Ruang kerja Profesor Danupraja berbau kayu tua dan kertas partitur yang disimpan terlalu lama. Setelah masterclass bubar—setelah dua belas pasang mata menyaksikan jari manis kanannya menekuk sendiri di tengah pasase staccato, setelah Danupraja mengangkat tangan dan berkata "cukup" dengan suara yang lebih dingin dari biasanya—Arsa berdiri di ambang pintu itu menunggu dipanggil masuk, seperti terdakwa menunggu vonis.
"Duduk," kata Danupraja, tanpa menoleh dari meja tulisnya.
Arsa duduk di kursi kayu di seberang meja. Di dinding di belakang profesor itu tergantung foto hitam-putih seorang pemuda di depan grand piano, foto yang sudah pudar kecokelatan, tapi Arsa tak berani bertanya siapa itu. Metronom di sudut meja berdetak sendiri, entah sejak kapan dinyalakan, seperti jantung yang tak mau berhenti.
Danupraja akhirnya menatapnya. Bukan tatapan marah seperti biasa—tatapan itu justru lebih menakutkan karena tenang.
"Sudah berapa lama," katanya, "jarimu melakukan itu?"
"Melakukan apa, Pak?"
"Jangan main-main denganku, Arsa." Suaranya masih pelan, tapi ada sesuatu yang mengeras di baliknya, seperti besi dibungkus beludru. "Aku sudah mengajar tiga puluh dua tahun. Aku tahu bedanya jari yang capek dan jari yang menolak perintah otak. Yang tadi itu bukan lelah."
Arsa menunduk ke tangannya sendiri, ke jari manis kanan yang kini diam-diam saja, patuh, seolah tak pernah berbuat salah. "Saya kurang tidur, Pak. Ada kerjaan tambahan minggu ini—"
"Berapa kali," potong Danupraja, "itu terjadi di luar kelas ini?"
Hening. Metronom terus berdetak.
"Beberapa kali," Arsa akhirnya berkata, suaranya nyaris tak terdengar. "Waktu latihan sendirian. Di ruang tujuh. Cuma... cuma kalau saya lelah, Pak. Kalau saya sudah lama duduk."
Danupraja bersandar di kursinya. Ia menutup mata sebentar, dan ketika membukanya lagi, ada sesuatu yang berubah di wajahnya—bukan kelembutan, tapi semacam keletihan yang lebih tua dari usianya sendiri.
"Ada istilah untuk itu," katanya. "Distonia fokal."
Kata itu jatuh ke ruangan seperti benda berat yang dilepas dari ketinggian. Arsa tak mengerti artinya, tapi caranya diucapkan—pelan, hati-hati, seperti orang menyebut nama penyakit yang membunuh seseorang yang dikenalnya—membuat bulu kuduknya berdiri.
"Task-specific focal dystonia," Danupraja melanjutkan, seolah mengulangnya dalam bahasa lain bisa membuatnya lebih nyata, atau justru lebih jauh. "Otak salah mengirim perintah ke otot. Bukan ototnya yang rusak—jari, tangan, semuanya sehat kalau diperiksa dokter. Yang rusak jalur sinyal di kepala. Dan anehnya, itu cuma terjadi kalau kau melakukan gerakan yang sangat spesifik, yang sudah kau ulang ribuan kali. Bagi penulis, tangannya kram cuma saat menulis. Bagi gitaris, jarinya kaku cuma saat memetik. Bagi pianis—"
Ia berhenti, seakan kalimatnya sendiri terlalu berat untuk diselesaikan.
"Bagi pianis, itu momok diam," katanya akhirnya. "Momok yang tak pernah dibicarakan di ruang kelas, tak pernah ditulis di buku metode, karena tak ada yang mau mengakui itu ada. Tapi setiap generasi kehilangan satu, dua orang karenanya. Pianis-pianis hebat yang tiba-tiba menghilang dari panggung, dan orang-orang bilang mereka 'pensiun dini' atau 'sibuk mengajar.' Tidak ada yang bilang yang sebenarnya: tangan mereka berhenti menaati mereka."
Arsa merasa dadanya menyempit. "Tapi Pak—saya cuma capek. Saya tidur cukup mulai besok, saya kurangi kerja tambahan, saya—"
"Arsa." Danupraja mencondongkan tubuh ke depan, dan untuk pertama kalinya sejak Arsa mengenalnya, suaranya nyaris memohon. "Aku sudah lihat ini sebelumnya. Aku tahu bagaimana ini dimulai, dan aku tahu bagaimana orang-orang meyakinkan diri mereka sendiri bahwa itu cuma lelah, cuma kurang tidur, cuma butuh istirahat semalam. Aku ingin kau menemui spesialis. Ada neurolog, namanya Dr. Prasetya, dia menangani beberapa musisi. Sebelum ini jadi lebih buruk."
"Tidak." Kata itu keluar sebelum Arsa sempat menahannya. Ia berdiri dari kursinya, tangannya sendiri mengepal tanpa sadar seolah hendak membuktikan bahwa jari-jari itu masih miliknya sepenuhnya. "Maaf, Pak, tapi—tidak. Ini cuma lelah. Saya sudah pernah dengar soal itu, distonia, dari internet, itu untuk pianis yang sudah main dua puluh tahun, pianis tua yang tangannya dipakai berlebihan sejak kecil. Saya baru delapan belas tahun, Pak. Saya baru mulai."
"Umur bukan penghalang," kata Danupraja, tapi Arsa sudah tak benar-benar mendengarkan.
Karena kalau ini benar—kalau kata itu benar, benar-benar benar—maka semuanya runtuh sekaligus: peringkat yang harus tetap tinggi, klausa dalam kontrak yang ditandatangani Ibu Widari dengan tinta yang masih terasa dingin di ingatannya, grand piano warisan yang bisa ditarik kapan saja kalau ia cedera. Kalau ini benar, ia bukan cuma kehilangan satu pasase yang sulit. Ia kehilangan segalanya yang membuatnya berbeda dari seorang anak pembantu dan tukang reparasi kulkas dari Wonokromo.
"Saya harus latihan," katanya, meraih tasnya dengan tangan yang gemetar, meski ia berusaha keras agar Danupraja tak melihatnya gemetar. "Terima kasih sudah mengingatkan, Pak. Saya akan lebih hati-hati."
"Arsa—"
"Saya baik-baik saja," katanya, dan ia hampir memercayainya sendiri saat mengatakannya, seperti kalimat itu bisa jadi benar kalau diucapkan cukup keras, cukup sering. "Saya cuma butuh istirahat."
Ia keluar dari ruangan itu sebelum Danupraja sempat menahannya lagi, melewati koridor marmer yang dingin di bawah kakinya, melewati pintu kaca tempat ia bisa melihat bayangannya sendiri sekilas—seorang pemuda kurus dengan sepatu usang, menggenggam tas berisi partitur, berjalan terlalu cepat untuk orang yang baru saja diberi tahu semuanya baik-baik saja.
Di dalam kepalanya, di antara detak jantungnya sendiri, sesuatu yang lain terus berbunyi tanpa henti—nada B, sedikit fals, seperti yang selalu mengikutinya sejak ia pertama kali menginjak lantai institut ini. Kali ini ia tak bisa memutuskan apakah itu kenangan, atau peringatan.