menahan napas, menahan wajahnya supaya tak berubah, tapi tangannya sendiri—tangan yang tadi ia sembunyikan di bawah meja—terasa berdenyut seolah ikut disebut namanya.
"Dokter waktu itu tak punya nama untuk itu," lanjut Ibu Widari. "Mereka bilang itu histeria, atau saraf yang lemah, atau ia kurang berlatih—padahal ia berlatih sampai jarinya berdarah di bawah plester. Sekarang orang punya istilah untuk itu, katanya. Momok diam para pianis, semacam itu. Tapi Eyang mati tanpa pernah mendengar nama penyakitnya sendiri. Ia hanya tahu satu hal: tangannya, yang selama empat puluh tahun taat padanya, tiba-tiba menolak."
Arsa memandang tuts-tuts gading di depannya, dan untuk pertama kalinya sejak ia duduk di kursi itu, ia melihatnya bukan sebagai singgasana melainkan sebagai batu nisan yang dipoles tiap minggu supaya tak seorang pun curiga siapa yang dikuburkan di baliknya.
"Kenapa Ibu simpan piano ini kalau—" ia berhenti, tak sanggup menyelesaikan kalimatnya sendiri.
"Kalau itu piano yang tak lagi bisa dimainkan pemiliknya?" Ibu Widari menutup kotak kayu itu pelan-pelan, seolah menutup mata orang yang baru meninggal. "Karena ia memintanya begitu. Ia bilang, biar ada yang lain yang memainkannya dengan tangan yang masih patuh. Ia tak mau instrumen ini ikut mati bersamanya. Tapi ia juga tak pernah sanggup mendengar orang lain memainkannya di depannya. Konon ia menutup telinga tiap kali ada murid berlatih di ruangan ini, sepuluh tahun terakhir hidupnya."
Ada jeda panjang, hanya suara AC yang mendesis, dan Arsa merasa ruangan itu tiba-tiba jauh lebih dingin daripada tadi.
"Kenapa Ibu ceritakan ini pada saya?" tanyanya akhirnya, suaranya lebih kecil dari yang ia inginkan.
Ibu Widari menatapnya lama—terlalu lama, pikir Arsa, seakan-akan ia sedang membandingkan sesuatu di wajah Arsa dengan sesuatu di foto hitam-putih itu. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Karena kau memegang piano ini sekarang. Aku ingin kau tahu apa yang kau pegang. Bukan cuma kayu dan senar. Ada nasib orang di dalamnya."
Ia berdiri, meletakkan kotak itu kembali ke laci, mengunci lagi dengan klik yang sama kecilnya. "Peringatan itu bukan cuma soal peringkatmu, Arsa. Kontrak yang kau tanda tangani bukan cuma soal angka. Tuhan tahu instrumen ini sudah cukup sering jadi bagian dari kehancuran seseorang."
Ia keluar tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Arsa sendirian dengan jari manis yang masih sedikit menekuk di bawah meja, dengan foto hitam-putih yang masih terbayang di kepalanya, dan dengan satu pikiran yang tak sanggup ia usir: bahwa mungkin ia sedang duduk tepat di kursi yang sama, memainkan takdir yang sama, hanya berbeda beberapa dekade dan satu nama penyakit yang, ternyata, tak menyelamatkan siapa pun.