Ruang latihan tujuh tidak pernah benar-benar sunyi, sekalipun pintunya tertutup rapat. Arsa selalu bisa mendengar detak jam dinding di lorong, derit engsel pintu ruang sebelah, langkah satpam yang memutari koridor jam sepuluh malam. Absolute pitch-nya menangkap segala yang tak seharusnya didengar orang lain, dan malam itu ia berharap kupingnya bisa dimatikan barang sejenak—supaya ia tak lagi mendengar bagaimana jari manis kanannya, di ketukan ketujuh belas Etude itu, jatuh setengah detik terlambat, menekuk ke dalam seperti menolak perintah yang ia berikan.
Ia mengulang pasase yang sama untuk kesekian kali. Lampu di atas grand piano warisan menyorot tuts gading yang sudah menguning di pinggirnya, warisan yang katanya harus ia jaga seperti nyawa sendiri. Ia menarik napas, menahan pergelangan tangannya rileks seperti yang diajarkan Danupraja, lalu mencoba lagi. Jari manisnya menekuk lagi, lebih cepat dari yang bisa ia kendalikan.
"Kau ulang bagian itu terus dari tadi."
Renjana berdiri di ambang pintu, sudah berganti baju biasa, tas selempang cello tersampir di bahu. Arsa tidak mendengar pintu dibuka—atau mungkin ia terlalu tenggelam dalam pasase sialan itu sampai lupa mendengarkan yang lain.
"Cuma mau rapi sebelum ujian peringkat," katanya, tanpa menoleh penuh.
"Sudah rapi dari setengah jam lalu. Aku dengar dari ruang sebelah." Renjana melangkah masuk, menutup pintu pelan-pelan di belakangnya, seolah suara berderit sekecil apa pun bisa memecahkan sesuatu yang rapuh. "Kau mengulang bagian yang sama, bukan karena belum benar. Tapi karena sesuatu terus salah di tempat yang sama."
Arsa menurunkan tangannya ke pangkuan, menyembunyikannya di balik lipatan lengan jaketnya yang sudah usang di sikunya. Gerakan itu spontan, sudah jadi kebiasaan sejak beberapa minggu terakhir—menutupi tangan kanannya seperti menutupi luka yang belum sembuh.
"Aku cuma capek," katanya. "Latihan sampai jam segini, siapa yang tidak capek."
Renjana menarik kursi dari sudut ruangan, mendekat, duduk di samping bangku piano tapi tidak menyentuhnya. Ia menatap bukan wajah Arsa, melainkan tangannya yang tersembunyi itu.
"Waktu duet kita minggu lalu," ujarnya pelan, "kau ganti penjarian di birama tiga puluh dua. Aku pikir itu pilihan musikal. Tapi tadi kulihat kau ganti lagi, jadi versi yang lebih aneh, yang justru lebih susah dimainkan. Orang tidak pilih jalan yang lebih susah kalau yang mudah masih bisa."
"Aku cuma bereksperimen dengan warna suara."
"Arsa." Nama itu diucapkan bukan sebagai tuduhan, melainkan seperti orang meletakkan tangan di bahu seseorang yang berdiri di tepi sesuatu. "Aku main cello sejak umur tujuh tahun. Aku tahu bagaimana rasanya waktu tubuh mulai berbohong pada kita duluan sebelum kita sempat berbohong pada orang lain."
Kalimat itu menembus lebih dalam daripada yang Renjana duga. Arsa merasa dadanya menyempit, seperti pintu yang tiba-tiba didorong terbuka padahal ia sudah mengganjalnya rapat-rapat dengan segala cara—penjarian ulang, alasan kelelahan, senyum yang dipaksakan setiap kali seseorang bertanya.
"Tidak ada yang salah dengan tanganku," katanya, terlalu cepat, terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.
"Aku tidak bilang ada yang salah. Aku bilang aku melihatnya, dan aku peduli." Renjana mencondongkan tubuh, tangannya nyaris menjangkau tangan Arsa yang masih terlipat di pangkuan. "Kau tidak harus menanggung sendirian. Kalau kau cerita ke Danupraja—"
"Jangan." Kata itu keluar seperti tamparan, dan Arsa langsung menyesal begitu melihat Renjana tersentak mundur. Tapi ketakutan sudah mengambil alih, lebih besar daripada rasa bersalah. Kalau Danupraja tahu penuh, kalau Ibu Widari sampai mendengar sepotong saja, klausa dalam kontrak itu akan bekerja sendiri, tanpa ampun, tanpa menunggu penjelasan. Piano itu akan ditarik. Semua yang telah ia bayar dengan kelelahan ibunya, dengan tangan ayahnya yang penuh oli kulkas, dengan malam-malam ia berjaga di warnet demi recehan tambahan—semua itu akan sia-sia dalam satu tanda tangan pencabutan.
"Kau tidak mengerti," katanya, suaranya bergetar antara marah dan putus asa. "Ini bukan urusanmu."
"Bukan urusanku?" Renjana berdiri, matanya berkilat, bukan karena marah, tapi karena luka yang datang tiba-tiba dan tak terduga. "Aku duduk di sampingmu tiap malam di ruang ini. Aku yang menunjukkanmu jam-jam kosong biar kau bisa latihan diam-diam. Aku pikir kita saling percaya, Arsa."
"Kalau kau benar-benar peduli," Arsa berkata, tiap kata terasa seperti batu yang ia lemparkan ke arah satu-satunya orang yang masih berdiri di sisinya, "kau akan berhenti bertanya-tanya dan biarkan aku menyelesaikan ini sendiri."
Hening yang jatuh sesudahnya lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun. Renjana menatapnya lama, seolah mencari versi Arsa yang ia kenal di balik wajah yang keras itu, lalu mengangguk pelan—bukan tanda setuju, melainkan tanda menyerah untuk malam ini.
"Baiklah," katanya, suaranya datar, dikendalikan dengan susah payah. "Kalau begitu selesaikan sendiri."
Ia mengambil tas cellonya, membuka pintu, dan langkahnya di lorong marmer terdengar terlalu cepat untuk seseorang yang biasanya berjalan tenang. Arsa duduk sendirian di depan grand piano warisan, tangan kanannya masih terlipat, dan untuk pertama kalinya sejak jari manisnya mulai berkhianat, ia merasa kesepian itu lebih menakutkan daripada kondisi tangannya sendiri.
Ia meletakkan jarinya kembali di atas tuts, memaksa dirinya mengulang pasase yang sama, karena tidak ada lagi yang bisa ia percaya selain latihan—dan latihan, malam itu, hanya membuat tekukan di jarinya semakin dalam.