Layar monitor itu satu-satunya cahaya yang jujur di antara deretan bilik yang berbau asap rokok basi dan mi instan. Pukul setengah dua belas lewat, dan warnet di ujung gang Wonokromo hanya menyisakan tiga penghuni: dua remaja yang menembaki musuh di layar sebelah dengan pekik yang teredam headset, dan Arsa Pradipta, yang menatap kursor berkedip di kolom pencarian seolah kursor itu bisa menolak diketik.
Ia mengetik pelan. Distonia fokal. Lalu menghapusnya. Lalu mengetiknya lagi. Seakan mengeja kata itu terlalu cepat akan menjadikannya nyata. Jari-jarinya menekan papan ketik yang lengket, dan ia menyadari — dengan geli yang getir — bahwa ia menghitung sentuhan itu seperti menghitung tuts. Telunjuk, tengah, manis. Manis. Ia menahan napas ketika jari manis kanannya menyentuh huruf, menunggu pengkhianatan yang tidak datang di atas plastik, hanya di atas gading.
Halaman pertama memuat kata-kata yang tampak sopan, klinis, dijaga jaraknya dari rasa takut. Gangguan gerak. Kontraksi otot yang tidak dikehendaki. Task-specific. Ia mengulang istilah terakhir itu di kepala, dan absolute pitch-nya, kutukan yang selalu mendengar terlalu banyak, seolah menerjemahkannya menjadi bunyi: sebuah nada yang hanya menyimpang saat lagu tertentu dimainkan, sempurna dalam diam, cacat dalam kerja.
Ia menggulir ke bawah.
Penyebab pasti belum diketahui. Kalimat itu berdiri sendirian di tengah paragraf, dan Arsa merasa dadanya melorot sedikit. Belum diketahui. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal yang tak diketahui — tak tahu apakah uang kiriman bulan depan cukup, tak tahu apakah atap gereja bertahan sampai musim hujan usai. Tapi ketidaktahuan tentang tubuhnya sendiri terasa lain. Seolah ada penyewa asing tinggal di dalam tangannya, dan tak seorang pun tahu siapa dia atau apa yang ia inginkan.
Ia mengklik tautan berikutnya, lalu berikutnya. Ada foto tangan-tangan di layar — jari-jari yang menekuk sendiri, melengkung ke dalam seperti akar yang mengering. Ia mengangkat tangan kanannya sendiri dari mouse dan memandanginya di bawah cahaya kebiruan monitor. Tangan itu tampak biasa. Kurus, buku-buku jari sedikit membesar karena latihan bertahun-tahun, kuku dipotong pendek rata. Tangan yang membawanya keluar dari gang ini menuju koridor marmer Institut Musik Wreksodiningrat. Tangan yang, kata sebuah kalimat di paragraf bawah, mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Tidak ada obat.
Ia membacanya tiga kali. Bukan karena tidak mengerti — justru karena terlalu mengerti. Ada pengobatan yang meredakan. Suntik untuk melemahkan otot yang keliru bekerja. Latihan ulang yang menuntut bulan, kadang tahun, kadang sia-sia. Tapi kata sembuh tidak muncul di mana pun. Ia menggulir mencari kata itu seperti orang lapar mencari nasi di dapur kosong, dan yang ia temukan hanya kata mengelola. Orang tidak menyembuhkan distonia fokal. Orang belajar hidup dengannya, atau berhenti.
Berhenti. Layar berikutnya memuat forum. Bahasa Inggris yang harus ia baca lambat-lambat, mengeja dengan bibir bergerak tanpa suara. Seorang pianis menulis bahwa ia menghabiskan dua puluh tahun mengejar konser, dan gejala datang di usia tiga puluh, dan sekarang ia mengajar les di ruang tamu apartemennya dan tidak lagi bisa menonton rekaman lamanya sendiri. Aku bermimpi bermain, tulis orang itu. Dalam mimpi, tanganku menurut. Lalu aku bangun.
Arsa menutup matanya. Di kegelapan di balik kelopak, ia mencoba mendengar sebuah tangga nada — hal paling sederhana, hal pertama yang pernah ibunya lihat ia lakukan di upright gereja saat ia berusia lima tahun. C mayor, naik, dua oktaf. Tapi malam ini, di kepalanya sendiri, tangga nada itu tersandung di nada keenam, seolah pikirannya pun sudah mulai belajar takut.
Ia teringat suara Danupraja. Bukan bentakan sang profesor, bukan metronom yang dibunyikannya keras-keras untuk mempermalukan otodidak, melainkan momen ketika suaranya turun menjadi hampir pelan. Momok diam para pianis, kata Danupraja waktu itu, dan Arsa mengira itu kiasan seorang guru yang gemar dramatisasi. Sekarang ia paham bahwa lelaki itu tidak sedang berpuisi. Ia sedang menamai sesuatu yang dilihatnya dari jauh, dan mengenalinya seperti orang mengenali wajah tetangga di kerumunan.
Layar di sebelah meletuskan tembakan. Salah satu remaja mengumpat riang, menang. Arsa hampir tersenyum karena kesederhanaan itu — sebuah dunia di mana kalah dan menang ditentukan oleh jempol di atas tombol, dan setiap ronde dimulai ulang dari nol. Ia menoleh kembali ke layarnya, dan angka di sudut halaman menariknya: biaya rata-rata satu prosedur suntik, dalam mata uang asing, lalu dikonversi. Ia menghitung diam-diam, kebiasaan lama anak orang miskin yang selalu tahu harga sebelum tahu keinginan.
Angka itu lebih besar dari penghasilan ayahnya dalam setengah tahun memperbaiki kulkas orang. Lebih besar dari yang tersisa di tabungan ibu setelah atap gereja. Dan itu pun bukan sekali — forum menyebut suntik harus diulang tiap beberapa bulan, selamanya, karena efeknya memudar seperti sesuatu yang memang dipinjamkan dan harus dikembalikan.
Ia menarik napas panjang. Bau warnet, keringat lama dan kopi sachet. Ia memikirkan grand piano warisan yang menunggunya di ruang latihan, instrumen yang memberinya warna yang tak pernah ia miliki, dan klausul di kontrak yang ditandatanganinya dengan tangan yang dulu ia kira miliknya sendiri. Tak boleh cedera. Ia hampir tertawa, tapi yang keluar hanya embusan yang patah.
Operator warnet, seorang lelaki muda yang setengah tertidur di balik meja, menyapa tanpa menoleh. "Masih lama, Mas? Sepuluh menit lagi tutup."
"Sebentar," kata Arsa, dan suaranya sendiri terdengar asing baginya, tenang di permukaan seperti danau yang di bawahnya ada arus. Ia meletakkan tangan kanannya kembali di atas mouse. Jari manis itu diam, patuh, seolah tidak tahu-menahu tentang semua yang baru saja ia baca tentang dirinya. Justru diamnya yang paling menakutkan — sebab Arsa tahu, sekarang dengan pengetahuan yang tak bisa lagi ia lupakan, bahwa diam itu bukan janji. Ia hanya menunggu lagu yang salah.
Ia menghapus riwayat pencarian, satu per satu, seolah dengan menghapus jejak di layar ia bisa menghapusnya pula dari tangannya. Lalu ia mematikan monitor, dan di kaca gelap yang memantul, ia melihat wajahnya sendiri — pucat, muda, dan untuk pertama kalinya, tua. Di luar, gang Wonokromo diam. Di kepalanya, samar dan keras kepala, nada B fals gereja itu berdengung, mengikutinya pulang seperti biasa. Malam ini, entah kenapa, ia tidak mencoba mengusirnya.