Layar warnet menyala biru pucat, dan surat dari konservatori itu masih terbuka di sana — pintu yang sejak dua minggu tak berani ia tutup maupun ia masuki. Arsa membaca ulang barisnya untuk kesekian kali, sampai kalimat-kalimat asing itu terasa seperti nada yang keliru diletakkan di paranada: audisi beasiswa, tiket yang ditanggung, sebuah kota di seberang lautan tempat piano-piano konon lebih tua dari negaranya sendiri. Di bawah meja, di tempat yang tak terlihat siapa pun, jari manis kanannya ia luruskan pelan-pelan, lalu ia tekuk, lalu ia luruskan lagi.
Malam ini jari itu menurut. Ia mencatatnya seperti orang mencatat cuaca — sebuah kebetulan baik yang ia pilih untuk dipercaya.
Bilik sebelah berdengung oleh suara permainan tembak-menembak, dan asap rokok operator warnet menyelinap lewat celah sekat tripleks. Arsa menempelkan headphone berbusa gundul ke telinganya, meski tak ada yang ia putar. Ia hanya butuh dinding. Di kepalanya, tanpa diminta, nada B dari upright gereja itu berbunyi lagi — sedikit terlalu rendah, sedikit fals, seperti selalu — dan anehnya malam ini bunyi itu tidak menghantui. Ia terdengar seperti seseorang memanggil dari dapur, menyuruhnya pulang makan.
Ia teringat pencari bakat di panggung nasional itu, yang menyalaminya dengan tangan hangat dan berkata seolah masa depan adalah barang yang tinggal diambil dari rak. "Tanganmu bisa dibawa jauh, Nak." Waktu itu kalimat tersebut membuatnya melayang berhari-hari. Sekarang kalimat itu terasa seperti tuduhan. Tanganmu. Seakan tangannya adalah miliknya yang setia, bukan sesuatu yang belakangan ini bangun sendiri di tengah pasase cepat dan menekuk tanpa izin.
Ia membuka jendela balasan. Kursor berkedip, sabar, kejam.
Di seberang layar ia melihat hal-hal yang tak muat ditulis. Ayahnya, teknisi kulkas yang tangannya sendiri kini dibebat, duduk menganggur di ruang depan sambil menahan malu setiap kali ibu menghitung sisa uang belanja. Atap gereja yang menganga. Suara ibu di telepon minggu lalu, yang berusaha ceria dan justru karena itu terdengar retak. Kota di seberang lautan itu tidak menanggung tiket untuk tiga orang; ia hanya menanggung satu anak muda yang akan pergi jauh justru ketika keluarganya paling membutuhkannya di dekat.
Dan ada Institut. Ada Profesor Danupraja yang telah mempertaruhkan namanya sendiri pada seorang murid dari Wonokromo, yang membongkar setiap kebiasaan otodidaknya bukan untuk mempermalukan tetapi — Arsa mulai mengerti — untuk membangunnya kembali dari fondasi. Meninggalkan semua itu setengah jalan demi audisi yang menuntut teknik tanpa cela terasa seperti melompat dari perahu yang belum sampai ke tepi.
Teknik tanpa cela. Ia menatap frasa itu di surat konservatori dan tahu, di ruang paling jujur di dadanya yang selama ini ia kunci rapat, bahwa itulah alasan sebenarnya. Bukan keluarga. Bukan Institut. Keluarga dan Institut adalah alasan yang indah, alasan yang bisa ia ucapkan dengan kepala tegak. Alasan yang tak bisa ia tuliskan adalah jari manis yang menekuk sendiri, yang tak akan bertahan diperiksa oleh telinga-telinga paling tajam di dunia.
Maka ia menulis alasan yang indah.
Ia mengetik perlahan, memilih kata seperti memilih tuts. Ia menyampaikan terima kasih yang tulus. Ia menulis bahwa ia telah mempertimbangkan tawaran ini dengan sungguh-sungguh, dan bahwa ia memutuskan untuk menyelesaikan pembentukannya di Institut Musik Wreksodiningrat, di bawah bimbingan yang telah ia mulai; bahwa keluarganya membutuhkan kehadirannya di tanah air pada masa ini; bahwa ia percaya jalan yang harus ia tempuh ada di sini, bukan di seberang. Ia tidak menulis "menunda". Ia sengaja tidak menulis kata itu. Ia menutup pintunya rapat-rapat, dengan sopan, dengan penuh, supaya tak ada celah untuk kembali menyiksa dirinya dengan pengandaian.
Hanya kepada dirinya sendiri ia berbisik kata yang lebih lunak. Nanti, kalau tangannya sudah tenang, kalau ia sudah beristirahat dari kegilaan latihan sampai fajar, kalau semuanya sudah pulih seperti otot yang sekadar terlalu lelah — barangkali pintu-pintu lain akan terbuka. Bukan pintu ini. Pintu ini ia lepas. Tetapi akan ada yang lain, katanya pada diri sendiri, ketika ia sudah sembuh.
Kata itu, sembuh, ia genggam seperti anak menggenggam uang receh di kepalan: erat, dan tanpa berani membuka telapak untuk menghitung apakah cukup.
Ia membaca ulang surat balasannya sekali. Kalimat-kalimatnya rapi, dewasa, tenang — surat seorang pemuda yang tahu diri, bukan surat seorang yang ketakutan. Ia hampir bangga pada betapa meyakinkannya kebohongan yang setengah benar itu.
Kursor melayang di atas tombol kirim. Untuk sesaat seluruh tubuhnya menolak, seolah menekan tombol itu sama dengan menutup tutup peti atas sesuatu yang masih bernapas. Kota di seberang lautan itu meredup, mengecil, lalu padam. Ia menekan kirim.
Layar berkedip. Terkirim.
Ia melepas headphone. Dengung tembak-menembak dari bilik sebelah kembali membanjirinya, kasar dan nyata. Angka di pojok layar menunjukkan pukul satu lewat; ia harus jaga warnet sampai subuh, lalu ke Institut, lalu ke ruang latihan tempat ia akan sekali lagi memaksa jari itu tunduk. Tetapi untuk semalam ini, ada sesuatu yang mereda di dadanya. Beban sebuah mimpi yang terlalu besar untuk tubuh yang mulai mengkhianatinya, kini ia turunkan dari punggung.
Ia menyebutnya kelegaan. Ia bersikeras menyebutnya begitu, bukan kekalahan, bukan pula persembunyian.
Di luar, gerimis mulai turun ke gang, dan di kepalanya nada B yang fals itu berbunyi sekali lagi — pelan, sabar, seperti janji yang belum tahu bahwa ia tak akan ditepati. Arsa memejamkan mata dan membiarkan dirinya percaya, untuk beberapa jam terakhir sebelum segalanya runtuh, bahwa ia baru saja membeli waktu yang dibutuhkan tangannya untuk pulih.