Kertas itu tak lebih besar dari selembar struk warung, tapi angka di baris ketiga membuat mata Arsa berhenti seperti jarum piringan hitam yang tersangkut.
"Empat juta lima ratus," kata petugas administrasi, tanpa menoleh dari layar komputernya, seolah itu angka biasa yang diucapkan seratus kali sehari. "Itu untuk satu kali suntik, satu titik injeksi. Bapak/Ibu dokter bilang butuh beberapa titik di lengan bawah dan telapak tangan, jadi bisa dua kali lipat. Dan itu belum termasuk konsultasi ulang."
"Berapa kali harus diulang?" suara Arsa keluar lebih kecil dari yang ia niatkan.
"Tergantung respons. Biasanya tiap tiga sampai empat bulan. Bertahun-tahun, kalau memang itu jenis yang kambuhan." Perempuan itu akhirnya mendongak, mungkin karena diam Arsa terlalu lama untuk sekadar mencerna harga. "BPJS bisa nanggung sebagian kalau dari jalur rujukan, tapi obatnya sendiri di luar tanggungan—itu kebijakan rumah sakit, bukan saya yang atur, Dik."
Arsa melipat kertas itu jadi empat, lalu delapan, sampai teksturnya kasar di antara jarinya—jari yang sama yang beberapa minggu lalu menekuk sendiri di depan separuh kelas masterclass. Ia mengucapkan terima kasih yang tak benar-benar keluar dari dadanya, dan berjalan keluar dari gedung rumah sakit yang berbau karbol dan uang yang tak ia punya.
Di luar, matahari Surabaya menghantam ubin trotoar dengan cara yang biasanya tak pernah ia perhatikan. Ia duduk di halte, membuka kembali lipatan kertas itu, membaca ulang angka seolah kalau dibaca cukup sering, ia akan menyusut sendiri.
Empat juta lima ratus ribu. Dikali dua titik. Dikali entah berapa bulan, berapa tahun.
Ponselnya bergetar tepat saat ia sedang menghitung, seakan dunia sengaja menakar waktu untuk menyakitinya lebih dalam.
"Le," suara ibunya, agak jauh, seperti berdiri di teras yang menghadap jalan. "Pak Pendeta bilang atapnya nggak bisa nunggu musim hujan lagi. Yang kemarin cuma ditambal terpal, tapi terpalnya juga udah sobek kena angin. Tukangnya bilang paling nggak butuh satu setengah juta buat seng sama upah."
"Satu setengah," ulang Arsa pelan, seperti mengunyah sesuatu yang keras.
"Iya. Ibu udah coba nabung dari uang belanja, tapi baru kekumpul tiga ratus. Ayahmu juga—" ibunya berhenti, dan dalam jeda itu Arsa bisa mendengar apa yang tak dikatakan: bahwa order servis kulkas makin sepi, bahwa tangan ayahnya belum sepenuhnya pulih dari cedera dulu, bahwa rumah mereka berjalan di atas utang kecil-kecil yang menumpuk diam-diam seperti debu di sudut yang tak pernah disapu.
"Nanti Arsa kirim," katanya, sebelum sempat berpikir dari mana uang itu akan datang. Itu jawaban yang keluar bukan dari perhitungan, tapi dari refleks seorang anak yang tak pernah bisa mendengar ibunya cemas tanpa ingin segera menghentikannya.
Setelah panggilan itu berakhir, Arsa duduk lama di halte, membiarkan dua angka itu berdampingan di kepalanya seperti dua nada yang seharusnya tak pernah dimainkan bersamaan: satu setengah juta untuk seng gereja, empat juta lima ratus untuk satu suntikan yang bahkan tak menjanjikan kesembuhan, hanya kemungkinan.
Ia membuka amplop yang selama ini ia simpan di dasar tasnya—hasil mengiringi keyboard di dua acara kawinan bulan lalu, upah yang seharusnya sudah ia kirim minggu ini juga. Delapan ratus ribu. Ia menghitungnya tiga kali, seolah angka itu bisa berubah kalau dihitung cukup sabar.
Delapan ratus ribu tak akan cukup untuk suntikan sebelah tangan pun. Delapan ratus ribu, ditambah tabungan tiga ratus ibunya, hampir cukup untuk seng gereja.
Ia tahu jawabannya sebelum benar-benar mengizinkan dirinya berpikir jernih tentangnya—dan justru karena tahu itulah dadanya terasa seperti ditekan meja piano yang jatuh menimpanya pelan-pelan, bukan sekali hantam, tapi berat yang menekan terus tanpa jeda.
Kalau ia kirim uang itu ke Wonokromo, atap gereja akan tertutup sebelum musim hujan, ibunya akan berhenti terjaga tiap kali mendung, dan Pak Pendeta bisa berkhotbah tanpa mendongak cemas ke langit-langit yang menetes. Tapi tangannya akan menekuk lebih jauh, latihan makin memburuk, dan cepat atau lambat Ibu Widari akan melihatnya—satu kali salah nada di ruang latihan, satu kali ia gagal menyembunyikan gemetar itu di depan Profesor Danupraja—dan grand piano warisan itu akan ditarik sebagaimana kontrak yang ia tanda tangani sendiri dulu dengan tangan yang masih utuh.
Kalau ia simpan uangnya untuk suntikan, atap gereja akan terus bocor, dan ia akan membayangkan tetesan air jatuh tepat di kepala ibunya yang berdoa, sementara ia duduk di ruang latihan Institut Musik Wreksodiningrat, menyuntikkan sesuatu ke lengannya sendiri yang bahkan tak dijamin akan bekerja.
Tak ada jalan yang tak melukai seseorang yang ia cintai.
Ia memasukkan kembali amplop itu ke tasnya, dan berjalan ke arah kantor pos alih-alih kembali ke kos. Tangannya sendiri yang menuliskan jumlah kiriman di formulir—delapan ratus ribu, penuh, tanpa disisakan sepeser pun untuk dirinya.
Petugas loket menyodorkan resi. Arsa menerimanya dengan tangan kanan, dan untuk sepersekian detik, sebelum ia sempat menahannya, jari manisnya menekuk sendiri di atas kertas tipis itu—seolah tubuhnya sendiri sudah tahu keputusan macam apa yang baru saja ia buat, dan sedang memberi tahu, dengan caranya yang paling jujur dan paling kejam, bahwa harga itu belum lunas.