Ruang kerja Profesor Danupraja terletak di ujung koridor lantai tiga, tempat cahaya sore masuk miring lewat jendela tinggi dan jatuh ke atas tumpukan partitur yang menguning. Arsa berdiri di ambang pintu, jari-jari kanannya ia sembunyikan di saku, seolah kain celana bisa menahan kejang yang tadi membongkar segalanya di depan kelas. Ia menunggu bentakan. Ia sudah menyiapkan diri untuk dipermalukan sekali lagi.
Tetapi Danupraja tidak membentak. Profesor itu duduk di kursi kayunya, memandang ke luar jendela, dan untuk pertama kalinya sejak Arsa mengenalnya, wajah lelaki itu tampak tua.
"Tutup pintunya," kata Danupraja. Suaranya pelan, tanpa logam yang biasa.
Arsa menurut. Klik kenop terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi. Ia tetap berdiri, tak berani duduk sebelum dipersilakan.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kulihat tadi." Danupraja tidak bertanya. Ia mengambil sesuatu dari laci — sebuah kaset lama, kotaknya retak, labelnya ditulis tangan dengan tinta yang sudah pudar. Ia meletakkannya di meja, tepat di antara mereka, seperti bukti dalam sebuah pengadilan. "Konser tahun delapan puluh tujuh. Gedung Kesenian. Aku dua puluh tiga tahun, dan orang-orang menyebutku masa depan piano negeri ini."
Arsa memandang kaset itu, lalu memandang tangan sang profesor. Tangan itu terlipat di atas meja, tenang. Tapi Arsa yang punya mata seorang yang sedang sekarat oleh penyakit yang sama kini melihat apa yang selama ini luput: kelingking kiri Danupraja sedikit menekuk ke dalam, tak pernah benar-benar lurus, seolah menyimpan rahasianya sendiri selama puluhan tahun.
"Aku memainkan Rachmaninov malam itu," lanjut Danupraja. Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Konserto ketiga. Bagian paling sulit yang ditulis manusia untuk sepuluh jari. Dan aku menaklukkannya. Aku ingat setiap tepuk tangan, setiap wajah yang berdiri. Aku pulang malam itu dan berpikir tidak ada yang bisa menghentikanku."
Ia berhenti. Di luar, seekor burung menclok di kusen jendela, lalu terbang lagi.
"Enam bulan kemudian jari manisku mulai menekuk sendiri di tengah oktaf." Danupraja mengucapkannya datar, seperti membaca berita orang lain. "Awalnya di pasase cepat saja. Aku pikir aku hanya lelah. Aku berlatih lebih keras. Kau tahu apa yang terjadi kalau kau melawan tangan yang begini dengan latihan lebih keras, Arsa?"
Arsa menelan ludah. "Makin parah," bisiknya.
"Makin parah." Danupraja mengangguk sekali. "Semakin kupaksa, semakin ia memberontak. Seolah tubuhku sendiri memutuskan bahwa ia tak sudi lagi menuruti perintahku. Aku pergi ke dokter di tiga negara. Aku menjual apa saja yang bisa dijual. Tak ada yang bisa memulangkan apa yang hilang." Ia menatap Arsa lurus-lurus. "Namanya distonia fokal. Kau sudah tahu itu sekarang, bukan? Tak perlu kupura-pura kau belum mendengarnya dariku dua hari lalu."
Arsa merasa lantai seakan miring di bawah kakinya. Selama berbulan-bulan ia membenci lelaki ini — kekejamannya, metronom yang tak kenal ampun, hinaan yang dijatuhkan di depan seisi kelas. Dan sepanjang itu, di balik meja yang sama, duduk seseorang yang telah kehilangan persis apa yang kini sedang direnggut dari Arsa.
"Kenapa Profesor tidak pernah cerita," kata Arsa, dan suaranya pecah di tengah kalimat.
"Cerita untuk apa?" Danupraja balas dengan tenang. "Supaya kalian mengasihaniku? Aku tak butuh kasihan. Aku memilih hal lain." Ia bangkit, berjalan ke jendela, memunggungi Arsa. "Aku memilih menjadi guru yang paling kubenci semasa muda. Guru yang menghitung setiap ketegangan di pergelangan tanganmu, yang berteriak kalau kau menekan tuts dengan bahu, yang tak membiarkan satu pun kebiasaan buruk lewat. Kau pikir aku keras karena aku membencimu?"
Ia berbalik. Matanya basah, dan ia tidak menyembunyikannya.
"Aku keras karena aku mengenali dirimu. Sejak hari pertama kau masuk dengan sepatu bututmu dan telinga ajaibmu itu, aku melihat diriku sendiri. Kesombongan yang sama. Cara memaksa tangan yang sama. Aku bersumpah aku tak akan membiarkan satu murid pun berjalan ke jurang yang sama tanpa kuperingatkan." Suaranya mengeras, tetapi kali ini bukan oleh amarah. "Dan kau tetap berjalan ke sana. Kau sembunyikan dari aku, dari semua orang, persis seperti yang dulu kulakukan. Kau kira menyembunyikannya akan membuatnya pergi."
Arsa tak sanggup menjawab. Air mata mengalir tanpa izin, panas di pipinya. Ia teringat semua malam di Ruang Latihan 7, membor pasase yang gagal, meyakinkan diri bahwa besok akan lebih baik. Ia teringat bohongnya pada Renjana, pada ibunya, pada profesor yang kini berdiri di hadapannya dengan kelingking yang tak pernah lurus.
"Aku tidak mau berhenti," kata Arsa akhirnya, hampir tak terdengar.
Danupraja memandangnya lama. Lalu ia mengambil kaset retak itu dari meja dan mengembalikannya ke laci, menutupnya pelan.
"Aku juga dulu tidak mau," katanya. "Butuh dua puluh tahun bagiku untuk mengerti bahwa berhenti bermain bukan berarti berhenti menjadi musisi. Aku tak berharap kau mengerti itu sekarang. Kau masih terlalu muda, dan lukanya masih terlalu baru." Ia berjalan kembali ke kursinya, dan ketika ia duduk, ia kembali menjadi profesor yang dikenal Arsa — punggung tegak, suara terkendali. "Tapi ada satu hal yang tidak akan kau lakukan mulai hari ini. Kau tidak akan berbohong padaku lagi. Tidak soal tanganmu."
"Ibu Widari—" Arsa memulai, ketakutan menusuk dadanya. Kontrak. Klausa cedera. Grand piano yang akan ditarik seketika.
"Aku tahu soal kontrak itu." Danupraja memotong. "Aku tak akan menjadi orang yang melaporkanmu. Tapi aku juga tak akan membiarkanmu menghancurkan sisa tanganmu demi menyembunyikan yang tak bisa disembunyikan selamanya." Ia menunjuk pintu dengan dagunya. "Pulanglah. Istirahatkan tangan itu — benar-benar istirahat, bukan pura-pura. Besok kita mulai memikirkan apa yang masih mungkin."
Arsa berdiri, kakinya terasa asing. Di ambang pintu ia berhenti, ingin mengucapkan sesuatu — terima kasih, maaf, entah apa — tetapi tak ada kata yang cukup. Ia hanya menunduk sedikit.
Danupraja sudah kembali memandang ke luar jendela, ke cahaya yang mulai meredup. Kelingkingnya, yang menekuk itu, mengetuk-ngetuk pelan di atas meja — sebuah melodi yang tak akan pernah lagi ia mainkan di atas tuts.