Ruang kuliah nomor tiga sudah kosong ketika Arsa masuk, lebih pagi dari jadwal, sengaja. Ia ingin waktu untuk memanaskan tangan sendirian, mengulang trik yang sudah ia susun semalam suntuk di kamar kos: pasase yang dulu ia mainkan dengan jari manis kini ia bagi ke jari tengah dan kelingking, memutar pergelangan sedikit lebih awal supaya beban jatuh dari lengan, bukan dari sendi yang menolak perintah. Ia sudah menghafalnya sampai gerakan itu terasa seperti miliknya sendiri, bukan siasat.
Danupraja masuk tepat pukul yang tertera, meletakkan tasnya di kursi tanpa suara, dan langsung berkata, "Mainkan dari birama tiga puluh dua."
Arsa duduk di depan grand piano warisan—ia masih diizinkan menyentuhnya, untuk sementara, selama nilainya bertahan—dan mulai. Ia sudah menghitung setiap not yang berbahaya sebelum jarinya sampai ke sana, menyiapkan jalan memutar seperti orang yang menghindari lubang di jalan yang gelap. Ketika pasase itu tiba, ia melompatinya dengan penjarian barunya, halus, nyaris tak kentara kalau telinga yang mendengarkan bukan telinga yang sudah hafal setiap versi dirinya selama berbulan-bulan.
Ia menyelesaikan bagian itu dan menghela napas kecil yang ia sembunyikan di balik pernapasan frasa musik.
Danupraja tidak bicara.
Diamnya lebih lama dari biasanya. Biasanya ia akan langsung mencecar—salah tempo di sini, pedal kotor di situ, kau pikir ini kafe kau bisa main seenaknya. Tapi kali ini ia hanya berdiri di samping piano, tangannya terlipat, matanya menatap bukan wajah Arsa, melainkan tangan kanannya yang masih bertengger di atas tuts.
"Ulangi," katanya akhirnya. "Penjarian yang tertulis di partitur. Bukan yang barusan kaupakai."
Perut Arsa mengencang. "Penjarian ini lebih nyaman, Profesor. Saya sudah coba dan—"
"Ulangi yang tertulis."
Tidak ada pilihan selain menurut. Arsa menarik napas, meletakkan jari manis kanan tepat di posisi yang sudah lama ia hindari, dan menekan.
Yang terjadi bukan bunyi yang salah. Yang terjadi lebih buruk: jarinya menekuk sepersekian detik sebelum menyentuh tuts, seperti ada tangan lain yang menariknya lebih dulu, dan not yang keluar terlambat, kabur, nyaris tenggelam di bawah not-not lain. Telinganya sendiri—telinga yang bisa memisahkan nada B fals dari sekian ratus bunyi gereja—mendengarnya sejelas lonceng pecah.
Ia berhenti. Tangannya turun ke pangkuan.
"Saya capek," katanya, terlalu cepat. "Semalam saya latihan sampai jam tiga."
"Kau bilang begitu tiga minggu lalu."
"Saya sudah ke dokter, Profesor. Sudah—sudah membaik. Ini cuma soal jam tidur."
Kalimat itu keluar begitu lancar hingga Arsa sendiri hampir percaya. Ia sudah melatihnya juga, kalimat itu, di depan cermin kos yang retak di sudut, sama telatennya seperti ia melatih penjarian barunya. Ia sudah menyiapkan nada suara yang tepat, jeda yang tepat, supaya terdengar seperti orang yang sedang menceritakan masalah kecil yang sudah lewat.
Danupraja tidak menjawab segera. Ia melangkah, bukan mendekat ke Arsa, melainkan ke jendela, membelakangi muridnya sebentar—hal yang tidak pernah ia lakukan, karena biasanya ia justru mendekat saat marah, menjulang di atas bangku piano seperti hendak menghakimi dari jarak sedekat mungkin. Kali ini punggungnya kaku, satu tangannya terangkat tanpa sadar, menggenggam sendiri jari manisnya sendiri, memijatnya sekilas seolah memeriksa sesuatu yang lama tak ia sentuh.
"Dokter mana?" tanyanya, masih menghadap jendela.
"Rumah sakit dekat kos, Profesor. Umum saja."
"Nama dokternya."
Arsa terdiam. Ia tidak menyangka akan ditanya sejauh itu. "Saya—saya lupa, Profesor, itu dokter jaga, bukan spesialis tetap—"
"Kau bohong."
Bukan bentakan. Itu yang membuat Arsa justru lebih takut daripada kalau Danupraja berteriak. Suara itu datar, hampir lelah, seperti orang yang sudah pernah mendengar kalimat yang sama, dari mulut yang lain, bertahun-tahun lalu, dan tahu persis bagaimana ceritanya akan berakhir kalau dibiarkan.
Danupraja berbalik. Wajahnya tidak semarah yang biasa Arsa lihat ketika sebuah oktaf meleset atau sebuah tempo diseret. Ada sesuatu di sana yang lebih rumit—kilat kemarahan yang biasa, ya, tapi di baliknya sesuatu yang lebih tua, lebih pelan, seperti luka yang disentuh tanpa sengaja oleh orang yang tidak tahu luka itu ada.
"Aku sudah melihat penjarian kompensasi seumur hidupku mengajar," katanya. "Redistribusi beban ke jari yang sehat. Rotasi pergelangan lebih awal untuk menyembunyikan keterlambatan. Memilih repertoar yang menghindari pasase tertentu tanpa terlihat menghindar. Kau pikir aku baru kemarin lahir, Arsa?"
Arsa tidak bisa menjawab. Tenggorokannya terlalu sempit untuk kata apa pun.
"Kau kira aku akan marah karena kau berbohong soal jam tidur," lanjut Danupraja, suaranya menurun lagi, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Aku marah karena kau pikir aku tidak akan tahu bedanya."
Ia berhenti sebentar, seolah hendak mengatakan sesuatu yang lebih jauh, sesuatu tentang dirinya sendiri, tentang tangan yang pernah ia miliki dan kehilangan cara memainkannya—tetapi kalimat itu ia telan kembali, seperti pintu yang nyaris terbuka lalu ditutup paksa oleh tangan yang sama yang membukanya.
"Kembali ke dokter," katanya akhirnya, dingin lagi, seperti tirai yang jatuh menutup panggung. "Dokter yang sebenarnya. Bawa hasilnya kepadaku minggu depan. Dan jangan pernah lagi mainkan penjarian bohong di depanku—bukan karena aku ingin menghukummu. Karena aku sudah pernah melihat ke mana ujungnya, dan aku tidak sanggup melihatnya dua kali."
Ia mengambil tasnya, meninggalkan ruangan tanpa menutup pintu, dan Arsa duduk sendirian di depan grand piano warisan, tangan kanannya masih gemetar di atas tuts yang belum sempat ia sentuh lagi, mencoba mengurai satu kalimat yang baru saja terdengar—melihat ke mana ujungnya—dan tidak berani bertanya apa artinya.