Antrean di rumah sakit umum itu bergerak seperti jam yang kehabisan pegas. Arsa Pradipta duduk di bangku besi panjang, di antara seorang perempuan tua yang batuk basah dan bapak-bapak dengan lengan digips, menggenggam nomor antrean yang sudah lembek oleh keringat telapaknya. Bau di lorong itu campuran karbol, keringat orang banyak, dan sesuatu yang manis-getir yang ia tak bisa namai. Absolute pitch-nya, yang tak pernah bisa ia matikan, malah menangkap dengung lampu neon di langit-langit — nada yang meleset sedikit di bawah B, seolah bahkan gedung ini pun fals seperti upright gereja di Wonokromo. Ia meremas tangan kanannya di dalam saku jaket, menyembunyikannya seakan tangan itu sesuatu yang memalukan.
"Arsa Pradipta," panggil suster dari balik loket.
Ruang praktik Dr. Prasetya sempit, dindingnya kuning gading yang mengelupas di sudut. Di atas meja tergeletak map cokelat berisi hasil pemeriksaan yang harus Arsa cicil bayarnya — uang yang seharusnya untuk kos, untuk kiriman ke ibu. Dr. Prasetya seorang lelaki paruh baya dengan kacamata yang melorot dan suara yang anehnya pelan, seperti orang yang terbiasa mengabarkan hal-hal buruk dengan hati-hati.
"Silakan duduk." Ia membuka map itu tanpa buru-buru. "Saya sudah lihat hasil pemeriksaan minggu lalu, dan tadi saya minta kamu peragakan lagi. Boleh saya lihat sekali lagi? Coba gerakkan seperti kamu bermain. Yang cepat."
Arsa meletakkan tangan kanannya di tepi meja. Ia menutup mata sebentar, memanggil pasase Chopin yang telah menyiksanya berbulan-bulan, dan membiarkan jari-jarinya menari di permukaan kayu yang dingin. Satu, dua, tiga ketukan — lalu jari manisnya menekuk ke dalam, menarik dirinya sendiri seperti dikait benang tak terlihat, dan jari kelingking ikut mengeras. Ia menariknya kembali dengan tangan kiri, wajahnya panas.
"Itu tadi," kata Dr. Prasetya lembut, "bukan lelah. Bukan juga karena kurang latihan."
"Saya cuma perlu istirahat," Arsa memotong, terlalu cepat. "Kalau saya berhenti sebentar, dua minggu, sebulan—"
Dokter itu menatapnya, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat Arsa berhenti bicara. Bukan kasihan. Lebih seperti pengakuan.
"Namanya distonia fokal," kata Dr. Prasetya. "Yang kamu alami jenis yang task-specific — spesifik pada satu tugas. Artinya, tanganmu normal untuk hal lain. Kamu bisa memegang gelas, menulis, mengancingkan baju. Tapi begitu otakmu mengenali gerakan yang sudah kamu ulang puluhan ribu kali — bermain piano — sinyalnya kacau. Perintah untuk menekuk dan meluruskan datang bersamaan. Otot berebut. Tangan itu bukan mengkhianatimu karena rusak. Ia mengkhianatimu justru karena terlalu terlatih."
Ruangan itu terasa menyempit. Arsa mendengar suara jam dinding, detik demi detik, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia berharap absolute pitch-nya bisa dimatikan, agar ia tak lagi mendengar betapa jelas dan pastinya setiap kata itu jatuh.
"Kalau saya istirahat," ulangnya, nyaris berbisik, "berapa lama sampai pulih?"
Dr. Prasetya melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas map. "Saya tidak mau membohongimu, Nak. Distonia fokal tidak ada obat yang menyembuhkan total. Istirahat kadang mengurangi gejala, tapi begitu kamu kembali ke tekanan lama, ia sering datang lagi. Ada suntik botulinum toxin — botox — yang dimasukkan ke otot tertentu untuk melumpuhkannya sedikit, supaya tarikan itu berkurang. Untuk sebagian orang membantu."
Sesuatu di dada Arsa mengembang. "Botox. Berapa—"
"Mahal," dokter itu menjawab sebelum ia selesai, dan kata itu jatuh seperti pintu ditutup. "Bukan sekali suntik lalu selesai. Efeknya beberapa bulan, lalu harus diulang. Dan dosisnya harus pas — kalau terlalu banyak, tanganmu justru lemah, kehilangan tenaga yang kamu butuhkan untuk menekan tuts. Ini bukan tombol yang bisa mengembalikan kamu ke titik semula. Ini menukar satu masalah dengan masalah yang lebih ringan, kalau beruntung."
Arsa menatap tangannya sendiri yang tergeletak di pangkuan. Tangan yang sama yang dulu membuat Profesor Danupraja mengangguk tipis. Tangan yang membuat grand piano warisan Eyang Wreksodiningrat bernyanyi dengan warna yang belum pernah ia miliki. Kini tangan itu tampak asing, seperti alat orang lain yang keliru ia bawa pulang.
"Selain itu?" tanyanya, suaranya retak.
"Latih ulang. Retraining. Belajar bermain dari nol dengan gerakan yang berbeda, sangat lambat, sampai otakmu membangun jalur baru. Butuh berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun. Dan—" Dr. Prasetya berhenti, memilih kata seperti memilih pijakan di atas es tipis. "—dan mungkin kamu tak akan pernah persis sama seperti dulu. Saya harus jujur soal itu. Banyak pianis dengan kondisi ini tidak kembali ke panggung dengan cara yang lama."
Tak akan pernah sama. Kalimat itu berdenging di kepalanya, lebih nyaring daripada dengung neon, lebih fals daripada nada B mana pun.
"Saya punya ujian," kata Arsa, hampir pada dirinya sendiri. "Saya punya kompetisi. Ada audisi ke luar negeri. Saya—" Ia menghentikan diri sebelum menyebut piano yang bisa ditarik kapan saja, sebelum menyebut ibu yang menghitung uang di dapur, ayah yang cedera dan tak bisa lagi memperbaiki kulkas. Semua benang yang menahan hidupnya, tergantung pada sepuluh jari yang kini tak lagi menuruti perintah.
Dr. Prasetya menuliskan sesuatu di kertas resep, lalu berhenti, dan alih-alih menyerahkannya ia berkata pelan, "Saya tahu ini bukan yang kamu harap dengar. Tapi menutup mata tidak membuatnya hilang. Semakin keras kamu memaksa tangan yang begini, semakin dalam otakmu menanam pola yang salah. Yang paling mahal bukan botoxnya, Nak. Yang paling mahal adalah setiap malam kamu terus memaksanya seperti tidak terjadi apa-apa."
Arsa menerima kertas resep itu dengan tangan kiri. Tangan kanannya ia biarkan di pangkuan, diam, seperti burung yang sayapnya patah. Di luar jendela, langit Surabaya kelabu, dan lampu neon di atasnya masih berdengung di bawah B — fals, tak sempurna, dan kini terasa seperti satu-satunya suara di dunia yang mengerti dirinya.
Ia bangkit, mengucap terima kasih dengan suara yang nyaris tak keluar, dan melangkah ke lorong yang penuh orang sakit dan orang menunggu. Di sakunya, kertas resep itu terasa lebih berat daripada seluruh partitur yang pernah ia bawa. Ia belum tahu bagaimana ia akan membayarnya. Ia belum tahu bagaimana ia akan mengatakannya pada siapa pun. Yang ia tahu hanya satu: nama itu kini punya wujud, dan wujud itu tak bisa lagi ia sembunyikan dari cermin — hanya, untuk sementara, dari semua orang yang ia cintai.