Ibu Widari selalu datang tanpa pemberitahuan, seolah kejutan itu sendiri bagian dari kontrak. Arsa baru menyadari mobilnya terparkir di halaman institut ketika ia melewati jendela koridor menuju Ruang Resital Kecil, dan detik itu juga jantungnya melompat ke tenggorokan.
"Pukul empat," kata sekretaris Ibu Widari, seorang perempuan berkacamata yang selalu bicara seolah membaca daftar belanja. "Tinjauan berkala. Beliau ingin mendengar kemajuan repertoar kompetisi provinsi."
Tiga jam. Arsa punya tiga jam untuk memutuskan bagian mana dari dirinya yang boleh terlihat.
Ia mengunci diri di Ruang Latihan 7 dan membentangkan partitur di atas music stand—Chopin, Balada No. 1, karya yang sama yang membuat jari manisnya menekuk sendiri tiga minggu lalu di depan Danupraja, karya yang sudah bukan lagi soal musik baginya melainkan soal medan perang mana yang aman dipijak dan mana yang menyembunyikan ranjau.
Ia menandai pasase itu dengan pensil, delapan birama menjelang coda, tempat run cepat naik yang menuntut jari manis kanan menekan dan melepas dengan kecepatan yang sama sekali tak bisa ia percaya lagi. Ia menuliskan angka-angka penjarian baru di atas notasi asli: 2-1-2-3 menggantikan 2-3-4-3. Ibu jari dan telunjuk bergantian mengambil alih tugas yang seharusnya milik jari manis. Bunyinya akan sedikit berbeda—lebih legato di satu titik, kurang tajam di titik lain—tapi telinganya sendiri, telinga yang sama yang bisa membedakan nada B fals dari jarak sepuluh meter, memastikan tak ada yang akan curiga kecuali orang yang sama persis dengannya.
Ia berlatih pasase itu berulang-ulang dengan penjarian baru sampai tangannya hafal jalan aman itu seperti orang buta menghafal tikungan di lorong sendiri. Keringat membasahi punggungnya meski AC ruangan menyala penuh. Setiap kali jari manis itu bergerak tanpa perintah—refleks kecil, hampir tak kelihatan, seperti kedutan mata—ia berhenti, mengguncang tangannya, lalu mulai lagi dari birama sebelumnya.
Pukul setengah empat ia sudah bisa memainkan seluruh balada tanpa seorang pun yang tak tahu akan menyangka ada yang salah. Tapi ia tahu. Ia tahu di setiap not yang ia curangi, dan pengetahuan itu terasa seperti menelan batu kecil yang tak pernah benar-benar turun.
Ibu Widari menunggunya di Ruang Resital Kecil dengan cara duduk yang sama seperti biasa—punggung lurus, tangan bertaut di pangkuan, seolah kursi berlapis beludru itu tak cukup nyaman untuk disandari penuh. Di sampingnya ada map cokelat yang Arsa tahu berisi salinan kontrak peminjaman, meski ia tak pernah melihatnya dibuka.
"Mainkan bagian yang kau siapkan untuk provinsi," katanya, tanpa basa-basi.
Arsa duduk di depan grand piano warisan itu, instrumen yang timbrenya masih membuatnya merinding setiap kali ia menyentuhnya—begitu kaya, begitu jujur pada tiap gradasi dinamika, seolah piano itu sendiri sedang menguji apakah ia layak.
Ia mulai dari birama pertama. Tangannya bergerak dengan kepercayaan diri yang ia latih paksa, wajahnya menyusun ekspresi tenggelam-dalam-musik yang sebenarnya adalah topeng penghitung nomor jari. Ketika pasase berbahaya itu tiba, ia memperlambat sepersekian detik—terlalu halus untuk terdengar sebagai kesengajaan, cukup untuk memberi jari-jarinya waktu mengambil jalan yang sudah ia hafal.
Ia menyelesaikan balada itu tanpa cela yang kasat mata. Ruangan sunyi sesaat, hanya dengung dawai yang meredup.
"Penjarianmu berubah di bagian menjelang coda," kata Ibu Widari.
Perutnya mengeras. "Saya... mencoba pendekatan baru. Profesor Danupraja bilang ada cara membuat suara lebih legato di situ."
Itu bukan sepenuhnya bohong—Danupraja memang pernah bicara soal legato, hanya bukan untuk pasase ini, bukan dengan alasan ini. Arsa mendengar dirinya sendiri berbicara dan membenci betapa lancarnya kalimat itu keluar, seolah lidahnya sudah lebih dulu belajar berkhianat daripada jarinya.
Ibu Widari menatapnya lama. Ia bukan musisi, tapi bertahun-tahun mengurus yayasan yang menaungi anak-anak berbakat membuatnya punya insting sendiri—bukan untuk nada, tapi untuk orang yang menyembunyikan sesuatu. Arsa bisa merasakan tatapan itu meraba-raba, mencari retak di permukaan yang ia poles rapat-rapat.
"Peringkatmu masih di posisi kedua," katanya akhirnya. "Bagus. Kau tahu syaratnya."
"Saya tahu, Bu."
"Piano ini bukan hadiah, Arsa. Ini pinjaman dengan bunga yang dibayar lewat prestasi—dan lewat tubuh yang tetap utuh. Kalau salah satu jebol, aku tak punya pilihan selain menariknya kembali. Itu bukan aku yang kejam. Itu amanah almarhum yang harus kujaga."
"Saya mengerti," ujarnya, dan kali ini suaranya nyaris pecah, bukan karena bohong tapi karena terlalu benar.
Ibu Widari berdiri, merapikan roknya, lalu berhenti sejenak di ambang pintu. "Kalau ada apa-apa dengan tanganmu," katanya, tanpa menoleh, "aku ingin jadi orang pertama yang tahu. Bukan yang terakhir."
Arsa menatap punggungnya yang menjauh di koridor marmer, lalu menoleh ke tangan kanannya sendiri—yang masih gemetar halus, tersembunyi di bawah meja, jauh dari pandangan siapa pun. Ia mengepalkannya erat-erat, seolah dengan begitu ia bisa memaksa kebohongan itu tetap di tempatnya, tetap tak kelihatan, satu hari lagi.