Ruang masterclass di lantai tiga Institut Musik Wreksodiningrat selalu terasa seperti akuarium: dinding kaca di satu sisi memperlihatkan koridor marmer, dan siapa pun yang lewat bisa berhenti menonton tanpa diundang. Pagi itu kursi-kursi lipat disusun setengah lingkaran mengelilingi grand piano konser, dan hampir tiga puluh mahasiswa duduk berdesakan, buku catatan di pangkuan, pena siap menuliskan tiap kalimat tajam yang biasa keluar dari mulut Profesor Danupraja.
Arsa Pradipta duduk menunggu giliran di barisan kedua, telapak tangannya basah. Ia sudah tiga malam nyaris tidak tidur, dan nada B fals dari upright gereja masih berdengung di kepalanya seperti nyamuk yang tak bisa ia tepuk. Di sudut ruangan, Bramantyo bersandar dengan lengan bersedekap, matanya yang biasanya menghina kini menyimpan sesuatu yang lebih tenang—hampir seperti menunggu.
"Pradipta," panggil Danupraja, tanpa mendongak dari partitur di meja podium. "Nocturne yang minggu lalu. Bagian tengah saja. Ulangi dari birama tiga puluh dua."
Arsa berjalan ke piano dengan langkah yang ia usahakan biasa saja. Ia duduk, menekan bangku sedikit lebih rendah dari kebiasaannya—trik yang belakangan ia pakai diam-diam untuk mengurangi beban di jari manis kanan. Ia menarik napas, meletakkan tangan di tuts gading yang dingin dan sempurna, jauh berbeda dari upright gereja yang tutsnya sudah menguning dan sedikit lengket di F tengah.
Birama tiga puluh dua dimulai lembut, lalu meluncur ke pasase enam belas not yang menuntut kelincahan empat jari terakhir bergantian cepat—pasase yang sama yang pertama kali mengkhianatinya di Bab sebelumnya, di ruang latihan tujuh, sendirian, tengah malam. Sepuluh not pertama mengalir baik. Lalu, pada not kesebelas, jari manisnya menekuk ke dalam sendiri, seperti ditarik kawat tak kasat mata, dan menyentuh tuts di sebelahnya alih-alih yang seharusnya.
Bunyi itu kecil, hanya seperempat detik salah, mungkin bagi telinga awam sekadar keseleo jari biasa. Tapi kali ini gerakannya terlihat—benar-benar terlihat, bukan hanya terdengar. Jemari itu melengkung aneh, kaku, seolah sendi-sendinya lupa cara membuka kembali, dan Arsa harus mengguncangkannya sedikit di udara sebelum bisa melanjutkan.
Ia mencoba menutupinya dengan memperlambat tempo, seperti yang biasa berhasil di konser amal. Kali ini tidak berhasil. Pasase berikutnya, jari yang sama menekuk lagi, lebih lama, dan seluruh tangan kanannya seperti terkunci sesaat di atas tuts, jari-jari lain menunggu perintah yang tak kunjung datang dari satu jari yang membangkang.
"Berhenti."
Suara Danupraja memotong seperti pisau yang sudah lama diasah untuk momen ini. Tidak keras. Justru pelan, dan karena itu lebih mengerikan—seluruh ruangan langsung sunyi, tiga puluh pena berhenti bergerak serentak.
Arsa menarik tangannya dari tuts seolah tersengat. Ia menoleh, mencoba tersenyum kecil, mencari alasan yang biasa: kurang tidur, salah baca not, kebetulan. Tapi ketika ia melihat wajah Danupraja, kata-kata itu mati di tenggorokannya.
Profesor itu telah bangkit dari kursinya di podium, dan berjalan mendekat dengan langkah yang lambat, hampir seperti orang yang mendekati sesuatu yang rapuh alih-alih murid yang gagal. Matanya tidak lagi menyala dengan amarah dingin yang biasa ia pakai untuk mempermalukan kesalahan teknik. Ada sesuatu yang lain di sana—sesuatu yang lebih tua, lebih personal, seperti pintu lama yang tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.
"Ulangi," katanya, suaranya nyaris berbisik, "birama tiga puluh empat. Pelan-pelan. Perhatikan jari manismu saja."
Arsa mengangguk, jantungnya berdebar bukan lagi karena malu di depan tiga puluh pasang mata, melainkan karena sesuatu di nada suara Danupraja yang berubah. Ia menekan tuts perlahan, mencoba mengulang gerakan sederhana: jari manis turun, lalu naik. Sederhana bagi tangan yang sehat. Tapi jari itu menekuk lagi, kali ini bahkan tanpa tempo cepat untuk disalahkan, tanpa kelelahan untuk dijadikan alasan—hanya menekuk, sendiri, seperti punya kehendaknya sendiri yang berlawanan dengan pemiliknya.
Ruangan tetap sunyi. Seseorang di barisan belakang berbisik pada temannya, dan bisikan itu terasa lebih keras dari yang seharusnya di ruangan seluas itu. Bramantyo tidak lagi bersandar; ia condong ke depan, matanya menyipit, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang bisa ia simpan untuk nanti.
Danupraja berdiri di samping piano, tangannya terlipat di depan dada, tapi jari-jarinya sendiri—Arsa baru menyadarinya sekarang—sedikit gemetar sebelum ia menyembunyikannya kembali di balik lengan jasnya. Wajah profesor itu, yang selama ini selalu keras seperti batu granit, retak sebentar menjadi sesuatu yang menyerupai ketakutan lama, sebelum ia menyusunnya kembali menjadi kekakuan yang biasa.
"Cukup untuk hari ini," katanya kepada kelas, tanpa memalingkan pandangan dari tangan Arsa yang masih tergantung kaku di atas tuts. "Bubar. Kalian boleh pergi."
Kursi-kursi berderit, mahasiswa berdiri satu per satu, berbisik-bisik sambil melirik ke arah Arsa yang masih duduk membeku di bangku piano, seolah berdiri berarti mengakui sesuatu yang belum siap ia akui pada dirinya sendiri. Renjana, yang duduk di ujung barisan, tidak bergerak; matanya menatap Arsa dengan kekhawatiran yang selama ini ia tahan, tapi Arsa tidak sanggup membalas tatapan itu.
Ketika ruangan hampir kosong, Danupraja masih berdiri di tempatnya, memandangi jari-jari Arsa seperti orang yang mengenali luka lama di tubuh orang lain karena pernah memilikinya sendiri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menutup partitur di meja podium, pelan-pelan, seolah menutup sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar Nocturne.
"Tunggu di sini," katanya akhirnya, tanpa menoleh, suaranya datar namun berat oleh sesuatu yang belum Arsa pahami sepenuhnya. "Jangan ke mana-mana."
Arsa duduk sendirian di bangku piano yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin, tangan kanannya masih setengah terkepal di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya sejak jari itu mulai membangkang, ia merasa seseorang selain dirinya akhirnya tahu.