Jam tiga pagi, kamar kos itu tidak segelap yang seharusnya. Lampu jalan di luar menembus gorden tipis, melukis garis oranye di langit-langit, dan Arsa Pradipta berbaring menghadapnya sambil menghitung retak-retak cat yang sudah ia hafal di luar kepala. Ia tidak lagi mencoba memejamkan mata. Memejamkan mata hanya membuka pintu bagi hal yang lebih ia takuti daripada kantuk yang tak kunjung datang.
Dulu, sebelum semua ini, ia bisa memutar sebuah karya utuh di kepalanya sebelum tidur — bukan sekadar mengingat, tapi mendengarnya, senyata suara sungguhan, tiap not berdiri di tempatnya dengan kejernihan yang nyaris menyakitkan. Itulah anugerah yang orang sebut absolute pitch, pendengaran nada sempurna, dan bagi Arsa itu selalu terasa seperti punya ruang konser pribadi di balik tengkoraknya sendiri: bersih, presisi, miliknya sepenuhnya. Ia mencoba memutarnya sekarang — etude yang sedang ia siapkan bersama Profesor Danupraja — berharap ritual lama itu akan menariknya ke tidur seperti biasa.
Baru delapan birama, sesuatu meleset.
Bukan meleset seperti kesalahan jari yang bisa ia perbaiki. Ini di dalam kepalanya, tempat yang seharusnya paling aman, tempat tak ada tangan yang bisa gagal karena semuanya cuma bayangan bunyi. Sebuah B yang seharusnya bersih tiba-tiba turun sedikit, sefraksi, cukup untuk membuat seluruh frasa terasa berkarat. Ia menghentikan putaran mental itu, mengulang dari awal, mencoba mendengar B yang benar. Tapi begitu bayangan bunyi itu sampai ke not yang sama, ia melorot lagi — persis nada B fals di piano upright gereja, nada yang sudah cacat empat puluh tahun, nada yang seharusnya jauh, di Wonokromo, bukan di sini, bukan di kamar kos ini, bukan menyusup ke dalam etude Prancis yang tak ada hubungannya dengan gereja mana pun.
Arsa duduk. Jantungnya berdebar seolah ia baru berlari, padahal ia hanya berbaring diam.
Ia mencoba karya lain — sebuah nokturne yang sudah ia mainkan ratusan kali sejak kecil, yang paling ia kenal luar-dalam, yang biasanya paling gampang untuk sekadar didengar tanpa usaha. Nada pembuka muncul benar. Lalu, di ukuran kelima, B fals itu menyusup lagi, seperti noda tinta yang merembes dari lembar sebelumnya menembus kertas. Ia mencoba mengusirnya, memaksa telinga batinnya mendengar B yang bersih, tapi semakin keras ia memaksa semakin nyata cacat itu terdengar, sampai seluruh nokturne yang dulu begitu ia percaya kini terasa asing, seperti rekaman rusak yang diputar di kaset yang sudah aus.
Ia menyalakan lampu kecil di meja belajar, seakan cahaya bisa mengusir bunyi yang sebenarnya tak pernah nyata secara fisik. Kamar itu tetap sama: meja sempit, map berisi partitur yang ia pinjam dari perpustakaan institut, gelas berisi air yang sudah dingin sejak sore. Tak ada yang berubah di luar. Yang berubah ada di suatu tempat yang tak bisa ia tunjuk dengan jari, di ruang antara telinga dan pikiran yang selama ini menjadi kebanggaannya, satu-satunya hal yang benar-benar miliknya sejak kecil, yang tak bisa dibeli oleh anak-anak kaya macam Bramantyo betapa pun mahal piano mereka.
Kalau itu juga mulai berkhianat—
Ia tidak menyelesaikan pikiran itu. Ia bangkit, berjalan ke sudut kamar tempat keyboard kecil murahan tergeletak di atas kain, satu-satunya instrumen yang ia punya di sini selain akses terbatas ke grand piano warisan yang sekarang serasa jauh, seperti milik orang lain yang sedang ia pinjam sebentar. Ia menekan tuts B, pelan, hampir tak bersuara, telinganya menempel nyaris ke speaker kecil itu. Bunyinya benar. Bersih. Seperti seharusnya. Ia menekannya lagi, dan lagi, membandingkannya dengan bayangan di kepalanya yang masih melorot, tak sinkron, seperti dua orang menyanyi kanon yang salah tempo.
Rasa takut yang menjalar bukan tentang satu nada yang salah dengar. Itu bisa saja hanya lelah, ia mencoba meyakinkan diri, seperti mata yang berkunang-kunang setelah menatap layar terlalu lama. Tapi jika telinganya — telinga yang sejak kecil bisa menyebut nama setiap nada tanpa melihat tuts mana yang ditekan, yang membuat ibu gereja pernah berbisik bahwa Tuhan menitipkan sesuatu yang aneh dan indah pada anak pembantu itu — jika telinga itu sendiri mulai berbohong padanya, maka apa lagi yang tersisa untuk dipercaya? Jarinya sudah menekuk sendiri di luar kendali sejak berminggu-minggu, dan ia sudah belajar menutupinya dengan penjarian ulang yang licik. Tapi seseorang bisa menyembunyikan tangan. Tak seorang pun bisa menyembunyikan diri dari kepalanya sendiri.
Ia memikirkan Bramantyo, yang kini menyimpan rahasianya seperti pisau di saku, menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkannya. Ia memikirkan Ibu Widari dan klausa yang ia tanda tangani sendiri dengan tangan yang waktu itu masih terasa taat. Ia memikirkan Profesor Danupraja yang matanya makin sering menyipit saat mengamatinya, seakan sudah mencium sesuatu yang belum diucapkan siapa pun.
Di luar jendela, langit belum juga menguning oleh subuh. Arsa duduk di lantai, punggung bersandar ke dipan, keyboard kecil itu masih menyala dengan lampu indikator merah kecil, dan ia menekan B sekali lagi, memaksa dirinya mendengarkan bunyi yang nyata, bukan yang direka-reka ketakutannya sendiri. Bunyi itu benar. Tapi kepalanya, untuk pertama kali sepanjang hidupnya, tidak lagi mau dipercaya.
Ia tidak tidur malam itu. Ia hanya duduk, menghitung retak di langit-langit yang sama, menunggu pagi yang akan memaksanya kembali berdiri di depan Profesor Danupraja seolah semuanya baik-baik saja.